Di dunia fantasi, tempat yang ukurannya 10x lebih kecil dari bumi, tempat yang sering diceritakan oleh para manusia, tetapi mereka sama sekali tak tahu menahu letak dunia fantasi itu. Adalah Gabriela, salah satu kutu buku di dunia fantasi. Suatu hari Gabriela sedang mengunjungi perpustakaan yang baru pertama kali ia kunjungi. Perpustakaan tersebut terletak di puncak gunung. Ia pun membuka pintu. Sepi dan gelap. Entah ada seseorang dalam perpustakaan ini. Ia mencoba masuk ke dalam perpustakaan tersebut. Perpustakaan itu sangat besar, tingginya mencapai 3 lantai. Buku-buku di sini tak kalah banyak dibandingkan perpustakaan lain di dunia fantasi ini. 'Menarik sekali' gumam Gabriela dalam hati. Keliru. Tiba-tiba saja muncul ribuan kutu di balik buku-buku tersebut. Perlahan ribuan kutu itu keluar dan menghampiri Gabriela. Gabriela menjerit ketakutan, ia benar-benar sangat terkejut melihat hal ini.
Entah apa yang terjadi oleh Sang 'Kutu Buku' itu setelahnya...
***
10 menit setelahnya, masih di dunia fantasi.
Di siang hari yang cerah nan terik, jalanan terlihat tak sepi, tapi juga tak ramai. Adalah seseorang yang sedang berjalan di atas trotoar, mengunjungi rumah teman dekatnya. Orang itu mengetuk pintu rumah tersebut.
"Eh, Agam. Ayo masuk. Deon juga ada di sini loh." Kata teman dekatnya itu. "Wah, beneran Ra? Widih makin rame nih kalo dia juga di sini." Seru Agam. Ya, itulah namanya, Agam, temannya Cakra dan Deon. Mereka bertiga masih berusia 12 tahun. Dan mereka bersekolah di sekolah sihir yang sama. Disana juga ada adiknya Cakra, yaitu Candra. Ia masih berusia 8 tahun. Ia juga bersekolah di sekolah sihir yang sama dengan mereka bertiga. Dan saat ini Candra sedang bermain dengan kucing peliharaannya.
"Wah, lucunya kucing ini, siapa namanya?" Tanya Agam penasaran kepada Candra yang sedang mengelus seekor kucing putih. "Namanya Tama, kakak." Kata Candra. "Oh..." Kata Agam sambil mengangguk. "Adikku itu memang suka kucing, Gam. Sama sepertiku." Begitu penjelasan Cakra. Agam hanya tersenyum sambil mengangguk. Agam hendak mengelus Tama, tapi ia melihat sebuah kutu dalam badan Tama itu. Agam pun mengeluarkan pelindung tangan sihirnya untuk melindungi tangannya, lalu ia mengambil kutu itu. "Kalau Abang suka sama kutu, dek Candra. Mungkin terlihat aneh tapi ya begitulah kenyataannya." Jelas Agam sambil menatap kutu itu dengan mata berbinar. Untungnya teman-temannya tak menganggapnya aneh. "Hah, kalau aku sih tak suka dengan hewan, apapun itu." Kata Deon sambil mendengus. Agam, Cakra, dan Candra tak memedulikan kalimat Deon, memilih diam. O ya, sebenarnya tujuan Agam dan Deon pergi ke rumah Cakra adalah untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka bertiga pun mengerjakan tugas tersebut dengan teratur. Satu jam kemudian Agam dan Deon pulang ke rumah masing-masing.
***
Hal yang mengejutkan pun terjadi di dunia fantasi 2 jam kemudian.
Agam sedang menonton TV sendirian di rumah. Ya, kedua orang tuanya pergi bekerja. Ketika Agam sedang mengganti saluran TV, Agam tak sengaja mendapati berita yang berjudul "Peringatan, kutu merah telah kembali ke dunia fantasi!" Dalam TV tersebut ditampilkan para penjaga dunia fantasi, orang yang menjaga kehidupan dunia fantasi ini, sedang memasuki seluruh rumah dengan paksa. 'Ada apa sebenarnya ya?' Tanya Agam dalam hati. Tiba-tiba saja pintu depan rumah Agam didobrak dengan paksa, hancur. Kemudian masuklah puluhan penjaga dunia fantasi ke dalam rumah Agam sambil masing-masing dari mereka memegang sebuah tongkat sihir. Salah satu dari mereka menyihir Agam agar ia tak bisa bergerak sama sekali, satu milimeter pun. Jangan tanya soal bicara, membuka mulut saja tak bisa. Mereka semua pun mulai mengecek seluruh bagian rumah Agam, termasuk celah-celahnya, tak boleh ada satupun yang tertinggal. 30 menit kemudian, mereka selesai mengecek seluruh bagian rumah Agam. Entah apa yang ingin mereka cek. Kemudian salah satu dari mereka menyihir kembali Agam seperti semula. Agam sudah bisa bergerak. "ADA APA INI SEBENARNYA?" Kata Agam setengah marah karena mereka masuk ke dalam rumahnya tanpa izin, dan setengah terkejut karena mereka melakukan hal tadi secara tiba-tiba. "Kutu merah telah kembali ke dunia ini lagi, nak. Ada seorang yang melaporkannya beberapa jam lalu. Seluruh bangunan di dunia fantasi ini harus diperiksa, karena takut kutu tersebut menyebar, nak." Kata salah satu penjaga dunia fantasi. "Kutu merah apa?" tanyaku penasaran. "Ah, wajar kamu tak tahu, kamu masih kecil, kejadian ini terjadi karena kejadian 100 tahun yang lalu..."
