"Pernahkah kau mendengar misteri mengenai gambar ini? Dikatakan bahwa bila kau melihat sosok dirinya di kehidupan nyata, jangan sampai melihat wajahnya secara keseluruhan."
Kata Rina sambil menjelaskan sebuah gambar yang terpajang di dalam sebuah museum.
"Aku tahu. Tapi aku rasa itu hanyalah mitos belaka. Lagian rumor itu sudah lama dibicarakan bukan? Tidak ada buktinya hingga kini setelah sekian lama." balas Tiara.
Rina berkebalikan dengan temannya itu. Entah kenapa ia sangat percaya mengenai kabar tersebut. Misteri terkait gambar ini sudah beredar di sosial media sejak beberapa tahun silam. Tetapi banyak orang tak percaya dengan hal tersebut. Bisa dibilang Rina adalah orang yang masih begitu percaya pada hal semacam ini dan sangat berbeda dengan pendapat orang lain pada umumnya.
"Aku percaya dengan rumor ini." ucap Rina sembari menoleh ke arah Tiara di sebelahnya.
"Itu terserahmu. Kalau aku sendiri tidak percaya. Lagian apa menariknya dari gambar seorang gadis yang wajahnya tidak terlihat seperti ini? Huft." Tiara berjalan melihat karya lainnya di museum itu.
"Tunggu aku Tiara!" Rina menyusul.
Setelah berlama-lama di museum, Rina dan Tiara memutuskan untuk membeli es krim sejenak sebelum berpisah jalan pulang.
"Jarang-jarang kamu mengajakku ke museum." kata Tiara pada Rina.
"Sesekali. Lagian kita sudah mengunjungi banyak tempat di kota ini kan?" balas Rina sambil memakan es krim.
"Iya sih. Lalu apakah kamu tidak mengapa pulang malam begini? Sebab rumahmu dikawasan yang jauh dari pusat kota." tanya Tiara.
"Tidak apa-apa. Apakah kamu mau menginap malam ini?" Rina bertanya balik sekaligus mengajak.
"Bisakah? Aku memang bosan sih berada dirumah tidak ngapa-ngapain di malam minggu ini. Aku setuju!" jawab Tiara seraya memegang sebelah pundak temannya itu.
Mereka berdua pergi menuju kediaman dari Rina tersebut. Memakan waktu tak sedikit. Hingga akhirnya keduanya tiba di lokasi tujuan.
Rina membuka pintu disusul oleh Tiara dari belakang. Mereka berdua duduk di sofa, lalu menyalakan televisi.
"Memang kamu tidak ada niatan untuk pindah dari sini Rina? Bukankah cukup jauh bila kamu bepergian ke berbagai tempat dari sini?" tanya Tiara.
"Ada. Hanya saja belum ada waktu yang tepat untum saat ini karena kesibukan yang aku alami."
jawabnya.
"Ya. Aku memahami soal kesibukanmu." ucap Tiara.
Mereka asik mengobrol samapi malam mulai mendekati larut. Keduanya memutuskan untuk segera tidur setelahnya. Rina dan Tiara tidur di satu ranjang dalam balutan selimut tebal. Keduanya saling mengucapkan selamat tidur satu sama lain. Dan mulai tertidur.
Jarum jam terus bergerak, hingga menunjukkan pukul 12 malam. Suasana hening kala itu langsung pecah usai ponsel milik Tiara mulai berdering.
Perempuan itu langsung mengambil ponsel dan mengeceknya. Sebuah pesan berisikan suruhan untuk melihat sesuatu dalam ponselnya. Tiara yang masih setengah sadar itu menuruti tanpa berpikir. Saat melihat sesuai tulisan pesan teks tersebut, tiba-tiba dirinya berteriak dan menghempaskan ponsel miliknya.
"Aaaaaa!!!"
Rina terkejut mendengar suara teriakan itu. Dilihatnya ke sebelah bahwa Tiara sedang menutup kedua matanya dengan tangan.
"Ada apa yang terjadi Tiara? Apakah kamu mimpi buruk tadi?" tanya Rina yang merasa panik.
"Itu... " Tiara menunjuk ke arah ponselnya yang berada di lantai.
Melihat temannya itu ketakutan, Rina langsung memeluknya sembari menenangkannya.
Rina penasaran dengan apa yang terjadi pada Tiara. Ia berusaha mengambil ponsel milik temannya itu. Namun, Tiara melarangnya dengan suara lantang.
"Jangan Rina! Jangan sentuh itu!"g
"Memangnya ada apa Tiara? Beritahu aku." Rina penasaran.
Lalu Tiara memberitahu apa yang terjadi. Setelah mendengarnya, Rina mendekati ponsel itu dan mengambilnya walau Tiara sempat menahannya.
Ia menjaga jarak dari pandangan layar ponsel tersebut. Layar menyala menampilkan layar utama yang berisika menu-menu yang ada. Kemudian Rina coba membuka sesuatu seperti yang dilakukan oleh Tiara tadi.
Saat matanya fokus pada layar ponsel tersebut, seketika tibalah momen dimana mengejutkan dirinya layaknya Tiara tadi.
Rina langsung mematikan ponsel dan menjauhinya.
"Ini benar-benar terjadi?!" tanyanya tak menyangka.
"Lalu harus bagaimana?" Tiara masih ketakutan.
Rina berinisiatif menghapus apa yang dilihatnya tadi. Setelah melakukan itu, Tiara mulai sedikit tenang dan berterimakasih pada teman dekatnya tersebut.
Rina menyuruh Tiara untuk kembali tidur. Sedangkan dirinya ingin mengecek informasi mengenai proses kerjaannya itu melalui ponsel.
