Setelah hampir sepuluh tahun lamanya tidak pernah saling bertatap muka. Akhirnya hari ini waktu kembali mempertemukan Li Wei dengan Hui Lan. Kedua orang yang pernah menjalin hubungan namun kandas dan berpisah sekian lama.
Pertemuan yang secara tak sengaja dijalan setapak persis tempat dimana pertama mereka bertemu.
Dengan jarak pandang lima meter Li Wei telah dapat mengenali Hui Lan yang berjalan kearahnya. Segera Li Wei melemparkan senyum menawannya yang tak pernah berubah sejak dulu. Sementara Hui Lan berjalan mendekat dan berhenti dengan jarak dua meter dihadapan Li Wei. Hui Lan hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Sesaat keduanya saling terdiam mengamati keadaan masing-masing. Ada kerinduan terpendam yang terpancar dari mata mereka.
Ketika itu Li Wei melangkah maju tetapi belum berani terlalu dekat dengan Hui Lan. Takut kalau wanita itu justru menghindarinya sedangkan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Sambil melihat ekspresi Hui Lan, ia kembali tersenyum dan menggumamkan sebuah kalimat dari mulutnya.
" Hari yang ku tunggu akhirnya datang juga. Waktu akhirnya menyerah dan mempertemukan kita kembali. "
Tetapi Hui Lan hanya diam tak menanggapi ucapan mantan kekasihnya. Meskipun antara mengerti dan tidak dengan maksud ucapan Li Wei itu. Namun senyum memudar dari bibirnya. Matanya terus mengawasi Li Wei dengan seksama.
Li Wei berjalan maju selangkah dan berdehem kecil. Baru melanjutkan kata-katanya.
" Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Tidak tahu harus memulai dari mana. Aku juga tidak pandai membuat kata-kata indah. Hanya saja... Kau tahu.. Aku hanya ingin minta maaf. Dan aku... Aku... Sangat menyesal. Sungguh! ".
Li Wei kembali terdiam. Nampak tengah berpikir sebelum ia berkata lagi,
" Bisakah kita bersama lagi? Seperti dulu?! ".
Rasa kaget sekaligus syok langsung terpancar dari wajah Hui Lan. Seperti petir disiang bolong. Tak menyangka dari pertemuan tak terduganya ini, Li Wei ingin memintanya kembali bahkan justru disaat dia berhenti berharap. Ia mengalihkan pandangan dari pria itu. Seperti mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. Kini Hui Lan dilanda dilema. Sementara Li Wei hanya menatapnya seakan mengerti. Dengan senyum menawannya, ia kembali berjalan maju selangkah dan melanjutkan kalimatnya.
" Pertanyaanku membuatmu bingung ya?! Baiklah kau tidak perlu menjawab. Jika kau masih menginginkan aku dan memaafkanku, aku akan berjalan selangkah demi selangkah untuk sampai ditempatmu. Tetapi jika tidak, kau boleh berpaling dan pergi menjauh dariku. Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada. "
Li Wei mulai melangkah maju. Satu langkah pelan sambil menunggu.
Hui Lan masih terdiam dengan pikirannya bagaimana memberi jawaban pada Li Wei. Sedangkan Li Wei terus maju selangkah sambil tetap menunggu.
Sebenarnya Hui Lan ingin Li Wei terus melangkah ketempatnya, tetapi di lain sisi Hui Lan tidak boleh membiarkannya. Pilihan yang sulit dan Hui Lan tidak suka memilih. Tidak akan jadi masalah jika Hui Lan masih sendiri, tetapi kini sudah berubah. Sejak hari ini, pagi ini, Hui Lan tidak lagi bisa memilih. Pertemuan yang tak terduga dengan Li Wei membawa kebimbangan sekaligus dilema dalam hatinya.
Mencoba membuka kembali tiap lembar kenangan yang sudah lama ia simpan didasar hati. Kenangan yang kadang-kadang masih sering mengusik. Yang mengharapkan hari seperti ini akan terjadi. Dan hari ini telah terjadi. Tetapi diwaktu yang sangat tidak tepat. Di waktu Hui Lan sudah benar-benar menyerah dan tidak mau berharap lagi. Dan itu adalah waktu yang telah lama berlalu.
Ditempatnya Li Wei masih menunggu dan terus berjalan maju selangkah dengan jeda waktu lebih lama. Memberikan Hui Lan waktu untuk berpikir.
Pandangan mata Hui Lan lurus menatap Li Wei sekilas. Dengan ekspresi datar. Kemudian Hui Lan memejamkan matanya. Mengingat setiap kenangan yang ia lewati bersama Li Wei.
Semua kenangan muncul di kepala Hui Lan silih berganti dengan cepat.
***
Sepuluh tahun yang lalu. Disini, di jalan setapak ini, awal pertemuan Hui Lan dengan Li Wei. Dari sinilah mereka berkenalan. Dan keesokan harinya Li Wei langsung menyatakan perasaan sukanya pada Hui Lan. Padahal baru sehari mereka berkenalan. Cinta pada pandangan pertama, mungkin itu yang dirasakan oleh Li Wei. Sehingga berani menyatakan perasaannya meskipun baru kenal. Tetapi Hui Lan tidak langsung memberi jawaban pada Li Wei dan juga tidak menolaknya. Hui Lan hanya minta diberi waktu untuk berpikir. Sampai Hui Lan memberikan jawabannya, saat itu hampir setiap hari Li Wei menunggu Hui Lan di jalan setapak, jika melihat Hui Lan lewat ia akan menghampirinya dan menggodanya. Tetapi anehnya Hui Lan tidak merasa terganggu. Dan terkadang Li Wei mengajaknya jalan-jalan. Dengan sabar Li Wei masih terus menunggu jawaban darinya.
Hari demi hari berlalu, ketika Hui Lan yakin dengan perasaannya baru akhirnya ia memutuskan memberikan jawaban yang di harapkan oleh Li Wei. Sejak hari itulah mereka resmi berpacaran.
Hari-hari yang penuh tawa bersama Li Wei. Seperti layaknya sepasang kekasih yang baru jadian. Mereka selalu pergi bersama-sama. Melakukan banyak hal bersama. Menghabiskan banyak waktu bersama. Berjalan bergandengan tangan, bernyanyi bersama, berjalan dibawah payung ketika hujan, bersandar di bahu Li Wei sambil menceritakan banyak hal, bermain dibawah rintik hujan, sampai puisi dan surat-surat yang pernah ditulis Li Wei untuk dirinya. Semua masih bisa di ingat Hui Lan dengan jelas. Bahkan kenangan yang tidak menyenangkan sekalipun. Yaitu saat ketika dirinya dan Li Wei berpisah hanya karena hal sepele. Karena salah satu tidak ada yang mau mengalah. Kala itu keduanya masih remaja. Masih mementingkan ego dan merasa diri paling benar.
Namun beberapa bulan kemudian keduanya kembali bersama karena masih ada perasaan, tapi lagi-lagi akhirnya kembali berpisah. Dan masih kembali berulang beberapa bulan setelahnya. Tapi sayang lagi-lagi hubungan mereka kandas. Dan ini yang terakhir. Kali ini penyebabnya adalah kesalah-pahaman. Saat Hui Lan tak sengaja melihat Li Wei memeluk seorang perempuan yang menangis. Tanpa mendengar penjelasan Li Wei, Hui Lan langsung menuduh Li Wei tidak setia dan mengakhiri hubungan mereka. Karena sakit hati Hui Lan pergi keluar negeri tanpa pernah memberi kesempatan Li Wei menjelaskan bahwa sebenarnya perempuan itu adalah sepupunya yang baru diputusin pacarnya. Hui Lan baru mengetahuinya dari Liam, teman Li Wei, setahun yang lalu sekembalinya kekota ini.
