ASMARANI
Suara ayam berkokok menandakan hari sudah pagi, Aku sudah bersiap untuk berangkat ke kampus.
Hari ini aku berangkat ke kampus sendiri, biasanya aku berangkat dengan temanku tapi, hari ini dia tidak ada kelas pagi. Aku berjalan kaki ke kampus karena jarak kampus dan rumah tidak begitu jauh.
Sesampainya di kampus aku masuk ke kelas ku dan berpapasan langsung dengan laki-laki yang ku sukai selama ini, Asmar Gemilang. Laki-laki yang disukai banyak wanita di kampus juga sangat populer. Asmar adalah laki-laki yang tampan dan pintar di kelas, dia juga ketua basket itu membuatnya semakin populer dikalangan wanita.
"Pagi Ran*" sapa Asmar kepadaku sambil tersenyum
"Pagi juga As" jawabku sambil membalas senyumannya
Jantungku berdetak kencang saat Asmar menyapaku dengan senyum manisnya. Sungguh hari yang indah, pagi-pagi sudah diberi senyuman olehnya.
"Pagi ini dosen tidak masuk kelas beliau ada urusan, kita dikasih tugas buat proyek pengamatan satu kelompok cukup 2 orang" ucap ketua kelas sambil membagikan selembar kertas berisi perintah tugas dari dosen
Aku saat ini bingung harus membuat kelompok dengan siapa, aku orang yang pemalu dan tidak memiliki banyak teman di kelas.
"Rani Lo udah ada kelompok?" Tanya Asmar yang tiba-tiba menghampiri mejaku
"Belum As" jawabku
"Ya udah Lo sama gue aja, kebetulan gue belum ada kelompok" ajak Asmar kepadaku
Aku membuka lebar kedua mataku merasa tak percaya dengan kejadian ini, aku pikir ini mimpi tapi saat aku mencubit pipiku ternyata rasanya sakit benarkah ini nyata?.
"Ran Lo mau kan?" Tanya Asmar sekali lagi
"Emm iya As aku mau kok"
"Oke kalau gitu nanti pulang kampus kita langsung kerjain aja ya"
"Iya"
Sungguh ini nyata? Aku masih merasa tak percaya. "Astaghfirullah adzim aku tidak boleh seperti ini"
Aku kemudian beristighfar karena tidak bisa menjaga perasaan ini aku tidak seharusnya seperti itu. Bagaimana caranya aku menghilangkan perasaan ini Ya Allah, aku merasa berdosa karena tidak bisa menjaga pandangan. Aku sudah terlalu mencintai ciptaanmu sampai lupa kalau dia bukanlah makhromku.
Pulang kampus aku dan Asmar langsung mengerjakan tugas dan aku merasa gugup, aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan terus mengucap istighfar dalam hati.
"Ran Lo kenapa nunduk terus?" Tanya Asmar sambil mendekatkan wajahnya
"Aku hanya menjaga pandangan ku As"
"Menjaga pandangan? Buat apa sih Ran"
"Udah deh Lo tu gausah berlebihan juga gue ga bakal ngapa-ngapain Lo kok, santai aja kalik" ucap Asmar sambil mengetik
"Maaf kalo Rani berlebihan, tapi kata Abah Rani harus selalu menjaga pandangan dari laki-laki yang bukan makhrom" jawabku yang tetap menundukkan kepala
"Terserah deh, tapi gini ya Ran kalo Lo terus kek gini gue jamin ga akan ada cowok yang mau sama Lo"
*Deg
Ucapan Asmar membuat hatiku sedikit sakit, ternyata hal baik ku lakukan selama ini terpandang berlebihan di mata Asmar.
Sepanjang waktu aku hanya terdiam bahkan tak ada obrolan apapun antara aku dan Asmar.
