"Rico.... "
Nama pemuda tampan itu, pecinta seni klasik. Mahasiswa London semester 4.
Ia berkesempatan pulang berlibur tahun ini. Rico memutuskan untuk pulang kenegara asalnya Indonesia.
Ia beranjak dari pinggir kolam ikan, memenuhi panggilan seseorang.
"O... Rendi, kau sendiri? " Rico Memeluk sahabatnya itu.
"Iya, aku sendiri,. Kau sedang apa? "
"Memotret ikan."
Selain pecinta seni, Rico juga hobi memotret yg menjadi cita-citanya sedari kecil, seorang foto grafer.
"Jika kau ingin memotret, aku ada tempat bagus. Disana juga banyak anak-anak "
"Benarkah.. " Rico begitu senang, menunjukkan senyum kotaknya.
Rico sangat menyukai anak kecil. Tak heran saat mendengar Rendi mengucap kata-kata anak kecil, kegembiraannya berada dilevel puncak.
*****
Mereka sampai dihamparan bukit hijau yang sangat luas. sedikit menanjak, mencari tempat yang pas untuk mengambil pemandangan objek yang bagus untuk dipotret.
Rico menatap sekitar mencari anak-anak seperti yang Rendi bilang.
"Dimana anak-anaknya? "
"Hm... Biasanya mereka bermain dibawah pohon cemara itu. "
Rendi menunjuk pohon cemara besar berbunga ungu dekat sebuah fila putih.
Rico tertunduk kecewa.
"Kita tunggu saja, pasti sebentar lagi mereka muncul " Rendi membaringkan tubuhnya diatas rumput, menatap langit yang begitu biru hari ini.
Rico sibuk mengarahkan lensa cameranya, mencari objek yang dirasa bagus. Beberapa kali suara filmnya terdengar.
CEKRIK..... CEKRIK.....
Kali ini Rico mengarahkan lensanya keselatan. Ia terkejut seorang gadis muncul dilensanya. Spontan Rico menjauhkan cameranya dari bola matanya. Menatap gadis itu secara real.
Senyumnya begitu menawan, Sangat ceria. Rambut hitam panjangnya menari-nari dibelai hembusan angin, suara tawanya begitu menyejukan hati, bercanda gurau dengan anak-anak. membuat Rico terpana, hatinya berdebar. Belum pernah ia bertemu wanita yang membuat hatinya senyaman ini.
Rico terkejut melihat gadis itu terjatuh saat ia mencoba menangkap anak-anak yang berlarian.
Rico langsung berlari menghampiri gadis itu tampa memberi tau Rendi.
"Kau tidak apa-apa? "
Gadis itu tertegun seseorang menyentuh tangannya.
"Biar aku bantu" ucap Rico.
Gadis itu mengerang sakit, Rico melihat lututnya berdarah,sedikit menganga tertusuk ranting.
Rico merangkul tubuh gadis itu dalam dekapannya, menuntunnya duduk dibatu besar yang sebelumnya ia duduki.
"Tahan, ini akan terasa sakit " Rico langsung mencabut ranting itu dari lutunya. Gadis itu menyeringai kesakitan.
Rico bingung melihat darahnya semakin banyak mengalir, ia menyadari syal merah yang melingkar dilehernya.
Ragu Rico menyentuh betis putih mulus gadis itu,ingin melilitkan syalnya pada luka itu.
"Terimakasih... "Lembut suara gadis itu.
Rico mendehem, masih jongkok didepan gadis itu menatapnya. Melihat kedua matanya yang bergerak-gerak.
"Namaku Rico.... "
Rico mengulurkan tangannya.
"Nama yang indah..... Kau tampan" ucap gadis itu tidak membalas uluran tangan Rico.
Rico tersipu malu, spontan memegangi leher belakangnya.
"Hei! Rico..... "
Rendi memanggilnya dari jejauhan.
Segera Rico beranjak meninggalkan gadis yang belum menyebutkan namanya itu.
"Siapa? " tanya Rendi setelah Rico sampai.
Rico menggeleng, pergi kemobil lebih dulu. Ia menyesal tidak memotret gadis itu tadi.
Sepanjang malam hatinya tak tenang memikirkan gadis cantik tampa nama itu.
Rico berniat menemuinya lagi besok, tampa Rendi.
•
•
•
Sama halnya seperti kemarin, gadis itu duduk dibatu besar. Bercanda dengan anak-anak .Rico memberanikan diri menghampirinya.
Gadis itu merasakan suatu pergerakan, membuatnya menoleh.
