Ruangan dapur yang dipenuhi dengan uapan sebuah penanak nasi serta wajan yang berisikan masakan dengan bau yang khas, menggambarkan situasi yang ada kala itu. Seorang gadis berseragam sekolah sedang sibuk memasak sarapan untuk keluarga dan juga bekalnya nanti.
Setelah memasak, Ghea yang merupakan namanya itu langsung bergegas pergi menuju sekolah. Ghea berjalan sembari berdendang. Dengan menenteng bungkusan yang berisi kotak bekal itu, dirinya merasa tak sabar untuk memakannya pada jam istirahat nanti.
Setibanya di sekolah, Ghea menjalani aktivitas seperti biasa. Belajar hingga jam pelajaran selesai. Lalu waktu istirahat pun tiba. Hari ini menunya dirasa spesial. Sebab ini kali pertama Ghea memasaknya berdasarkan buku resep pemberian Neneknya dahulu. Bau yang keluar dari kotak bekal itu dirasa enak dan hiasan yang dibuat oleh Ghea tampak begitu indah. Orang-orang di kelas mencium aroma makanan milik gadis itu. Satu persatu berdatangan menghampiri meja Ghea.
"Baunya sangat enak! Makanan apa itu?" tanya salah seorang teman sekelasnya.
Ghea menyebut nama makanan yang ada di dalam bekalnya. Lalu dirinya mulai memakan bekal tersebut.
Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya dan rasa pun muncul di lidahnya.
"Ini sungguh enak. Aku tak menyangka resep itu berhasil. Nenek memang hebat!" ungkapnya dengan rasa senang.
Beberapa temannya yang datang ingin mencoba satu suapan dari bekal milik Ghea tersebut. Mereka merasakan makanan itu dan semuanya langsung menyatakan bahwa mereka menyukai bekal miliknya itu. Ghea merasa senang dan tersanjung karena ada yang memuji masakannya itu.
Selesai makan, jam pelajaran berganti dan seluruh murid kembali belajar seperti biasa.
Sepulang sekolah, Ghea melihat seseorang tengah bermain sepakbola seorang diri di lapangan sore itu. Gadis itu hanya memperhatikan dari jauh sambil melangkah menelusuri jalan setapak. Tak lama berselang sebuah bola kaki bergelinding di dekatnya.
"Hei! Tolong oper kesini." Teriak lelaki yang berada di lapangan bola itu.
Ghea menghampirinya sambil membawa bola tersebut. Seketika saat tengah melangkah, dirinya terpeleset dan terjatuh persis di tepian lapangan tersebut. Bola menggelinding didekat kaki laki-laki itu. Lalu kotak bekal sisa makannya tadi berserak sebab ia terjatuh saat menentengnya diwaktu yang sama. Mengalami luka ringan pada bagian kaki, membuat Ghea sedikit sulit untuk bangkit. Anak laki-laki itu datang menghampiri dan membawa Ghea ke sebuah tribun.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya lelaki itu.
"Aku hanya mengalami sedikit luka di bagian kaki. Tapi tidak apa-apa kok. Hanya luka ringan." jawab Ghea.
"Tunggu sebentar ya." ujar lelaki itu menyuruhnya untuk menunggu sekejap.
Dia berlari menuju gedung sekolah dan tak berapa lama berselang dirinya kembali dengan membawa kotak obat untuk Ghea.
"Luruskan kakimu. Aku akan mengobatinya. Lebih baik di obati sekarang kan." katanya sembari mengobati.
Ghea merasakan perih sebab obat yang diberikan pada lukanya.
"Tahan ya. Dan selesai. Coba sekarang kamu berdiri perlahan." ucap lelaki itu.
Ghea berjalan perlahan dan bisa menahannya. Kemudian kotak bekal yang jatuh sebelumnya di kembalikan oleh lelaki tersebut.
"Berhati-hatilah saat pulang nanti. Jangan terburu-buru." katanya sambil memberi kotak bekal.
Ghea menerimanya dan segera pergi dari sana. Tak lupa ia berpamitan sebelum pulang.
"Terimakasih atas bantuannya. Sampai jumpa."
melambaikan tangan seraya menjauh.
Esok harinya, gadis itu kembali membuat sebuah bekal seperti biasanya. Menu hari ini tak jauh berbeda dengan waktu sebelumnya.
Barang bawaan dirasa berat kali ini. Dan dirinya harus segera berangkat menuju sekolah.
Di sekolah, Ghea menikmati makanan yang ada di dalam kotak bekal. Aroma yang memancing nafsu makan itu telah menggoda beberapa orang yang ada didalam kelas.
Setelah selesai makan, Ghea membereskan mejanya agar terlihat bersih seperti sedia kala.
Pulang sekolah, Ghea berjalan di jalan yang sama layaknya kemarin. Ia melangkahkan kakinya yang masih terdapat plester akibat kejadian waktu itu.
Matanya memandang ke arah lapangan yang ada di sampingnya tersebut. Terlihat lapangan begitu kosong. Akan tetapi tak lama setelah itu, dirinya berhasil melihat seseorang yang berada di tribun saat ini. Orang itu tak lain adalah yang pernah menolongnya tepatnya kemarin.
Ghea berubah arah menuju tribun, lalu hadir didepan anak laki-laki tersebut.
"Kamu yang kemarin bukan? Bagaimana lukamu? Apakah sudah sembuh?" tanyanya.
"Belum. Paling sebentar lagi. Dan aku kesini ingin memberimu sesuatu sebagai ucapan terimakasihku atas kebaikanmu pada waktu itu." kata Ghea seraya memberikan sesuatu.
Laki-laki itu melihat isi dari pemberian Ghea. Dan terlihat dari raut wajahnya, dia nampak senang dengan apa yang diberikan oleh sang gadis.
"Terimakasih. Tapi ini terlalu berlebihan bukan? Aku bahkan tidak mengharapkan apapun sebenarnya." ujarnya pada Ghea.
"Tidak apa-apa. Ini atas inisiatifku sendiri kok. Jadi tolong diterima. Aku harap kamu suka."
balas Ghea.
Lelaki itu menerima sebuah bekal buatan dari Ghea. Menyuap dengan perlahan, lalu merasakannya melalui kunyahan. Sebuah pujian keluar dari mulut anak laki-laki itu. Ghea tersenyum dan tentu saja merasa senang melihat orang menyukai masakannya.
Belum selesai makan, Ghea buru-buru pergi meninggalkan lokasi. Laki-laki itu memanggilnya. Tetapi gadis tersebut tetap berjalan dan menyampaikan pesan.
"Kembalikan saja kotak bekal itu besok di kelasku. Sudah tertera di kotak bekal. Sampai jumpa!"
Gadis itu sudah pergi menjauh. Tertera sebuah tulisan di bawah kotak bekal yang ada ditangannya.
---
Usai pelajaran selesai, Ghea bergegas keluar kelas. Baru sampai didepan pintu, seseorang menghentikan pergerakannya tersebut. Sebuah kotak bekal berada di depan matanya. Ghea mengambil dan melihat wajah dari si pemberi. Anak laki-laki itu hadir didepannya dengan selipan senyuman.
"Ini kotak bekalmu aku kembalikan. Terimakasih atas bekal sebelumnya. Ternyata kamu sangat pandai membuatnya. Aku salut padamu."
ungkapnya sekaligus pergi meninggalkan Ghea di depan kelas.
Ghea memandangnya dan mengucapkan terimakasih, meskipun lelaki itu tidak mendengarnya karena sudah begitu jauh.
-----SELESAI-----