Setelah diberi jeda untuk libur selama dua minggu dari pekerjaan sampingan dengan alasan ada ujian akhir SMA, Rion memberanikan diri untuk memesan tiket dan melesat ke salah satu institusi mental di kota. Menemui salah satu pasien dengan penyakit jiwa yang tidak bisa ia benci meskipun ia benci disakiti oleh pasien itu.
Sepanjang perjalanan dengan kereta listrik itu Rion bergelut dengan pikirannya sendiri. Bagaimana jika orang itu tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja? Bagaimana jika orang itu malah menyakitinya dengan melempar benda seperti tahun silam? Bagaimana jika ... saat ia sudah kembali memutuskan untuk menjenguknya setelah tiga tahun lamanya, orang itu malah semakin melupakannya?
Pusing dengan segala pemikiran negatif yang menjejali otaknya, Rion memilih untuk memikirkan suatu cara untuk menyapanya, atau cara untuk membuka obrolan dengan orang berpenyakit jiwa seperti dirinya.
Itu mustahil ....
Rion sempat menyesal karena sudah menolak ajakan teman-temannya untuk mengajaknya menonton film di bioskop. Atau hanya untuk sekedar mencicipi cemilan pengganjal perut di salah satu kafe di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
"Aku tidak akan berkhianat darimu." Rion berbisik lirih. "Karena bagaimanapun juga, karena keegoisanku waktu itulah kamu jadi begini."
Kereta berhenti di stasiun tepat pukul 12 siang. Setelah berhasil melewati aksi saling dorong mendorong saat keluar kereta, dan nyasar kesana-kemari akibat hilang arah, Rion akhirnya berhasil menemukan kembali alamat institusi mental tersebut.
Pemuda bersurai hitam jabrik itu menghirup nafas dalam-dalam. Seakan-akan sedang mempersiapkan sesuatu di dalam rongga dadanya. Setelah keyakinanannya terasa mantap, barulah Rion mulai menjejakkan kakinya masuk ke dalam institusi mental tersebut.
Hawa berat dari para pasien penyakit jiwa sudah mengelus kulit sejak langkah pertama. Kehadiran Rion disambut oleh dua orang perawat wanita yang familiar. Dua perawat wanita itulah yang menjaga pasien yang akan dijenguk Rion saat ini. Mereka sudah saling akrab semenjak kasus tiga tahun silam, dimana Rion cidera akibat dilempari benda oleh orang tidak waras itu.
"Suasana hatinya saat ini sedang baik, semoga beruntung Nak Rion," ucap salah satu perawat sembari tersenyum hangat pada Rion. Kedua perawat itu lalu membukakan pintu ruangan tempat orang itu dirawat.
Rion berdiri mematung di depan pintu, tidak ada secuil niatan pun baginya untuk masuk setelah melihat eksistensi orang yang akan dijenguknya itu. Pasien berupa pemuda yang sebaya dengan Rion yang bersurai putih dan dengan beberapa helaian cyan itu duduk di atas ranjangnya, memunggungi pintu tempat Rion berdiri dan menatap hampa keluar jendela, tepatnya ke arah langit.
Tiba-tiba saja suatu perasaan aneh menggelayuti kaki Rion. Sehingga tanpa disadari Rion mundur selangkah perlahan-lahan. "Kalau kau takut, lebih baik jangan memaksakan diri," ujar perawat yang berbadan pendek.
Rion menggeleng, "Aku tidak takut." Seperti kebanyakan anak laki-laki lain, Rion tidak mungkin bersedia menunjukkan sisi lemahnya. Apalagi ke hadapan orang luar. Ditemani oleh kedua perawat tadi, Rion akhirnya memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Perawat berbadan tinggi mengelus pundak pasiennya lalu tersenyum, "Cuacanya bagus ya, Nak Rafael."
Pasien yang bernama Rafael itu terdiam beberapa saat, lalu mengangguk, lalu menggeleng dan mengangguk lagi. Rion terdiam di belakangnya, ia memilin bibirnya, tak kuasa menatap wajah pasien itu langsung.
Mulut Rafael membuka sedikit. "Ra ... fa ... uwel?" Perlahan kepalanya menoleh ke perawat di sampingnya, lalu ditelengkan dan kemudian ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Rion menipiskan bibirnya ngilu. Ia ingin memanggil pasien itu, namun suaranya tidak mau keluar. Ia terlalu takut untuk dibentak dan dilempari benda oleh Rafael karena memanggilnya seperti saat kejadian tiga tahun silam. Tidak ada yang berubah. Rafael sendiri rasanya sama sekali belum mendapatkan setitik kewarasan.
"Rafael?"
Rafael menoleh ke belakang, tepat ke arah orang yang memanggilnya barusan, Rion. Tatapan matanya hampa. Rion mengukir seulas senyuman lalu berujar, "Halo."
Rafael menyunggingkan seulas senyuman sehangat mentari pagi, senyuman yang membuat Rion tidak bisa membencinya meski Rafael adalah orang gila tanpa kewarasan.
Perlahan tangan Rafael terangkat ke udara, lalu telunjuknya tergerak, seolah memberi kode untuk mendekat.
"Jangan takut, dekati saja ia. Kau tidak mau ia marah lagi 'kan?" ucap perawat berbadan pendek tadi. "Kalau dia mengamuk lagi, kami akan segera membiusnya." Dan perawat bertubuh tinggi sudah menyiapkan suntikan bius di nakas terdekat.
Rion tidak mau Rafael disakiti dengan suntikan jarum bius itu. Jadi ia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Rafael, lalu duduk bersimpuh di depannya.
Rafael tersenyum. Pemuda itu menatap Rion lekat lalu mengelus kepala Rion, "Kamu sudah besar ya."
