"Ced, anterin kuenya noh ke rumah Industriam!" Sang ibu berteriak dari dapur. Wanita berambut hitam sepunggung itu datang dengan ranjang kue di tangannya lalu menyerahkannya ke Acedia.
"Males."
"Ih, anterin doang apa susahnya? Toh jarak rumahnya Industriam cuma 3 rumah dari sini!"
"Hm." Acedia menggumam malas.
"Kamu itu yaa, olahraga ga pernah, berjemur pagi nggak pernah, nanti penyakit pada nempel ke kamu gimana? Ini cuma jalan sebentar aja kamu nggak mau, mau jadi apa kamu nanti hah?!"
Acedia terdiam sejenak, "Aku … mau jadi boneka," jawabnya serasa mengukir senyuman lebar. "Ga usah jalan, gerak pun ga usah."
"Gak! Gak ada basa-basi! Sana pergi cepetaaan!" Sang Ibu ngegas, tidak menerima penolakan.
Malas memperpanjang masalah, Acedia langsung melenggangkan langkahnya ogah-ogahan ke rumah teman dekatnya sedari SMP itu.
Sesampainya di depan gerbang rumah Industriam, suara tawa ria terdengar ramai sekali dari dalam. Acedia menelan ludahnya, apa Industriam membawa teman-teman sekolahnya untuk bermain ke rumahnya?
Harus kalian catat, Acedia tidak belajar dan jarang sekolah ke sekolah langsung, dikarenakan mengidap phobia terhadap kehidupan sosial, orangtuanya akhirnya sepakat untuk membelajarkan Acedia secara privat di rumah.
Tangan Acedia mulai gemetar menggenggam pegangan gerbang. Perlahan-lahan gadis itu membuka gerbang. Dari jendela, ia sudah bisa melihat bayangan kepala orang yang asing baginya. Acedia buru-buru menutup kembali gerbangnya. "Ih, nggak jadi ah! Takut ada orang!"
Lama berpikir, gadis itu kemudian menepuk-nepuk pipinya. 'Nggak-nggak-nggak! Jangan takut, Acedia! Cari Industriam aja, terus pulang!'
Gerbang mendadak dibuka dari dalam. Menampilkan sosok pemuda bertubuh tinggi tegap bersurai merah dengan sorot mata menakutkan. Acedia sampai menengadahkan kepala untuk melihat wajahnya karena saking tingginya.
"Heh, lu cewek aneh ngapain disini? Maling ya?"
Tubuh Acedia gemetar hebat. Bibirnya mendadak terasa kelu untuk digerakkan. Pemuda itu menaikkan alisnya bingung lalu mengibaskan tangannya di depan wajah Acedia, takutnya gadis berambut ungu itu kesurupan setan. Tapi ....
Acedia malah pingsan begitu saja.
---
Sociophobia. Nama penyakit gangguan mental yang diidap oleh Acedia. Phobia terhadap kehidupan sosial.
Bukan tanpa sebab ia begini, dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, gadis ini selalu dicemooh dan diejek karena warna rambutnya yang aneh. Terlalu sering disakiti akhirnya membuat Acedia tumbang dan menganggap semua orang yang tidak ia kenal adalah monster.
Naik ke bangku sekolah menengah, Acedia pun hanya masuk dua-tiga hari dalam seminggu atau bahkan lima kali dalam sebulan. Sisanya ia belajar di rumah dengan guru privat yang disewa oleh orangtuanya. Ia hanya akan masuk sekolah saat ada ulangan atau sejenisnya.
Acedia duduk di deret belakang, tepatnya di bangku paling pojok. Setiap ada siswa yang menyapanya, selalu ia cueki. Ia tidak mau membuka diri, ia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.
Namun pada hari UTS yang kedua di semester ini, ada seorang siswa laki-laki yang mau menghampirinya. Pemuda itu menyeret bangku, lalu duduk di depannya. "Kamu anak baru ya?"