Meskipun didalam hati Hui Lan masih memiliki perasaan, tetapi saat tidak ada yang mau mengalah dan terus mempertahankan ego, maka selalu saja perpisahan jawabnya.
Selama hampir sembilan tahun diluar negeri. Tak pernah sekalipun Hui Lan bisa melupakan Li Wei. Wajar saja Li Wei adalah cinta pertama Hui Lan. Waktu sembilan tahun juga bukan waktu yang sebentar. Meskipun tak pernah mendapat atau mendengar kabar dari Li Wei. Begitupun dengan sepulangnya selama setahun disini.
Baru selama setahun inilah Hui Lan belajar mencoba melupakan Li Wei. Melupakan perasaannya dan berhenti mengharapkannya lagi. Oleh karena itu pagi ini ia berani mengambil sebuah keputusan yang akan mengubah hidupnya dan perasaannya. Walaupun ia masih menyimpan sedikit perasaan pada Li Wei.
Tapi ternyata tak disangka hari ini tiba-tiba bertemu dengannya. Dan dikejutkan dengan pertanyaannya.
*****
Hui Lan membuka kedua matanya. Li Wei hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ditempat Hui Lan berdiri. Li Wei masih menunggu dan tersenyum padanya. Hui Lan terdiam sesaat. Dan menghela nafas panjang. Ia kembali mengarahkan pandangan kepada Li Wei. Setelah mengumpulkan sisa keberanian, dengan langkah pasti Hui Lan berjalan menghampiri Li Wei. Li Wei menunggu ditempatnya berdiri dengan wajah harap cemas melihat Hui Lan mendekatinya.
Sesampai ditempat Li Wei, Hui Lan langsung memeluk Li Wei dengan penuh kerinduan. Seketika wajah Li Wei berubah ceria. Dan ia membalas pelukan Hui Lan dengan hangat. Mengira itulah jawaban dari Hui Lan yang berarti 'ya' . Li Wei memeluk Hui Lan semakin erat, menikmati kebahagiaan yang ia rasakan sekarang.
Saat itu dengan suara kecil hampir seperti berbisik. Dan masih dalam pelukan Li Wei, Hui Lan berkata kepada,
" Lama tidak berjumpa. Aku sangat merindukanmu. Kamu terlihat sangat baik saat ini. Aku ingin terus memelukmu seperti ini. Tetapi tidak bisa. Maaf! Sekali lagi maaf, aku tidak bisa!".
Usai mengucapkan kalimat tersebut Hui Lan melepaskan diri dari pelukan Li Wei dan berjalan pergi meninggalkannya. Kebahagiaan yang Li Wei rasakan serta merta hilang. Senyuman tak lagi menghiasi wajahnya berganti kebingungan tak mengerti dengan maksud ucapan Hui Lan.
" Hui Lan.. Kenapa? " tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, Hui Lan menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menoleh pada Li Wei.
" Hari ini aku bertunangan. Dan tiga hari lagi aku akan menikah. " jawab Hui Lan dengan murung.
Perasaan tak percaya tergambar dari wajah Li Wei. Dia hanya terdiam dengan perasaan campur aduk. Namun Li Wei berusaha tersenyum. Ia berjalan menghampiri Hui Lan dan berkata padanya,
" Rupanya aku terlambat! Kamu tidak perlu minta maaf. Selamat ya! Semoga kamu berbahagia. ".
" Li Wei... " panggil Hui Lan dengan perasaan sedih. Sebelum Hui Lan melanjutkan kata-katanya, Li Wei langsung membungkam mulut Hui Lan dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Hui Lan.
" Aku tidak apa-apa. Jangan murung begitu. Tersenyumlah. " ucap Li Wei.
Mendengar kata Li Wei, Hui Lan hanya tersenyum tipis.
" Aku akan selalu berdoa agar kamu bahagia. " ucap Li Wei dengan memamerkan senyumnya seperti tidak apa-apa.
Kemudian tanpa berkata lagi ia pergi meninggalkan Hui Lan yang masih mematung.
Beberapa langkah didepan sana, Li Wei berbalik menatap Hui Lan sambil memamerkan senyum menawannya dan mengucapkan sebuah kata padanya.
" Aku akan menyimpan perasaan ini untukku sendiri! "
Kemudian Li Wei kembali melangkah pergi. Sementara Hui Lan hanya berdiri diam menatap kepergian Li Wei yang semakin jauh.
*****
Menjelang hari pernikahan Hui Lan. Semua orang telah siap menunggu acara dimulai. Para tamu undangan, kerabat serta keluarga telah hadir. Sedangkan Hui Lan masih menunggu di ruang rias dengan gaun pengantin yang cantik. Bersiap-siap menunggu waktu gilirannya keluar menuju altar.
Seorang wanita memegang buket bunga mawar memasuki ruang rias sambil tersenyum ramah pada Hui Lan, ia menyerahkan buket bunga itu dan merapikan bagian bawah gaunnya. Dibelakangnya menyusul Papa Hui Lan mengulurkan tangan pada putrinya dengan senyum bahagia. Itu berarti tiba gilirannya keluar dari tempat persembunyiannya. Hui Lan meraih tangan Papanya sambil tersenyum tipis.
Saat Hui Lan memasuki altar, musik mulai mengalun lembut. Hui Lan berjalan dengan perlahan didampingi sang Papa menuju depan altar dimana calon suaminya menunggu. Para tamu undangan memandangi Hui Lan dengan kagum. Sampai didepan altar Hui Lan berdiri disamping mempelai pria dan Hui Lan memandangnya sebentar. Ia merasa sangat gugup bercampur takut.
Pendeta mulai memberi salam singkat. Setelahnya mulai mengucapkan ikrar pernikahan kemudian bertanya kepada mempelai pria, dengan cepat sang mempelai pria menjawab.
" Aku bersedia. "
Dan sekarang tibalah giliran sang mempelai wanita untuk menjawab pertanyaan dari pendeta. Setelah pendeta membacakan janji dan bertanya pada Hui Lan, ia hanya tertunduk diam. Hui Lan hanya menggigit bibirnya. Perasaannya kalut dan kacau. Suasana mendadak hening.
Pendeta kembali mengulangi pertanyaan yang sama kepada Hui Lan.
Dengan perasaan ragu Hui Lan menatap mempelai pria disampingnya. Pria itu tersenyum lembut dan mengangguk pelan menyetujui apapun yang akan di katakannya pada pendeta.
Hui Lan diam sesaat. Dan saat pendeta bertanya kembali, dengan yakin Hui Lan mengatakan,
" Tidak! ".
Seketika ruangan yang tadinya hening menjadi gaduh. Para tamu dan keluarga nampak terkejut dengan pernyataan Hui Lan.
" Aku tidak bersedia. " lanjut Hui Lan sekali lagi dengan lantang.
Suasana ruangan semakin berisik. Terdengar bisik-bisik tamu disana-sini. Papa Hui Lan bangkit berdiri melotot pada Hui Lan dan berteriak memanggil namanya.
Hui Lan menoleh pada Papanya dan berkata dengan menyesal.
" Papa, aku minta maaf!"
Kemudian Hui Lan melemparkan pandangan pada pria disampingnya. Dengan perasaan bersalah Hui Lan berkata padanya,
" Terima kasih banyak. Dan maaf untuk kekacauan ini.. Aku sangat menyesal. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. "
Pria itu tetap tersenyum ramah dan berbicara sambil menyemangati Hui Lan.
" Tidak apa. Pergilah! Semoga beruntung. Jia you.. ! ".
