"Hachu!"
Bersin Erin di dekat api unggun yang sedang menyala.
Musim dingin dirasa sangat menusuk diri dengan hawa dinginnya yang sulit untuk dibendung.
Dengan pakaian tebal serta sarung tangan. Erin berharap dirinya bisa bertahan dan tetap merasa hangat selagi musim dingin menerpa.
Di sebuah gua, perempuan itu menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan kala badai salju tengah terjadi. Bersama para anjing peliharaanya dan sebuah papan luncur, ia beristirahat dari perjalanannya selagi menunggu badai mereda.
Erin mengingat sesuatu kala sedang beristirahat.
Momen sebelum ia pergi dari desanya.
"Temuka dia. Aku sangat berharap padamu. Bawa dia kembali kesini ya." ucap seorang ibu didesanya.
Erin melakukan perjalanan dikarenakan tugas yang diberikan oleh orang-orang desa untuk mencari seseorang yang telah hilang cukup lama.
Erin merupakan bagian dari divisi keamanan didesanya dan hal ini merupakan tugas yang harus diembannya sepenuh hati. Jadi dia berharap dapat menemukannya sebisa mungkin dan bekerja dengan tulus.
"Ini pekerjaan yang melelahkan. Tetapi memiliki andil yang sangat besar demi penduduk desa. Aku tidak boleh patah semangat!" ucapnya menatap api unggun yang ada di depan mata.
Berjam-jam telah berlalu, kini badai sudah mereda. Erin serta para anjingnya mulai bergerak mencari orang hilang tersebut. Papan luncur bergerak melintasi tebalnya salju di area pegunungan. Memasuki hutan cemara dan melintasi sungai yang membeku. Erin terus mencari ke berbagai arah. Saat tengah minum diatas papan luncur, dirinya melihat seseorang sedang terbaring di bawah pohon cemara yang tak jauh dari posisinya. Erin langsung bergerak mendekati orang tersebut. Lalu dilihatnya wajah dari orang itu. Benar saja bahwa orang itu adalah orang yang selama ini dicari olehnya.
"Hei.. Kamu kenapa?" tanya Erin sambil membuat orang itu duduk bersandarkan batang pohon.
Tidak ada jawaban darinya. Namun, Erin menyadari bahwa orang itu mengalami luka pada bagian kakinya. Dengan sigap perempuan itu mengobatinya dengan perlengkapan seadanya.
"Sudah kuobati. Dan sekarang aku harus membawanya kembali ke desa. Dia tampak masih pingsan juga. Aku harus berhati-hati dalam membawanya." ujarnya.
Anjing penarik papan luncur itu mulai bergerak. Dengan balutan perban, Erin berharap orang itu dapat segera membaik setelah tiba di desa nanti.
"Bertahanlah. Ini akan memakan sedikit waktu untuk sampai ke desa."
Erin mempercepat geraknya.
Saat diperjalanan, orang yang diselamatkannya itu mulai siuman.
"Apakah kamu sudah siuman? Bagaimana? Apakah masih sangat sakit?" tanya Erin.
"Sedikit sakit dan dimana ini?" balik orang itu bertanya.
"Kita dalam perjalanan menuju desa. Jadi kamu cukup beristirahat saja." kata Erin pada orang tersebut.
Orang yang ditemuinya itu menyampaikan rasa terimakasihnya pada Erin karena sudah menyelamatkannya. Dan kemudian dia memperkenalkan diri setelahnya. Erin mendengarkan dan berkenalan dengannya selepas itu.
Sesampainya di desa, Erin menuntunnya berjalan dan menemui para penduduk desa.
Seseorang datang dengan berlari dan memeluk orang yang barusan ditolong oleh Erin tersebut.
Ibu dari orang yang diselamatkannya itu mengucapkan terimakasih sembari menangis bahagia karena anaknya kembali ke desa.
Atas upaya penyelamatan itu, Erin diberi hadiah oleh sang ibu. Tetapi dirinya menolak pemberian itu.
"Ini adalah tugasku. Aku hanya menerima imbalan dari tempatku bekerja saja. Simpan saja hartamu ini. Dan aku juga senang bisa membantu para penduduk desa disini." senyumnya seiring merendah.
Setelah itu sang ibu langsung memeluk Erin dan mengucapkan rasa terimakasihnya sekali lagi.
Beberapa tahun selanjutnya, kini Erin ditunjuk sebagai kepala keamanan desa yang baru ditempatnya berada. Sebuah perayaan dilakukan oleh para penduduk desa untuk penobatan Erin di posisinya yang baru itu. Erin lantas merasa senang dan merasa tersanjung karenanya.
-----SELESAI-----