Acedia buru-buru menutup bukunya, lalu menatap anak di depannya kikuk. Belakangan ini, setiap anak itu menyapa selalu ia cueki. Biasanya siswa lain akan langsung menjauhinya karena menganggap dia sombong dan judes. Tapi kenapa anak yang satu ini malah ....
"B-bukan," Acedia berusaha agar tidak terlihat takut dan membuka buku komiknya lagi untuk menyamarkan raut wajahnya. "Aku dari kelas 1 disini, cuma jarang sekolah karena ... aku sering sakit." Acedia beralasan.
Pemuda bersurai oranye di depannya mengangguk, "Sakit apa?" Acedia terdiam. Ia sudah tahu kalau suatu saat pertanyaan ini pasti akan meluncur keluar dari bibir pemuda bersurai oranye di depannya ini. Jadi ia hanya menggeleng, "Aku ... nggak bisa cerita."
"Oh, oke. Aku ngerti." Pemuda itu mengulum senyum, lalu mengulurkan tangannya, "Kita belum kenalan 'kan? Kenalin, namaku Industriam."
Acedia menelan ludahnya, tangannya mendadak gemetar. Gadis itu mengelap tangannya yang mulai basah ke rok sekolahnya. Lalu menjabat tangan Industiam ragu-ragu. Industriam mengguncang tangannya naik-turun. Jantung Acedia serasa akan copot karenanya. Ia sudah tidak pernah berkenalan dengan berjabat tangan bertahun-tahun lamanya.
Gadis itu buru-buru menarik tangannya, lalu pura-pura membaca komiknya lagi.
Industriam memegang komiknya. Acedia tersentak kaget. "Emmm ... Serial Cantik dari Elex Media Komputindo?"
Acedia mengangguk cepat. "Wah, kamu suka baca manga? Suka nonton anime nggak?" Industriam menyerocos.
Acedia mengangguk lagi, "Su-suka. Tapi aku nggak nonton banyak anime."
Industriam terbahak senang, "Wah, dapet temen wibu! Banyak yang ngatain cowok nggak cocok jadi wibu. Tapi kalo udah terlanjur suka, ya mau gimana lagi 'kan? Rekomendasiin anime lucu dong!"
Acedia menelan ludahnya. Ia tidak mengira percakapan mereka akan jadi sepanjang ini. "Maoujou de Oyasumi?"
Industriam mencatat judul anime itu di kertas clepekan di sebelahnya. Entah kertas punya siapa itu, pemuda itu malah mengambilnya seenak jidat. "Ini belom pernah kutonton, beneran lucu?"
Acedia menggeleng, "Terserah sama yang nonton."
"Rekomendasi anime detektif ada nggak? Aku udah nonton Detektive Conan sampe habis soalnya."
Acedia berpikir, "Detektive Kindaichi?" Industriam mencatat, "Oh ya, Darling In The FranXX udah pernah nonton?" tanya pemuda itu.
Acedia mengangguk, "Itu anime yang pertama kali kutonton."
"Masa?" Industriam memasang tampang sok, "Bukan Doraemon?" Acedia tercengang. Kata-kata Industriam ada benarnya.
Industriam tertawa, "Kimetsu no yaiba pernah?" Acedia mengangguk, "Aku punya banyak koleksi CD-nya."
Gadis itu lama-kelamaan akhirnya merasa nyaman mengobrol dengan Industriam. Ia tidak lagi merasakan rasa takut yang hebat.
Industriam pun akhirnya jadi sering mampir ke bangkunya saat jam istirahat, meski pun hanya cuma untuk mengobrol soal anime atau manga sampai jam istirahat habis dan mereka lupa makan.
Sedikit demi sedikit, mereka mulai dekat dan benang merah yang menghubungkan mereka mulai terlihat.
---
Keesokan harinya, kedua orangtua Acedia dikejutkan dengan pernyataan putrinya.
"Pa, Ma. Besok aku mau sekolah lagi."