Kisah ini terjadi saat aku masih menyelesaikan studi magister di kota Semarang. Entah bagaimana awalnya aku mulai terjun dalam pergaulan yang keliru, mungkin karena aku hidup jauh dari pengawasan kedua orangtua sehingga bebas melahkukan apa saja. Mungkin juga karena aku frustasi karena sering kali disakiti lelaki, dan jenuh hidup sendiri. Sehingga seringkali jika aku telah benar-benar merasa stress dengan tugas-tugas kuliahku, aku lampiaskan dengan mencari kesenangan dalam hal negatif.
Malam ini aku menengguk beberapa gelas minuman yang mampu membuat perasaanku sedikit rileks, tidak lama kemudian datanglah peria tampan dengan paras penuh karisma yang cukup membuat banyak mata gadis di tempat ini meliriknya, namun aku lebih tertarik dengan baju seragam yang dia kenakan. Sembari terus menikmati minuman aku meliriknya, sadar aku perhatikan sedari tadi, dia membalas menatapku yang langsung aku sambut dengan senyum menggoda. Dia tersenyun dan melangkah menghampiriku, kemudian kami ngobrol banyak hal, sesekali pembicaraanya membuat telingaku sedikit panas, namun aku berusaha tetap bersikap santai. Sebelum kami berpisah, dia memberikan padaku selembar kertas yang berisi tulisan nama akun jejaring sosialnya, dan dari situ aku tahu namanya adalah Satria.
Setelah pertemuan itu, tidak ada perkembangan apapun. Hingga seminggu kemudian Satria mengirimkan pesan padaku, akhirnya kami sering terlibat chatting cukup panas di salah satu social media yang tentunya private. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, Satria menghilang tanpa satupun kabar. Aku menangapi ini dengan santai, karena aku cukup mengerti profesi sepertinya terkadang memang mengharuskan untuk bertugas pada daerah-daerang yang tidak mampu terjangkau signal.
Tiga bulan berlalu, aku merasa sangat rindu pada Satria, kemudian aku mencoba mengobati rinduku dengan melihat beberapa fotonya di social media. Kejanggalan mulai aku rasakan saat mencoba terus mencari akunya namun tak juga aku temukan, lalu aku membuka daftar blokir pada akunku, benar saja ternyata namnya tercantum pada daftar pemblokiran akun. Aku teringat kalau mantan kekasihku dulu pernah meminta password akunku. Segera aku mengganti paswordku. Rasanya ingin sekali aku memaki mantanku itu, sudah jelas dulu dia yang memutuskanku, lalu buat apa dia masih ikut campur urusanku. Meskipun kali ini aku sudah berusaha menghubungi Satria lagi, aku merasa pesimis. Rasanya tidak mungkin Satria kembali merespon pesanku, pasti dia berfikir aku telah memblokirnya dan pergi begitu saja.
Malam ini aku menunggu balasan pesan dari Satria dengan beberapa gelas minuman, hingga saat aku telah tak sanggup lagi menengguk minuman ini, tak juga aku dapati balasan darinya.
Saat mentari kembali terbit, sinar-sinar hangatnya mulai menembus gorden kamar memaksaku tuk membuka mata dengan rasa pusing yang masih bersarang bekas mabuk semalam, membuatku malas beraktivitas dan ingin kembali terlelap. Aku meraba handphonku yang berada pada meja di samping tempat tidur untuk melihat jam, terlihat beberapa chat msuk di salah satu sosmedku. Ternyata Satria telah membalas chatku, beberapa menit kami sempatkan chatting sebelum dia pergi berkerja.
Hari ini aku awali aktivitas dengan mengikuti kelas mata kuliah yang cukup memeras pikiran, sialnya aku sama sekali tidak mampu menyerap mata kuliah ini, pikiranku sudah terlanjur kacau akibat pengaruh chatting dan rasa pusing bekas mabuk semalam.
Untunglah waktu berlalu dengan cepat hingga kini mentari kembali telah terbenam, sesampainya di rumah aku merasa sangat lelah, hingga aku tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala. Aku terbangun saat mendengar beberapa chat masuk, terlihat pada jam dinding sudah pukul delapan malam, kemudian aku membuka chat dari Satria yang meminta alamatku, tanpa sempat berpikir apapun aku membalasnya, lalu melempar handphonku pada sofa samping. Rasanya badanku lengket semua dan ingin segera mandi.
