# CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA JIKA ADA KEMIRIPAN CERITA ITU HANYA KEBETULAN BELAKA.#
PART 01.
Garong adalah sebutan untuk sebuah desa terpencil di selatan pulau jawa. Desa yang berada di sebuah pulau kecil itu memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang kaya. Namun miris, penduduk desa mayoritas justru hidup dibawah garis kemiskinan. Ketimpangan sosial sangat kentara dalam kehidupan sehari-hari. Yang kaya bisa berbuat seenaknya. Aparatur desa tak lebih dari seorang penjilat kekuasaan. Dan lebih parahnya lagi desa tersebut dipimpin oleh seorang lurah boneka. Seorang lurah yang hanya menjadi alat untuk mengeruk kekayaan alam. Lurah itu bernama Mukidi.
Lurah Mukidi menjabat sebagai kepala desa sejak 2012 yang lalu. Dia memenangkan pertarungan pilkades melawan mantan komandan hansip, bernama Prato. Saat itu lurah Mukidi berpasangan dengan seorang pengusaha yang merangkap sebagai perangkat desa, bernama Juki. Waktu sebelum pilkades dilaksanakan Juki sempat memberi prediksi, desa ini akan hancur dan berantakan jika dipimpin oleh orang yang tidak kompeten. Dan orang yang dimaksud Juki saat itu adalah Mukidi itu sendiri. Kasak-kusuk di warung kopi saat itu tak lepas dari pencalonan Mukidi yang maju dalam pilkades. Banyak yang mendukung banyak pula yang mencerca. Hal itu menjadi sebuah kontroversi sebab Mukidi pernah berkata bahwa dia sama sekali tidak ada niat maju dalam ajang pilkades. Tapi seperti itulah Mukidi. Lain mulut lain pula kelakuan. Dan untuk membungkam Juki yang sempat menyindirnya bahwa desa ini bisa berantakan jika dipimpin olej orang yang tidak kompeten. Akhirnya Mukidi memberi penawaran kepada Juki untuk bergandengan tangan maju dalam ajang pilkades.
" Saudara Juki, saya punya penawaran menarik untuk saudara Juki, bagaimana jika kita berkerja sama , maukah anda menjadi wakil saya dalam pilkades nanti?" kata Mukidi saat mereka melakukan pertemuan di rumah Juki. Saat itu, Mukidi menjabat sebagai kepala dusun tengah desa Garong.
" Maju menjadi calon lurah?, bukankah anda sudah gembar-gembor kalau tidak akan maju mencalonkan diri?" kata Juki mengingat akan ucapan Mukidi beberapa waktu lalu.
" Sekarang saya berubah pikiran, anda tahu sendiri jika pak Prato mantan komandan hansip itu akan mencalonkan diri sebagai lurah desa, saya tidak bisa membiarkan desa ini kembali lagi seperti saat masa lurah desa Suhar yang otoriter dulu berkuasa, anda ingat tidak bagaimana dulu jika seorang mantan komandan hansip menjadi lurah? Desa ini akan kembali tidak bebas, siapa saja yang berani mengkritik lurah bakalan dihabisi" jelas Mukidi yang menceritakan masa lalu desa Garong saat 32 tahun dibawah kendali lurah Suhar.
Bagi sebagian penduduk desa Garong, masa-masa rezim lurah Suhar memang menakutkan. Tidak sedikit penduduk desa yang dihabisi oleh lurah Suhar karena saat itu masih hangat-hangatnya isu tentang rencana balas dendam kelompok perusuh yang terjadi dimasa lalu. Kelompok perusuh yang waktu dulu ditolak habis oleh sebagian tokoh masyarakat terutama dikalangan kyai pengasuh pondok-pondok pesantren. Sebab kelompok perusuh tersebut menentang berdirinya pondok-pondok pesantren dan menganggap kegiatan belajar mengajar agama itu akan menghambat proses kemajuan desa Garong. Penduduk desa lebih memilih menyerahkan pendidikan anak-anaknya kepada ponpes ketimbang sekolah umum. Hal itulah yang dianggap sebagai penghambat dalam mencetak generasi pintar di masa mendatang oleh kelompok perusuh. Dan saat itu kelompok perusuh berhasil ditumpas oleh lurah Suhar yang masih menjabat sebagai komandan hansip.
