Ini sudah menit kesekian sejak dua orang wanita saling duduk berhadapan disebuah ruangan berukuran sederhana.
Hanya terdapat dua kursi plastik dan satu meja usang yang tertutup taplak pudar. Namun belum ada satu patah katapun yang terucap diantara mereka.
Namanya Junia. Orang disekitar mereka memanggilnya Juni, ya … dia lahir tepat di bulan ke-enam yaitu Juni. Sesederhana itu orangtuanya memberikan nama, sesederhana kehidupan Juni selama ini. Namun berbeda dengan tampilan wanita di depannya, jauh dari kesan sederhana.
“Sudah berapa bulan?”
Juni mengangkat kepala, dengan sorot mata yang begitu kecewa. Kaget dengan pertanyaan wanita didepannya. Bukan, bukan sapaan ini yang Juni harapkan.
“Jadi ini alasan kamu bersembunyi?” cecarnya “ Dan juga alasan kamu berhenti kuliah?”.
Menggeleng lemah Juni berkata “Saya tidak bersembunyi bu, ini memang tempat tinggal saya” yahh ... setidaknya memang ini yang Juni punya, selain Ibu dan juga nyawa yang masih bersembunyi di perutnya dan juga seseorang yang … ahh bahkan ia segan menyebut nama pengisi hatinya selama satu tahun belakangan ini.
“Dan asal ibu tau, Bapak belum tau perihal ini,” sambil meremas ujung seragam kerjanya “karena saya .... "
“Karena ternyata dia sudah punya istri?”
potong Bu Ranti, tamu wanita yang belakangan ini gencar mencari dirinya. Kilatan marah yang coba Bu Ranti redam, berharap benang kusut kehidupan rumahtangganya selama 8 tahun dapat terurai dengan jelas.
“Assalamu’alaikum ladang surganya Uni, udah mandi belum nih?”
adalah sapaan hangat yang sealu Juni sampaikan begitu masuk kedalam kamar berukuran 3x2 m, sambil mengecup punggung tangan sang Ibu, seraya mencium pipi tirus beliau.
“Duhh, wangi banget ... Ibu udah makan? Uni beli burjo tadi pas balik kerja, ga pake kuah santan nih.”
Juni ingat sekali betapa cantiknya raut muka sang Ibu tatkala masih sehat,
“Uni siapin ya bu?”.
Tapi sayang, semenjak kepergian sang Ayah 5 tahun silam membuat kehidupannya jungkir balik. Ibunya terkena stroke akibat ulah sang ayah, selingkuh!.
“Buuu ayang Uni ... ayang cu cuh Buu ... Uni ehat elus yahhh, jaa ngan apekk nii”
membelai wajah sang putri perlahan dengan gerakan pelan, demi menyampaikan segenap kasih sayang orangtua kepada anak yang sudah lama tak beliau lakukan.
“maa..ap bu ikin Uni epoth teuss”
Menderita stroke hampir 4 tahun, bahkan semakin hari bukan perubahan menuju sehat yang didapat tapi penyakit yang kunjung membuat sang Ibu menderita. Riwayat darah tinggi ditambah syok dengan pengakuan sang ayah tentang perselingkuhannya membawa sang ibu kepada ketidakberdayaan.
Tapi hidup harus tetap berjalan bukan? sekuat apapun kita mengelak, mengeluh, tidak akan merubah apapun.
Andaikan Tuhan mengenal kata negosiasi, mungkin Juni ingin terlahir dari rahim emas, keluarga bangsawan, atau apapun asal bahagia terus melekat bukan penat yang hinggap memikat.
“Ibu ngomong apa si? Uni sehat kok, Uni bahagia banget punya Ibu, Uni sayang Ibu, sayang pake banget pokoknya”
Tersenyum hangat seraya membuka perlahan bungkusan burjo dengan cekatan, kemudian menuangkannya kedalam mangkok plastik.
“Udah pokoknya yang penting Ibu cepet sehat, biar bisa nemenin Uni lahiran nanti yaa” pintanya “ biar ada yang ngajarin Uni cara ngurus adek ... oke ibu cantik?”
Juni lupa caranya bahagia, Juni tidak ingat kapan terakhir kali ia merasakannya. Ingatannya menerawang jauh dengan sosok yang ia rindukan. Suaminya. Yang telah pergi tanpa kabar selama beberapa bulan terakhir ini.
“Mas ada urusan diluar kota ni, tadi dapet tugas langsung dari pak Dekan”
menjadi alasan Juni melepas kepergian Suaminya tanpa sempat memberitahu ada sosok yang bersemayam didalam perutnya. Tuhan, bolehkah ia meminta … sedikit saja? Menyematkan ingatan kepada calon buah hatinya tentang sosok yang telah membuatnya ada.
“Juni pengen mas yang adzanin anak kita, suara pertama yang anak kita dengar adalah Ayahnya. Bolehkan mas?”
mengelus perlahan perutnya, memasuki minggu ke 27 banyak sekali gerakan yang diberikan didalam perutnya. Salah satu penyokong semangat Juni demi mencapai kata bahagia, yang menurutnya begitu mewah.
Juni sempat mengagungkan asanya, yaitu sebuah keluarga. Tapi pertemuan tak terencana dengan wanita paruh baya yang mengaku seorang istri dari suaminya membuatnya tersadar pada kenyataan hidup.
Semesta sedang bermain peran begitu hebat, memberi peran Juni dengan penuh ketidakberdayaan. Menikah siri dengan seorang dosen yang ia ketahui seorang duda, Ibunya yang hanya bisa tergeletak tak berdaya diatas kasur kumal, kini bertambah dengan mahluk hidup yang tak ia sangka menetap dirahimnya. Ini benar-benar telah jauh diluar jangkauannya.
Lalu bagaimana dengan nasibnya?
Ku gantungkan asa setinggi langit
Ku rebahkan hidup dalam angan
Ku genggam doa dalam khidmat
Tapi langkahku enggan melaju
Mataku telah terpaku
Kepadamu sosok yang kusebut candu..
By Denia 💕💕