Naomy dan teman-temannya sedang duduk melingkar. Ditengah-tengah mereka, terdapat banyak cemilan yang mereka beli tadi di kantin.
"Makan-makan biar jinak!" ucap Sunny, si cewek sultan diantara teman-temannya.
Naomy menatap sinis gadis berambut gelombang itu, mentang-mentang dia yang mentraktir mereka, dia jadi besar mulut sehingga berbicara sembarang. "Lo bikir kita binatang?" tanya Naomy.
"Yang merasa aja ya, my Bubu ..." Sunny tau, Naomy pasti kesal akan ucapannya barusan. Dia tersenyum lalu mencubit gemas pipi chubby temannya itu.
"Sakit, anjir!" pekik Naomy.
"I'm sorry, Bubu." Sunny tersenyum kikuk. Dia terlalu gemas pada gadis blasteran itu.
"Bubu? Bukannya itu nama anjing lo?" tanya Windy, sambil mencomot snack kentang ke dalam mulutnya.
"Emang nama anjing gue. Kenapa emangnya?"
"Anak jahanam!" Naomy memukul dahi Sunny, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Aw, sakit tau Bubu!"
"Jangan panggil gue Bubu!!"
"Bubu kan, imut kayak lo."
"Tapi gue nggak mau disamain sama anjing kampret!"
"Pokoknya gue tetap manggil lo Bubu. Siapa suruh gemesin." Sunny tetap teguh pada pendiriannya untuk memanggil Naomy dengan sebutan 'Bubu'.
Naomy melotot.
"Awas, lo ya!" Naomy yang hendak menghampiri Sunny berhenti karena mendengar ucapan Stacie dan Viola . Tukang gosip diantara mereka berlima.
"Anjir ... Kak Raina cantik banget." Viola heboh melihat foto seorang gadis cantik yang tidak sengaja lewat beranda Instagramnya.
"Bening banget. Kira-kira dia pake skincare apa, ya?" Stacie menoleh pada Viola.
"Mana gue tau, emang gue emaknya? Ho'oh bening, pantas aja dulu Kak Aldrich suka sama dia." Viola geleng-geleng kepala melihat kecantikan kakak kelasnya.
"Menurut lo, Naomy sama Kak Raina cantiknya siapa?"
Viola berpikir sebentar. "Menurut gue sih, cantikan Kak Raina."
"Hmm ... gue setuju. Kalau gue lihat-lihat ya, Kak Raina emang cocoknya sama Kak Aldrich."
"Lo dengar nggak, kalau Kak Raina itu masih suka sama Kak Aldrich. Ada gosip, kalau mereka bakal balikan. Kayaknya Naomy cuman jadi pela- aduh!" Viola mengaduh kesaksian saat sebuah botol minuman terlempar ke dahinya. Iris matanya langsung memberikan tatapan tajam pada pelaku yang sudah melemparkan botol minuman di dahi mulusnya.
Windy hanya tersenyum tipis.
Plak!
"Lo kenapa juga sih, Sunny?!" pekik Viola.
"Mata lo masih berguna apa enggak? Lo nggak lihat ada Naomy di sini? Nggak ada bahan gosip sampai gosipin teman sendiri?" Sunny menatap dua temannya dengan garang.
Viola dan Stacie langsung merasa bersalah. "Maafin gue Naomy," ucap keduanya bersamaan sambil menunduk.
Naomy hanya diam dengan tatapan kosong. Dia memikirkan ucapan Viola dan Stacie tadi. Dia benar-benar tidak rela jika Aldrich balikan dengan Rania, dia sudah sangat mencintai cowok itu.
"Naomy?" Windy memegang tangan Naomy, memeriksa apakah terjadi sesuatu pada temannya itu.
"Naomy!" suara bariton cowok itu mengagetkan Naomy. Iris purple-nya langsung melihat ke ambang pintu kelas.
Seorang cowok jangkung masuk ke dalam kelasnya, diikuti dengan dua cowok tampan di belakangnya.
"Iya, kenapa Al?" tanya Naomy sedikit gugup. Pasalnya wajah pacarnya tampak serius dari biasanya.
"Ada yang mau aku omongin." Nada bicara Aldrich sangat serius.
Naomy tambah gugup dan deg-degan.
"Tentang apa, ya?"
"Hubungan kita."
Naomy tersentak. Teman-teman Naomy saling menatap satu sama lain. Siswa-siswi yang ada di dalam kelas itu juga tampak kaget.
"Ma-maksud kamu?" tanya Naomy hati-hati. Dia sudah meremas ujung roknya.
"Aku mau kita putus."
Tubuh Naomy seperti tersengat listrik mendengar ucapan itu. Begitu mudahnya Aldrich mengucapkan kata putus, setelah semua yang mereka lalui selama 6 bulan ini? Naomy tidak habis pikir. Apa alasannya?
Dibelakang Aldrich, dua cowok sedang tersenyum tipis.
"Ta-tapi, kenapa tiba-tiba kayak gini Al?" Naomy mencoba menahan air matanya. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya sudah memerah.
Aldrich mengepalkan tangannya. "Aku mau balikan sama mantan aku. Maaf, ya." Cowok itu mengulas senyum manis.
Ooh ... dia masih bisa tersenyum setelah mengatakan itu?
Naomy menarik napas berat. "Nggak apa-apa. Bahagia ya, sama dia."
"Hmm ... pasti kok."
Naomy menghapus air matanya kasar, lalu berjalan menuju pintu kelas. Namun baru berapa langkah, tangannya di cekal oleh seorang cowok.
Naomy mendongak, menatap sendu cowok jangkung itu.
"Kenapa?" tanyanya serak.
"Sekarang kamu mantan aku, 'kan?"
"Ya," jawab Naomy kesal.
"Ayo balikan."
"HAH?!" teriak sekelas tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka sedang di prank, 'kah?
Aldrich tersenyum, lalu menghapus air mata Naomy dengan lembut. "Ayo, balikan."
"Tau ah! Nggak jelas!" Naomy menepis tangan Aldrich.
"Maaf, honey. Skincare Wardah?"
"Mau."
"Pulang sekolah aku beliin." Aldrich langsung memeluk Naomy. "Udah jangan nangis. Putri nggak boleh nangis, loh."
"Kalau aku putri, pangerannya siapa?" tanya Naomy serak sambil memeluk Aldrich erat.
"Siapa lagi kalau bukan, Aldrich yang tampan ini."
"Aldrich! Kok gitu?! Kan darenya lo harus balikan sama mantan lo," ucap Tio.
"Udah gue lakuin barusan," sahut Aldrich yang masih memeluk Naomy.
"Tapi kan, Naomy pacar lo!" Matthew tidak terima.
"Bukannya tadi gue udah mutusin dia. Jadi, dia mantan gue. Sekarang gue udah balikan sama dia," sahut Aldrich lagi. Posisinya masih sama, masih memeluk Naomy.
"Yang kita maksud itu Raina, Al!"
Aldrich langsung menatap horor kedua sahabatnya. "Kalian mau gue kirim ke RS apa balik papan?"
Tio dan Matthew meneguk ludah mereka melihat sorot mata biru Aldrich. Menyeramkan.
"So, itu dare dari siapa?" tanya Windy.
"Matthew," jawab Aldrich santai.
Windy dan ketika temannya langsung menghampiri Tio dan Matthew dengan tatapan membunuh.
"Habis riwayat kita Tio."
"Njiir ... mantan lo nyeremin, Mat."
TAMAT