"Ni udah selesai Lo tinggal ngeprint aja, bisa kan" ucap Asmar sambil memberikan flashdisk kepadaku
"Bisa kok" jawabku sambil menerima flashdisk tersebut
"Gue pulang, Lo kalo masih mau disini terserah gue males si lama-lama sama Lo Ran ga asik banget jadi orang" ucap Asmar yang kemudian pergi
Aku hanya bisa menghela nafas sambil beristighfar dalam hati. Aku tidak tau apa yang ada dipikiran Asmar ku kira dia laki-laki baik yang juga akan menjaga pandangan ketika berhadapan dengan orang yang bukan makhrom nya tapi, ternyata aku salah.
Semenjak hari itu Asmar berubah. Aku berpikir bahwa Asmar adalah laki-laki yang kurang attitude. Dia bahkan sering sekali mendekati para wanita-wanita yang ingin hijrah/berubah menjadi lebih baik lagi.
"Ran gue mau ngomong sama lo" ucap Asmar yang berdiri di depanku
"Ngomong apa?"
"Lo punya pacar ngga?" Tanya Asmar sambil menarik kursi disebelahnya
"Ngga lah, kan sama Abah ngga boleh pacaran" jawabku sambil menyalin buku catatan
"Pacaran yok sama gue"
*Deg
Aku sangat terkejut dengan ucapan Asmar, beberapa hari yang lalu dia menjauhiku tapi sekarang kenapa? Kenapa dia mengajakku berpacaran?
"Ish Ran kok malah bengong, Lo mau ngga?"
"Ya kalik lo nolak gue diluaran sana aja banyak cewe yang ngantri buat jadi pacar gue..."
"Maaf As aku ngga bisa" ucapku sambil meletakkan pena
"What? Gue ga salah denger? Lo nolak gue Ran"
"Iya Asmar, Rani ngga boleh pacaran sama Abah"
"Ya ngga usah dikasih tau lah Abah Lo, ribet amat"
"Asmar sekali lagi Rani bilang ya Rani ngga mau pacaran, Abah sama umi ngga pernah ngajarin Rani buat bohong sama mereka itu dosa besar Asmar" jawabku
"Halah sok suci Lo Ran, kalo Lo kek gini terus ngga bakalan deh ada cowok yang mau sama Lo" ucap Asmar dengan wajah kesal
"Yakin? Padahal barusan Asmar sendiri loh yang ngajak Rani pacaran, terus kenapa Asmar bilang ngga akan ada cowok yang mau sama Rani emangnya Asmar bukan cowok?" Tanyaku sambil tersenyum
Asmar seketika membeku mendengar jawabanku, dia tak bisa menjawab pertanyaan ku dan dia hanya menelan ludahnya sendiri.
Semakin aku menjauhi Asmar semakin sering pula dia menggodaku dan bukan hanya sekali dua kali bahkan berkali-kali dia mengajakku berpacaran. Aku memang menyukainya tapi aku tidak boleh melanggar perintah Abah.
Banyak sekali wanita-wanita yang mengganggu ku karena ulah Asmar, dia mengatakan kalau aku dan dirinya berpacaran sejak lama padahal aku selalu menolaknya.
"Oh jadi ini yang namanya Rani, cewek sok suci yang gayanya jaga pandangan dari laki-laki padahal dia pacaran" ucap seorang gadis berambut panjang pirang yang memakai rok mini dan baju ketat sebut saja Rya
"Maaf tapi apa maksudmu?" Tanyaku
"Dih gausah sok polos deh Lo, Lo pacaran kan sama Asmar" ucapnya dengan nada tinggi sambil berkacak pinggang
"Aku? Ngga aku ngga pacaran sama Asmar"
"Gausah bohong Lo, Asmar sendiri yang bilang kalo Lo sama dia pacaran"
"Tapi aku ngga pacaran sama Asmar, Asmar itu bohong"
"Yang bohong tu elo Rani"
Semua orang dikantin melihatku dan membicarakan tentang diriku yang terbilang munafik. Padahal aku sama sekali tidak berpacaran dengan Asmar.