Tepat seusai mandi, aku mendengar beberapa kali ketukan pintu, aku pikir itu pemilik rumah ini yang rutin datang setiap akhir bulan untuk menagih uang sewa dan mengomel-ngomel menyuruhku merawat rumahnya dengan baik. Lalu aku memakai baju seadanya dan bergegas membuka pintu, aku cukup terkejut kala ternyata yang berdiri di depan pintu bukan orang yang aku perkirakan,
“Hello sayang…”, sapa Satria setelah aku membuka pintu, “Boleh aku masuk?”, ujar Satria lagi.
Sekali lagi aku tak menjawab, hanya mengnggukkan kepala. Aku masih berdiri terpaku di samping pintu seolah masih tak percaya dengan siapa yang datang ke rumahku ini. Merasa aneh melihatku yang terus bengong seperti orang tolol, Satria tersenyum dan kembali bertanya,
“Kenapa sayang? kamu gak suka aku ke sini?”
“Haah? Apa? Gak kok”, aku segera tersadar dan menutup pintu, lalu mengambilkanya minuman di lemari es yang kebetulan juga berada di samping sofa tempat duduknya, kerena memang rumah yang aku kontrak ini sangat kecil, hanya ada satu kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu sehingga beberapa barang elektronik aku taruh di ruang tamu.
“Aku pikir kamu gak mungkin datang ke rumahku”, ujarku sambil meletakkan minuman pada meja tamu,
Mendengar perkataanku itu Satria hanya tersenyum sembari meneguk minumannya. Kemudian dia merangkul pundakku sembari berbisik,
“Aku boleh nginep kan malam ini?”,
aku hanya diam, beberapa detik kemudian aku tersenyum sembari melirik matanya, baginya itu merupakan suatu jawaban yang cukup jelas.
Entah apa yang aku pikirkan malam ini, aku membiarkan saja Satria masuk terlalu jauh pada kehidupanku. Aku nikmati surga yang begitu indah bersamnya. Rasa lelah membuat kami terlelap melayang pada alam mimpi yang tak kalah indah, hingga kembali aku terbangunkan oleh sinar mentari yang menembus di sela sela gorden. Aku terbangun tanpa Satria di sampingku, apa mungkin semalam hanyalah mimpi? Terbersit pertanyaan bodoh itu dalam hati, segera aku meraih handphonku dan terdapat satu pesan darinya,
“Thank for tonight sayang,
Maaf aku pergi tanpa membangunkanmu, aku harus bertugas pagi ini.
See you next time dear…”
Aku banting handphonku pada kasur, rasanya aku benar-benar kecewa, menyayangkan Satria yang pergi tanpa memberitahuku terlebih dulu. Aku meraih handuk yang tergeletak di kasur untuk menutupi tubuhku, handuk ini masih terasa basah seperti baru dipakai mandi. Aku pejamkan kedua mataku mencoba untuk mengerti, memang profesinya mewajibkan untuk selalu on time, dan mungkin Satria tidak ingin mengganggu tidurku sehingga pergi tanpa memberitahukanku dulu, lagipula dia sudah meninggalkan pesan, setidaknya dia masih menghargaiku.
Semenjak kejadian itu, aku mulai lebih mengerti tentang sisi lain kehidupan. Aku mulai mencari tahu kehidupan-kehidupan yang menyimpang berserta penyebabnya, semua itu kemudian aku tuangkan dalam beberapa artikel. Dalam satu minggu aku telah menyelesaikan empat artikel, aku pikir artikel itu tidak akan diterima oleh beberapa blog, tapi ternyata aku mendapatkan upah 2x lipat dibanding artikel-artikel yang biasa aku kirim. Dengan pengghasilan ini aku mampu membayar kontrakan sendiri bulan ini tanpa harus meminta orangtua, untuk memenuhi kebutuhan makan selama seminggu kedepan juga cukup.
