"Aldrich," panggil gadis berambut kuning itu dengan manja. Ia menarik tangan cowok jangkung itu lalu memeluknya. Tersenyum miring pada wanita yang sedari tadi memperhatikan cowok jangkung di sampingnya.
Cowok berambut putih itu sedikit menunduk, untuk melihat gadis mungil yang memeluk lengannya. "Kenapa, hm?" tanya Aldrich lembut. Tangan kirinya memegang keranjang berisi belanjaannya bersama dengan gadis cantik disampingnya ini.
Naomy menggeleng pelan, lalu tersenyum manis. Dia kembali memeluk lengan Aldrich.
Aldrich hanya tersenyum, lalu mengacak-acak rambut pacarnya. Sepertinya sikap manja Naomy sudah online.
Setelah orang di depan Aldrich selesai membayar, cowok ber-hoodie hitam itu maju beberapa langkah. Naomy mengikuti langkah Aldrich, namun masih dengan posisi memeluk lengan sang pacar.
Dia mendecih melihat ibu-ibu yang menatapnya tajam, lalu membisikkan tentang dirinya.
"Alhamdulillah ... pahala gue nambah," gumam Naomy.
Memang apa salahnya jika dia manja pada pacarnya? Toh, itu bukan urusan para ibu-ibu itu. Huh, dasar emak-emak tukang ikut campur urusan orang!
"Kenapa sayang?" tanya Aldrich.
Naomy mendongak, "Nggak apa-apa kok, honey." Dia kembali tersenyum, kali ini memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Aldrich mengangguk.
Pandangan Naomy tertuju pada mbak kasir yang tengah menghitung total belanjaan mereka. Kenapa mata mbak ini tidak lepas dari Aldrichnya?
Naomy menatap mbak kasir itu dengan sinis.
Mungkin merasa aneh, akhirnya pandangan mata mbak kasir itu tertuju pada Naomy. Mereka saling melempar tatapan tajam.
Naomy memeletkan lidahnya, lalu memeluk lengan Aldrich dengan erat. "Iri bilang bos!"
Mbak kasir semakin menatap tajam Naomy.
Aldrich yang melihat tingkah pacar 5 bulannya itu terkekeh pelan. "Maafin pacar saya ya, mbak," ucap Aldrich diringi dengan senyuman manis.
Mbak kasir tersipu malu melihat senyuman manis Aldrich, sementara Naomy cemberut sambil mencibirkan bibirnya. Bagaimana tidak, ketika Aldrich tersenyum akan memperlihatkan lesung pipi dan gigi gingsulnya. Cewek mana yang tidak malu, dan pacar mana yang tidak cemburu?
"Al," panggil Naomy jutek.
"Iya?"
"Bisa nggak, jangan senyum sama sembarang orang apalagi cewek. I'm very jealous. It felt like my heart was sliced into a thousand daggers," ujar Naomy penuh dramatis.
Aldrich mengulas senyum. Memegang kedua pipi pacarnya lalu berkata, "Don't be jealous honey. Believe my love is only for you." Kemudian, dia menarik lembut hidung mungil Naomy. Naomy memekik pelan, lalu mencubit gemas kedua pipi Aldrich.
Ooh ... pasangan yang baru menjalin kasih 5 bulan itu tidak tau, jika mereka uwuw-uwuw di depan seorang jomblo. Mbak kasir hanya bisa gigit jari melihat keromantisan Aldrich dan Naomy.
Miris!
"Ehekm! Totalnya seratus lima puluh," ucap mbak kasir dingin.
"Oh, ini mbak." Aldrich memberikan uang harga belanjaan mereka pada mbak kasir, lalu mengambil kantung berisi belanjaan mereka dan keluar dari minimarket.
"Anjiirr ... nyesek banget deh, gue lihat mereka uwuw-uwuw. Hiks." Mbak kasir memperhatikan Aldrich dan Naomy yang keluar minimarket.
***
Naomy dan Aldrich sebenarnya belum lama pacaran. Mereka baru menjalin hubungan selama 5 bulan. Naomy yang sudah dari lahir di bumi jomblo dan Aldrich yang baru satu kali pacaran.
Orang tua Naomy tidak pernah tau, jika Naomy memiliki pacar. Mereka kadang menganggap Naomy itu penyuka sesama jenis. Mm ... lesbian. Mana mungkin cewek seperti Naomy lesbian!! That's very wrong. Cewek secantik dan sepintar Naomy?? Ooh ... mana mungkin.
Naomy hanya belum menemukan manusia yang sesuai dengan tipe cowok idamannya. Tapi setelah bertemu Aldrich, dia langsung jatuh cinta.
Alasan Naomy menyembunyikan hubungannya dengan Aldrich karena, jika Mamanya tau, wanita berkepala tiga itu pasti akan mengejeknya 24 jam. No stop! Itu membuat Naomy sangat risih dan kesal. Sebenarnya, Papanya melarang Naomy untuk berpacaran, takut anak gadis semata wayangnya terjerumus dalam hal negatif.
Setelah piknik di taman seharian bersama Naomy, akhirnya Aldrich mengantar kekasihnya itu untuk pulang. Sebenarnya mereka masih ingin lama menikmati pemandangan di sore hari yang cerah ini, namun tiba-tiba saja Mama Naomy menyuruh gadis itu untuk pulang. Katanya sih, lupa kunci pintu rumah.
Aldrich menghentikan motornya di depan gang. Setelah motor berhenti, Naomy pun turun.
"Makasih buat hari ini sayang," ucap Naomy dengan senyum bahagia.
"Sama-sama." Aldrich tersenyum dari balik helmnya. Tangan kanannya merapikan rambut Naomy yang sedikit berantakan. "Aku pulang dulu, ya."
Naomy mengangguk. "Hati-hati."
Aldrich pun kembali melajukan motornya. Naomy memandang motor sport pacarnya yang sudah sangat jauh, lalu berjalan masuk ke gang sambil bersenandung.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Mamanya menelpon. Naomy mengernyitkan dahinya, lalu mengangkat telpon sang Mama.
"Iya, Ma."
"Udah pulang?"
"Ini Naomy baru aja nyampe gang."
"Pake tas pink, trus pake hoodie warna putih?"
"Iya."
"Ternyata dugaan Mama benar."
"Kenapa emangnya, Ma?"
"Pacaran kok diantarnya di ujung gang? Itu pacaran atau lagi transaksi narkoba, sih?" Terdengar dari seberang sana, Mama Naomy tertawa terbahak-bahak. Sementara Naomy sudah diam membatu.
"MAMA DI MANA, SIH???"
"Coba balik belakang."
Naomy pun membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia melihat di ujung sana, Mama dan Papanya sedang duduk sambil menikmati bubur kacang hijau.
"Makanya kalau turun nengok-nengok. Buruan ke sini, ceritain sama Mama dan Papa soal pacar kamu. Kami jadi penasaran."
Telepon pun dimatikan secara sepihak. Naomy hanya bisa diam, sambil melihat Mamanya yang tertawa, lalu melambaikan tangan memanggil dirinya.
"Mampus gue."
TAMAT