Aku merasa malu dan berlari ke lorong sekolah sambil menangis disana.
"Makanya Ran Lo itu jangan sok-sokan nolak gue, tau kan akibatnya" ucap Asmar sambil berkacak pinggang di depanku
"Asmar jahat, kenapa Asmar bilang gitu ke semua orang kita itu ngga pacaran Asmar" ucapku dengan terpatah-patah
"Terima gue atau masalah ini akan tetap kek gini"
"Rani udah bilang sama Asmar, Rani ngga boleh pacaran sama Abah, Rani ngga mau ngebangkang sama Abah"
"Sok suci Lo" ucap Asmar sambil memiringkan bibirnya
"Rani ngga sok suci tapi emang ini yang diajarin Abah ke Rani"
Aku tidak tau harus berbuat apa, semua orang selalu menuduhku munafik dan bilang kalau aku hanya cari muka. *Wanita yang sok berhijab dan sok suci padahal pacaran* kata-kata itu yang selalu ku dengar ketika aku memasuki gerbang kampus.
Bahkan banyak yang bilang *lepas saja hijab mu tidak berguna sekali, percuma kau berhijab dan menutupi auratmu kalau kau munafik* kalimat yang sangat menusuk dan membuat dadaku sesak setiap kali mendengarnya. Kampus ini bagaikan neraka bagiku, tapi aku tidak boleh putus asa ada Abah dan umi yang membuatku semangat kembali.
Cacian dan hinaan bagaikan lauk pauk setiap langkahku di kampus, aku bisa tahan jika mereka menghinaku tapi aku selalu menangis jika mereka mencoba melepas hijab ku. Mereka selalu ingin aku melepas hijab ku padahal mereka tidak tau kebenarannya bagaimana.
Tapi entah kenapa perasaan suka ku kepada Asmar tak hilang bahkan tidak kurang sedikit pun, sama seperti dulu tetap mencintai Asmar. Kadang aku berpikir kalau dia bisa menjadi milikku tapi tidak sekarang.
Hari ini Asmar tidak masuk kuliah, tumben sekali tidak seperti biasanya. Seisi kampus membicarakan dirinya yang katanya dia dirawat di RS mitra karena penyakitnya kambuh. Setelah pulang kampus aku memberanikan diri menjenguk Asmar.
"Assalamu'alaikum" ucapku sambil membuka pintu ruangan Asmar
"Waalikumsalam" jawab seorang wanita dengan rambut diikat, Bu Wati ibunya Asmar
"Rani, Lo kok bisa kesini? Lo tau gue dirawat disini dari siapa?" Tanya Asmar sambil tersenyum
"Aku tau dari anak-anak kampus"
"Dia siapa nak?" Tanya mamah Asmar
"Rani mah, temen kampus Asmar"
"Yaudah kalian ngobrol dulu ya, mamah tinggal sebentar" pamit mamah Asmar
"Iya mah"
"Sini Ran duduk"
"Iya terimakasih"
"Emm As kamu sakit apa?" Tanyaku membuka obrolan
"Aku sakit paru-paru Ran, kata dokter paru-paru ku udah kotor" jawab Asmar dengan wajah sedih
"Ppa-paru-paru?"
"Iya Ran"
"Kamu cepet sembuh ya"
"Iya Ran, thanks ya udah mau jenguk gue"
"Sama-sama"
"Gue minta maaf ya sama Lo Ran"
"Minta maaf?"
"Iya, gue udah buat Lo dibully sama anak kampus gue bener-bener minta maaf sama Lo, gue cuma minta satu sama Lo Ran"
"Apa?"
"Lo jadi pacar gue"
"Tapi kan As..."
