Pengawal adalah tugas yang diberikan kepada untuk menemani atau menjaga seseorang dari lingkungan sekitar. Tujuannya untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Dan biasanya hal ini dibutuhkan oleh para pejabat, bos besar, atau profesi yang membutuhkan banyak pengawal layaknya presiden.
Tapi hal ini juga berlaku bagi seorang gadis bernama Jini. Gadis ini memiliki seseorang yang mengawalnya ketika berada di sekolah. Dia akrab di panggil dengan nama Luis. Lelaki tinggi itu menjadi pengawal pribadi Jini sejak duduk di kelas 2 sma. Luis awalnya merupakan murid pindahan. Namun, ketika dirinya masuk ke sekolah tersebut, dalam beberapa hari saja Jini berhasil membuat lelaki itu menjadi pengawal pribadinya hingga kini. Selain itu Luis juga merupakan tetangga sebelah rumahnya.
Setiap Jini pergi, Luis selalu mengikutinya. Rasa bosan tentu saja ada. Tetapi Luis tidak bisa beralih lantaran dirinya telah terikat kontrak dengan keluarga Jini sebelumnya.
"Sudah lama aku menjabat sebagai pengawal pribadi dari anak satu ini. Kalau tidak permintaan orang tuanya, aku tidak akan mau menuruti keinginan gadis ini." gumam Luis dalam hati.
Permintaan orang tua Jini tersebut dikarenakan mereka merasa khawatir dengan anak gadisnya yang selalu pergi tak kenal waktu. Dan juga disebabkan oleh kesibukan akan pekerjaan, kedua orang tuanya tak bisa mengawasi anaknya ketika berada di luar rumah. Jadi itulah alasan mengapa Luis bisa menjadi pengawal pribadi dari seorang Jini. Selain itu, dirinya juga sempat mendapatkan imbalan dari persetujuan itu.
"Dan sebuah pc gaming berhasil kudapatkan dalam sekejap usai menerima permintaan kedua orang tuanya." lanjut Luis.
Jini berjalan menuju kantin, dan membeli banyak makanan. Lalu ia juga sempat membagikannya pada para teman-temannya sekelasnya. Mereka tampak bahagia karena ditraktir oleh seorang Jini. Memandang perbuatan gadis itu dari belakang, membuatnya merasa bahwa Jini adalah orang yang baik. Meskipun selalu membuatnya repot.
"Dia terlalu baik. Kalau aku pasti akan menghemat uang untuk keperluanku sendiri." pikir Luis.
Jini dan Luis makan bersama dengan para teman-teman sekelasnya. Hanya suasana senang yang tampak diraut wajah sebab traktiran mendadak itu.
Setelah makan di kantin, semua murid kembali menuju kelas. Luis tak bisa jauh dari Jini, karena tugas yang di berikan padanya itu. Bahkan tempat duduk pun sudah sangat dekat. Jini duduk di depannya dan Luis berada persis di belakangnya. Pengawalan yang dirasa cukup ketat sampai posisi bangku sudah begitu dekat, tidak membuat Jini merasa risih. Gadis itu tidak pernah komplain perihal pengawalan yang dilakukan oleh Luis. Namun, Luis malah merasakan hal lain.
"Dia tidak keberatan dengan pengawalan ketat semacam ini. Tetapi aku malah merasakan risih bila melakukan ini. Sungguh terbalik bukan?" Tanyanya pada diri sendiri.
Luis tidak memiliki teman yang begitu dekat selain Jini. Ia bisa dekat dengan gadis itu lantaran karena tugasnya saja. Tidak memiliki waktu untuk mencari teman baru, dikarenakan dirinya harus menepati janjinya juga pada orangtua Jini.
"Berjanjilah padaku untuk selalu menjaganya. Kawal dia kemanapun dia pergi. Aku menaruh kepercayaan padamu." ucapan orang tua Jini saat bertemu dengan Luis pertama kalinya.
