Setiap orang memiliki daya tariknya tersendiri. Beragam dan juga bisa memikat hati seseorang yang melihatnya.
Hal itu dirasakan oleh Alexander. Pada jamuan makan malam keluarga, dirinya menghadiri acara itu bersama keluarganya. Ayah, ibu, abang, dan dirinya sendiri berada di acara tersebut. Undangan jamuan makan malam itu dilakukan oleh seorang sahabat dari ayah Alexander. Pria itu bernama Morison. Dia adalah orang yang berteman dekat dengan ayah Alexander sedari masa sekolah hingga partner kerja. Keduanya memiliki hubungan yang baik hingga kini. Dan malam ini adalah kali pertamanya Alexander datang untuk menghadiri undangan makan malam dari sahabat ayahnya itu.
Di sebuah rumah yang besar, Alexander berjalan bersama keluarganya untuk menghampiri pak Morison yang sudah menunggu di dalam.
Mereka semua bersalaman dan duduk di meja makan bersama. Tampak keluarga pak Morison datang di hadapan keluarga Alexander di ruang makan. Ada istri dan seorang putri tunggal dari pak Morison. Alexander menatapnya dari bawah hingga atas.
"Apakah dia anak dari pak Morison?" tanyanya dalam hati.
Dirinya merasa langsung terpikat usai melihat anak dari pak Morison tersebut. Perempuan itu duduk persis di hadapannya. Pikatan ini berlangsung sejak dia menampakkan diri.
Alexander tidak bisa beralih darinya. Mata yang indah serta terlihat sangat anggun. Membuat ia langsung jatuh hati dalam pandangan pertama.
Ayah dan ibu Alexander asik mengobrol dengan pak Morison serta istrinya. Sedangkan Alexander hanya terdiam melihat rupa dari putri keluarga Morison yang memiliki nama Geneva.
Pandangan Alexander itu membuat abangnya yang ada disebelah tahu, bahwa adiknya itu tengah terpana akan sosok dari Geneva.
Siku bergerak dan menyenggol Alexander. Abangnya yang bernama Peter itu langsung berbisik di telinga sang adik.
"Aku tahu bahwa kau menyukainya kan." bisik Peter pada Alexander.
Alexander menggelengkan kepala. Akan tetapi Peter tentu tidak percaya dengan gelengan kepala itu. Karena dia sudah memperhatikan Alexander sejak awal kehadiran Geneva tadi.
Peter membiarkan adiknya itu terus menatap perempuan yang ada di hadapannya.
"Lanjutkan. Aku tidak akan mengganggumu." lanjut bisik Peter.
Alexander merasa tidak enak jadinya walau sang abang mendukung dirinya. Tapi pada akhirnya Alexander tetap memandang perempuan itu sesekali agar tidak di curigai.
Setelah mengobrol, sesi makan malam pun dimulai. Seluruh hidangan sudah ada di hadapan dua keluarga itu. Dan waktunya bagi mereka semua untuk menyantapnya bersama-sama.
Semuanya menikmati makanan masing-masing. Namun, Alexander malah fokus melirik Geneva sedari tadi. Hingga makan malam bersama pun selesai. Pak Morison beserta istrinya mengajak sang ayah dan ibu untuk pergi ke suatu ruangan agar bisa mengobrol lebih lanjut. Peter memutuskan untuk mengikuti ayahnya usai sang ayah turut mengajaknya sekaligus ingin mengenali putra tertuanya lebih dalam pada keluarga Morison.
Sekarang tinggallah Alexander dan Geneva di meja makan. Geneva mengajak lelaki di hadapannya untuk pergi ke sebuah balkon balkon untuk melihat taman besar milik keluarganya.
"Mari ikuti aku." ajak perempuan itu.
Keduanya berada di sebuah balkon sembari memandang taman yang ada dibawahnya. Lalu mereka saling berkenalan dan mulai bercerita mengenai masing-masing keluarga dan pribadinya.
"Keluarga kita sangat dekat ya. Tapi aku baru melihatmu pada jamuan makan kali ini. Sebelumnya hanya ada abangmu yang menghadiri undangan jamuan makan dari kami."
kata Geneva pada Alexander.
"Ini kali pertamanya aku datang kesini memang. Sebelumnya aku tidak bisa hadir." balasnya.
Geneva mengetahui alasan mengapa Alexander tidak menghadiri undangan sebelumnya. Kemudian Geneva lanjut bertanya soal pribadi lelaki itu. Dari hobi hingga kesehariannya.
Dan Alexander pun menjawab, lalu balik bertanya.
Keduanya saling bercakap hingga tibalah waktunya bagi Alexander untuk pulang.
"Sudah saatnya pulang. Aku harus pergi." kata Alexander membalikkan badan.
Saat ingin pergi, Geneva memanggil namanya.
"Alexander. Senang bisa berkenalan denganmu. Lain kali datang ya di jamuan makan malam berikutnya." ujar Geneva.
Alexander tersenyum dan membalas.
"Iya. Aku akan datang. Senang berkenalan denganmu."
"Aku menyukaimu." bisik Alexander.
Lelaki itu langsung pergi menuju tempat orang tuanya berada dan meninggalkan kediaman dari keluarga pak Morison tersebut.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang barusan kamu bisikkan itu? Aku bisa membaca gerakan mulutmu itu, Alexander." Geneva melihat mobil dari keluarga Alexander itu tengah melaju pergi.
-----SELESAI-----