"Please Ran, gue mohon sama Lo"
"Terima gue kali ini gue ga tau berapa lama gue hidup, dan selama gue masih hidup gue pengen ngabisin waktu sama orang yang gue sayang dan itu elo Ran" ucap Asmar dengan wajah memelas
"Asmar bisa kok ngabisin waktu sama Rani, tapi ngga dengan pacaran maaf Asmar Rani bener-bener ngga bisa pacaran"
"Yaudah deh tapi Lo janji ya sama gue, Lo ngga boleh ninggalin gue apapun keadaannya, gue tau gue penyakitan tapi gue harap Lo bisa Nerima gue apa adanya"
"Gue janji setelah lulus kuliah gue bakal berobat sampai sembuh dan kalau gue sembuh gue janji bakal ngelamar elo Ran"
Aku tersenyum mendengar ucapan Asmar, aku tidak menyangka kalau dia akan sedewasa ini.
Setelah keadaan Asmar membaik dia kembali masuk kuliah dan dia meminta maaf kepada seisi kampus kalau dia sudah berbohong atas gosip tentang dia dan aku yang berpacaran. Aku pikir mereka akan memaafkan Asmar tapi tidak mereka yang dulunya tergila-gila dengan Asmar sekarang pergi menjauh apalagi setelah mereka tau kalau Asmar itu penyakitan bahkan Asmar juga dikeluarkan dari ketua basket.
Sekarang hanya aku teman yang dimiliki oleh Asmar dan kini semua anak kampus adalah temanku. Mereka semua juga meminta maaf kepadaku karena telah membully ku selama ini.
Aku banyak menghabiskan waktu bersama Asmar, mulai dari menemaninya cek up ke RS dan bermain dihari libur, aku bersenang-senang dengan orang yang aku suka itu sudah menjadi hadiah terbaik bagiku tapi walau bagaimanapun kami tidak berpacaran.
Beberapa bulan telah berlalu. Dan hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh para mahasiswa, yaps hari kelulusan. Kampus sangat ramai saat kelulusan aku bahagia karena pada akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan. Tapi ada hal yang membuatku sedih, setelah sekian lama bersama Asmar kini aku harus berpisah dengan nya bukan hanya 1 2 hari tapi bertahun-tahun dia harus melakukan pengobatan di Singapura butuh waktu yang lama untuk dia sembuh. Dia mengucapkan hal yang sama bahwa setelah sembuh dia akan kembali dan melamar ku.
"Ran Lo baik-baik ya disini dan Lo harus janji sama gue Lo ngga akan ninggalin gue, gue tau kita bakal jauh tapi Lo harus inget Ran cuma Lo yang ada di hati gue"
"Iya Asmar Rani janji bakal nungguin Asmar balik lagi kesini"
"Thanks ya Ran"
"Iya As"
Setelah lulus aku bekerja sebagai manajer disebuah perusahaan ternama, aku juga bekerja sebagai guru ngaji saat pulang dari kantor. Aku senang dengan hidupku yang sekarang aku sudah mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan mudah mendapatkan teman.
Bertahun-tahun yang lalu dan aku masih tetap setia menunggu Asmar, aku belum menikah dan tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Abah sering bilang kalau sudah waktunya aku menikah aku selalu bilang pada Abah aku sedang menunggu seseorang, Abah hanya mengiyakan ucapanku tanpa bertanya siapa laki-laki itu.
Senang seribu senang, siapa sangka kalau Asmar sudah kembali dan dia bilang kalau dia berhasil sembuh dan dia akan menepati janjinya untuk melamar ku.
"Ran malam ini gue bakal kerumah Lo"
"Malam ini?"
"Iya gue ngga mau lama-lama lagi terus kek gini, Lo udah siapkan buat nikah sama gue"
"Iya Asmar Rani siap kok"
"Oke tunggu gue malam ini"
Itulah isi chat dari Asmar siang ini padaku.