Perkataan itu selalu diingat oleh seorang Luis hingga kini. Menginjak kelas tiga dan sebentar lagi masa jabatannya akan berakhir sesuai perjanjian. Luis hanya harus bersabar untuk jangka waktu yang tak lama itu.
Sepulang sekolah, Jini neminta Luis untuk menemaninya berbelanja ke mall sebentar. Awalnya Luis menolak. Namun...
"Kamu itu kan pengawal pribadiku. Jangan terus-terusan menolak. Turuti perintah atasanmu. ini"
Kata Jini dengan tawa kecil di akhir.
"Baiklah. Jangan terlalu lama kayak biasanya ya, meskipun kau berkata sebentar pada awalnya."
Balas Luis.
"Kamu tahu saja kebiasaanku hehe." Jini menarik tangan Luis sembari berjalan menuju mall.
"Padahal gadis ini orang kaya, tetapi hingga kini dia tidak mau menaiki mobil mewah yang terparkir di garasi rumahnya. Huft sangat aneh." pikir Luis sekaligus heran.
Sesampainya di mall, mereka berbelanja dan menghabiskan waktu lebih singkat dibanding biasanya.
"Tumben lebih cepat dari pada biasanya?" tanya Luis.
"Kamu mau aku lebih lama lagi disana? Ayo kita kembali kalau begitu." balas Jini.
"Tidak perlu. Mari kita pulang." Luis berjalan lebih dulu.
"Hey! jangan tinggalkan atasanmu." Jini menyusul.
Dijalan, Jini bercerita tentang apa yang dilakukannya di sekolah. Meskipun Luis jelas tahu apa yang telah dilakukannya disana. Mereka satu kelas dan Luis selalu berada di dekatnya.
"Anak yang sungguh aneh. Tidak perlu dia menceritakan hal itu lagi. Aku kan sudah tahu apa saja yang telah dia lakukan seharian ini di sekolah." Luis menepuk jidatnya.
"Banyak hal yang aku lakukan hari ini. Aku harap aku bisa melakukan yang terbaik untuk kedepannya." Ucap Jini sembari tersenyum lebar.
Luis hanya memandang gadis itu keheranan.
"Menceritakan hal yang tidak perlu, itulah Jini." gumam Luis.
Di hari seterusnya, Jini melakukan banyak hal. Tak luput dari pengawasan seorang Luis dari belakang. Hari berganti terus menerus. Dan waktu semakin dekat menuju akhir masa kerjanya.
"Tinggal sedikit lagi. Aku akan terbebas dari yang namanya Jini. Itu yang kunantikan!" Luis memandang kalender yang terjang di dinding kamarnya.
Suatu malam. Disaat Luis sibuk bermain game di komputernya, tiba-tiba ponselnya berdering keras. Di ceknya ponsel itu sekejap.
"Jini? Mau apa dia malam-malam begini?"
Luis memandang layar ponsel.
Telpon diangkat dan Luis mulai berbicara dengan gadis itu.
"Mau apa malam begini?" Tanya Luis.
"Apa? Sekarang? Apa kau sudah gila?!"
Lanjutnya.
Malam itu juga, Luis datang kerumah Jini yang ada disebelahnya.
"Tidak ada permintaan lain? Aku hanya ingin istirahat. Tolong mengertilah." Kata Luis pada Jini di depan pintu masuk.
"Kamu bisa beristirahat di dalam. Tenang saja, ada kamar kok untukmu." Jini tersenyum.
"Aku terpaksa afk karena gadis satu ini. Sialan!"
gumamnya.
Jini meminta Luis untuk menemaninya malam ini dikarenakan orang tuanya sedang berada diluar kota. Luis duduk di sofa bersama Jini sambil menonton televisi.
"Lalu apa yang harus kulakukan? Hanya sekedar menemanimu saja?" Tanya Luis.
"Ya. Tidak perlu berbuat banyak. Cukup menemaniku saja malam ini. Jadi santai saja. Atasanmu mengerti akan dirimu kok hehe." Kata Jini pada Luis sambil menepuk pundaknya.