Sejak saat itu, kelompok perusuh menaruh dendam kesumat kepada Suhar. Bahkan demi melengserkan Suhar dari jabatan lurah membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah lengsernya lurah Suhar itulah kelompok perusuh mulai berani menunjukkan kembali jatidiri mereka. Dan kini Mukidi dan antek-anteknya yang merupakan anak cucu dari kelompok perusuh tersebut berusaha kembali mewujudkan cita-cita pendahulu mereka.
Kembali ke masa sekarang,
Lautan manusia tumpah ruah di alun-alun desa saat bakal calon lurah Mukidi melakukan kampanye terbuka. Mereka mengelu-elukan Mukidi laksana pahlawan yang akan membuat kehidupan di desa Garong lebih baik. Hal itu tak luput berkat kerjakeras tim pemenangan Mukidi yang sukses menebar janji-janji manis kepada penduduk desa Garong.
Akhirnya waktu pemilihan lurah datang juga. Penduduk desa Garong berbondong mendatangi tempat pemungutan suara. Saat itu jumlah pendukung masing-masing calon baik dari pihak Mukidi dan pihak Prato sama-sama kuat. Bahkan keduanya juga sama-sama didukyng oleh pengusaha-pengusaha desa. Baik itu tuan tanah, pemborong bangunan, tukang-tukang kayu , tengkulak, juragan kebun dan juga juragan pasar ternak. Semua pengusaha-pengusaha itu memberikan dana yang tidak sedikit kepada masing-masing calon. Namun, jika siapa yang didukungnya menang harus memberikan keuntungan kepada pengusaha-pengusaha tersebut. Seperti contoh pemborong bangunan, jika calon yang didukungnya menang , mereka akan meminta proyek kepada sang lurah untuk mencairkan dana kas desa sesuai prosedur. Dan tentunnya itu adalah cara licik mereka untuk mengakali dana kas desa supaya bisa menjadi bancakan para begundal-begundal yang mementingkan kekayaan pribadi.
Proses pemungutan suarapun selesai, dan pengumuman pemenang pemilihan lurah akan diumumkan setelah proses perhitungan selesai. Dan ketika proses penghitungan selesai pihak Mukidi terkejut bahwa mereka kalah sedikit dari pihak Prato. Lantas dengan segala kelicikannya mereka berhasil memanipulasi hasil perhitungan dengan menyuap panitia pemungutan suara. Sehingga hasilnya berubah untuk kemenangan pihak Mukidi. Pihak Prato yang sudah yakin menang tidak terima dengan keputusan panitia dan mengusulkan untuk melakukan penyelidikan terkait indikasi manipulasi hasil pilkades. Namun, hal itu tidak berjalan sesuai keinginan pihak Prato, karena kepala panitia pemungutan suara menolak untuk dimintai bukti kertas suara. Dia menolak menunjukkan ke penduduk perihal proses penghitungan. Hal itu justru membuat pihak Prato semakin yakin jika ada kecurangan dalam penghitungan. Namun apalah daya mereka tidak punya kuasa untuk menyelidiki lebih lanjut. Sehingga mereka menunggu waktu yang tepat untuk membuktikan persengkokolan kecurangan yang dilakukan pihak Mukidi dan ketua panitia pemungutan suara.
Setelah beberapa hari, pihak Prato hendak menunjukkan bukti-bukti persengkongkolan kecurangan. Namun, apalah daya. Ketua panitia telah meninggal. Kabarnya ketua panitia meninggal karena sakit, namun saat diperiksa kematian ketua panitia pilkades tidak wajar, janggal. Saat itu lurah Mukidi yang sudah resmi menjabat segera menutup seiring meninggalnya ketua panitia pilkades. Pupus sudah harapan pihak Prato untuk membuktikan kecurangan saat pilkades waktu lalu. Dan kini Lurah Mukidi telah berhasil menduduki kursi lurah selama 5 tahun kedepan.
( bersambung ke part 2 lain waktu).
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita receh saya.