Oleh: Yudhistira Ikranegara
Ditulis kembali Oleh fnnaeson...
Tema : Memenjarakan angin
Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya,Baginda slalu memanggil abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yg aneh-aneh. Hari ini juga abunawas dipanggil ke istana.
Setelah tiba di istana, Baginda raja menyambut abu Nawas dengan sebuah senyuman.
" Akhir-akhir ini aku sering mendapatkan gangguan perut. Kata tabib pribadi ku, aku kena serangan angin." kata Baginda raja memulai pembicaraan.
" Ampun tuanku,apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil? " tanya abu Nawas.
" aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakan nya " kata Baginda.
Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.Ia tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih binggung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.
Karena angin tidak bisa dilihat.
Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin.tidak seperti halnya air walaupun tidak bewarna tetapi masih bisa dilihat.sedangkan angin tidak.
Baginda hanya memberi waktu abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda raja. Namun abunawas tidak begitu sedih.karena berfikir sudah merupakan bagian hidupnya.bahkan merupakan suatu kebutuhan. Ia yakin dengan berfikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang di hadapi. dan dengan berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. karena tidak jarang abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua hari ini abu Nawas belum juga mendapatkan akal untuk menangkap angin apa lagi memenjarakan nya.sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda raja. abu Nawas hampir putus asa. abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walah hanya sekejap.
mungkin sudah takdir, kayaknya kali ini abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda.Ia berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, Yaitu Aladin dan lampu wasiat nya.
" Bukankah jin itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. Ia berjingkrak girang dan segera berlari pulang. sesampainya dirumah dia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatu kemudian menuju istana. Di pintu gerbang istana, abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal kerena Baginda raja sedang menunggu kehadirannya.
Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya ke pada abu Nawas,
" Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, Hai abu Nawas?"
" Sudah paduka yang mulia" jawab abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. kemudian abu Nawas menyerahkan botol itu.
Baginda menimang-nimang botol itu.
" Mana angin itu abu Nawas?" tanya Baginda
" Didalam, tuanku yang mulai" jawab abu Nawas penuh takzim
" aku tidak melihat apa-apa" kata Baginda raja
" Ampun tuanku angin memang tidak bisa dilihat,tetapi bila paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu!" kata abu Nawas menjelaskan.
Setelah Tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk.Bau kentut yang begitu menyengat hidung.
" Bau apa ini, hai abu Nawas?" tanya Baginda marah.
" ampun tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba memasukannya ke dalam botol.karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakan nya dengan cara menyumbat mulut botol." kata abu Nawas ketakutan.
Tetapi bagida tidak jadi marah kerena penjelasan abu Nawas memang masuk akal.Dan untuk kesekian kalinya abu Nawas Selamat dari hukuman.
TAMAT....