Saat tengah mengecek ponsel, tiba-tiba ia melihat sebuah pesan yang dikirim oleh Tiara sedari beberapa jam lalu. Lalu dilihatnya isi dari kiriman Tiara tersebut.
Terdengar suara benda terjatuh ke lantai, yang membuat Tiara bangun seketika. Dirinya melihat Rina tengah duduk di tepian tempat tidur.
Tiara memanggilnya. Tetapi tidak ada respon dari temannya itu. Dilihatnya secara dekat. Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di hadapannya.
Tampak Rina tengah memejamkan mata dan terdapat air mata hitam keluar dari kedua matanya.
"Rina! Kamu kenapa?! Apa yang terjadi padamu?!" Tanyanya seiring panik tak karuan.
Notifikasi pesan munc di ponsel Tiara. Tiara mengambil ponsel dengan tangan gemetar dan melihat isi pesan itu. Sebuah pesan teks yang menyuruhnya untuk datang ke museum malam ini.
"Aku harus kesana di tengah malam begini?! Tapi..."
Tiara terus membaca sampai akhir. Dan dirinya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelumnya di musem, Tiara sempat mengambil foto dari gambar tersebut secara diam-diam. Padahal hal itu dilarang dan sudah ada peringatan yang tertera disana. Setelah mengambil foto, Tiara mengirimkannya pada Rina untuk memamerkannya. Dan akibat dari perbuatan Tiara tersebut, Kini ia harus pergi ke museum untuk bisa mengembalikkan keadaan Rina seperti sedia kala.
"Aku harus ke museum dan mengambil foto ulang dengan pose menutup wajah. Lalu menunjukkannya langsung pada Rina agar dia bisa kembali seperti semula." Ucapnya dengan penuh rasa panik.
Rina bergegas pergi menuju museum kala hari sudah tengah malam. Tanpa alas kaki dan pakaian seadanya, ia berlari menuju museum sebelum pagi tiba. Tidak ada transportasi umum beroperasi saat itu. Membuatnya harus berlari terus sampai ke tempat tujuan. Suasana begitu sepi di tengah larutnya malam. Tiara terus berlari dan sesekali berjalan sebentar karena tidak mampu sepenuhnya berlari terus menerus.
Usai perjalanan panjang dan memakan banyak waktu, Tiara berusaha mencari celah untuk masuk ke dalam museum tersebut. Sulit menemukan celah dari bangunan itu baginya. Dan inisiatif untuk mengecoh penjaga museum pun muncul.
"Aku akan memberi alasan bagus agar bisa masuk ke dalam museum. Lalu bergegas pergi mengambil gambar dan kabur dari sini."
Gumam Tiara.
Tiara menghampiri penjaga museum, lalu mengatakan alasannya ingin memasuki gedung tersebut. Setelah percakapan cukup panjang, akhirnya Tiara berhasil masuk ke dalam dengan tuntunan sang penjaga.
"Itu gambarnya! Aku harus mengambil gambar saat itu juga." Tiara melihat gambar tersebut di dekatnya.
Saat sang penjaga asik berjalan, dalam sekejap perempuan itu langsung mengambil foti dari gambar yang terpajang itu. Kemudian dirinya melarikan diri meninggalkan sang petugas. Tentu saja karena hal itu, ia sempat dikejar meskipun ujungnya tidak berhasil menangkapnya.
Tiara terus berlari dengan tergesa-tergesa. Nafas yang naik turun dengan cepat hingga kakinya yang dirasa sakit saat menginjak aspal jalanan, tetap ditahannya demi kebaikan teman dekatnya itu.
Sebelum pagi, Tiara berhasil sampai di kediaman Rina. Lalu dirinyaa bergegas menuju ruang kamar.
Terlihat temannya masih di tempat itu tanpa gerak.
Tiara coba mendekat walau dirinya dipenuhi kepanikan dan ketakutan karena wajah Rina dipenuhi oleh aliran air mata hitam yang terus keluar membasahi lantai kamar.
Saat sedang mendekat, tiba-tiba Rina menoleh ke arah Tiara. Tentu saja Tiara ketakutan. Perempuan itu bergerak mundur karena tatapan itu. Rina mulai bangkit dan berdiri di hadapannya. Gemetar hebat terjadi pada Tiara. Perempuan itu panik tak karuan. Ponsel yang dipegangnya sempat terjatuh, menambah panik dirinya. Rina bergerak maju ke arah temannya itu. Tangan berusaha menggapai ponsel dalam gemetar yang hebat.
"Gawat! Ini sangat gawat!" Rina berusaha mengambil ponsel.
Setelah didapatkannya, Seketika Rina bergerak cepat menuju Tiara dan....
Rina membuka mata dengan perlahan. Di sebuah kamar yang sudah terlihat berantakan. Ia berdiri dan berjalan menyusuri setiap ruang yang ada di dalam rumahnya. Melangkah sembari mencari sang teman bernama Tiara itu. Dan saat pintu depan dibuka, matanya terbelalak seketika melihat ada orang didepan pintu masuk rumahnya.
"Apa yang terjadi padamu, Tiara?!" Rina memangku teman dekatnya itu.
"Kau sudah sembuh? Baguslah kalau begitu." ucap Tiara dengan nada begitu rendah.
Rina tak mengerti apa maksud dari ucapan Tiara tersebut. Kemudian dalam sekejap Tiara memeluk Rina dengan air mata yang sudah tak tertahankan lagi.
"Maafkan aku karena sudah melakukan kesalahan yang mengancam hidupmu. Sekali lagi maaf."
Tiara hanya bisa menangis dalam perasaan menyesal, walau Rina tidak tahu apa yang telah terjadi padanya.
-----SELESAI-----