"Dia benar-benar tidak paham akan diriku yang merasa kerepotan dalam mengawalnya seharian di sekolah itu." Luis menyeringai.
Jini bertanya pada Luis perihal masa depannya.
"Luis. Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus dari sma nanti?" Tanya Jini.
"Aku tidak tahu. Mungkin aku akan bekerja." jawabnya sambil berpikir.
"Kamu tidak kuliah?" lanjut Jini.
"Belum tahu. Lihat nanti saja."
Setelah mengobrol singkat, malam pun terlewat dan hari mulai berganti.
Luis bangun dari tidurnya. Mengedipkan mata beberapa kali hingga terlihat pandangan yang cukup jelas. Luis duduk dan seketika melihat ke samping.
"Hah?! Apa yang kamu lakukan disini?!" kagetnya.
Jini terbangun dari tidur dan berkata..
"Aku hanya ingin coba tidur sekali bersamamu. Tidak masalah kan?"
"Orang gila."
Luis mengusir perempuan itu keluar kamar.
"Apa-apaan dia itu. Nanti kalau ketahuan bagaimana?! Huft!" ujarnya geram.
Usai menginap semalaman, akhirnya Luis memutuskan untuk pulang kerumah. Ia berjalan menuju pintu depan. Sebelum dirinya keluar, dirinya sempat heran mengapa Jini tidak menghampirinya.
Lalu Luis berniat untuk mencari gadis itu untuk pamit pulang terlebih dahulu agar terkesan lebih sopan walau rada kesal dengan tingkahnya.
"Kemana anak itu ya? Di kamarnya tidak ada. Lalu di ruangan lainnya juga tidak ada."
Luis berjalan ke arah taman yang ada di belakang rumah. Terlihat Jini tengah berdiri di tepian kolam renang. Gadis itu merenung sembari seraya menatap air yang ada di bawahnya.
"Apa yang dia lakukan disana?" Luis coba menghampiri.
Namun, belum sampai di dekat Jini, gadis itu langsung menjatuhkan diri ke dalam air.
Luis menunggu dia muncul ke permukaan. Akan tetapi Jini tidak juga muncul. Tanpa berlama-lama lagi, Luis langsung masuk ke dalam kolam renang dan membawa Jini ke permukaan.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" Luis merasa panik.
Jini tampak seperti tidak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang pula, lelaki itu langsung berancang-ancang memberi nafas buatan padanya.
"Sial! Ini yang harus aku lakukan. Bertahanlah Jini!" kata Luis dengan rasa panik.
Belum sempat memberi nafas buatan, mata Jini langsung terbuka dan dia langsung berucap.
"Apakah kamu panik?" ucapnya sekaligus bertanya.
"Hah?! Kau tidak apa-apa?" Luis tak menyangka.
Jini bangkit dan duduk di sebuah kursi yang ada di dekat kolam renang tersebut. Dia mengajak Luis untuk duduk di sebelahnya. Setelah Luis duduk, Jini mulai angkat bicara.
"Maaf telah membuatmu panik sebelumnya. Padahal aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa demikian."
"Lalu apa tujuanmu?" tanya Luis.
"Aku hanya ingin mengakhiri hidupku." kata Jini yang sekaligus membuat Luis terkejut mendengarnya.
"Ujung-ujungnya kau akan membuatku merasa panik dasar gadis sialan. Kenapa kau melakukan hal semacam itu? Bukankah hidupmu sudah enak selama ini?" Luis merasa kesal.
"Oh ya? Bukankah kau tidak memperdulikanku?"
tanya Jini.
"Apa maksudmu? Aku kan pengawal pribadimu."
balas Luis.
Jini menggelengkan kepala dan berkata bahwa dirinya sudah mengetahui hal sebenarnya.
"Jangan berpura-pura. Aku tahu bahwa orang tuaku menginginkan kamu untuk menjagaku kala berada diluar rumah. Lalu kamu menerimanya dengan terpaksa bukan?" Ungkapnya.
Luis diam tanpa sepatah kata karena ungkapan itu.