Setelah itu Hui Lan berlari meninggalkan altar dan keluar dari ruangan. Dengan tergesa-gesa sambil menyeret gaun pengantinnya yang panjang Hui Lan berlari menuju ruang rias untuk menanggalkan gaun pengantinnya dan mengganti dengan pakaiannya yang normal. Dan dengan segera pergi meninggalkan gedung itu. Meninggalkan pestanya, keluarganya dan para tamu undangan yang masih berada di gedung tersebut dengan perasaan bingung bercampur aduk.
Hui Lan berlari dengan cepat menuju tempat dimana tiga hari yang lalu mempertemukan kembali dirinya dengan Li Wei. Yang sekaligus merupakan tempat pertama pertemuan mereka. Sesampai disana dengan nafas terengah-engah Hui Lan mengedarkan seluruh pandangan ke jalan setapak itu tapi tidak menemukan Li Wei. Di pojok jalan dalam sebuah warung nampak seorang yang di kenal Hui Lan duduk disana. Segera ia menghampirinya.
" Yun, apa kau melihat Li Wei? " tanya Hui Lan dengan terengah-engah.
" Cari saja di jembatan gantung. Mungkin dia ada disana. " jawab Yun.
" Ok, Xie xie.. " ucap Hui Lan.
Tanpa berpikir lagi Hui Lan langsung berlari menuju jembatan gantung yang tidak jauh dari sana. Sesampai disana Hui Lan tidak melihat ada Li Wei di gerbang jembatan. Hui Lan memutuskan berjalan menyusuri jembatan yang cukup besar itu dengan pandangan mencari-cari sekeliling jembatan. Dan setelah berjalan mencapai pertengahan jembatan barulah Hui Lan menemukan Li Wei. Li Wei duduk begitu tenangnya di tepi pagar pembatas jembatan. Padahal di bawahnya terbentang sungai yang luas. Hui Lan berjalan perlahan-lahan mendekati Li Wei.
" Apa kau memutuskan mengakhiri hidupmu disini? ".
Suara Hui Lan menyadarkan Li Wei. Lantas Li Wei menoleh dan nampak kaget melihat Hui Lan di hadapannya. Segera Li Wei melompat turun dari pagar jembatan dan menghampiri Hui Lan.
" Hui Lan?! Bukankah seharusnya hari ini kamu menikah? Kenapa kamu ada disini? " tanya Li Wei tak percaya.
" Pernikahan dibatalkan. " jawab Hui Lan datar.
" Dibatalkan? Maksudmu diundur, begitu? " tanya Li Wei masih tak mengerti.
" Tidak. Aku yang membatalkan. Aku meninggalkan pesta. Meninggalkan acara dan semua orang yang ada disana. " jawab Hui Lan.
" Apa? Kau tidak boleh melakukan hal itu. Hari ini adalah hari yang penting buatmu. Ayo, aku antar kau kembali. " kata Li Wei langsung menarik tangan Hui Lan hendak membawanya kembali ketempat resepsi.
Dengan kasar Hui Lan melepaskan pegangan tangan Li Wei. Hui Lan kaget dan menoleh padanya.
" Apa kau gila? Aku yang mengacaukan pesta. Aku meninggalkan orang-orang dan mempelai pria didepan altar untuk lari kesini. Hanya untuk menjelaskan aku mencintaimu! " ujar Hui Lan dengan suara tinggi.
" Kau.... Tapi.. Aku tidak mau karena kedatanganku yang tiba-tiba kemudian menjadi penghancur hubungan pernikahan kalian. Pokoknya kau harus kembali ke acara pernikahanmu. " balas Li Wei tetap ngotot.
" Li Wei, tolonglah! Kau tidak menjadi orang yang menghancurkan pernikahanku. Aku sendiri yang menghancurkannya. Karena aku lebih memilihmu. Dan aku yakin aku akan bahagia denganmu. " ucap Hui Lan lirih.
" Aku tidak percaya. Apa yang akan dikatakan calon suamimu?! Dan seandainya saja tiga hari yang lalu aku tidak tiba-tiba mengganggumu, apa kau akan melarikan diri dari pesta pernikahanmu? Pasti kau sudah resmi menjadi seorang istri dan memiliki kehidupan bahagia. Aku menyesal telah menghancurkan hari bahagiamu. " ujar Li Wei tak kalah sengit karena merasa menjadi penyebab kekacauan ini.
" Li Wei, dia tidak akan mengatakan apa-apa. Sehari sebelum pernikahan aku sudah bicara dengannya. Dia setuju dan ini kesepakatan kami. Apapun keputusanku dia menyerahkan sepenuhnya padaku. " terang Hui Lan.
Pikiran Hui Lan mengingat kembali kesatu hari sebelum pernikahannya.
Mengingat apa yang ia dan Xiao Yang diskusikan dan menceritakan semuanya pada Li Wei.
*****
Sore itu calon suami Hui Lan, Xiao Yang--duduk diruang tamu rumah Hui Lan sambil membaca. Hui Lan menghampirinya dan meletakkan secangkir teh dihadapannya.
" Boleh aku bicara? " tanya Hui Lan tanpa basa-basi.
" Tentu. Katakan saja. " jawab Xiao Yang lalu menutup bukunya dan memperhatikan Hui Lan.
" Aku.. Apakah kau mencintaiku? " tanya Hui Lan pelan.
" Kenapa kau bertanya begitu? " ujar Xiao Yang menyipitkan matanya tak menyangka akan ditanya begitu.
" Aku hanya ingin tahu seberapa besar kau mencintaiku. Seberapa berarti pernikahan ini untukmu. " jelas Hui Lan tanpa ragu.
" Aku tidak pernah berpikir hal semacam ini penting. Aku kira hanya cukup menjalaninya dengan baik saja. Bukankah pernikahan kita atas kehendak orang tua kita? Apa penting bagi mereka untuk tahu kita saling mencintai atau tidak? " kata Xiao Yang.
" Kurasa tidak. Mereka akan berkata cinta bisa tumbuh belakangan. " timpal Hui Lan membenarkan perkataan Xiao Yang.
" Aku tahu kita memang tidak begitu saling kenal. Hanya karena keegoisan orang tua kita, hanya demi kebahagiaan mereka. Kita harus cepat-cepat membuat sebuah ikatan yang sebenarnya masih terlalu dini untuk kita. Betul kan? " ucap Xiao Yang yang dibalas dengan senyum oleh Hui Lan.
" Apa kau keberatan dengan pernikahan ini? Jujur saja. Aku bisa mengerti. Terus terang untuk pertanyaanmu yang pertama, aku masih belum merasakan sampai di tahap itu. Tapi jika kita resmi menikah nanti, aku janji aku akan menjadi suami yang baik. Aku akan belajar memahami dan mencintaimu seperti keinginanmu. Ku harap belum terlambat. Mengingat kita baru saja kenal sebulan yang lalu. " ucap Xiao Yang bersungguh-sungguh.
Hui Lan kembali tersenyum dan balik bertanya pada Xiao Yang.
" Apa kau keberatan jika pernikahan ini dibatalkan?".
Xiao Yang terdiam sejenak.
" Jika itu keinginanmu, aku tidak masalah. Aku tidak ingin kau menjadi tidak bahagia karna menikah dengan orang asing sepertiku. Aku tidak suka orang lain menderita karena aku. Jadi itu keinginanmu? " tanya Xiao Yang balik.
Hui Lan mengangguk pelan. Sambil menatap Xiao Yang, Hui Lan kembali menjelaskan.
" Kau pria yang baik. Bagaimana kau bisa menikah dengan wanita yang hatinya mencintai orang lain? Kau harusnya mendapatkan yang lebih. Aku mungkin bukan orang yang tepat. Aku tidak mau kau dan aku sama-sama menyesal dan menderita. Kita seharusnya bahagia dan bisa bahagia meskipun tidak harus bersama. Bukankah seperti itu? "
" Ya. Kau benar juga. Lalu apa rencanamu? " tanya Xiao Yang tertarik.