***
"100 tahun lalu dunia fantasi ini dikuasai oleh para puluhan ribu hewan kecil berbadan merah, ia dinamai kutu merah karena badannya berwarna merah dan bentuk badannya sama seperti kutu yang berada di planet bumi. Dunia kita dahulu masih terlihat sunyi, tak ada tanda-tanda kehidupan manusia. Suatu hari 100 keluarga dari bumi berkunjung ke dunia fantasi yang masih dipenuhi puluhan ribu kutu merah itu untuk membangun dunia mereka sendiri. Mereka diam-diam menguasai sihir, bahkan pada saat mereka masih tinggal di bumi. Mereka takut warga-warga bumi lain yang belum mengenal sihir menyalahgunakan sihir tersebut, makanya mereka pindah menuju dunia fantasi yang kita tinggali sekarang. Tapi masalah pun muncul. Para kutu berkumpul menghampiri para manusia, lalu menggerogotinya, kemudian membunuhnya. Mereka tak tahu kalau kutu-kutu tersebut bisa melenyapkan manusia hanya dalam waktu sedetik. Mereka mencoba memakai mantra sihir apapun untuk memusnahkan para kutu itu, gagal. Kutu-kutu itu tetap hidup. Mereka tetap mencari racikan mantra untuk memusnahkan para kutu merah itu. Dan akhirnya ada salah satu dari mereka yang mendapat racikan yang pas. Saat ia menyebut mantra itu, Kutu itu pun langsung tak berdaya. Manusia-manusia yang masih hidup pun mulai memusnahkan para kutu itu dengan memakai racikan mantra yang telah digunakan oleh salah satu dari mereka tadi. Berhasil, seluruh kutu merah yang berada di dunia fantasi telah dilenyapkan oleh mereka. Setelah itu mereka pun membangun kehidupan menggunakan sihir mereka. Hanya dalam waktu 10 detik dunia fantasi kita sudah seperti tempat yang berpenghuni, mereka menciptakan bangunan-bangunan yang persis dengan bangunan yang ada di bumi. Tak hanya itu, mereka juga menciptakan makhluk hidup dengan menggunakan sihir mereka, seperti hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain. Itulah awal dari kehidupan dunia fantasi kita, diciptakan menggunakan sihir dari manusia di bumi."
***
Demikian cerita masa lalu dunia fantasi. Agam benar-benar baru mengetahui tentang hal itu. "Kalau kutu-kutu itu sudah lenyap, kenapa kutu-kutu itu kembali lagi ke dunia kita?" Tanya Agam benar-benar penasaran. "Entahlah, mungkin kutu-kutu itu belum dibunuh seluruhnya." Begitu penjelasan dari salah satu penjaga dunia fantasi. Tiba-tiba saja masuklah para penjaga fantasi lain ke dalam rumah Agam. Salah satu dari mereka berkata, "Mohon perhatiannya para penjaga dunia fantasi. Seluruh daerah dalam dunia kita telah diidentifikasi, semuanya aman. Kecuali perpustakaan terbesar yang terletak di puncak gunung itu. Disanalah sarang para kutu merah itu. Mereka bersembunyi di balik buku-buku perpustakaan. Para penjaga dunia fantasi lain sudah mengurung seluruh bagian perpustakaan itu. Tapi itu takkan bertahan lama, maka kita harus bertindak segera. Seluruh penduduk dunia fantasi juga harus ikut, untuk membantu kami memusnahkan para kutu merah itu." "Jadi aku juga harus ikut?" Tanya Agam. "Ya nak, anda juga harus membantu kami, atau dunia kita akan dikuasai kembali oleh para kutu merah itu. Ayo, kita musnahkan mereka bersama." Agam sebenarnya merasa keberatan, dirinya menyukai kutu, ia tak kuat melihat para kutu dimusnahkan. "Ayo, nak. Tunggu apa lagi." Agam melihat para penduduk sudah mulai keluar dari rumah mereka. Agam pun akhirnya ikut para penjaga dunia fantasi untuk memusnahkan para kutu merah, walau ia merasa keberatan.
