"Dor! Dor! Duarrr!
Tembakkan itu melesat lagi. Entah sudah yg ke berapa kali. Aku hanya bisa meringkuk di atas sebuah kardus kecil.
Lalu akupun bangun. Memetik sebuah rumput dan memakannya. Yah, silahkan jika kalian ingin menyebutku kambing. Apalagi yg bisa ku makan disaat peperangan seperti ini.
"Hey, kau mau ini?" Tanya seseorang sambil menyodorkan sebungkus roti kepadaku. "Si-si-siap-siapa ka-kam-kamu?" Tanyaku kaget,bingung,heran,takut,dan lapar bercampur jadi satu. "Oh ya perkenalkan, aku Movsoka. Aku tentara israel. Makanlah." Dia memaksaku untuk memakannya. Dia membuka roti itu dan menyuruhku memakannya. Namun aku menolak. Bagaimana jika didalam roti itu ada sebuah bom yg akan meledak kalau aku menggigitnya? Bagaimana jika dalam roti itu ada racun yg bisa membuatku menyusul ayah dan ibu?
Bagaimana jika didalam roti tersebut ada daging hewan yg haram untuk dimakan.
"Kau takut? Tak apa nak. Aku tak jahat, aku tak ikut memerangi negaramu. Didalam roti ini tak mengandung daging babi atau daging binatang haram lainnya. Tak ada bom, apalagi racun." Dia tersenyum ramah. Aku mengambil roti itu dengan tangan yg bergetar. Mataku berkaca kaca. Sejak negaraku berperang, aku tak pernah memakan makanan enak lagi.
"Terima kasih pak" kataku sambil tersenyum, diapun membalas senyumku.
Lalu dia menanyakan siapa namaku, berapa umurku, dimana rumahku, dimana orang tuaku, dimana sanak saudaraku dan lain lain. Aku menjawabnya sambil memakan roti yg di berikan orang itu dengan lahap.
Setelah itu aku di boyong ke rumahnya yg megah dan mewah. Dan sudah pasti menjauh dari peperangan itu.
Katanya kita akan pergi kejepang. Lalu aku mengajaknya masuk. Namun dia menolak. Katanya dia harus membantu yang lainnya. Aku mengangguk pelan antara mengerti dan bingung.
Lalu aku menaiki sebuah benda yg sangat besar. Bentuknya seperti burung. Aku bingung. Namun menurut saja."
Itu ceritaku 20 tahun lalu. Masih melekat di memori otakku. Orang itu. Orang yg memberiku sebungkus roti. Dia. Dia telah tiada. Dia terkena tembakan tepat di jantungnya. Saat melawan tentara israel.
Andaikan dia tak memberiku sebungkus roti itu. Mungkin aku sudah mati kelaparan disana. Bahkan untuk duduk saja pun aku merasa kesusahan sekali. Ahh mengenaskannya masa kecilku.
Banyak orang bilang, bahwa masa kecil itu masa yg indah. Kita bisa bermain sepuasnya tanpa merasakan beban kehidupan.
Berbeda denganku. Sejak kecil aku harus menanggung kepedihan. Negaraku berperang, orang tuaku pergi karna tertembak, saudaraku pun tak ketinggalan untuk pergi bersama orangtuaku.
Sekarang aku sudah tak dinegara yg sampai sekarang pun masih berperang. Aku pindah ke sebuah negara damai bernama Jepang.
Disini aku tinggal bersama kakak dari Movsoka. Aku membalas budi mereka, dengan membantu mereka bekerja di sebuah perusahaan pembuat makanan ringan atau camilan khas Jepang.
Aku mengahampiri 2 merpatiku. Yg baru ku beli tadi pagi, untuk menerbangkan sebuah suratku untuk orangtua ku. Yg sudah tiada. Aku mengambil selembar pena dan kertas. Dan menulis sebuah surat didalamnya.
______________________________________________
Ayah, Ibu.
Disini. Ditempatku berada.
Aku merasakan damai.
Aku tinggal bersama orang yg sangat baik.
Ayah, ibu.
Kenapa kalian pergi meninggalkanku.
Apa kalian membenciku?
Apa kalian sudah tak sayang padaku?
Ayah, ibu.
Semoga, kita bisa bertemu lagi ya?
Di sana. Bersama. Dan kembali, merasakan apa yg dinamakan Bahagia.
Ayah, ibu.
Aku tau kalian sangat sayang padaku.
Kalian rela tertembak oleh mereka.
Demi melindungiku yg masih berumur 6 tahun.
Ayah, ibu.
Aku sayang kalian.
Aku rindu kalian.
Aku pun rela jika harus tertembak.
Atau terkena bom atom dari mereka.
Demi melindungi kalian.
Ayah, ibu.
Semoga kalian tenang disana.
Asal kalian tahu, aku pun merasa tenang disini.
Meskipun tanpa kalian.
Ayah, ibu.
Aku selalu mendoakan kalian.
Di sepertiga malam.
Berdoa agar kalian bisa mendapat tempat yg layak disana.
Aku Rindu Kalian
Dari anakmu yg merindu ~ 17 Ramadhan 1441 hijriah. Kyoto, jepang. Aidan Ali.
______________________________________________