" Aku belum tahu. Apa kau punya ide? " tanya Hui Lan kembali.
Xiao Yang diam tengah berpikir. Kemudian melanjutkan kata-katanya.
" Tidak. Tapi aku punya cara lain, dengan syarat besok kau harus tetap memakai gaun pengantinmu menghadari acara dan berjalan menuju altar. Seperti pesta pernikahan biasanya. Kita tidak bisa membatalkannya tiba-tiba. Undangan sudah terlanjur disebar. ".
" Aku mengerti. Lalu seperti apa rencananya? " tanya Hui Lan antusias.
Xiao Yang mengisyaratkan Hui Lan untuk mendekat dan Xiao Yang membisikkan sesuatu yang harus dilakukan oleh Hui Lan esok hari. Hui Lan mendengarkan sambil mengangguk paham.
" Ide bagus. Tapi kau yakin tidak keberatan? Mungkin kamu dan orang tua kita akan mendapat malu. " tanya Hui Lan sekali lagi meyakinkan.
" Tidak. Aku serahkan semuanya padamu. Apapun keputusanmu besok, aku percaya padamu. Jika kau mengikuti rencana ku, mungkin kita bisa menjadi sahabat baik saja. Dan jika kau memilih untuk menerima aku, aku akan pegang janjiku. Masalah di buat malu hanya tinggal menunggu waktu. Aku akan menjelaskan pada mereka. Hanya cukup buat mereka mengerti. " kata Xiao Yang yakin.
Hui Lan mengangguk dan tersenyum lagi pada Xiao Yang.
" Kau benar-benar baik sekali. " puji Hui Lan kagum.
" Tidak sebaik yang kau pikirkan. Aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan. Demi kebahagiaan seseorang. Jadi kau memiliki seseorang yang kau cintai? Ah, tidak masalah jika aku tidak boleh tahu. Kau tidak perlu cerita. " ujar Xiao Yang.
Lagi-lagi Hui Lan tersenyum tapi kini disertai tawa kecil.
" Ya. "
Dan Hui Lan menceritakan pada Xiao Yang tentang Li Wei. Bagaimana pertemuannya dengan Li Wei dan perasaannya yang terkubur selama sepuluh tahun kepada Li Wei sampai pertemuan kembali mereka. Xiao Yang mendengarkan cerita Hui Lan dengan seksama sampai selesai tanpa menyela sedikitpun.
" Cerita yang bagus. Aku bahkan tidak pernah memiliki kisah seperti itu. " puji Xiao Yang pada Hui Lan.
" Mungkin suatu hari kau akan punya. " goda Hui Lan.
" Ya, semoga saja. Baiklah, kau sebaiknya istirahat. Aku akan pulang, hari sudah mulai gelap. Persiapkan dirimu untuk besok pagi. Jangan sampai kelelahan. " pesan Xiao Yang sambil bangkit berdiri dan hendak pergi.
" Baik. Terima kasih untuk pengertianmu. Kau benar-benar pria yang baik. " puji Hui Lan lagi.
" Kau terlalu berlebihan. Ok, Wo zou le.. Bye! " pamit Xiao Yang sambil melambaikan tangan.
" Hati-hati! " pesan Hui Lan.
*****
Begitulah percakapan antara Hui Lan dan Xiao Yang sehari sebelum pernikahan mereka. Hui Lan tersadar kembali dari ingatannya. Li Wei mencoba mencerna tiap detail cerita Hui Lan.
" Jadi kau di jodohkan? " tanya Li Wei.
Hui Lan menjawab dengan anggukan.
" Sekarang kau yakin kan bahwa kau tidak menghancurkan pernikahan orang? " ujar Hui Lan meyakinkan Li Wei.
Li Wei hanya mengangguk sedikit.
" Tapi aku tetap merasa tidak enak. Bagaimana dengan orang tuamu? Orang tua calon suamimu? Kerabat, teman serta semua yang mengetahui berita heboh ini? " gumam Li Wei.
" Namanya Xiao Yang. Jangan sebut calon suamiku. Aku tidak akan menikah dengannya. Mereka itu urusanku. Paling Mama Papa akan memarahiku habis-habisan atau menghukumku atau malah mengusirku. " terang Hui Lan bergidik ngeri membayangkan kemarahan orang tuanya terutama Papa.
" Urusanmu sekarang juga urusanku. Baiklah aku tidak akan menyebut begitu. Aku juga tidak suka mengatakannya. Kalau orang tuamu mengusirmu kau bisa tinggal denganku. " kata Li Wei senang.
" Aku tidak akan tinggal denganmu sampai kau menikahiku. " protes Hui Lan.
" Ok, lantas kau mau tinggal dimana? Tidak mungkin di jalanan kan! " ejek Li Wei.
" Tidak mungkin juga di rumahmu. " balas Hui Lan tak mau kalah.
" Baiklah. Terserah kau saja. Ayo kita pergi! " ajak Li Wei lalu melingkarkan tangannya di pundak Hui Lan mengajaknya pergi.
" Kau tidak jadi bunuh diri ya? " goda Hui Lan.
" Siapa yang mau bunuh diri. Aku hanya duduk mencari angin saja. Lagipula kalau aku mati bagaimana nasib wanita yang disampingku ini. Bisa-bisa sungai ini meluap karena air matanya. " ejek Li Wei sambil tertawa.
" Tidak akan seperti itu. " ucap Hui Lan.
" Lalu seperti apa? " tanya Li Wei penasaran.
" Ikut mati saja. " jawab Hui Lan sambil tertawa.
" Tidak lucu. " gumam Li Wei.
Keduanya berjalan menyusuri jembatan gantung sambil bergandengan tangan. Kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Kerinduan yang terpendam sekian lama akhirnya terobati. Dengan kebersamaan sekarang ini. Kembali dengan membuka lembaran baru. Cerita baru bersama Li Wei meninggalkan kisah lama yang tak sempurna.
Kegagalan di masa lalu tak akan berlaku kembali dimasa kini. Di mana kini Hui Lan dan Li Wei telah tumbuh dewasa meninggalkan keegoan dulu dimasa remaja disaat mereka bertemu.
Tak terasa langit mulai gelap menyisakan setitik cahaya keemasan di ufuk barat. Lampu-lampu mulai menyala. Li Wei dan Hui Lan meninggalkan jembatan gantung dan beristirahat di taman dekat jembatan. Musim semi belum berlalu, bunga-bunga masih tampak bermekaran. Mereka duduk di sebuah bangku dibawah pohon maple. Li Wei duduk disamping Hui Lan dan mendekapnya dengan erat.
" Hui Lan! " panggil Li Wei lembut.
" Ya! ".
" Apa kau bahagia? " tanya Li Wei.
" Tentu saja. Ada kamu di sampingku. ".
" Apa kau tahu. Selama ini aku berharap bisa bertemu lagi denganmu. Aku ingin meminta maaf atas kesalahanku dulu. Aku menyesal karna tak mau memahamimu. Aku terlalu egois waktu itu. " terang Li Wei serius.
" Dulu kita masih muda. Sama-sama egois dan tidak mau mengalah. Terlalu gengsi dan mempertahankan harga diri. Makanya selalu gagal. Aku juga menyesal karna langsung pergi tanpa mau mendengar penjelasanmu lebih dulu. " tambah Hui Lan.
" Itu tidak seberapa. Aku sungguh menyesali kebodohanku. Tapi setelah kau benar-benar menghilang aku baru sadar, tidak ada gadis yang lebih baik darimu. Yang bisa menerima aku baik dan buruk, siapa dan bagaimana aku. Kau satu-satunya yang terbaik dari semua gadis yang ku kenal. " kata Li Wei lagi.
