Manusia tinggal bersama ditempat yang seharusnya, banyak negara bahkan diseluruh dunia memiliki tempatnya masing-masing namun, entah kenapa keperibadian berupa harta merubah segalanya.
Harta peninggalan bangkai zaman purba, bangkai tanah terkubur akibat meteor yang semakin hari, semakin hilang ditelan manusia dan bahkan rempah-rempah yang kian banyaknya dinusantara dipaksa diperdagangkan keseluruh benua Eropa.
Belanda, Jepang, Inggris dan negara lain makin tertuju hanya dengan rempah? benar!
kalau makin dipikirkan kembali, hanya karena rempah-rempah, harta berlimpah dan musim diseluruh asia, mereka rela untuk memperkejakan secara membabi buta dan benar saja dengan tipu muslihat negara tersebut dana negara menjadi berkurang untuk pelayaran.
Banyak kejahatan terjadi dan untungnya kaum inggris datang dan menolong mereka dan sesaat setelah mereka bebas, lagi dan lagi mereka ditipu dan terus dibohongi hingga 3,5 abad lamanya dan mungkin lebih lama daripada itu.
Orang pribumi berbondong bondong menyelamatkan kaum mereka, bahkan seluruh pasukan siap tempur walau tulang belulang mereka masih terlihat dibadannya. Mereka membawa bambu tajam sedangkan Koloni Belanda, Jepang dan Inggris membawa senjata modern yang sekali ditekan bisa menewaskan seluruh pasukan dengan bomnya yang meledak hingga ratusan kilometer jaraknya.
"Hanya karena harta kekayaan mereka melakukan hal ini, Harta kekayaan hanyalah hiasan semata dan bukan pengganti penindasan untuk rakyat, jika hal ini dibiarkan para penerus kaum bangsa Indonesia akan tertindas layaknya hewan pembajak sawah," Ujar salah seorang rakyat Pribumi dengan nada bersikikuh.
Bukan hanya mereka yang memiliki peran dalam kemerdekaan, bahkan negara-negara besar seperti Mesir, India, Australia dan Vatikan berkumpul dan mendukung kemajuan kemerdekaan Indonesia.
Perdamaian pada abad pertengahan sangatlah mustahil dan bahkan berkomunikasi dengan keluarga hilang seketika saat koloni Belanda mencabuk-cabuk paksa tampa bayaran, menembakan pistol saat meminta sumbangan kasih dan sayangnya sejak kolonial datang itupun disambut dengan suka cita dan canda tawa.
Mereka tak mengira masa depan empat turunan mereka dalam bahaya. Masa depan tak bisa dikirakan, pembalasan dendam bertubi-tubipun kandas saat orang terdekat dikubur hidup-hidup oleh koloni dimasa lalu.
Melihat hal itu rakyat dari seluruh pulau, seluruh ras, budaya dan agama bersatu teguh demi kemajuan. Mereka tak punya senapan tajam namun, persatuan untuk mencapai keadilan sesama manusia.
Tidak ada kata maaf, tidak ada kata perbedaan semuanya dianggap setara dengan hasil perbuatan mereka dimasa lalu. Papua, maluku dan seluruh wilayah Timur Indonesia yang dianggap remeh dan dekil oleh Koloni Eropa bangkit melawan kekerasan yang mereka hadapi.
Satu-persatu pembalasan dendam akibat kepedihan yang mereka alami melonjak keras, lantas salah satu panglima berseru,
"Jatuh dan bangkit adalah semangat hidup kami, jika kau bangkit dari tanah kami tak segan untuk semangat mengakhiri hidupmu karena slogan itu adalah selogan rakyat Indonesia!"
Beronta-ronta maaf diberikan namun tak cukup kuat dari cambukan keras dan senapan yang dikeluarkan. Berlari dan berlari seluruh koloni pergi belayar untuk beberapa saat dan akan kembali lagi suatu saat nanti.
Rakyat yang tidak tahu, bersorak kemenangan yang hebat seruan keras perempuan yang terkurung didapur saat mendengar hal itu.
Beberapa hari tampa koloni memang menumbuhkan hasil yang diinginkan, rempah-rempah mulai dipanenkan, padi yang subur siap menjadi bubur dan tentu saja kebahagian itu tidak berlangsung lama.
siap sedia, terus menyerang tampa perlawanan kembali menghadang tembok persatuan. Koloni Jepang yang saat itu kembali menyerang selama beberapa tahun tertegun saat negaranya yang perkasa hancur karena bom dibandar besar Hirosima dan Nagasaki.
mendengar hal itu diradio, salah satu pemuda indonesia memberi tahu langsung kepada Soekarno, Insinyur Indonesia pertama dan Presiden Indonesia pertama saat pasukan Indonesia gugur dalam perjuangannya.
Persiapan kemerdekaan tidak terlalu besar agar tidak diganggu gugat oleh negara lain. Indonesia yang pada saat itu sudah merdeka belum tentu merdeka selamanya.
Perang Dunia ke-II ini menciptakan ruang sengit bagi rakyat, bukan menciptakan keadilan tapi demi kesetaraan.
keadilan adalah ukuran yang harus diberikan untuk mencapai keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
lalu kesetaraan adalah persamaan kedudukan dan persamaan tingkatan. Kita perlu membedakannya.
menurut orang luar indonesia itu hanya terbagi menjadi beberapa pulau namun, Indonesia adalah negara yang satu bukan karena Indonesia berkumpul untuk bisa menjajah negara lain namun demi kesejahtraan bangsa itu sendiri.
Leluhur kita berharap, wajangannya menambah wawasan akan kerasnya dunia setelah kita dewasa, namun itu semua tergantung kita sebagai pewarisnya antara suka dan tidak suka yang terpenting perjuangannya bisa kita wariskan kepada anak, cucu kita nantinya.
Harapan pasti ada, namun keyakinan belum tentu diterima.
leluhur kita sudah berjuang, Negara penjajah sudah meminta maaf, namun perdamaian akan ada jika tidak ada yang saling memanfaatkan satu sama lain.
so, nasihat apa yang kalian dapat dari cerita ini?