Aku jatuh cinta dengan seseorang ...
***
Aku duduk di bangku kelas seperti biasa.
Menatap lurus ke depan seperti biasa.
Dia duduk di depan seperti biasa. Mengobrol menghadap ke arah belakang juga seperti biasa.
Semua gadis di kelas ini menyukainya, bahkan menaruh hati kepadanya. Tapi ia memperlakukan semua gadis dengan sama. Seolah tidak ada hal yang patut diberikan secara khusus.
Namanya Lucifer Arion. Panggilannya Lucifer. Panggilan akrab teman-temannya Singa Gosong.
Aku melakukan rutinitasku setiap hari. Menatap ke depan sambil membentengi wajah dengan buku. Sepertinya, karena keasyikan ngobrol bareng cewek-cewek, dia jadi tidak menyadari kalau aku memperhatikannya terus-terusan.
Aku suka caranya tertawa. Selera humornya cukup bagus.
Tapi sepertinya hari ini berbeda ...
Sret.
Dia melirik ke arahku. Tatapan itu ... pasti tertuju ke aku ...
Aku segera memalingkan wajah, pura-pura menoleh ke belakang dan mengobrol dengan teman di belakangku. "Hei, jam berapa sekarang?"
"Kamu bodoh yaa? Daritadi kau melihat ke depan, dan kau tidak melihat jam di depan kelas?"
Kuharap dia tidak mendengarnya. Aku tidak mau tertangkap basah seperti ini.
Aku menoleh ke depan, maksudku ke arah jam. Tapi disana aku melihat Lucifer tertawa kecil. Dia menertawakan kebodohanku yaa?
Puk!
Aku dikagetkan dengan setumpuk buku tugas di atas mejaku. Seseorang dari kelas lain meletakkannya disana seraya bertanya, "Kamu ketua kelas disini 'kan?"
Aku mengangguk seraya menggeser buku itu mendekat. "Baguslah. Kata Bu Vanessa, bukunya dibagikan sekarang saja. Aku permisi dulu," ucap anak itu seraya berjalan keluar.
Tentunya, sebelum kuserahkan buku ini ke setiap penghuni kelas, aku mencari buku milikku terlebih dahulu. Dilihat dari sampulnya saja, aku sudah bisa menemukannya dengan cepat.
Bruk.
Berbarengan saat aku menarik bukuku, sebuah buku terjatuh dengan tidak disengaja. Aku segera mengambilnya, lalu membaca nama pemilik buku tersebut.
Lucifer Arion
Tunggu ... jadi bukunya dia tadi ada di atas bukuku?
Entah mengapa, mendengar ucapanku sendiri aku malah membayangkan yang tidak-tidak.
"Wah, bukumu di bawahku yaa? Hmm .... "
Kenapa aku membayangkan suaranya?! Kenapa aku membayangkan dia yang nempel-nempel padaku?! Aku sebenarnya kenapa sih?! AAAAAAARGGHH Aku tidak suka ini!
Aku meletakkan bukunya di kolong mejaku, "Bagaimana kalau buku ini kusembunyikan saja?"
Aku melirik lagi ke bangkunya. Dia masih mengobrol heboh dengan teman-temannya. Aku menghela nafas, lalu mengulum senyum. "Biarlah. Aku jarang iseng. Lagipula ini cuma sehari saja. Dia pasti tidak akan sadar ...."
~***~
Aku jatuh cinta dengan seseorang ...
***
Untuk ukuran seorang gadis dia memang pendiam. Entah karena sifatnya dingin, atau karena dia orang yang pemalu. Kerjaannya setiap hari hanya membaca buku di bangkunya.
Salah satu alasanku lebih tertarik mengobrol menghadap ke belakang itu karena agar aku bisa melihatnya. Walau hanya sekilas. Kadang kedua mata kami saling bertumbukan, tapi dia malah memalingkan wajahnya.
Apa dia tidak suka ya kuperhatikan seperti ini? Mungkinkah dia risih denganku?
Aku aslinya ingin mengajaknya ngobrol, tapi aku belum berani. Aku takut mengganggunya. Sebagai murid teladan sekaligus ketua kelas, mungkin dia sibuk setiap hari ...
Set.
Dia melirik ke arahku, berbarengan denganku. Tapi lagi-lagi dia memalingkan wajahnya.
Tuh ... Dia pasti nggak suka ...
Yang aku suka darinya yaitu warna rambutnya. Putih, sama seperti rambut Rachel. Dilihat dari saat ia memalingkan wajahnya, sepertinya rambutnya halus. Aku ingin mengelusnya, tapi bagaimana?
Nanti aku malah dikira cowok aligator.