" Jadi gadismu banyak sekali ya? Yah aku mengerti. Memang susah jadi orang tampan. " ejek Hui Lan mencibir.
" Hui Lan, Aku sungguh-sungguh. Aku tahu aku salah. Kadang aku tidak setia. Tapi mulai saat ini aku adalah pria yang setia. Mataku hanya untuk melihatmu, hatiku hanya untuk mencintaimu, tanganku hanya untuk memelukmu, dan bibirku hanya untuk menciummu. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. " ucap Li Wei dengan lembut.
" Lalu apa aku juga suka harus kehilanganmu? Kau satu-satunya yang menancapkan cinta yang paling dalam ke hatiku. Sepuluh tahun tidaklah cukup untuk melupakan rasa cinta itu sekaligus perihnya rindu. Meski aku pergi jauh dari tempat ini, tetap percuma. Kenangan bersamamu masih sangat jelas, mengikutiku kemana-mana. Aku seperti buronan tidak bisa lari atau bersembunyi. ". Hui Lan menjelaskan perasaannya.
" Lalu mengapa kau memilih menikah dengan orang yang tidak kau cintai? " Li Wei ingin tahu.
" Pertama, jelas demi kebahagiaan Papa Mama. Karena Xiao Yang adalah anak dari teman baiknya Papa. Makanya dia di jodohkan denganku karna tahu dia baik. Dan kedua, aku menyerah. Aku yakin percuma berharap terlalu lama. Menyimpan perasaan ini begitu lama, karna aku tidak pernah lagi bertemu denganmu. Kupikir jika menikah aku bisa melupakanmu. ". Hui Lan berkata apa adanya.
" Tapi akhirnya kita bertemu kan. Dan kau tetap memilihku. Padahal aku kira kau akan benar-benar menikah. " kata Li Wei.
" Karena aku tak bisa membohongi diriku yang masih mencintaimu. Jelas sekali sangat ingin bersamamu. Tak peduli berapa kali gagal dan sakit hati dulu. Apalagi ternyata perasaanmu juga sama sepertiku. Rasanya sudah teramat sempurna. Aku tidak mau menyesal dengan memilih yang tidak ku inginkan sedangkan yang aku inginkan jelas-jelas nyata bisa kuraih. Makanya aku berbicara dengan Xiao Yang. Dan untungnya dia mengerti. Aku benar-benar sangat berterima kasih padanya. Sekaligus merasa sangat bersalah. " jelas Hui Lan.
" Yah mungkin suatu hari aku bisa bertemu dengan Xiao Yang untuk mengucapkan terima kasih dan perasaan bersalahku juga. " usul Li Wei.
" Tentu saja. Kita bisa pergi makan bersama. " tambah Hui Lan setuju.
" Aku sangat bahagia sekarang. Sangat...! " ucap Li Wei.
" Aku juga. Zhen de hen ai ni. Sekarang kita akan memulai lagi dari halaman baru dan membuang lembaran-lembaran yang lama. " balas Hui Lan.
" Ya. Aku yakin sekarang kita akan menciptakan sebuah kisah yang benar-benar sempurna. Karena aku sangat mencintaimu. Sampai kapan pun tidak akan berubah. " ucap Li Wei menimpali.
" Mungkin ini yang dinamakan cinta sejati?! Seperti kata orang kalau jodoh memang tidak kemana. " ujar Hui Lan tersenyum.
" Karena kamu adalah cinta sejatiku! Kita akan tetap bersama selamanya. " balas Li Wei ikut tersenyum.
" Sudah malam. Apa kau sudah siap pulang? " tanya Li Wei kemudian.
" Siap atau tidak bagaimanapun harus pulang. " jawab Hui Lan.
" Apa perlu aku menjelaskan pada Papamu? " tanya Li Wei khawatir.
" Tidak perlu. Aku bisa mengatasinya sendiri. ".
" Baiklah. Aku percaya padamu. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku, oke! Ayo aku temani sampai rumah! " ajak Li Wei kemudian mereka berjalan pulang menuju rumah Hui Lan.
*****
Rumah Hui Lan terlihat sepi. Lampu dalam rumah pun tidak dinyalakan. Hanya menyisakan lampu teras depan yang menyala terang. Li Wei mengecup kening Hui Lan sebelum pergi.
Hui Lan memasuki rumahnya. Kebetulan membawa kunci sendiri. Dengan pelan memutar kunci dan membuka pintu. Ruangan sangat gelap tak nampak oleh apapun. Sambil meraba Hui Lan mencari tombol lampu dan menekannya. Baru kembali mengunci pintu dari dalam.
Setelah pintu terkunci Hui Lan membalikkan badan dan hampir saja berteriak kaget. Ternyata Papanya sudah berdiri di hadapannya dengan wajah menahan amarah.
" Dari mana saja kamu? " bentak Papa sambil melotot.
" Dari.. " Hui Lan tidak tahu harus menjawab apa. Dia tak menyelesaikan kalimatnya hanya diam menggigit bibir. Nyalinya menciut.
" Kau tahu apa yang kau lakukan hari ini? Kau membuat malu keluarga. " bentak Papa lagi.
" Maaf.. " kata Hui Lan lirih hampir berbisik. Menunduk tak berani memandang wajah Papanya.
" Seharusnya kau bilang sama Papa kalau kau tidak mau menikah dengan Xiao Yang. Maka Papa akan dengan segera membatalkan perjodohan kalian. Tidak perlu sampai kejadian seperti ini. " kata Papa mulai mengontrol emosinya.
" Sudahlah. Papa sudah mendengar semuanya dari Xiao Yang. Kapan-kapan Papa perlu bertemu pria seperti apa yang bisa membuatmu melakukan hal gila semacam ini. Sudah malam pergilah istirahat! " kata Papa kemudian pergi ke ruang tengah.
Meski masih marah namun berusaha meredam emosinya. Sepertinya tidak terlalu menyalahkan Hui Lan. Entah seperti apa cerita Xiao Yang pada Papa Hui Lan sehingga bisa meyakinkan Papa Hui Lan.
Sementara Mama Hui Lan menghampiri Hui Lan dan menyemangatinya. Bahwa Papa sedang emosi dan semua akan baik-baik saja.
" Jadi Mama tidak marah padaku? ".
" Tidak ada yang harus Mama marahi. Semua sudah terjadi. Kau punya alasan melakukannya. Seharusnya Mama dan Papa tidak memikirkan diri sendiri. Dan lebih terbuka padamu. Mungkin itu tidak akan terjadi. " kata Mama dengan penuh kasih.
" Tapi Mama dan Papa pasti sangat malu. Begitu juga orang tua Xiao Yang. Bagaimana hubungan Papa dengan Papa Xiao Yang? Mereka pasti jadi tidak akur. " ujar Hui Lan mengutarakan kekhawatirannya.
" Itu hanya masalah waktu. Papa dan Papa Xiao Yang masih tetap berteman. Xiao Yang sudah menjelaskan pada kami. Dan kami merasa ini memang kesalahan kami sebagai orang tua yang egois. Anggap saja ini sebagai pelajaran. Sudahlah sebaiknya kau istirahat. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua baik-baik saja, ok! " ucapan Mama membuat perasaan damai dan tenang di hati Hui Lan.
Hui Lan kemudian mengangguk sambil tersenyum pada Mamanya. Setelah mengucapkan selamat malam ia lalu bergegas naik keatas kamarnya.
Rasa lega di hati Hui Lan karna tidak perlu menjelaskan apa-apa pada Papa. Dan ternyata Mamanya bisa mengerti. Hui Lan menyalakan lampu kamarnya hingga cahaya terang memenuhi seluruh kamar. Li Wei yang sebenarnya dari tadi bersembunyi di luar melihat kamar Hui Lan yang sudah terang. Lantas mencari batu kerikil di sekitar jalan dan melemparnya ke jendala kamar Hui Lan hingga menimbulkan suara tuk tuk. Kekhawatiran membuat Li Wei tetap menunggu sampai ia yakin Hui Lan baik-baik saja.