"Apa lutut mu sudah sembuh? " Rico melihat lututnya yang berbalut perban bukan syalnya lagi.
"Oh... Kau, Rico."
"Kau masih ingat nama ku"
"Bahkan suara mu... Aku mengenalinya. Nama ku, Ela." ia senyum.
"Nama yang cantik seperti diri mu" puji Rico membuat rona merah dipipinya.
"Em..... Boleh aku memotret kalian? "
Bukan hanya memotret, Rico juga bercanda, bermain kucing & tikus mengejar anak-anak. Tertawa lepas penuh kebahagiaan.begitu pula Ela yang ikut tersenyum mendengar tawa anak-anak itu dari duduknya.
Rico duduk disebelah Ela "dimana orang tua mereka? "
"Mereka yatim piatu. Anak-anak itu bernaung dengan ku difila itu"
Rico menoleh, menatap fila megah bedekor serba putih dibelakang mereka. Ia berpikir fila itu panti asuhan dan Ela salah satu pengasuh mereka.
"Ela! Kau meninggalkan tongkat mu lagi. Aku khawatir kau jatuh lagi seperti kemarin. "
Seorang wanita berambut sebahu datang memberi Ela tongkat.
"Siapa dia? " tanya gadis berambut sebahu itu menyidik Rico.
"Dia bukan orang jahat, dia yang menolong ku kemarin. Dia teman ku,namanya Rico."
Rico melambaikan tangan sopan "hai... "
Wanita itu pergi setelah menjawab salam Rico.
"Dia tifa, asisten ku.... Ada sesuatu yg perlu kau dengar. "
Rico tertegun melihat Ela berjalan dibantu tongkat itu.
"Dia buta.... "
Ela mengambil sebuah biola yang sebelumnya ia taruh diatas ayunan dibawah pohon cemara.
Hati Rico tersentuh mendengar melodi yang ia mainkan. Senyum itu terlukis manis diwajah Ela. Rico perlahan memotretnya.
"Bagaimana? Bagus? "
Rico tersadar bahwa lagu itu telah usai. Buru-buru ia menyeka keristal bening dipelupuk matanya.
"Aku sampai terharu mendengarnya. "
"Boleh aku datang kesini setiap hari?. "
Ela menjawab Rico dengan senyum hangat.
•
•
•
Esoknya Rico kembali mendatangi gadis itu. Ia membawa banyak makanan untuk anak-anak.
Menggelar tikar dibawah pohon cemara, terasa piknik keluarga. Tidak lupa Rico selalu mengabadikan setiap momen dengan cameranya.
Ela memainkan lagi biolanya seperti permintaan Rico & anak-anak.
Tifa tersenyum dari jendela rumah menyaksikan kegembiraan itu tumbuh kembali setelah sekian lama hilang dalam diri Ela.
*****
Seperti halnya kecanduan akan cinta, Rico datang lagi kesana. Kali ini ia merubah penampilannya. Yang awalnya hanya memakai kaos tapi hari ini Rico memakai setelan jas selutut. Menata rambutnya dengan apik. Sang ibu sampai heran dengan perubahan putranya setiap hari.
Ela Melirik, merasakan ada yang datang.
"Rico... "
"Ya... " Rico jongkok dihadapan Ela yang duduk diatas ayunan, menaruh bunga dipangkuannya.
"Bunga smeraldo" hanya dengan menyentuhnya Ela mengetahui bunga itu, membuat Rico terkejut.
"Ini bunga kesukaan ku, terimakasih. "
"Kau cocok dengan pakaian itu "
Rico tambah terkejut lagi Ela mengetahuinya.
"I-ya... " Jawab Rico gugup.
"Tenanglah jangan gugup, aku tidak bisa melihat. Aku hanya mendengar & merasakan dengan hati ku. "
Ela mengajak Rico menonton drama Korea kesukaannya.tapi bukanya menonton, Rico sibuk menatap wajahnya, Sesekali menjawab pertanyaan Ela yang bertanya,
"Apakah pemainnya tampan?, pasangannya cantik?, gaun apa yang ia pakai?, model seperti apa rambutnya? "
•
•
•
Hampir setengah minggu liburannya ia habiskan bersama Ela, Begitu pula rasa cintanya yang semakin dalam. Menaruh harap pada gadis itu. Rico tidak memandang "sempurna". Ia hanya meminta cinta yang tulus darinya.
"Kau tidak bosan hanya bermain disekitar rumah? "
"Aku tidak bisa pergi jauh"
"Kenapa? ."
Ela hanya menunduk.