***
Agam melihat para penduduk, termasuk penjaga dunia fantasi, sedang mengeluarkan sihir ke bangunan perpustakaan yang berada di puncak gunung itu untuk memusnahkan kutu merah. "Eh hai, Gam" Seseorang menyapa Agam. "Eh, hai Cakra." sapa Agam balik. "Aku tak menyangka kutu merah akan kembali lagi, kakekku pernah bercerita mengenai kutu merah itu." kata Cakra. "Oya Ra, kata penjaga dunia fantasi kutu merah hanya ada berada di perpustakaan ini, tapi kutu yang ada dalam tubuh Tama..." "Oh itu hanya kutu biasa, bukan kutu merah." jelas Cakra. "Oh, syukurlah." Agam menghela nafas. "Ayo keluarkan seluruh tenaga kalian, cari mantra untuk membunuh mereka." Kata salah satu penjaga dunia fantasi. "Bukankah mantranya sudah pernah ditemukan?" Tanya Agam. "Benar, tapi hanya orang terdahulu yang mengetahuinya, mereka tak pernah memberitahu mantra tersebut pada anak-anak mereka." Aduh, hal ini akan menjadi sulit. Mereka masih mencoba mengeluarkan sihir pada perpustakaan tersebut walau terus saja gagal.
Menit-menit berlalu. Tiba-tiba saja seseorang muncul, seorang gadis perempuan berambut panjang, badannya langsing, berkulit putih, ia adalah Gabriela, sang 'Kutu Buku'. Ia meneriakan sebuah mantra pada perpustakaan tersebut. Saat mantranya selesai diucapkan, ia langsung masuk ke dalam, para penduduk berteriak, takut ia dibunuh oleh kutu merah. Para penjaga mulai menghampiri Gabriela untuk menahannya karena takut dibunuh oleh para kutu merah. Tapi tiba-tiba Gabriela keluar dari perpustakaan 10 detik kemudian, dalam keadaan selamat. Semuanya bertepuk tangan kepada Gabriela, termasuk penjaga dunia fantasi. Itu benar-benar sungguh sebuah keajaiban. Tapi bagaimana ia bisa menemukan mantranya?
"Bagaimana kau melakukannya, itu hebat sekali." Banyak yang bertanya hal itu kepada Gabriela, sehingga membuat keadaan bising. Gabriela mengangkat tangannya, menyuruh mereka diam. Lalu Gabriela pun berkata, "Aku bisa melakukanya karena... Nenekku." Ia berhenti bicara sejenak. "Ia yang pertama kali menemukan racikan mantra untuk memusnahkan kutu merah. Nenekku pernah menuliskan mantra itu pada sebuah kertas putih. Aku mencoba kembali ke rumah setelah aku melihat banyak kutu merah di perpustakaan untuk mencari kertas tersebut. Butuh waktu bermenit-menit untuk mencarinya sampai aku menemukannya. Lalu aku pun mengucapkan mantra yang ada dalam kertas tersebut, dan aku berhasil." Gabriela telah selesai bicara. Semuanya bertepuk tangan kembali kepada Gabriela, mengucapkan selamat. "Hei kenapa disini ada lobang?" Seseorang bertanya, Cakra dan Agam mengenal suara itu. Mereka berdua menghampiri sumber suara, dan ternyata itu adalah Deon. Orang yang berada di dekat lobang itu menoleh pada lobang yang ditunjuk Deon. Salah satu penjaga dunia fantasi berkata, "Aku mengetahuinya sekarang. Saat 100 tahun lalu mereka menghabisi para kutu merah, sedikit dari para kutu merah itu mencoba membuat lubang, berusaha menyembunyikan diri. Lalu mereka diam-diam beranak, kemudian bertambah banyak kembali. Entah bagaimana mereka bisa melakukannya." Itu menurut salah satu penjaga dunia fantasi. Akhirnya dunia selamat. Kalau tak ada Gabriela, maka dunia kami ini akan dikuasai oleh para kutu merah.
***
Besoknya, siang hari, di rumah Cakra.
"Kau tak sedih melihat kutu-kutu itu dibunuh kemarin, Gam?" tanya Cakra. "Tidak, lagi pula mereka pembunuh manusia. Berbeda dengan kutu yang kemarin kupegang." Jelas Agam. "Woi, kalian harus melihat berita ini." Deon yang sedang menonton TV memanggil Cakra, Agam, dan Candra. "Orang yang kemarin menyelamatkan kita diangkat jadi ketua penjaga dunia fantasi." Seru Deon. Disana terlihat Gabriela sedang 'dipuja-puja' oleh para penjaga dunia fantasi. Berkat tindakannya kemarin yang menyelamatkan dunia fantasi, ia pun dijuluki sebagai ketua penjaga dunia fantasi. Terima kasih, berkat dirimu kami semua selamat.
Omong-omong bagaimana dengan perpustakaan itu?
Perpustakaan itu sudah dirobohkan. Penjaga perpustakaan tewas digerogoti kutu merah. Gabriela mengubah tempat itu menjadi perpustakaan yang baru, perpustakaan yang lebih besar. Setiap hari ia mengunjungi perpustakaan itu pada sore hari (karena pada pagi-siang hari ia harus bekerja sebagai ketua penjaga dunia fantasi), ia menemukan berbagai ilmu tentang dunianya, agar dunianya bisa lebih berkembang lagi.
***
~TAMAT~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain dibawah ini ya 🙏👇
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