“oh Ya Khaliq, sungguh yang menciptakan semua bahasa Kaupun tau jikaulah aku tak bisa berbahasa arab dan ku tau kau mengerti bahasaku Oh, yang menggenggam bumi dengan kekuasaan-Nya Kau ciptakan bumi dengan membangun di atasnya tujuh langit yang kokoh, kau sempurnakan jagat raya dengan satu titik Pusaran tata surya {matahari} sebagai pelita malam Oh, terik matahari menyengat kulitku yang gelap Kau ciptakan siang, agar manusia mencari penghidupan tapi sungguh, aku begitu lelah, perutku kelaparan dan kerongkonganku terus-terusan berteriak meminta makanan dan minuman, tapi ku tak sanggup memberikannya, maukah engkau membagikan makananmu sedikit untukku” pinta seorang anak laki-laki yang sedang merayu tuhannya Allah SWT. Anak laki-laki itu hidup sebatang kara pakaiannya yang kumuh dan wajah yang begitu kotor membuat orang-orang menjauhinya.
Setiap detiknya dia akan curhat kepada tuhannya, apa yang dia butuhkan dan akan meminta kepada Allah karena ia yakin bahwa tuhannya akan membantunya.
“Kau tau ya rahman mereka menelantarkanku, mereka adalah orang yang Jahat, membiarkanku lapar sedang mereka para pejabat hidup mewah mereka tidak bertanggung jawab ya rabb” tutur bocah laki-laki sambil Memegang perutnya yang kosong.
Kadarullah syair yang di lantunkan oleh bocah laki-laki tersebut di dengar oleh Gubernur di kampung itu.
“Ya Allah sungguh aku telah lalai atas perintahmu dan menelantarkan bocah yang malang itu” ucap gubernur merasa berdosa.
Gubernur lalu pulang kerumahnya dan mengambil makanan dan secukup uang lalu kemudian kembali dan diberikannya pada bocah yang berumur sebelas tahun.
“Wahai anak kecil, sesungguh-nya Allah telah mendengar doamu, ambillah makanan dan uang ini, ini cukup untuk sebulan” Ucap gubernur itu ia mengenakan jubbah untuk menutupi wajahnya agar identitas nya tidak di ketahui.
Bocah laki-laki itu seraya bersyukur pada Allah dan kemudian berterima kasih pada pria berjubah itu.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu maka datanglah padaku” ucap pria berjubah biru. Namun dengan serentak anak kecil itu berkata “tidak!
saya tidak akan meminta kepadamu, saya tidak akan meminta sesuatu pun dari seorang makhluk. Karena apa yang engkau miliki semuanya adalah milik Allah" anak kecil itu pun pergi meninggalkan pejabat yang masih terpaku atas ucapan anak kecil yang di anggapnya benar
“Ya Tuhanku semoga engkau mengampuni semua dosaku yang telah merasa sombong” doanya dalam hati.
Seminggu, dua minggu tidak ada kabar tentang anak miskin itu.
Pejabat yang bernama Ali terus mencari keberadaan bocah laki-laki itu tapi belum juga di temukan. Selang sebulan anak miskin itu duduk dibawah pohon yang rindang bersyair sepanjang hari.
"Oh adakah yang ingin menjadikanku seorang anak, aku sudah lama hidup sendirian tanpa ayah dan juga ibu oh ya Tuhan aku selalu bersyair tentangmu, begitu besar dirimu, kasih sayangmu telah menghidupiku kini ku berusia sebelas tahun aku selalu ceriah, bahagia kini engkau akan mengabulkan doaku lagi seorang pria dan wanita datang menghampiriku menawarkan merayuku untuk menjadi anak mereka sungguh ku tak pernah bersedih apalagi berkecil hati tentangmu, ku mendengar mereka yang tidak mengaggapmu ada, sedang mereka sangatlah salah dan mereka berada dalam kesesatan yang di buat-buat olehnya... oh Tuhan, kini aku tidak akan lapar lagi engkau memberiku mereka seseorang yang kaya dan aku akan tinggal bersama-nya” bocah kecil itu terus bersyair tanpa merasa lelah sedikitpun.
Keesokan harinya seorang pria berjubah biru dongker menutupi wajahnya, sehingga hanya sebagian kecil yang terbuka di bagian matanya, pria itu menghampiri bocah kecil yang sedang bersyair di bawah pohon, biasanya ia berteduh di sana.
“Aku datang kepadamu sebagai utusan Tuhanmu, dan Tuhanku. Aku sudah mendengarnya tapi ada satu syarat jika engkau bisa menjawab pertanyaanku maka aku akan mengangkatmu sebagai Putraku” jelas pria berjubah misterius. Bocah kecil itu menatap serius pria di depannya setelah cukup lama berdiam ia pun menjawab.