Malam ini aku bilang pada Abah dan umi kalau akan ada seseorang yang datang kemari mereka bersiap-siap untuk menyambutnya.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang dari luar pintu
"Waalikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Abah sambil membuka pintu
"Permisi om saya Asmar, Rani nya ada om"
"Ada ada silahkan masuk"
"Ada apa ya nak malam-malam datang kerumah?" Tanya umi sambil menyodorkan segelas teh
"Saya berniat melamar anak om"
"Melamar?" Jelas Abah
"Iya om, saya pernah berjanji pada Rani akan melamar saat penyakit saya sembuh, dan Alhamdulillah sekarang penyakit saya sudah sembuh dan saya ingin menepati janji saya pada Rani om"
"Tapi sepertinya Anda telat" ucap Abah sambil meletakkan gelas teh nya
"Maksudnya om?"
"Rani sudah saya jodohkan dengan anak pak ustadz dari desa sebelah"
"Abah, kenapa ngga bilang dulu sama Rani" tanyaku yang merasa terkejut dengan jawaban Abah
"Buat apa Abah bilang, tanpa Abah bilang kamu pasti akan mau"
"Ngga bah, Rani ngga mau"
"Kamu sudah berani ya membatah Abah"
"Bukan begitu bah, tapi Rani sayang sama Asmar dan Rani cuma mau nikah sama Asmar"
"Ngga Abah ngga setuju"
"Om tolong sertui saya, saya mohon om saya beneran sayang sama Rani om, saya mohon"
"Saya bilang ngga ya ngga, Rani sudah saya jodohkan lebih baik sekarang kamu pulang"
"Abah Rani ngga terima perjodohan itu"
"Kamu ngga usah ngebantah, umi bawa Rani masuk kamar"
"Iya Abah" jawab umi sambil menarik tanganku
Dikamar aku menangis keras, tak ku sangka kebahagiaan yang ku tunggu dihalangi oleh Abah, seorang ayah yang selama ini ku patuhi ternyata tidak menyetujui aku menikah dengan laki-laki yang ku suka.
"Umi Rani mohon bujuk Abah ya, buat Abah ngerestuin Rani sama Asmar" pinta ku pada umi
"Rani maafkan umi, umi tidak bisa membatah Abah"
"Kalian jahat, sekarang umi keluar dari kamar Rani"
"Tapi..."
"Rani mau sendiri umi"
"Umi keluar sekarang, cepat" pintaku sambil menunjuk pintu
"Iya iya umi keluar" jawab umi sambil berdiri
Aku sangat kecewa pada Abah. Dia diam-diam menjodohkan aku dengan laki-laki yang aku tidak kenal, aku sangat kecewa.
Setelah kejadian malam itu aku tidak berbicara apapun kepada Abah dan umi, aku juga tidak pernah ikut sarapan bersama mereka. Entah yang ku lakukan ini salah atau benar aku hanya ingin mereka tau kalau aku mencintai Asmar dan aku hanya akan menikah dengan Asmar.
Aku bahkan tidak tau kalau Asmar sering datang kerumah untuk membujuk Abah agar merestuinya. Dia tidak bilang padaku, Abah dan umi juga tidak bilang kalau Asmar sering kerumah. Akhir-akhir ini aku jarang pulang kerumah aku lebih sering menginap dirumah temanku dan menceritakan semua masalah yang ku alami saat ini.
Hari ini aku pulang kerumah, itu karena Abah yang diminta. Saat sampai di rumah aku melihat sebuah mobil terpakir jelas dihalaman rumahku.
"Assalamu'alaikum" ucapku saat memasuki pintu
"Waalikumsalam" jawab semua orang
"Rani sini nak duduk" pinta umi sambil menepuk kursi disebelahnya
"Pak ustadz ini anak gadis saya yang kemarin saya bicarakan" ucap Abah
"Oh jadi ini yang namanya Rani, cantik ya pak anaknya" sahut pak ustadz
"Iya pak anak saya memang cantik"
"Rani kenalkan ini pak ustadz Azam"
"Rani, ustadz" sapa ku
"Nah Rani kenalkan juga ini anaknya pak ustadz namanya Alwi" ucap Abah
Aku menundukkan kepalaku dan dia juga melakukan hal yang sama.