Li Wei melemparkan kerikil kecil sekali lagi. Lalu jendela terbuka. Hui Lan melongo keluar jendela. Li Wei melambaikan tangan pada Hui Lan yang dibalas senyuman olehnya.
Dengan tanda isyarat dan tak bersuara Li Wei membuat kalimat ' Apa semua baik-baik saja? '.
Dan Hui Lan membalasnya dengan membentuk ujung jari telunjuknya menempel pada ujung jempol mengisyaratkan tanda ' OK '.
Li Wei tersenyum lega mengetahui Hui Lan baik-baik saja.
Kemudian Li Wei membalasnya dengan tanda isyarat lagi sambil mengucapkan kalimat tanpa suara ' aku pulang dulu. Kamu istirahat ya! '.
Hui Lan mengangguk mengiyakan dan melambaikan tangan pada Li Wei. Li Wei juga balas melambai dan Hui Lan baru menutup jendela kamarnya setelah Li Wei pergi.
*****
Enam bulan berlalu setelah kejadian itu. Semua kembali normal. Tidak ada lagi yang mengungkit-ungkit masalah gagalnya pernikahan itu. Semua orang seperti lupa dengan kejadian memalukan tersebut.
Hubungan Hui Lan dan Li Wei berjalan baik. Meskipun terkadang ada sedikit masalah atau perbedaan paham mereka bisa menyelesaikannya dengan pikiran terbuka. Tidak lagi mengutamakan ego.
Hari ini merupakan hari yang istimewa. Dimana Li Wei akan bertemu dengan orang tua Hui Lan untuk pertama kalinya. Beberapa bulan lalu Papa Hui Lan pernah mengutarakan keinginannya untuk bertemu Li Wei. Dengan begitu Hui Lan tidak perlu ragu lagi mengenalkan Li Wei sebagai pilihannya tanpa perlu menjelaskan dengan susah payah. Dan hari ini juga adalah hari pertama Li Wei dan Hui Lan janjian bertemu Xiao Yang di sebuah cafe. Seperti janji Hui Lan mengajaknya makan bersama.
Hui Lan berjanji akan menemui Li Wei di taman dulu. Sengaja Li Wei meminta Hui Lan menemaninya sebentar sebelum kerumahnya untuk menemui Papanya.
" Bagaimana? Apa aku sudah rapi? " tanya Li Wei meminta pendapat Hui Lan atas penampilannya.
Hui Lan memperhatikannya dari kepala sampai kaki. Karena cuaca mulai terasa dingin Li Wei mengenakan sweater rajut berwarna merah berkerah tinggi dengan celana hitam panjang. Gaya pakaian yang simpel dan memang cocok dengannya. Selanjutnya Hui Lan mengangkat kedua jempolnya sambil tersenyum lebar.
" Rambutku bagaimana? Tidak terlalu panjang kan? " tanya Li Wei lagi sambil merapikan rambutnya yang tidak sepanjang kemarin dengan jari-jarinya.
Hui Lan hanya menggeleng-gelengkan kepala merasa geli melihat tingkah kekasihnya. Lalu Hui Lan berkata,
" Kau hanya bertemu dengan Papa. Bukan bertemu dengan Kaisar. Seperti apapun kau tetap terlihat tampan bagiku. Ayo kita pergi. Kau tidak mau membiarkan Papa menunggu lama kan. "
Lalu Hui Lan merangkul lengan Li Wei menyeretnya pergi.
" Hanya memastikan agar Papa mu menyukaiku. Jadi aku tidak perlu terus diam-diam mencuri putrinya untuk bersamaku. " goda Li Wei sambil melirik Hui Lan.
" Tenang saja. Papa pasti akan menyukaimu. " ucap Hui Lan yakin.
Satu jam kemudian mereka sampai dirumah Hui Lan. Li Wei berhenti sebentar di depan pintu karena merasa gugup.
" Aku deg-degan. " bisik Li Wei ditelinga Hui Lan.
" Tenang saja. Semua pasti akan berjalan lancar. " kata Hui Lan lalu kemudian ia membuka pintu rumahnya yang memang tidak dikunci.
Dan seketika pintu terbuka nampak Papa Hui Lan di ruang tamu sedang menunggu kedatangan mereka. Hui Lan langsung menarik Li Wei kehadapan Papanya dan memperkenalkan Li Wei padanya.
" Papa, ini Li Wei! " Hui Lan memberi tahu Papanya.
Li Wei tersenyum dan mengangguk hormat sambil menjabat tangan Papa Hui Lan. Sekilas Papa Hui Lan memperhatikannya dari kepala sampai kaki. Terus mengangguk-angguk, setelah terdiam sebentar kemudian tersenyum. Hui Lan dan Li Wei hanya saling menatap tak mengerti dengan sikap Papanya.
" Cuaca sudah mulai dingin ya. Sebentar lagi masuk musim dingin, kalian harus memakai pakaian yang cukup hangat untuk melindungi diri. Aku akan mengecek pemanas dulu. Kalian bersenang-senanglah. " kata Papa Hui Lan sambil berlalu pergi.
Hui Lan menatap Li Wei sambil mengangkat bahu, sama tak mengerti.
" Jadi apa itu artinya aku di terima? " tebak Li Wei bertanya-tanya.
" Sepertinya. " balas Hui Lan menyandarkan kepala kepundak Li Wei.
" Lalu dimana Mamamu? " tanya Li Wei penasaran dengan sosok Mama Hui Lan.
" Mungkin dihalaman belakang. Kau mau menemuinya? Ayo.. " ajak Hui Lan.
Dan mereka berjalan masuk dalam rumah menuju halaman belakang. Benar saja Mama Hui Lan berada disana dengan kesibukannya menyapu dedaunan kering yang menutupi halaman. Hui Lan dan Li Wei menghampirinya. Tanpa malu-malu Hui Lan memperkenalkan Li Wei sebagai pacar kepada Mamanya. Mama Hui Lan menyambutnya dengan senang. Mereka kemudian duduk-duduk diteras halaman, berbicara sambil minum teh hangat. Mama Hui Lan sepertinya sangat tertarik dengan Li Wei. Ia sering kali bertanya pada Li Wei tentang kesehariannya. Li Wei juga menjawabnya dengan senang hati. Setelah puas berbicara banyak dengan Li Wei. Mama Hui Lan meninggalkan mereka berdua, kembali dengan kesibukannya.
" Kau tidak lupa hari ini ada janji bertemu Xiao Yang juga kan! " kata Hui Lan mengingatkan.
" Ya. Tentu saja aku ingat. Aku kan harus menyampaikan permintaan maaf sekaligus terima kasih juga padanya. " jawab Li Wei santai.
" Kalau begitu sebaiknya kita berangkat sekarang. Tidak baik membiarkannya menunggu lama. " usul Hui Lan.
" Ok. ".
Setelah berpamitan dengan orang tua Hui Lan, mereka lantas berangkat menuju sebuah cafe tempat di mana mereka bertiga janji bertemu.
Suasana dalam cafe agak ramai. Sedangkan hari masih sore. Hui Lan mengedarkan pandangan kesekeliling cafe. Dan tidak menemukan Xiao Yang.
" Sepertinya kita datang duluan. Duduk disana saja ya! " usul Hui Lan menunjuk kesebuah meja kosong dipojok yang menempel dengan dinding kaca.
Li Wei mengangguk dan mengikuti Hui Lan berjalan ke meja tersebut. Seorang pelayan datang menawarkan pesanan. Setelah mencatat sesuatu yang di pesan keduanya di notenya, pelayan itu segera meninggalkan mereka.
