Aku dan suamiku tak bisa berkata manis. Hubungan kami jauh dari romantis. Sejak jaman PDKT dulu, kami lebih senang beretorika dalam surat yang saling kami layangkan, kemudian kami saling menunggu datangnya balasan. Rindu. Menunggu. Dan rindu. Begitu melulu.
Hingga hubungan kami telah halal pun tetap sama. Tak ada perayaan hari ulang tahun masing-masing apalagi pesta ulang tahun pernikahan kecil-kecilan. Bukan karena tidak romantis, namun kami bersepakat tidak ikut-ikutan.
Masing-masing kami sangatlah tidak romantis, tetapi mengapa justru hubungan kami kian lengket? Barangkali memang ini salah satu yang disebut cinta.
Kami saling cinta tanpa perlu mengungkapkan secara berlebihan dalam bentuk verbal. Sewajarnya saja. Sepantasnya.
Sebetulnya kami saling mencinta. Tahulah masing-masing kami tentang itu melalui penyampaian dialog tokoh Anwar kepada Sri, istrinya dalam skenario film yang ditulis pengarangnya serta sepenggal narasi dalam sebuah buku.
“Sri, janganlah kau mengira aku acuh, sebab sesungguhnya sulit bagiku untuk mengikuti keinginanmu. Aku khawatir akan kemampuanku sendiri dalam mewujudkannya. Terbatas bisaku dan aku benar-benar takut membuatmu kecewa, maka kuputuskan berdiam saja. Diam lebih dari seribu bahasa.” Aku tersipu membacanya.
Ia membaca narasi besar pada bagian dari salah satu halaman buku yang kutulis dan berisi, “Masing-masing kami sangatlah tidak romantis, tetapi mengapa justru hubungan kami kian lengket? Barangkali memang ini salah satu yang disebut cinta. Kami saling cinta tanpa perlu mengungkapkan secara berlebihan dalam bentuk verbal. Sewajarnya saja. Sepantasnya.” Kemudian ia menatapku tanpa tanda tanya.