”Baiklah dengan izin tuhanku".
“Pertanyaan ini membuatku bingung aku sudah lama tidak bisa menjawabnya” kata pria berjubah, kemudian pria itu kembali melanjutkan penjelasannya.
"Mengapa Tuhan selalu menjelaskan tentang surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, keindahan surga selalu tergambarkan dengan sungai apa yang paling istimewa tentang sungai, dapatkah engkau menjawabnya??” Tanya pria berjubah.
Anak kecil itu tersenyum kemudian berujar
“ikutlah denganku, apa kau merasa resah”?? Tanya anak itu.
Entahlah. “Kemana kita akan pergi”?? Tanya pria berjubah itu
“ke tempat jawaban, Jawaban dari pertanyaanmu” jawabnya singkat.
Mereka terus berjalan menyusuri jalan dan berhenti di bawah pohon rindang dan di sekitarnya di aliri sungai yang mengalir dari pegunungan,, angin bertiup sepoi-sepoi suara burung berkicau dengan merdu beterbangan di ranting-ranting pohon yang di hinggapnya.
“Duduklah disini, dan nikmati suasananya” ujar si bocah kecil lalu duduk di bawah pohon yang rindang. Pria berjubah itu segera duduk dan bersandar di bawah pohon yang dekat dengan sungai di nikmatinya suasana dan pemandangannya, perlahan-lahan ia memejamkan matanya.
Terdengar gemericik air yang terus mengalir warnah yang jernih tanpa noda Pria berjubah itu sangat menikmati gemericik-gemericik air yang di dengarnya membuatnya merasa nyaman dan tertidur lelap di bawah pohon rindang, Sampai langit berubah menjadi gelap bintang-bintang bertebaran ke segala Penjuru langit dengan kilauan cahaya-nya bulan bertempat dan bersinar di bawah pohon tepat pria berjubah sedang tertidur lelap. Bocah kecil itu terus memandang nya di lihat-nya wajah yang tertutup rapi Ia kembali bersyair di bawah terangnya rembulan
“kini ku percaya bahwa tidak selamanya aku menghampiri rezeki itu,, tapi kini rezeki itu sedang menghampiriku tertidur lelap di hadapanku, ku tak pernah bersedih karena kau di sini, kau begitu mengenalku dan kau tahu aku tidak punya sanak saudara satu pun di sini tapi di saat malam kau datangkan rembulan dan bintang-bintang yang menghiasi keindahannya dan di saat siang kau datangkan matahari yang bersinar terang dan begitu Menyengat sehingga aku tidak kedinginan lagi, dan kini kau datangkan rezeki tanpa ku mengampirinya".
“Kau benar-benar mengenalku dan sanagt tahu tentang diriku, bahkan aku sendiri tidak begitu tahu dan kau memberiku sebuah pengetahuan untuk mengenalmu dan sekarang aku telah mengenalmu walau engkau tak terlihat karena kebesaranmu”. Syair terus di lantunkan dari bibir mungil miliknya sampai pria berjubah itu terbangun dari tidurnya yang cukup lama
“sudah berapa lama aku tertidur di sini”? Tanya pria berjubah.
“Entahlah aku tidak dapat menghitung-nya”. Jawab bocah kecil itu.
“Kau tahu, aku sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur tapi hari ini kau membuatku tertidur lelap”. Jelasnya menatap manik mata indah bocah kecil itu.
“Itu adalah kenyamanan Surga yang kau dapatkan dari rasa penasaranmu. Tentang Surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang indah, yang belum pernah dilihat oleh mata. Sungguh Tuhanku dan Tuhanmu mengetahui kenyamanan hamba-hambanya yang sangat lelah saat di bumi” jelas bocah kecil itu tersenyum.
“Baiklah aku akan menepati janjiku, pulanglah bersamaku” kata pria berjubah
bocah Kecil itu mengangguk setuju dan tersenyum kearah langit yang terangi oleh bintang-bintang.
“Apa kau tahu siapa aku”?? Tanya pria berjubah
“aku tidak tahu, yang pasti Tuhanku mengetahuinya” jawab bocah kecil itu singkat.
“Aku adalah seorang Gubernur”.Jawabnya dan kemudian membuka kain yang menutupi wajahnya. Bocah itu tersenyum dan berkata ”sesungguhnya Tuhan ku benar-benar mengetahuimu dan benar-benar mengetahui hatiku”.
Gubernur itu tersenyum kearah anak laki-laki yang berpakaian kusut itu dan memegang tangan anak angkatnya dan menuju ke rumahnya.