Pandangan mata Hui Lan terus terarah kepintu masuk cafe. Menunggu kedatangan Xiao Yang dengan pandangan mengitari seluruh isi cafe. Selang beberapa menit seorang pelayan muncul membawa minuman yang dipesan Hui Lan dan Li Wei lalu meletakkannya diatas meja.
Ruangan dalam cafe cukup hangat, jadi Hui Lan tidak merasa dingin. Di angkatnya cangkir berisi teh hangat dan meminumnya seteguk. Lumayan untuk mengusir rasa dingin.
Saat itu dari arah pintu muncul seseorang yang ditunggu-tunggu. Pria itu berdiri disamping pintu dan mengedarkan pandangannya keseluruh cafe.
" Itu dia. " kata Hui Lan memberi tahu Li Wei. Li Wei lantas menoleh ke arah pintu masuk.
Kemudian Hui Lan berdiri dari tempat duduknya sambil melambaikan tangan kepada Xiao Yang. Dengan mudah Xiao Yang dapat mengenali Hui Lan. Ia berjalan menuju tempat Hui Lan dan Li Wei berada. Dan bergabung dengan mereka.
" Maaf, aku terlambat. Sudah lama menunggu? " tanya Xiao Yang ramah.
" Tidak. Kami juga baru sampai. Oh ya, Xiao Yang kenalkan ini Li Wei. " kata Hui Lan sembari mengenalkan Li Wei pada Xiao Yang. Dan Xiao Yang menjabat tangan Li Wei sambil tersenyum hangat.
" Oh, ternyata kau orangnya. Senang bisa bertemu denganmu. " ucap Xiao Yang.
" Ya. Sepertinya Hui Lan sudah cerita banyak kepadamu. Ku harap dia tidak menceritakan sesuatu yang jelek tentangku. " gurau Li Wei sambil melirik Hui Lan.
" Hahaha.. Tenang saja. Dia tidak mengatakan sesuatu yang jelek padaku. " balas Xiao Yang tertawa.
" Jadi sudah selesai membicarakan aku? Jika sudah sebaiknya kita memesan sesuatu untuk di makan. Hari ini rencananya Li Wei akan mentraktir kita makan. Jadi sebaiknya tidak disia-siakan! " kata Hui Lan dan memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja nya.
" Surprise sekali. Tidak apa, aku bisa bayar makananku sendiri. Aku merasa tidak enak harus dibayar oleh seorang yang baru kukenal. " tolak Xiao Yang sopan.
" Tidak perlu sungkan. Kita ini teman bukan?! Lebih tepatnya baru mulai berteman. Jadi anggap saja sebagai salam perkenalan. " ujar Li Wei hangat.
" Itu terlalu berlebihan, ku rasa. Tapi jika kau memaksa ya baiklah. Ngomong-ngomong aku kuat makan loh! " kata Xiao Yang nyengir.
" Tidak masalah. Makanlah sepuasmu. " balas Li Wei.
Pelayan datang menghampiri meja. Lalu menyerahkan daftar menu kepada ketiganya. Setelah melihat-lihat mereka memutuskan beberapa menu yang akan dipesan. Pelayan menuliskan nama-nama menu yang mereka pesan di notenya dan kemudian pergi. Selang 20 menit pelayan lain datang membawa menu makanan yang mereka pesan dan menghidangkannya diatas meja. Dan mereka pun segera menyantapnya selagi hangat. Sambil makan pun mereka masih menyempatkan berbicara dan bercanda bersama. Selesai menghabiskan makanannya, mereka memesan minuman hangat lagi dan tidak lupa membawa piring kotornya.
Hari mulai gelap, matahari hampir tenggelam sepenuhnya. Mereka masih betah bercanda dan bercerita dalam cafe. Saling mengakrabkan diri. Sementara Li Wei mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan rasa bersalahnya. Saat Hui Lan meninggalkan mereka berdua untuk ke toilet, saat itulah Li Wei berbicara empat mata dengan Xiao Yang.
" Xiao Yang, aku ingin minta maaf padamu. " ucap Li Wei tulus.
" Maaf?! Aku rasa kau tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kita bahkan baru bertemu. " kata Xiao Yang tak mengerti maksud ucapan Li Wei.
" Memang. Aku hanya merasa bersalah atas kejadian enam bulan yang lalu. Seandainya aku tidak datang mengganggu Hui Lan, pasti sekarang kalian sudah jadi pasangan suami istri. " kata Li Wei merasa tak enak.
" Kejadian itu sudah tidak perlu diungkit lagi. Justru aku yang harus berterima kasih, karna kau...... mencintainya. Sedangkan aku tidak. Kau lebih paham bagaimana cara menyenangkannya dan menjaganya. Dan aku harus belajar lebih banyak. Kau lebih pantas untuknya. Yang terpenting adalah kalian saling mencintai. " jelas Xiao Yang dengan kesungguhan.
" Aku hanya merasa tidak enak. Aku tiba-tiba datang dan menghancurkan kebahagiaan orang lain. Bahkan membuat malu mereka. " ucap Li Wei lagi.
" Aku yakin Hui Lan akan lebih bahagia dengan pilihannya sendiri. Aku rasa dia pasti akan menyesal jika seandainya dia tidak membatalkan pernikahannya waktu itu. Percayalah padaku. Kau tidak perlu merasa tidak enak padaku. Aku tidak pernah menyalahkan siapa-siapa apalagi kau. Aku justru merasa sangat bebas sekarang. " kata Xiao Yang menyemangati Li Wei.
" Terima kasih. Benar kata Hui Lan kau memang pria yang baik. " puji Li Wei membenarkan ucapan Hui Lan tentang Xiao Yang.
" Tidak sebaik itu. " balas Xiao Yang merendah.
Setelah melihat Hui Lan yang berjalan kembali menuju meja Li Wei dan Xiao Yang. Kedua pria itu tak melanjutkan pembicaraannya.
" Sedang membicarakan apa? " tanya Hui Lan begitu sampai.
" Tidak ada. Hanya basa-basi. Kau tahu bagaimana bila para pria berkumpul. Mereka hanya berbicara omong kosong saja. " jawab Xiao Yang bercanda sedang Li Wei tertawa kecil.
Suasana cafe semakin ramai. Diluar nampak sudah gelap. Hanya lampu-lampu yang dinyalakan untuk menggantikan sang matahari menerangi kota. Sejenak Xiao Yang melirik arloji di tangan kirinya. Mengingat masih ada janji dengan teman, lantas ia pamit undur diri duluan.
" Wah tak terasa sudah malam. Maaf, aku pamit duluan. Aku masih ada janji dengan teman. Jadi tak masalah kan, ku tinggalkan kalian berdua. " ucap Xiao Yang melirik Hui Lan dan Li Wei bergantian.
" Ya, tidak apa. Sebentar lagi kami juga akan pulang. " kata Li Wei.
" Wah, apa dia teman yang special? " tanya Hui Lan menggoda.
" Tidak. Hanya sekumpulan pria yang sedang menikmati hidup saja. " jawab Xiao Yang tertawa.
" Oh aku salah. Maaf. " kata Hui Lan merasa tak enak hati.
" Tidak masalah. Baiklah kalau begitu aku duluan! " pamit Xiao Yang kemudian bangkit berdiri dan menjabat tangan Li Wei.
" Terima kasih untuk hari ini! " ucap Xiao Yang.
" Sama-sama. Lain kali kita bisa makan bersama lagi. " balas Li Wei.
" Tentu. Dan untuk lain kali biar aku yang membayar. " setuju Xiao Yang di selingi tawa.
