Suara serangga khas musim panas sedang bergema di sekitaran taman. Eva melihat suasana sekitar taman yang tak begitu banyak dikunjungi. Musim panas dengan cahaya matahari teriknya, berhasil membuatnya merasa haus dan kepanasan. Segelas minuman dingin serat kipas di tangannya, meredakan sedikit situasi yang terjadi.
Di depannya hanya ada kursi kosong. Duduk sendiri sembari menikmati minum, mengingatkannya akan suatu momen. Di masa lampau, dirinya tidaklah sendirian. Sebab ada seorang lelaki yang dahulu selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Laki-laki itu adalah kekasihnya yang sudah lama meninggalkannya. Eva masih teringat jelas akan kenangan indah bersamanya tersebut.
"Hingga saat ini, aku masih mengingatnya. Apa ini dikatakan cinta sejati?" pikirnya sekaligus bertanya.
Eva menyedot minuman melalui pipet yang ada di gelasnya. Dirinya kembali teringat akan momen minum bersama sambil bermain pipet minuman.
"Bahkan tingkah konyol itu pun aku masih mengenangnya. Kalau di ingat-ingat masih terasa lucu." Eva tertawa kecil mengulas memorinya.
Topi yang ada di kepalanya ia ambil dan ditatapnya beberapa saat.
"Banyak kenangan yang telah kau berikan padaku. Ini dirasa sangat membekas." lanjutnya.
Usai berlama-lama disana, Eva tegak dan berjalan meninggalkan tempat itu.
"Hari ini aku harus pergi ke sana." ucapnya sambil memasak topi di kepalanya.
Menyalakan mesin mobil, lalu mulai melaju. Eva berkendara menuju suatu tempat yang dirasa wajib baginya untuk ke sana di waktu tertentu. Jalanan lenggang membuatnya menambah kecepatan. Setelah itu dirinya tiba di sebuah tempat yang dimaksudkan tadi.
Begitu sepi karena musim panas yang menerpa. Dengan membawa payung, Eva mulai menyusuri jalan setapak yang ada didepan mata.
Panas sungguh menyengat. Tapi karena dibawah payung yang lebar, Eva tidak merasakan hal itu sepenuhnya.
Langkah kakinya berlangsung hingga tiba di suatu lokasi. Ia duduk lalu menunduk.
"Aku datang untuk mengunjungimu, sayang."
katanya dalam tundukan kepala.
Terlihat sebuah nisan ada di dekat wanita itu. Tertera nama sang kekasih yang sudah pergi beberapa tahun silam. Eva merenung dalam suasana tenang di sekitarnya. Menahan tangis dan mengungkapkan akan perasaannya saat itu.
"Aku masih merindukanmu hingga saat ini. Kamu begitu spesial. Bahkan meninggalkan kenangan yang belum memudar dalam waktu yang lama. Aku masih teringat apa yang telah kita jalani bersama sepanjang hari." tangisan masih ditahannya.
Setelah itu Eva berdiri sembari memandang nisan itu.
"Terimakasih atas segalanya. Aku tidak akan melupakanmu meski nanti aku sudah hidup bersama orang lain sekalipun. Kau bukan orang utama lagi, tapi kau adalah bagian dari kenangan indah milikku di masa lampau." ungkapnya.
Eva berbalik badan dan pergi dari tempat itu.
Ia berharap sang kekasih tetap dalam ketenangan di alam sana.
-----SELESAI-----