Setelah membeli beberapa kebutuhanku selama seminggu kedepan, aku berjalan menuju kontraanku, melewati gang-gang sempit yang kumuh. Aku berharap upahku sebagai penulis artikel akan terus seperti ini, hingga suatu hari aku bisa menyewa rumah kontraan yang lebh layak. Sesampainya di pekarangan kontraanku terlihat pintunya telah terbuka dan semua lampu sudah menyala, aku pikir pasti pemilik kontraan sudah di dalam rumah untuk menagih uang. Benar saja bu Endang keluar dari rumahku lalu berjalan menghampiriku dengan wajah sumringah, aneh sekali biasanya setiap ingin menagih uang kontraan bu Endang selalu memasang wajah judesnya.
“Eh, neng Elia baru pulang ya? Sana masuk udah ditunggu pacarmu lho”, ujar bu Endang,
“Pacar bu? Aku kan gak ada pacar”, tanyaku heran,
“Hay, sayang baru pulang..?”, sapa Satria dari balik pintu kontaanku.
Jantungku terasa putus saat melihat satria, aku benar-benar takut kalau bu Endang akan marah besar, tapi anehnya bu Endang malah tersenyum sambil berbisik,
“Sudah sana! Dia sudah nunggu kamu lama, sering-sering suruh main ke sini ya!”
Aku hanya terbengong heran, setelah itu bu Endang berjalan meninggalkan pekarangan rumahku.
Aku mendekati Satria dengan perasaan yang masih terheran-heran sembari berkata, “Aneh sekali biasanya bu Endang selalu marah-marah kalo aku terima tamu cowok”
“Ya iyalah gak marah, orang aku bayar kontraannya dua kali lipat”, sahut Satria
“Hahh? Kamu bayar kontraanku dua kali lipat?”
Kembali aku melongo kaget, Satria hanya tersenyum melihat ekspresiku sembari menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku mengambil beberapa peralatan makan dan menyiapkan minuman, setelah itu aku sajikan makanan yang baru aku beli tadi di atas karpet depan tv,
“Kamu kok bayar kontraanku dua kali lipat sih? Aku gak da uang buat ganti lho”, ucapku ketus pada Satria
“Yaaa dari pada aku gak boleh main ke sini lagi, lagipula aku kan gak minta kamu buat ganti uangku”, jawab satria sembari mulai menyantap makanan yang telah aku sajikan,
“O,ya? Makasih yaa hehe.. Uda na makan, kamu beruntung lho malam ini aku beli makannya enak-enak, abis aku baru dapat gaji banyak”, ucapku dengan nada gembira
“Kamu kerja?”, Tanyanya sedikit heran karena memang setahunya aku masih kuliah dan belum bekerja,
“Emmm dibilang kerja gak juga sih ya, tapi aku sering nulis artikel dan aku kirim ke orang-orang yang punya blog, kalo artikel itu diterima ya aku dapat upah”,
“Emmm gitu”, aku tidak tau apa yang dipikiranya, entah percaya padaku atau tidak, yang pasti setelah mendengar penjelasanku itu Satria sempat menatapku cukup lama, saat aku balik menatapnya, kemudian dia melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan malam, kami ngobrol banyak hal, lebih tepatnya aku yang lebih banyak bercerita tentang keseharianku. Mungkin karena Satria merasa bosan dengan ceritaku, tiba-tiba dia merangkulku dan ingin menciumku, seketika aku menghindar,
“Eettzz aku mandi dulu ya…”
Kemudian aku berlari menuju kamar mandi sembari tertawa, aku tidak peduli dengan ekspresi kekecewaannya yang menurutku malah membuat wajahnya semakin tampan dan menggemaskan.
Setelah aku selesai mandi, Satria sudah berbaring di atas tempat tidurku sembari membaca beberapa buku bacaan koleksiku yang tergeletak di kasur. Kemudian kami kembali menikmati indahnya surga dunia hingga kami terlelap, aku terbangun saat mendengar gemercik air di kamar mandi, pasti itu Satria yang sedang mandi. Setelah dia selesai mandi, aku kembali berpura-pura tidur, lalu dia mengambil seragam kerja di dalam tas ranselnya. Setelah berpakaian rapi, aku mendengar langkah kakinya seperti mendekat padaku, benar saja dia membelai beberapa helai rambutku lalu mengecup keningku, setelah itu dia berjalan meninggalkan kamarku. Setelah aku mendengar Satria membuka kunci rumahku dan kembali menutup pintunya, aku membuka mata, tanpa sadar kedua mataku meneteskan air mata. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat ini, aku berharap sikap Satria padaku akan terus seperti ini. Dan semoga tidak ada satupun perempuan lain di luaran sana yang diperlakukan Satria sepertiku. Meskipun aku sendiri tahu, bahwa Satria mempuanyai teman wanita cukup banyak di luaran sana. Aku segera menghapus air mataku dan bangun dari tempat tidur
“Huhh dasarrr”, aku menggerutu saat melihat baju dan celana Satria yang dia pakai semalam sengaja digeletakkan di atas ranjang pakaian kotor, membuat tumpukan cucianku semakin banyak saja.
