Mata Lilian akhirnya terbuka setelah... entah sudah berapa jam ia tak sadarkan diri. Tapi entah kenapa pikiran dan kesadarannya langsung pulih. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kepalaku terbentur dan kehilangan ingatanku?" pikirnya.
Mata coklatnya menyapu pandangannnya ke sekitar ruang yang ia tempati sekarang. Gelap dan sangat tertutup. Tak ada celah untuk mendapatkan udara. Tak lama kemudian dia sesak nafas karena kesulitan bernafas.
"Siapa pun kalian, tolong bantu aku keluar dari sini... hiks... hiks... Chacha tolong aku... " Lilian meneriakkan nama sahabatnya.
"Chacha, Nathan... kalian ada disini kan? Bantu aku, aku ingat aku terakhir kali bersama kalian," tangis Lilian.
Tiba-tiba suatu energi seperti angin kencang menyiksa Lilian di ruangan itu.
"Siapa pun kamu pelakunya, muncullah... bicarakan baik-baik masalah antara kita, aku... arghhh!!! Disini sangat sulit bernafas."
Tiba-tiba derap sepatu seseorang terdengar menghampirinya.
Lilian yang lemah dan tersungkur di lantai dingin ruangan ini mencoba menajamkan penglihatannya.
"Bagaimana Lilian sayang? Apakah ini semua setimpal dengan cerita masa lalu kita?" kata orang tersebut tertawa menyeringai.
"Aku tidak tahu siapa kau ada banyak orang jahat di masa laluku dan kau mungkin satu diantara mereka. Kamu siapa?" rintih Lilian, namun terdengar jelas ia marah.
Sosok misterius itu mengangkat dagunya dan menatap dalam ke mata indah milik Lilian.
"Jadi harus petunjuk apa lagi yang kuberikan Reika sayang?"
Mata Lilian membulat sempurna. Reica, nama itu diberikan oleh seseorang yang posesif ingin memiliki nya di masa lalunya. Dengan cepat Lilian menepis tangan laki-laki itu kasar. Ya, dia adalah Luis. Sosok laki-laki penipu menurutnya. Kenapa Luis tak pernah mengatakan sosoknya yang sebenarnya kepadanya.
Saat Lilian tahu Luis bukan manusia seutuhnya, dia menjadi takut Luis memiliki maksud lain untuk mendekatinya.
"Luis... "
"Ya, Reica sayang?" balas Luis penuh intimidasi sambil membelai rambut panjang Lilian.
"Tolong lepaskan aku... tolong jangan seperti ini hiks..." bujuk Lilian. Dia tak ingin berhubungan dengan Luis lagi.
"Tidak, kau tak boleh meminta hal seperti itu... kau akan menjadi milikku mulai sekarang dan selamanya. Tak ada yang bisa memberontak. Kita akan segera bertunangan sayang... "
"Hum... darahmu manis sudah lama aku tak menghirup darah seenak ini." Luis segera membuat tanda di leher Lilian dan Lilian tak bisa berbuat banyak. Luis terlalu bertenaga memeluknya.
Luis menghisap darah Lilian sepuasnya dan setelah selesai dia melap sisa darah di bibirnya.
"Kenikmatan seperti ini lah yang kumaksudkan seribu tahun lalu HAHAHA!" tawa Luis jahat namun dia berubah iba ketika melihat wajah pucat milik perempuan yang sangat di cintainya ini.
"Kenapa aku ditakdirkan harus jatuh cinta dengan manusia cantik dan lemah seperti... "
PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat telak di wajah tampan Luis.
"Kau gila ya? Kau sudah mati ribuan tahun yang lalu Luis. Tolong jangan pernah beranggapan kita di takdirkan. Aku tak mau mendengar itu. Tolong jangan seperti ini. Nathan adalah kekasihku dan hubungan antara kita sudah masa lalu... arghhh!" Lilian menangis tanpa henti berteriak saat Luis marah dan hendak membalasnya kembali.
"AAAAAAAAAA!" teriaknya histeris sambil melindungi kepalanya ketika Luis ingin menyakitinya lagi.
"Huh manusia banyak mau. Kalian benar-benar sombong, tak bisakah aku mencintaimu meskipun aku sudah mati ribuan tahun yang lalu?"
"Dunia antara kita nyata sayang, aku akan menikahimu setelah kau pulih."
"Luis tolong jangan tinggalkan aku disini. Hiks, disini, disini sangat gelap... "
"Terima saja nasibmu sayang sampai hari pernikahan kita dua minggu lagi."
BRAK! Luis telah pergi dan aura dingin kembali menerpa tubuh Lilian.
"Nathan, Chacha, kak Diva... masih bisakah aku bertemu dengan kalian lagi?"
***
Dua minggu kemudian, tubuh Lilian mulai terisi karena Luis senantiasa memberinya makanan enak tapi Lilian tak bahagia dengan ini semua. Dia ingin kembali kepada orang-orang terdekatnya.
Jika saja Luis tak menyakitinya secara sadis, mungkin sekarang Lilian tak akan mengenakan gaun putih panjang dan Luis... dia tampak semakin tampan dengan tuxedo yang ia kenakan.
Siapa yang peduli? Lilian menangis sejak tadi dan tak ingin memperhatikan tatapan sinis vampir-vampir perempuan yang menatap iri padanya karena akan menikahi Luis.