Rion mengangguk, "Kamu adikku juga sudah tumbuh besar." Rafael mengangguk, "Aku adikmu ya?"
Rion mengukir senyuman lalu mengangguk. Setidaknya ia sudah melihat setitik harapan bagi Rafael untuk sembuh. "Ya, kamu adikku."
Rafael menggeleng pelan, "Kamu sendiri siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Inilah yang membuat Rion berniat untuk tidak menjenguknya. Ia terlalu takut untuk menerima kenyataan bahwa orang yang ia sayangi di depannya ini sama sekali tidak mengenalnya. Jangankan mengenalnya, menyebut nama dirinya sendiri saja sudah susah.
Rion mengulum senyum, setidaknya setelah tiga tahun lamanya, Rafael mulai sedikit waras. Tidak seperti tiga tahun lalu dimana Rafael malah melemparinya dengan benda-benda hingga melukai Rion dan menjerit histeris seolah-olah Rion adalah iblis pencabut nyawa yang nyasar ke kamarnya.
Rafael mengelus pipi bergaris hitam Rion pelan, lalu jemarinya membelai wajah dengan lembut tanpa menghapus senyuman sehangat mentari pagi di wajahnya sendiri. "Ada lingkaran hitam di bawah matamu. Apa kamu kurang tidur?"
Rion menggeleng, "Tidak, aku cukup tidur kok. Hanya saja ...." Rion berniat untuk tidak melanjutkan kalimatnya.
Senyuman Rafael mulai menipis, "Kau mau menjenguk, tapi tidak membawa apa-apa? Kupikir kau akan membawakanku cokelat atau sejenisnya."
"Maaf karena tidak membawa apa-apa, kau bisa mendapatkan cokelat atau apapun yang kamu mau nanti. Pasti akan kuberikan. Apapun itu."
Rion lalu menoleh kepada kedua perawat tadi, "A, aku butuh privasi. Bisakah kalian keluar sebentar?"
Kedua perawat tadi saling menoleh, lalu mengangguk dan bergegas pergi ke luar.
Rion menghela nafas, "Apapun. Termasuk kewarasanmu kembali."
Rafael mengernyit, "Kewarasan? Benda apa itu? Buat apa?"
"Kamu tahu? Kewarasan dan pikiranmu sudah melanglang buana kesana-kemari. Aku harap kau tidak pergi jauh-jauh karena akan sulit bagiku untuk mencapainya."
Rafael terdiam. "Kata Ayah, kesadaran aslimu itu kini melanglang buana sampai ke dimensi di luar jangkauan manusia akibat kecelakaan beruntun waktu itu. Ke alam para roh. Entah itu bualan Ayah atau sejenisnya, entah mengapa aku bisa terlalu mudah untuk mempercayainya," sambung Rion.
Rafael mengangguk, entah karena apa. "Lalu? Kau mau apa kemari?"
Rion terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kalau boleh ... Bolehkan aku ikut melanglang buana sepertimu? Aku ingin mengajakmu pulang."
Rion meremas paha Rafael pelan. "Jangan lepaskan tanganku, kumohon, tolong mengertilah ...."
Rafael membisu, namun ia semakin menguatkan tautan jemarinya.
"Jangan dilepaskan. Tolong. Genggam yang erat. Jangan dilepaskan."
Kepala Rion mulai terhuyung. Perlahan tautan jemarinya mulai melonggar. Rafael menatapnya ragu, "Sudah selesai ya?" Perlahan-lahan pemuda tanpa kewarasan itu mulai melepaskan tautan jemarinya.
Rafael mulai melepas tautan jemarinya. "Sudah?"
Tapi tidak dengan Rion, ia semakin mengeratkan tautan jemarinya, "Be-belum. Tahan sebentar saja. Jangan lepaskan tanganku ... Kumohon!" Rion masih saja menggenggam erat tangan Rafael meski pikirannya melanglang buana entah kemana.
Hening sejenak diantara mereka. Sebelum Rafael akhirnya berucap, "Anak bodoh, apa yang hendak kamu lakukan?"
Dua orang perawat di depan pintu kamar menoleh khawatir ke dalam lewat jendela, "Apa perlu kita masuk sekarang?"
Perawat berbadan pendek itu langsung membuka pintu paksa, "Kalian baik-baik saja 'kan?!"
Rion dan Rafael berpelukan di dalam ruangan yang minim pencahayaan tersebut. Pemuda bersurai hitam jabrik itu menangis meraung-raung di dalam dekapan Rafael.
Rafael membelai pucuk kepala Rion lembut, "Tenanglah, aku sudah pulang. Jangan menangis seperti itu, kau seperti anak kecil."
Kedua perawat tadi menautkan alisnya, masih merasa sulit untuk mencerna atas apa yang mereka lihat.
Sang harapan benar-benar mengabulkan harapan Rion. Dalam hati, Rion menghembuskan nafas lega. "Syukurlah, aku berhasil menarikmu pulang."
"Bodoh. Aku sama sekali tidak mempercayai ceritamu barusan."
Mereka melepas pelukan, lalu Rafael melipat tangannya di dada. "Kamu benar-benar tidak bawa apa-apa kesini ya. Padahal aku berharap kau membawa baju ganti untukku."
"Bawa? Tadi aku sudah bilang akan membelikan apapun untukmu saat kamu sudah sembuh 'kan? Satu stel pakaian bukan apa-apa untukku."
Rafael menautkan alisnya, "Yakin?" Rion mengangguk sebagai jawaban.
Rion menarik lengan Rafael paksa keluar, "Ayo pulang sekarang! Kamu sudah benar-benar waras 'kan?"
"Yang benar saja, bualanmu ternyata bisa menyembuhkan orang gila."
"Bukan! Itu bualan Ayah!"