"Ada aku... Ayo pergi bersama ku besok. "
*****
Rico menepati janji itu, esoknya ia mengajak Ela jalan-jalan kemanapun. Mereka pergi ketaman hiburan. Saking senangnya,tongkat Ela tidak sengaja memukul kaki Rico saat ia menghentakkannya.
Namun ia tidak menyadari hal itu. Ia sibuk berkeliling.
Mereka juga pergi kebioskop,lestaurant, Rico juga mengajaknya berbelanja.
Sebelum pulang, Rico mengajak Ela piknik ditaman.
Dengan manjanya Rico tidur bersandar dipangkuan Ela.
Tertawa, saling usil. Rico mengilikitik dagu bawah Ela.
"Boleh aku sentuh wajah mu? Aku hanya ingin membayangkan wajah tampan mu dengan sentuhan ku. "
Sedih menyelimuti Rico jika Ela sudah menyindir kekurangannya.
Rico langsung mengarahkan tangan Ela menyentuh wajahnya.
"Kulit yang Sangat halus, hidung yang mancung, mata yang indah.. " jemarinya berhenti saat menyentuh bibir Rico.
"Kenapa??"
"Wajah yang sempurna."
Rico mencium tangan Ela, membenamkan tangannya diwajah Rico.
"Kau tau, aku jatuh cinta saat pertama kali melihat mu. Wajah itu, mata itu, hidung itu, & bibir itu yang membuat ku jatuh cinta. " ucap Rico menyentuh mata, hidung, bibir Ela perlahan dengan jemarinya.
"Aku tidak peduli tentang kekurangan mu... Aku ingin kau menjadi milik ku? Kau tidak harus menjawabnya sekarang, aku akan mendengar jawaban itu besok. "
Mata Ela berkaca-kaca.
"Kau menangis? "
"Tidak... Aku hanya bahagia. "
Rico tersenyum kotak ikut bahagia.
•
•
•
•
Rico menelpon ibunya yang sudah kembali dua hari lalu ke london karena urusan bisnis. Rico meminta pinjaman uang pada ibunya.
"Untuk Apa uang sebanyak itu? " tanya sang ibu dari ujung telpon.
"hm... Ada seseorang yang harus bahagia. Aku akan menggantinya nanti."
Sepertinya Rico senang menagih janji. Ia datang kefila Ela dengan menggendong seekor anjing berbulu coklat.
Dengan nyaman anjing itu pindah dalam pelukan Ela. Ia terlihat senang saat menyentuh bulu halusnya.
"Bawalah anjing itu untuk menemani mu Kemana pun. Aku khusus membelinya untuk menjaga mu. Namanya popy"
Ela tersenyum, mulai memanggil-manggil popy.
"Apa jawaban mu?. "
tiba-tiba Rico menanyakan jawaban atas pertanyaan kemarin.
"Jika kau menerima anjing itu berarti jawaban mu iya. "tutur Rico spontan tanpa perlu mendengar ucapan Ela.
saking senangnya Rico sampai mencium pipi Ela.
Ada raut kesedihan dibalik senyum bahagia Ela, yang juga menginginkan Rico.
******
Mereka bermain bersama popy & anak-anak. melatih Ela agar terbiasa menggunakan anjing sebagai penuntunnya.
"Aku boleh menginap disini? "
Permintaan Rico membuat Ela terkejut.
"Tidak bisa "
"Kenapa? Aku kan pacar mu sekarang. Aku juga ingin mengasuh anak-anak panti agar aku terbiasa jika menjadi suami mu nanti."
"jangan pernah datang malam, aku tidak suka. Pulanglah, dan datang lagi besok. "
**********
Seperti yang Ela minta, Rico datang berkunjung.
walaupun tidak diminta ia juga tetap akan datang.
Kali ini wajah Ela terlihat pucat, peluh hadir dikeningnya. Ia tampak tidak sehat.
"Kau baik-baik saja? " tatap Rico khawatir.
"Ya... Hanya kurang tidur. "
"Apa kau memikirkan aku semalaman. "
Ela tersenyum mendengar candaan Rico.
Hari ini Ela terlalu lemas, wajahnya semakin pucat. Rico membujuknya untuk kerumah sakit. namun Ela menolak. Ia hanya ingin memakai sweater saja.
Rico menggelar tikar, duduk Memeluk Ela dipangkuannya. Menyandarkan kepalanya dibahu Ela.
"Apa kau tidak ingin melihat wajah ku? "
"Aku sangat ingin melihat wajah tampan mu. "
"Jika ada seseorang yang membiayai oprasi mata untuk mu, kau bersedia? "
"Untuk apa dapat melihat jika harus pergi.. " lirih Ela berucap, namun Rico dapat mendengarnya.
