Maafkan aku suamiku. Kemarin aku terlalu mencintai diriku dan ambisiku. Membuatmu kecewa, sakit hati, dan terluka. Maafkan aku. Maafkan.
Aira menangis tanpa suara. Batinnya teriak menatap sang suami yang seharian ini nyaris menghabiskan waktu dengan melamun.
Aira tahu betul watak suaminya yang bisa berubah sendu dan murung jika ada sesuatu apa-apa dan untuk kali ini, ia sendirilah penyebabnya.
Suaminya yang periang. Hari-hari kerap melontarkan pujian-pujian pada istri dan kadangkala mahir membercandai berubah drastis. Tak ada lagi warna dalam biduk rumah tangga mereka yang telah terikat lima tahun lamanya.
Pelangi mendadak hilang dan gerimis di hati menjadi beban bagi sepasang suami-istri yang baru dikaruniai satu putra berusia satu setengah tahun itu.
Aira benar-benar menyesali ucapannya yang amat tajam terhadap suaminya di siang hari itu. Pertengkaran yang timbul hampir membuat Gema, putra mereka dan kendaraan butut yang sedang mereka kendarai balik menyerang.
Gema uring-uringan di atas motor dan si motor butut mendadak mogok. Beruntung hampir tiba di rumah. Aira ngedumel sambil menggendong Gema menapaki jalanan gang sepi menuju halaman rumah. Dibiarkannya sang suami mendorong motor di belakang.
“Kamu tidak memikirkan masa depan anak. Uang ini mau aku simpan!”
“Demi Allah saya sudah tidak pegang uang!”
“Uang yang terpakai tempo hari saja belum kamu ganti!”
Aira menjauh dengan mantap. Ia sedang tak sudi menatap lama wajah suaminya. Hatinya menggerutu menolak permintaan sang suami. Lebih-lebih lidahnya yang teramat tajam, memuntahkan kalimat-kalimat yang tak seharusnya terlontar dari bibir seorang istri.
Aira salah, pun suaminya. Aira juga ada benarnya, pun suaminya. Hanya saja perlu perbaikan komunikasi. Melalui cara-cara yang dibenarkan dalam Islamlah yang patut dibenarkan. Bukan cara-cara yang dianggap benar oleh diri sendiri, karena bisa jadi itu merupakan dorongan hawa nafsu yang berasal dari setan. Bukankah setan sedari dulu memang selalu merancang strategi jitu agar hubungan suami istri merenggang? Setan menyukai yang demikian. Berharap adegan pertengkaran berakhir dengan talak tiga.
“Sesungguhnya iblis meletakan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentara dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu.” Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatu pun.” Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (untuk digoda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.” Maka iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat (setan) seperti engkau.” (HR. Muslim)
Begitu jahatnya Dasim! Setan yang bertugas merusak rumah tangga.
Di tengah pandemi seperti sekarang, usaha mikro suami Aira merosot tajam. Berharap istrinya berkenan membantu. Sebenarnya sebelum-sebelumnya penghasilan berjualan buku yang digeluti Aira tak pernah sekalipun diutak-atik sang suami. Ia tahu betul jika pemberian nafkah merupakan tanggung jawab penuh laki-laki, sedangkan penghasilan yang didapat istri menjadi hak penuh dirinya sendiri. Adapun sang istri mau berbagi, maka suami patutnya bersyukur, Alhamdulillah.
Namun sungguh, kali ini suami Aira benar-benar kebingungan setengah mati mencari cara agar tetap bisa memenuhi tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.
Lantas Aira. Penulis yang sudah membuat beberapa buku harus rela menjual bukunya sendiri, sebab buku-buku yang telah diterbitkan itu baru lolos di penerbit minor. Belum tembus mayor. Beruntung semua bukunya dicetak gratis, bahkan Aira berhak menerima royalty dari hasil penjualan buku-bukunya itu.
Menulis buku sendiri, menjual buku sendiri. Cukup puas. Apalagi beberapa orang sudah mengenalnya. Anggaplah sebagai fans dan para fansnya itu setia menunggu kehadiran buku selanjutnya. Aira bahagia sekaligus kecewa.
Harapannya untuk bisa menyimpan uang hasil jerih payah sendiri terkalahkan oleh realita yang begitu menyesakan. Suaminya meminta ia untuk membantunya menanggulangi permasalahan ekonomi keluarga yang membelit. Aira kesal. Suaminya lebih-lebih. Aira marah-marah. Suaminya memilih diam. Ucapan Aira tajam sekali dan suaminya amatlah terluka.
Aira puas, sebab berhasil meluapkan emosi, tetapi kemudian ketika malam menjelang, Aira mendapati suaminya duduk tepekur di teras rumah, memandangi bulan menyabit seorang diri.
Keesokan harinya hingga senja membalut kota, wajah suaminya masih terlihat mendung. Aira mulai menyesal.
Pelan-pelan, ia membuka percakapan dan suaminya dengan berat menanggapi.
Aira terus berupaya mencairkan suasana setelah berhasil mendamaikan harapan dengan realita dan kalau bukan karena cinta, tak bakal suaminya mau tersenyum.