Tiga hari kemudian, aku mendengar bisik-bisik dari beberapa temanku yang begitu menusuk telinga. Eentah mereka tahu dari mana jika Satria sering menginap di kontraanku. Mereka menganggapku selir lah, cewek murahan lah, dan semua kata-kata yang tak pantas dilontarkan padaku. Aku berusaha tetap cuek dan tidak peduli dengan semua omongan mereka, meskipun seringkali kuping ini panas kala mendengar kata-kata yang tidak pantas, lagipula kuliahku sebentar lagi akan selesai jadi lebih baik menahan diri saja saat menerima buli dari mereka.
Seharian penuh mendengar hujatan membuat suasana hatiku begitu kesal, rasanya aku ingin membanting semua piringku setelah sampai di rumah nanti. Kesalnya lagi setelah sampai kontrakanku, entak kenapa pintunya sulit sekali kubuka, saat aku masih berusaha membuka kunci rumah tiba-tiba pintunya terbuka sendiri dari dalam,
“Haahh Satria??”, jeritku kaget. “Kok kamu bisa masuk?”, tanyaku lagi dengan heran
“Iyalah, aku kan bawa kunci serepnya”, ielas Satria sambil menunjukan kunci di genggamannya.
Kemudian aku lihat beberapa kunci di genggamanku, ternyata benar kunci serepnya tidak ada. Lalu aku berjalan masuk dan membanting beberapa buku yang kubawa di atas meja tamu
“Kenapa sih yank? Kamu marah aku ngambil kunci serep kamu?”, Tanya Satria sambil menutup dan mengunci pintu,
“Sebel deh ama temen-temenku, entah dari mana mereka tau kalo kamu sering nginep di sini. Sekarang mereka semua nghujat aku, yaa memang sih kita keliru, tapi omongan mereka nyayat hatiku bangettt…”, jelasku pada Satria.
Setelah mendengar penjelasanku itu, kemudian Satria berjalan menghampiriku, lalu memeluk dan mengecup keningku,
“Sabar ya sayang, maaf kalau semuai ini gara-gara aku. Ya sudah sekarang kita makan dulu yuk biar kamu lebih tenang, aku bawain makanan buat kamu lho”, hibur Satria padaku, lalu dia berjalan ke dapur untuk mengambil perlengkapan makan. Perasaanku sedikit lega meskipun mukaku masih cemberut kesal.
Malam ini kami habiskan hanya dengan bercerita dan bercanda, Satria banyak bercerita tentang rutinitas kesehariannya dan juga pekerjaannya yang terkadang membuatku tertawa karena lucu, mungkin karena kelelahan setelah melewati hari yang cukup menyebalkan sehingga tidak terasa aku mulai mengantuk. Rasanya nyaman sekali, aku terpejam dalam pelukan Satria sembari sayup-sayup aku masih mendengarnya bercerita, dan kata terakhir yang kudengar sebelum benar-benar tertidur adalah,
“Love you so mach Elia…”, seketika aku langsung membuka mataku,
“Lho kamu kok bisa tahu namaku?”, tanyaku heran, karena memang sejak pertama bertemu aku tidak pernah memperkenalkan namaku, Satria pun biasa memanggilku dengan sebutan sayang atau kamu. Lagi pula aku memakai nama tinta di semua sosmedku yang biasa dihubungi satria, karena di semua karya tulisku di blog, aku menggunakan nama tinta, jadi itu akan mempermudah para pembaca karya tulisanku jika mereka ingin menghubungiku ataupun sekedar mencari tahu tentang diriku di sosmed.