Aku agak dikagetkan dengan eksistensinya di sebelahku, membagikan buku tugas ke siswa yang lain.
Biasanya yang bertugas membagikan buku itu Rachel, tapi sekarang ...
Nah, ini yang kutunggu ... Hahahahaa.
Tapi ... kenapa dia sama sekali tidak pergi ke mejaku?
"Sekalian ada pesan dari Bu Vanessa. Katanya, kalau buku tugasnya sudah selesai dibagikan, boleh langsung pulang berhubung adanya masalah perbaikan di sekolah." Ucapan Rafael sontak langsung disambut dengan sorakan bahagia seisi penghuni kelas.
***
Aduh sial, aku lupa kalau aku belum dapat buku tugasku. Sekarang ... bagaimana caranya aku membuat tugas?
Tanpa pikir panjang, aku mengambil ponselku. Menghubungi beberapa temanku, barangkali mereka ada yang melihatnya?
Tapi nihil. Tak ada seorang pun yang melihatnya. Bahkan Rachel menyuruhku untuk menanyakannya ke Rafael. Karena yang membagikan buku itu tadi adalah Rafael.
Aku ragu-ragu mencari kontaknya. Bahkan untuk menghubunginya melalui chat.
[Anu, Raf. Buku tugasku hilang, kamu ada liat nggak?]
Kubaca kalimat itu berkali-kali. Takut ada typo atau salah kata.
Sebelum mengirim, aku berpikir ... Aku jarang melihatnya main HP, apa chat-ku akan dibaca ya? Aku bahkan tidak tahu dia menyimpan nomorku di grup kelas atau tidak. Jadi ... apa mungkin chat-ku akan dibalas?
Sudah berkali-kali aku bolak-balik aplikasi chat untuk menunggu responnya. Tapi ... kenapa lama sekali?
Aku meletakkan kepala di atas meja, lalu mengacak rambutku. Hal ini sudah kuduga sebelumnya. Rafael itu didikannya keras, makanya anaknya disiplin sekali. Apa dia hanya akan memainkan ponsel pada saat-saat tertentu saja? Atau ... nomornya di grup kelas itu nomor Ayahnya? Jadi Ayahnya memakai foto Rafael agar orang lain tahu dia sudah punya anak?
Ish. Aku benci dengan isi pikiranku sendiri.
Aku menatap layar ponsel malas. Sesaat kemudian aku menegakkan punggungku lagi. Chat-ku benar-benar dibalas! Sepertinya aku harus mulai memberanikan diriku untuk PDKT dengannya.
[Hilanh? Kenapa bisa hilang?]
Jawabannya dingin sekali ... Rasanya aku tidak mau belajar ....
Rafael itu kadang galak, datar, dingin, tapi untuk ukuran seorang wanita, dia terbilang cukup tangguh. Jika pada dasarnya anak gadis mudah merasa marah, kesal, tertekan hingga menangis saat mendapat masalah. Beda sekali dengan Rafael, seakan-akan didalam tubuhnya yang mengisinya adalah jiwa tangguh milik anak laki-laki. Jangankan menangis, aku bahkan belum sekalipun melihat Rafael tersenyum.
Jadi ... aku harus jawab apa? Aku bahkan tidak tahu apa-apa.
[Makanya aku tanya ke kamu, siapa tau ada liat?]
Kali ini dibaca dengan cepat. Tapi ... kenapa dibalasnya lama? Apa dia dipanggil orang hingga lupa membalas pesanku? Ataukah ...
Yang membaca pesanku ini Ayah atau Ibunya?!
Aku menutup mulutku sendiri. Aku tahu Ayah dan Ibunya itu orangnya disiplin. Jadi, mungkin saja Rafael dilarang bergaul dekat-dekat dengan anak laki-laki.
Gawat ...
Seharusnya tadi dia kutelpon saja langsung.
Ting!
[Kalo' gitu, besok aku bantuin kamu nyari buku tugasmu]
[🙂]
DIBALAS HAHAHAHAAA!!! BAHKAN PAKAI EMOT SENYUM!! AKU MASIH PUNYA HARAPAN UNTUK PDKT DENGANNYAAA AHAHAHAHAAA!!!!
Aku terbahak senang sambil memukul-mukul meja saking girangnya. Ah, sudahlah. Karena tidak bisa belajar malam ini, aku mau ngehaluin ngirim surat cinta ke Rafael~
Kuambil buku tulisku di meja, membuka halamannya loncat-loncat. Oke ... mari kuingat, dimana rasanya kertas itu kuletakkan?
...
Sekian lama berpikir, akhirnya aku sadar kalau kertas itu terselip di buku tugasku yang hilang.