"Maksud mu? " kepalanya bangkit dari bahu Ela.
"hm... Oprasi itu butuh banyak uang. "
"Tenang...... Kau jangan pikirkan masalah uang. Aku yang akan menanggung semuanya. "
Mata Ela berkaca-kaca mendengar niat tulus Rico yang ingin dirinya bisa melihat lagi.
bibirnya gemetar menahan isak. Perlahan bersandar di dada bidang Rico.
"O... Lihat popy" seru Rico menunjuk anjingnya yang bertingkah imut tapi Ela tidak merespon.
"Kau tertidur? " gumam taehyung melihat kedua mata Ela terpejam.
Rico langsung menggendongnya kekamar takut ia kedinginan jika berlama-lama diluar.
Rico sempat melihat berbagai macam obat dimeja rias Ela, tidak ada rasa ingin taunya, Rico langsung pulang.
•
•
•
•
Esoknya Rico datang lebih awal membawa sarapan, ingin melihat kondisi Ela. Namun semua jendela & pintu terkunci, tertutup rapat. Tidak ada anak-anak & juga Tifa.
Rico menelpon Tifa sesuai catatan nomer ponselnya yang diberikan Ela. Namun berkali-kali jaringan sibuk, dialihkan. Begitu seterusnya.
Hampir seminggu Rico lepas kontak dengan Ela. Membuat Rico hampir gila, akan bunuh diri jika tidak dicegah Rendi.
Rendi sampai bingung dengan kondisi Rico yang berubah drastis.
Tidak mau makan, mandi, tidur & apa pun. Rico hanya terdiam, meringkuk diatas kasur. Menangis setiap hari memanggil nama Ela.
"YA! Jangan begitu Rico, ayo makan. Bagaimana perasaan ibu mu jika ia pulang nanti. "
"Kau tau!, ia sudah berjanji akan melakukan oprasi... Tapi kenapa ia pergi! "
Bentak Rico dengan derai air mata.
Membuat Rendi jengah, iba melihatnya.
Tak tinggal diam, Rendi mengambil ponsel Rico. Mencoba menghubungi kembali Ela dengan nomer telpon rumah yang tertera di kontak Rico.
Rendi terbelalak tak percaya panggilannya di Jawab.
"Dia menjawab telponnya! "
"Ela..." panggil Rico merebut ponselnya dari Rendi.
"Datanglah kefila sekarang. " tegasnya dari ujung telpon.
Rico mengernyitkan kening.
Sebelumnya Ela melarang untuk datang malam-malam tapi kenapa sekarang ia meminta Rico datang.
Tampa pikir panjang mereka langsung kesana.
******
Rico tertegun menatap sunyi setiap ruangan, sepi dari anak-anak dan hanya ada Tifa dihadapannya.
"Dimana ela? "
Tifa tertunduk menitihkan air mata.
"YA! Jawab Tifa! " bentak Rico mencengkram kedua bahunya.
Tifa langsung menepis lengan Rico.
"Dia dirawat di Amerika." lirih Tifa menjawab.
"DENGARKAN AKU... Ini bukanlah panti asuhan. Aku & ela bukan pengasuh. Fila ini milik ela, ini rumah ela. Dan aku perawat sekaligus sekretaris dokter yang merawat ela".
Rico menggeleng, tak mengerti.
"Sebenarnya ela mengidap kangker otak & leukimia. Umurnya hanya tinggal menghitung hari sekarang. ia terpuruk mengetahui dirinya di diagnosis dua kangker sekaligus tiga tahun lalu... Belum lagi ia Sudah buta & kehilangan orang tuanya sejak sepuluh tahun lalu karena kecelakaan mobil.
Hanya anak-anak panti itu yang sengaja ia undang setiap hari bermain disini menjadi penyemangat hidupnya. Sampai seseorang bernama Rico
datang, memberi harapan untuk kembali sembuh ".
Tifa tertunduk menahan lagi isakannya.
"Dan kenapa ela melarang mu untuk tidak datang kemari saat malam... Karena ela selalu menahan rasa sakitnya dikursi itu, memakai topi rajut dikepalanya"
Rico dan Rendi menoleh kursi goyang didekat jendela.
"Ia merintih, berteriak, memegangi kepalanya sambil menatap bintang sampai air matanya jatuh... Sebenarnya ia lelah hidup seperti itu. Selalu memakai rambut palsu untuk menutupi kepalanya yang botak, selalu memakai lipstik menutupi bibirnya yang pucat, meminum obat setiap saat. ela bosan! Hanya karena RICO, ia melakukan semua itu. ela tidak pernah mau dirawat, ia hanya ingin dirumah menunggu esok tiba untuk bertemu RICO... "
Keristal bening itu merekah dipelupuk Rico.
"Dan terakhir kali ela tertidur dibahu mu, sebenarnya ia tidak tidur, ia menahan rasa sakit... Sebenarnya ia melarang ku mengatakan hal ini tapi, aku sudah tidak bisa. "
Rico terisak sangat dalam setelah mendengar perkataan terakhir Tifa. Jatuh, menangis memukul lantai berkali-kali menjerit mmemanggil Ela. Begitu pula Rendi yang berlinang air mata.
•
•
•
•
Rendi mendapat kabar dari Tifa bahwa Ela dalam perjalanan pulang dari Amerika. Ini menjadi hari terakhir bagi
Ela.
Gadis itu meminta Rico untuk datang ditaman, dimana Rico pernah mengungkapkan perasaan padanya.gadis itu juga berpesan ingin foto dengan camera film milik Rico.
"Disenja itu, aku datang menemuinya. Ia bilang pada ku, ia sengaja merias wajahnya untuk diriku. Meminta ku untuk mengabadikannya dengan camera film milik ku. Aku tidak banyak bertanya padanya... Hanya menatap wajahnya disisa waktu. " suara Rico dalam hati.
"Apakah aku cantik? " uucap Ela dengan gaun putih selutut & syal merah milik Rico yang masih ia simpan.
Air mata Rico jatuh, sesaat ia membisu.
"Aku dapat melihat raut wajah mu dengan pendengaran ku. "
Air mata Ela jatuh dalam senyumnya.
"Cantik... Sangat cantik"
Rico tertunduk menahan isaknya.
Senyum itu masih hadir diwajahnya meski berselimut air mata.
"Berjanjilah kita akan selalu bersama. "
"Aku tidak bisa... Rico."
Rico sudah menebak jawaban itu.
"Kenapa??"
"Meski pun aku menjadi milik mu..... .
Hal itu akan membuat mu menangis.... Aku tidak pernah bilang iya untuk menjadi pacar mu atau pun bersedia oprasi mata.
Untuk apa... Jika harus pergi... "
Ela mendanga dari tundukannya.
"Aku ingin Kau memotret ku dengan popy. "
Ela mengganti topik pembahasan.
Rico membungkam mulutnya menahan isakannya.
"Ayo Rico foto aku. "
Pinta Ela memangku popy, tersenyum dengan elegan meski air mata terus membasahi pipinya.
Gemetar tangan Rico mengacungkan cameranya, berat penuh derai air mata.
Suara filmnya terdengar jelas ditelinga keduanya.
CEKRIK.....
Ela langsung terjatuh lunglai, melepas pelukannya pada popy membuat anjing itu berlarian.
"Ela!! " pekik Rico berlari mendekap tubuh gadis itu dalam pangkuannya.
"Kita pergi kerumah sakit. "
Lemah Ela menggeleng "siapa yang bilang aku sakit, aku hanya mengantuk. "
Rico tambah memeluknya erat, mencium keningnya.
"Apa kau menangis? "
Rico tidak menjawab hanya terus mencium keningnya.
"Kau tau, aku juga jatuh cinta pada mu saat kau menutup luka ku dengan syal ini... Terimakasih telah berkunjung.... Nyanyikan sebuah lagu untuk ku... Rico."
Rico memaksa mulutnya untuk terbuka, meski suaranya terdengar putus-putus karena isakannya Rico tetap bernyanyi uuntuk Ela.
"Walaupun kita berjauhan, aku yakin bahwa kita selalu tetap bersama. Terimakasih telah Memeluk ku sehangat ini... Aku mencintai mu. "
Tangan Ela meraba wajah Rico.
"pacar ku sangat tampan sekali." lembut jemari gadis itu menyeka air mata Rico.
Rico menggenggam tangan Ela, menciumnya.
"Lupakan aku... Rico."
lirih suaranya terdengar berbisik ditelinga Rico.
Rico tergugu, tambah menjerit terisak, Memeluknya seerat mungkin. Merasakan tangannya terjatuh lunglai.
"ELA!! "
Tifa dan Rendi terisak dari jejauhan menyadari gadis itu telah pergi.
Ela meninggal dalam pelukan Rico tepat dihari ulang tahun keduanya,
30 desember.....