Kemudian berpamitan dengan Hui Lan setelah itu ia pergi meninggalkan cafe. Setelah Xiao Yang pergi Li Wei memanggil seorang pelayan dan meminta bon tagihan. Pelayan memberikan bon sementara Li Wei membayar jumlah tagihan yang tertera disana. Baru kemudian mereka meninggalkan cafe.
Mereka berjalan kembali menuju arah pulang. Udara malam ternyata lebih dingin. Sebelah tangan kanan Hui Lan digenggam oleh Li Wei sedangkan sebelahnya dimasukkan kedalam jaket. Li Wei terlihat biasa saja dengan sebelah tangannya yang telanjang seperti tak merasa kedinginan.
" Kau mau langsung pulang? " tanya Li Wei.
" Memangnya kau masih ingin kemana? " Hui Lan bertanya balik.
" Apa kau keberatan jika kita pergi ke taman sebentar sebelum pulang? " tanya Li Wei lagi.
" Tentu saja tidak. " jawab Hui Lan yang dibalas senyuman oleh Li Wei.
Mereka pun berjalan menuju taman yang berada didekat jembatan gantung yang searah dengan rumah Hui Lan. Sesampai ditaman Li Wei mengajak Hui Lan duduk dibangku yang dulu pernah diduduki, dibawah pohon maple. Li Wei menempelkan tubuhnya lebih rapat kepada Hui Lan sambil memelukknya.
" Apa kau dingin? " tanya Li Wei memulai pembicaraan.
" Tadinya. Tapi sekarang ada kau yang memelukku jadi tidak merasa dingin. " jawab Hui Lan sembari menatap Li Wei penuh arti.
" Harusnya tadi kau membawa sarung tangan. Ingat kata Papamu agar memakai pakaian yang hangat supaya tidak kedinginan. " kata Li Wei mengingatkan.
" Ya. Tidak hanya aku, kau juga. Memangnya kau tidak kedinginan? ".
" Tidak. Baru permulaan musim dingin tidak membuatku sampai gemetaran. Tunggu sampai salju turun, mungkin aku tidak akan mau jauh-jauh dari pemanas. " jawab Li Wei nyengir. Sedangkan Hui Lan hanya tertawa.
" Hui Lan, wo ai ni! Aku sangat mencintaimu! " bisik Li Wei ditelinga Hui Lan.
" Wo ye hen ai ni. Selamanya mencintaimu! " balas Hui Lan juga.
" Benarkah? " tanya Li Wei senang.
" Hu-um.. ".
" Kalau begitu aku sudah tidak perlu ragu. " ucap Li Wei tiba-tiba.
Hui Lan menyipitkan matanya tak mengerti dengan maksud Li Wei. Hui Lan membetulkan duduknya dan bertanya pada Li Wei.
" Maksudmu? "
Li Wei tersenyum penuh arti. Sebelah tangan kanannya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kemudian Li Wei berdiri dan berlutut di hadapan Hui Lan yang sedang duduk dengan perasaan bingung. Lalu Li Wei menarik tangan kanan Hui Lan dan menyematkan sebuah cincin dengan batu swarovsky mungil berkilau di tengahnya ke jari manis Hui Lan. Dan mengecupnya. Cincin itu sangat pas sekali dengan ukuran jari Hui Lan. Setelah itu Li Wei menggenggam kedua tangan Hui Lan dan menatapnya dengan penuh cinta.
" Hui Lan, wanita yang paling kucintai, aku telah menunggu lama saat seperti ini terjadi. Saat dimana waktu mempertemukan aku denganmu lagi. Saat dimana aku bisa memperbaiki semua kesalahanku dulu. Dan saat aku bisa mengungkapkan semua perasaan menyesal sekaligus keinginanku untuk bersamamu lagi. Saat aku yakin hanya kau yang aku inginkan. Hanya kau yang memiliki hatiku. Saat waktu memberiku kesempatan sekali lagi. Dan inilah waktu itu. " kata Li Wei mengutarakan perasaannya dengan tulus.
Sedangkan Hui Lan tersenyum padanya sambil terus mendengarkan dengan seksama. Li Wei kembali melanjutkan.
" Aku sangat berterima kasih padamu. Karna kau mau menerima aku kembali. Setelah sekian lama kau masih menyimpan hatimu untukku. Dan mau memaafkan segala kesalahanku. Dan mulai sekarang aku yakin telah berubah. Tidak lagi menjadi aku yang egois dan bodoh seperti dulu. Karena aku tak mau kehilanganmu lagi. Sekarang maupun selamanya, kau adalah cintaku. Aku mencintaimu. Kau adalah segalanya buatku. Yang paling berarti bagiku. "
Li Wei masih terus menggenggam tangan Hui Lan sambil terus menatapnya. Sedang Hui Lan masih diam mendengarkan. Li Wei bertanya sebuah pertanyaan yang tak disangka akan diucapkan Li Wei secepat ini.
" Dengan begitu apa kau bersedia menjadi pendamping hidupku? " ucap Li Wei dengan penuh kesungguhan.
Hui Lan tersenyum senang dan masih tak percaya, ia bertanya pada Li Wei.
" Kau melamarku? "
Li Wei tertawa kecil dan berkata,
" Apa ini seperti melamar? "
" Mungkin. Tapi entah menurutmu. Tapi..... aku mau. " ucap Hui Lan yakin sambil tersenyum bahagia.
" Kau bersedia? " tanya Li Wei sekali lagi.
" Aku bersedia. " jawab Hui Lan sangat yakin.
Akhirnya Li Wei berdiri dan duduk disamping Hui Lan memeluknya lagi dengan erat sambil mengecup keningnya. Dan berbisik,
" Terima kasih! Aku sangat bahagia mendengarnya. "
" Aku juga. " Hui Lan membenamkan wajah ke dalam dada Li Wei.
" Jadi tidak lama lagi kita akan menikah? " tanya Hui Lan tiba-tiba.
" Menikah? Ku pikir kita masih punya banyak waktu memikirkan hal itu. Jika kau tidak mau terburu-buru, kita bisa menundanya. Lagipula ini bukan lamaran resmi. " jelas Li Wei.
Dan Hui Lan mendongakkan kepalanya menatap Li Wei tak mengerti.
" Aku akan melamarmu secara resmi didepan Papa dan Mamamu. Jika nanti kau benar-benar siap ingin menikah denganku. " jelas Li Wei lagi menjawab ketidak-mengertian Hui Lan.
" Kapan pun aku pasti siap. " ujar Hui Lan menempelkan kembali wajahnya dalam dada Li Wei.
" Yah.. Asal kau tidak melarikan diri disaat pendeta membacakan ikrar janji. " goda Li Wei menertawai Hui Lan.
" Heyy... ".
" Maaf.. Maaf.. Hanya bercanda.. " kata Li Wei cepat-cepat sebelum Hui Lan marah.
" Jangan marah! Hui Lan, kamu adalah cinta sejatiku! Selamanya kita tidak akan berpisah! " ucap Li Wei mendekap Hui Lan lebih erat dengan penuh cinta.
Dan malam itu menjadi malam yang indah sekaligus bahagia bagi Li Wei dan Hui Lan. Cinta yang terpendam selama bertahun-tahun akhirnya tersampaikan. Waktu akhirnya memihak pada mereka. Takdir mempertemukan mereka kembali. Seperti yang sering dikatakan orang, " Kalau jodoh tidak akan lari kemana ". Tak peduli seberapa jauh jarak terpisah, berapa lama waktu berlalu, namun jika dia memang jodohmu, dia akan tetap kembali kepadamu. Percayalah...
" Ni shi Wo de zen zheng de Ai! "
" You are My True Love! "
" Kamulah cinta sejatiku! "
~END~
*thanks dah baca cerpenku ya, friends! Mampir juga di karyaku yang lain! See You Bye Bye!