“Ihh bodohnyaa, kemarin kan berkali-kali orang yang punya kontraan ini menyebut-nyebut namamu, lagian tidak sulitlah bagi seorang Satria mencari tahu nama kamu”, jelas satria sembari mencubit hidungku,
“Ihh dasarrr… Hehehe”, aku tersenyum dan kembali memejamkan mataku.
Paginya dengan mata yang masih mengantuk aku mematikan alarm yang terus meraung-raung, aku kaget melihat Satria yang masih terlelap di sampingku, seketika aku bangkit dari tidurku dan berusaha membangunkannya.
“Yank… Yank.. Bangunnn!!! Uda jam6 lebih nih entar kamu telat…”, usahaku membangunkan Satria, namun dia masih terlihat santai dan hanya membuka sedikit matanya,
“Hari ini aku libur sayangku…, uda sana bangun, pagi ini aku pengen serapan masakan kamu”.
Setelah cuci muka dan sikat gigi, aku bergegas memasak, untung saja di kulkas masih banyak persediaan bahan makanan. Setengah jam kemudian, aku kembali membangunkan Satria, selanjutnya sembari menunggu Satria mandi, aku menyiapkan masakanku di atas karpet depan tv, setelah itu kami serapan bersama. Sepanjang menikmati serapan kami juga bercanda dan saling mengejek, sesekali Satria menggombaliku dengan rayuan konyol yang cukup membuatku tertawa lepas. Satria memang pandai menghiburku, hingga aku benar-benar lupa akan kesedihanku karena guncingan dari teman-temanku kemarin,
“Yank, habis makan kita jalan-jalan yuk!”
“Ke mana?”, tanyaku dengan serius
“Terserah, yang penting seru”, Satria menjawab dengan santai sembari terus menyantap makanannya
“Ya uda aku mandi dulu yaaa… Dan yang nyuci ini tugas kamu ya sayang.. Hehehe”, ucapku sembari menunjuk beberapa piring kotor, kemudian aku berlari menuju kamar mandi. Satria hanya yengir sembari membawa tumpukan piring kotor ke wastafel.
Kami pergi ke tempat wisata fantasy, di sana kami menjelajahi setiap permainan yang menguji adrenalin, tak lupa kami juga mengabadikan setiap detik kebersamaan kami dengan kamera. Kami mengakhiri liburan ini dengan makan malam di rumah makan favorit Satria, sambil menunggu pesanan makan datang, aku asik melihat-lihat hasil foto liburan tadi. Tiba-tiba Satria merampas handphonku,
“Ihh apaan sih”, perotesku sembari berusaha merebut kembali handphonku, tapi usahaku sia-sia saja.
“Gak diuplod?”, Tanya Satria sambil mengirim beberapa file foto ke handphonya,
“Nantilah, pilih yang cantik dulu, baru aku uplod”,
“Heleh.. Kelamaan, aku aja yang uplod”
“Ihh jangannn”, aku kembali berusaha merebut handphone Satria, dan lagi-lagi usahaku sia-sia.
Tidak lama kemudian makanan datang, kamipun langsung menyantapnya. Setelah selesai makan malam, ada beberapa pemberitahuan masuk pada sosmedku, saat aku membukanya ternyata beberapa komentar tentang foto kebersamaan kami yang diuplod Satria yang menandaiku,
“Lho kamu nandain aku ya?”, tanyaku dengan kaget
“Hemmm… Biar temen-temenmu tahu kalo kamu berarti bagiku”, Aku hanya melonggo mendengar jawaban Satria itu.
“Wahh malam ini aku sudah bikin banyak perempuan cemburu dan patah hati nih”, godaku pada Satria, karena memang pada setiap foto terdapat komentar dari beberapa teman wanita Satria yang seolah cemburu padaku.
“Uhh dasarrr, yuk pulang!”, ucap Satria sambil mencubit lenganku dan menggandengku untuk pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa sebagai perempuan paling bahagia di Negeri ini. Berada di pelukan seorang lelaki tampan impian sebagian besar perempuan, rasanya ini seperti mimpi yang diwujudkan Tuhan.