Perbincangan terus berjalan dengan lancar, dan yang mereka bicarakan hanyalah tanggal pernikahan. Sungguh aku membenci obrolan ini tapi apalah daya aku tidak bisa pergi dari sini.
Pagi ini Alwi kerumah, Abah dan umi memintaku untuk menemaninya berkeliling kota. Hari yang menyebalkan bagiku, aku tidak membuka suara sama sekali selama dijalan.
"Emm maaf Rani sebelumnya, Rani kenapa?"
"Ga papa" jawabku singkat
"Tapi Rani kenapa diem aja?"
"Alwi sekarang Rani mau tanya"
"Tanya apa?"
"Alwi terima perjodohan ini?"
"Iya"
"Kenapa Ngga Alwi tolak? Kenapa harus Alwi terima?"
"Emangnya kenapa Ran? Rani ngga mau dijodohin sama Alwi"
"Iya Alwi, sebenarnya sebelum Alwi sama keluarga dateng kerumah udah ada yang ngelamar Rani duluan tapi di tolak sama Abah"
"Ditolak? Kenapa?"
"Iya karena kata Abah Rani udah dijodohin"
"Terus sekarang Alwi harus apa?"
"Rani mohon sama Alwi, Alwi bilang sama Abah kalo Alwi nolak perjodohan ini"
"Tiba-tiba gini?"
"Iya Alwi, Rani mohon Rani cuma mau nikah Asmar, laki-laki yang Rani suka selama ini"
Alwi hanya mengangguk pelan.
Beberapa hari kemudian Alwi datang kerumah dia melakukan apa yang aku minta. Dia pria yang baik aku yakin suatu saat pasti akan ada wanita baik juga untuknya tapi itu bukan aku.
Setelah perjodohan ini dibatalkan aku masih tetap membujuk Abah agar merestui aku dan Asmar. Berbagai cara telah aku lakukan tapi nihil Abah tetap menolak, Asmar juga melakukan hal yang sama datang setiap hari kerumah hanya untuk meminta restu dari Abah.
Jujur aku sudah lelah dengan sikap abah. Akhirnya aku menyerah, aku sudah lelah untuk membujuk Abah aku bilang pada Abah "sekarang terserah pada Abah saja mau menikahkan aku dengan siapa aku tidak peduli aku sudah lelah bah, lelah meminta restu Abah, tapi jangan salahkan aku kalau nantinya pernikahan itu tidak bertahan lama"
Selang beberapa hari Abah bilang padaku kalau bulan depan aku akan menikah dengan Asmar. Aku merasa tidak percaya dengan ucapan Abah. Lalu umi juga mengatakan hal yang sama, umi bilang merasa kasihan padaku karena beberapa hari yang lalu aku terlihat sangat buruk. Bahagia? Oh jelas, siapa yang tidak bahagia kalau menikah dengan orang yang kita suka.
Bulan berikutnya telah tiba. Hari pernikahan ku yang aku nantikan, hari yang akan ku kenang sepanjang hidupku. Mulai hari ini dan selamanya ASMAR RANI resmi menikah dan menjadi teman hidup selama nya.
Kebahagiaan sedikit demi sedikit datang seiring berjalannya waktu, Abah yang dulu tak merestuinya kini menjadi sangat menyayangi Asmar, dan Alwi juga sudah menemukan wanita idamannya yang akan menemaninya sepanjang waktu. Semua bahagia dengan cara mereka sendiri.
~Perjodohan tidak selalu menjadi jalan yang baik untuk anak gadis mereka, belum tentu nantinya dia akan bahagia dengan laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Terkadang kita mereka perlu tau apa yang kita mau, apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka.