Disebuah perumahan elit, tempatnya disalah satu kota terbesar di negaranya. Terdapat seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 14 tahunan sedang menatap seorang gadis kecil yang berusia sekitar 9 tahunan dengan penuh damba.
Selama beberapa minggu ini gadis itu sering berkeliaran dikediamanya, mungkin dia salah satu anak dari pekerja di rumahnya kelihatan dia selalu membantu seorang pekerja di rumahnya.
Ia tidak berani untuk menghampiri gadis kecil itu apalagi kehidupanya diatur oleh keluarganya sendiri, ia hanya bisa belajar dan belajar tidak ada kata main dikamusnya apalagi ia merupakan anak tunggal dari keluarga terkemuka di negara ini.
Entah keberanian dari mana, hari ini ia memberanikan menghampiri gadis kecil yang sering berkeliaran di rumahnya dan pikirannya, gadis kecil itu sedang duduk di ayunan seorang diri di taman belakang rumahnya.
"Hai sedang apa yang kamu lakukan disini?"
"Maaf tuan saya hanya duduk di tempat ini." Ucapnya sambil menundukan kepala, tangannya gemetaran karena ketakutan. Ia sudah sering ditegur oleh ibunya untuk diam di kamar ketika tidak ada lagi pekerjaan dan jangan pernah berani berbicara pada tuan mudanya. Tapi sekarang, ia sedang berhadap-hadapan dengan tuan muda di taman.
Tuan muda melihat bahwa gadis kecil itu ketakutan. "Tenang saja, aku tidak akan menggigit mu." Hening beberapa saat. "Kenalkan namaku Kenu Tamalouis panggil saja Tama." Tama menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gadis di depannya itu.
Gadis itu mendongkak untuk melihat wajah tuan mudanya itu. Dengan tangan gemetaran, akhirnya gadis kecil itu membalas jabatan tangan tuan muda. "Ra... Raisa Jovanka." Ucapnya dengan terbata.
"Nama yang cantik seperti orangnya." Ucap Tama diiringi senyumannya. "Apa kita bisa berteman, maukah kamu menjadi teman pertama ku?" Lanjut Tama tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Raisa.
Raisa yang mendengar bahwa dirinya teman pertama tuan mudanya, ia sedikit terkejut. Apa tidak ada yang mau berteman dengan tuan muda. Ia memberanikan diri menatap tuan muda dan mengangguk bahwa ia bersedia menjadi teman tuan mudanya.
"Okey, sekarang kita berteman. Ayo ikut aku!!" Tama menarik tangan Raisa, Raisa mencoba mencegah tangannya ditarik tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Tama.
Tama membawa Raisa ke kamarnya, Raisa sedikit ragu untuk memasuki kamar Tuan muda. "Kenapa kamu diam saja? Ayo ikut aku ke dalam!" "Ta..tapi Tuan.." Sebelum Raisa menyelesaikan pembicaraannya Tama sudah menyeret Raisa masuk ke dalam kamarnya.
"Oh iya, jangan panggil Tuan. Panggil saja Tama!" Perintah Tama dengan tegas. Ia tidak suka disebut Tuan, apalagi oleh gadis kecilnya, itu sangat menjengkelkan. "Tapi kalau nyonya tau saya dan ibu saya bisa dipe.." "Tidak akan, serahkan saja kepadaku." Sahut Tama sehingga terjadi keheningan diantara mereka.
Raisa mencoba memecahkan keheningan diantara mereka. "Kak Tama?" Tama yang mendengar panggilan dari Raisa langsung menoleh. "Hem, not bad." Gumam Tama, Tama mengerti Raisa tidak merasa enak memanggilnya dengan nama saja karena Raisa lebih muda dari dirinya.
"Sini aku tunjukan beberapa penghargaan ku." Tama menunjukan beberapa penghargaan yang telah diraihnya selama ini sambil menjelaskan secara garis besar apa saja yang ia pernah raih. Sedangkan Raisa ia melihat semua penghargaan yang berjejer rapih dengan mata berbinar penuh kekaguman, semua penjelasan dari Tama ia catat dalam otaknya baik-baik.
"Oh iya, kenapa kamu tidak sekolah?" Tanya Tama. "Kata kakak ku, aku hanya anak pungut jadi tidak usah sekolah cukup bantu ibu. Kalau aku sekolah hanya akan manambah beban ibu." Tama iba mendengar penuturan Raisa, ia tahu bagaimana sikap anaknya Bi Dewi. Tama pernah menyaksikan langsung saat anaknya bi Dewi memarahi bi Dewi karena memberikan sedikit uang kepadanya.
"Tenang saja, aku akan menjadi gurumu mulai saat ini. Dan sekarang, ayo kita belajar matematika, apa kamu siap?" Raisa mengangguk antusias mendengar perkataan Tama. "Aku siap,,, aku siap." Jawab Raisa sambil bertepuk tangan, Tama mencubit pipi Raisa yang cabi dengan gemas dan mereka saling tersenyum mengungkapkan rasa yang mereka rasakan masing-masing.
To be continued....
Lanjutin gak kak, kritik sarannya ya kak untuk membantu aku menjadi author yang lebih baik di masa yang akan datang🤗.