Aku tak pernah ingin berada di dunia kalian, kalian memang vampir sialan yang gila, batin Lilian.
"Luis pengantinmu benar-benar jahat yah? Masa dia bilang kita vampir gila dan sialan? Huh, padahal kita sudah berbaik hati mau membantunya menikah dengan putra mahkota kerajaan vampir ini?" celetuk seorang vampir perempuan yang ternyata bisa membaca isi hati dan pikiran seseorang.
Luis memang cukup kaget namun dia berusaha santai.
"Tenang saja Vierra aku akan melatihnya sopan santun setelah hari bahagia ini." Luis menggandeng tangan Lilian dengan posesif.
Sedangkan Lilian hanya bisa berlagak seolah-olah baik-baik saja.
"Tapi istrimu sangat cantik Luis, aku saja sampai lupa diri kalau aku bisa mati ditangamu jika aku menyukai kepemilikanmu," timpal seseorang lagi, dia adalah Cleo.
Luis tak menanggapi. Lilian yang sudah tak tahan lagi dan nekat ingin kabur segera menginjak sepatu Luis dan berlari sejauh mungkin.
"Lilian, kau benar-benar tak pernah menyerah untuk lari dariku yahh, kalian segera berpencar. Temukan dia. Aku mempercayai kalian Cleo dan Vierra."
Cleo dan Vierra segera menurut dan berpencar untuk menemukan Lilian.
Sementara Lilian terus berlari kalang kabut dan sesekali melirik ke belakang sampai akhirnya dia mendapat bisikan misterius entah dari mana.
"Aku bisa membantumu berlari dari Luis tapi kau tak dapat bertemu dengan siapa pun lagi. Lupakan masa lalumu dan orang-orang terdekatmu sekarang,"
Lilian tak tahu harus apa. Dia kemudian terkejut ketika bisikan misterius itu kembali merasukinya.
"Berlari lah terus lurus ke depan sampai kau menemukan cahaya merah rubi dan sesulit apapun, tembuslah jaring itu."
Lilian menurutinya dan berlari lagi sampai akhirnya ia menemukan cahaya merah rubi persis seperti perintah bisikan misterius itu.
Sementara itu Vierra yang sakti merasa panik dan menghubungi Luis lewat benak pikirannya.
"Sialan, Luis, Lilian ingin menembus cahaya rubi merah agar bisa keluar dari sini. Kenapa manusia itu bisa tahu soal cahaya rubi itu?"
"Pasti ada kekuatan yang memerintahkannya. Cepat cegah dia,"
"Iya,"
"Jangan pernah berpikir untuk batal menikahi kakak tiriku Lilian,"
Dia segera menyambar Lilian dan menyerang Lilian namun karena luapan amarahnya Lilian berhasil menembus cahaya rubi itu namun bersamaan dengan itu tanahnya terbelah dan membuat Lilian terperosok ke dalam.
"Kyaaa!" jerit Lilian.
Dia akhirnya terhempas ke bebatuan terjal. Tubuhnya tak utuh lagi dan menciptakan genangan darah merah yang keluar cukup banyak dari tubuhnya.
Lilian masih sadar walaupun sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.
"Ahahaha... " dia tertawa hambar dan menangis sesenggukan.
"Kukira aku bisa hidup dan akan bertemu dengan kalian lagi... Chacha dan Nathan dan semua keluargaku... tapi aku salah... kemarin itu hari terakhir kita bertemu. Aku tidak mati di duniaku. Percuma... " lirih Lilian menyayat hati.
Beberapa saat kemudian tubuh Lilian kejang-kejang dan akhirnya muntah darah.
Lilian menatap nanar pada genangan darahnya. Dia menulis sesuatu disana dengan jari telunjuknya. Ia menulis, 'Aku akan selalu menyayangi kalian semua'.
Setelah menulis itu dia tersenyum simpul dan memejamkan matanya untuk selamanya.
Sedangkan Luis yang baru saja tiba tak menyangka perempuan yang ia cintai meninggal secara tragis.
"Tidak, jangan mati Lilian sayang," ratap Luis.
Luis memang berencana untuk melampiaskan dendamnya kepada Lilian dengan menyiksanya sementara waktu saja dengan hidup bersamanya.
"Tidak aku akan menjadikanmu sebangsa denganku sekarang," Luis menghisap darah Lilian dari lehernya namun semua percuma.
"Jangan seperti ini Lilian... aku menyayangimu!!!!" jerit Luis histeris.
Lilian sebagai manusia tetap saja akan kembali ke hadapan Tuhannya.
Sedangkan Luis memang murni keturunan vampir.
Luis tersentuh saat membaca tulisan tangan Lilian.
'Aku akan selalu menyayangi kalian semua'
"Aku juga ingin bertemu denganmu," Luis melepas seluruh properti kekuatannya dan melukai dirinya sendiri.
"Luis jangan begitu... "
"Dengan begitu kita akan tetap bersama ya kan Lilian?"
Luis ikut meninggal dunia di hari itu juga setelah mempertahankan hidupnya selama ribuan tahun.
.
.
.
Ada kesan dan pesan untuk cerita ini?
Oh iya jika kalian ingin membaca karya author yang lainnya, silakan klik profile dan ramaikan lapak novel 'INTROVERT GIRL LOVE STORY'
SHARE DAN REKOMENDASIKAN INTROVERT GIRL LOVE STORY YAH!