"Apakah dia tahu hal yang sebenarnya?"
gumam Luis.
"Aku tahu hal itu dilakukan dengan terpaksa lantaran orang tuaku telah memberimu hadiah yang selama ini kamu idam-idamkan. Sudah terasa sedari awal saat kamu berada di sampingku." lanjut Jini.
Kemudian Jini mulai bercerita mengenai apa yang terjadi padanya, sehingga membuat keputusan untuk melakukan bunuh diri tadi.
Bercerita panjang lebar pada Luis yang mendengarkannya. Perlahan Luis merasa sadar akan dirinya sendiri. Dan setelah Jini bercerita, Luis turut dalam penyesalan yang baru disadarinya.
"Selama ini aku tidak tahu bahwa hal semacam itu pernah terjadi padamu. Padahal aku sudah mengawasimu meski dengan rasa terpaksa." ujarnya pada gadis disebelahnya itu.
"Kamu memang berada didekatku. Akan tetapi kamu tidak tahu lebih dalam mengenai hal semacam itu. Aku tidak sepenuhnya bahagia, Luis."
"Kenapa kamu tidak bilang padaku saat kamu mengalami kejadian itu?" tanya Luis.
"Untuk apa aku bilang? kalau kamu sendiri merasa terpaksa berada didekatku dan bukanlah orang yang mau berteman temanku secara murni."
balas Jini menatap ke arah kolam renang.
Jini memandang Luis dengan tatapan tak biasanya. Luis terperangah dengan tatapan itu.
"Selama ini aku selalu sendiri Luis. Kebahagiaan yang kamu lihat kala itu tidaklah terasa olehku sama sekali."
Jini berdiri dan mengizinkan lelaki itu untuk pulang.
Dengan perasaan tidak enak, Luis berhenti di depan pintu masuk rumah Jini tersebut.
Jini bertanya kenapa lelaki itu terhenti langkahnya di depan pintu.
Luis menoleh ke arah gadis yanh merupakan teman sekelasnya itu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Jini... Maafkan aku."
Jini hanya tersenyum tipis.
Lalu tak berapa lama berselang, Luis memeluk Jini tepat di depan pintu rumah.
"Aku turut menyesal karena tidak mengetahuinya. Aku kira itu benar-benar kebahagian. Tapi nyatanya itu tidaklah sesuai dengan apa yang aku lihat. Maafkan aku Jini."
"Aku juga minta maaf karena telah membuatmu menjadi pribadi yang tertutup dikelas. Bahkan kamu sendiri tidak sempat mengobrol dengan teman lainnya karena posisimu ini kan? Maaf atas keegoisanku. Aku hanya ingin membuatmu menjadi satu-satunya temanku. Tetapi aku telah gagal pada akhirnya." ujar Jini pada Luis yang masih memeluknya.
"Kamu tidak gagal Jini. Kini aku menyatakan diri menjadi temanmu walau sebentar lagi kita akan lulus. Aku serius mengenai ini."
mendengar pernyataan dari Luis, Jini seketika mengeluarkan air mata. Akhirnya dirinya memiliki teman yang terasa keseriusannya. Gadis itu mrmbalas pelukan dari seorang Luis. Dalam kehangatan akan pelukan, mereka akhirnya mengerti pribadi satu sama lainnya.
"Mulai sekarang ini, bila ada apa-apa katakan saja padaku. Jadi jangan sungkan lagi ya." Luis meyakinkan temannya itu.
"Baik! Terimakasih Luis. Terlebih kamu baru saja memanggilku dengan kata 'kamu' untuk kali pertama." seling Jini dengan tawanya.
"Sudahlah Jini. Kami ini memang menyebalkan ya haha." cakap luis dengan tawa.
Saat mereka tengah berduaan dalam posisi begitu dekat, tiba-tiba orang tua Jini datang dan melihat mereka berdua yang ada di depan pintu rumah.
Luis dan Jini pun terkejut seketika dan mulai menjaga jarak setelahnya agar tidak ada kecurigaan terhadap keduanya.
-----SELESAI-----