Sesampainya di rumah, sebelum masuk tiba-tiba ada telepon masuk di hanphone Satria, dari nada percakapanya seperinya itu telepon dari atasanya. Kemudian aku membuka kunci pintu dan segera masuk ke dalam, meninggalkan Satria yang masih sibuk menerima telepon.
Setelah selesai menerima telepon, Satria menghampiriku yang sedang duduk di sofa sembari menonton tv,
“Aku harus pergi, ada tugas mendadak”, jelas Satria sembari menggenggam erat tanganku,
“Berapa lama?”
“Kurang tahu, mungkin 3 bulan atau lebih”, mendengar itu dadaku terasa sesak hingga sulit untuk bernafas, aku sandarkan tubuhku pada sandaran sofa berusaha untuk tetap terlihat tenang. Tapi rasanya sulit menutupi kesedihanku ini pada Satria, lalu dia memelukku begitu erat,
“sayang aku gak jadi nginep lagi ya, aku harus pergi sekarang”, bisik Satria sembari terus memelukku.
“Apa harus sekarang?”, tanyaku dengan suara yang mulai bergetar menahan air mata,
“Ada beberapa persiapan yang harus dilahkukan sebelum berangkat sayang”,
Kemudian Satria mengecup keningku dan berjalan menuju kamarku untuk mengambil ransel dan beberapa bajunya. Setelah selesai packing, Satria kembali menghampiriku yang masih berdiri terpaku seolah ingin melarangnya pergi,
“sayang, selama aku pergi, kamu baik-baik yaa. Mungkin akan sulit untuk bias menghubungimu selama aku di sana”, Satria membisikkan kata-kata itu sembari kembali memelukku, kemudian dia melepas pelukanya dan berjalan meninggalkanku. Terbersit rasa takut jika aku tak akan lagi bias bertemu denganya, hatiku terasa begitu hancur, aku awali dan lewati hari ini dengan penuh kebahagiaan bersamanya. Namun aku harus menutup hari ini dengan berpisah denganya, perpisahan yang entah sampai kapan.
Tiga bulan berlalu, Satria masih belum kembali, sepertinya dia masih akan lama di sana. Kini aku telah menyelesaikan pendidikan magisterku, dan telah meninggalkan kota Semarang. Saat ini aku menetap di kota kelahiranku dan mengajar di salah satu perguruan tinggi di sini. Semenjak mengajar, banyak hal yang berubah dalam kehidupanku, aku mulai meninggalkan gaya hidup bebas dan berusaha kembali di jalan yang lurus. Aku juga masih aktif dalam kegiatan menulis, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuat buku tentang pengalaman hitam putih dalam kehidupanku, yang aku kemas menjadi buku motivasi.
Aku memilih launching buku di Semarang, karena di sana aku sudah sedikit mempunyai nama dalam dunia tulis menulis. Aku bersyukur yang datang dalam acara lonching buku ini cukup banyak. Acara ini lebih banyak berisi tanya jawab antra audiens denganku, dan di ujung acara ternyata ada surprise yang diberikan pemandu acara padaku,
“Nah, sebelum kita tutup acara ini. Mari kita sambut seseorang yang cukup berpengaruh dalam kehidupan bu Elia, sekaligus tokoh karakter yang paling sering muncul dalam buku karya bu Elia ini”,
aku sangat penasaran saat pemandu acara mengucapkan kata-kata itu, dan seketika aku berteriak dan menutupi wajahku saat melihat ternyata yang muncul dari belakang panggung adalah Satria.
Ini adalah pertemuan yang sama sekali tidak terpikirkan olehku, aku cukup canggung saat bertemu dengan Satria, apalagi pertemuan ini berada di atas panggung yang terus disertai dengan sorakan dan tepuk tangan penonton. Acara selanjutnya, Satria menceritakan tentang kisah kami dari pertama bertemu, hingga kami berpisah dengan dramatis. Tentu saja Satria tidak menceritakan tentang beberapa perbuatan buruk kami, selain itu dia juga menceritakan tentang beberapa hal positif yang didapatkanya selama mengenalku, dan rasanya itu terlalu berlebihan, mungkin itu juga termasuk gombalannya untukku. Seusai acara, aku serasa masih tidak percaya dengan kehadiran Satria, kami biarkan tangan kami terus bergandengan seakan tak ingin lagi terpisah. Oh Tuhan betapa indahnya takdirmu.