Saya, Toni, Robi,dan Alex. Kami adalah empat sekawan yang sangat akur dan memiliki selera yang sama soal speda motor
Kemana mana selalu bersama.
Sedikit perkenalan tentang kami
Toni anaknya pendek pintar, suka membantu, tapi sesedikit usil. Kalau ada dia sudah pasti seru, pandai menembak dan merayu.
Robi anaknya sedikit pendiam dan lebih sering di kerjain dia juga anak yang cukup pandai di sekolah dia lebih banyak baca buku komick khususnya detektif conan entah sudah berapa seri dia sudah baca tapi yang pasti buku komiknya cukup banyak dan tak pernah lepas dari tangannya.
Alex anaknya sedikit nakal dan suka nyari nyari persoalan yang ujung ujungnya nanti perkelahian antara kami dan geng motor lainnnya yang ada di tempat kami. Maklum dia anak tunggal dan berasal dari keluarga mampu yang singgle parent karna ayahnya meninggal waktu Alex lulus SMP .Walaupun dia nakal seperti itu tapi dia takut gelap dan fobia terhadap warna hitam.
Sedangkan saya adalah penyeimbang suka dengan ketenangan dan kadang mereka juluki saya penasehat hehehehe
Tetapi kelemahan saya adalah sama wanita
Gak bisa tahan kalau lihan cewek cantik atau manis pasti tergoda heheheh
Sekalipun kami berempat paling usil dan suka bikin onar di kampung tapi sebagai pemuda tanggung kami wajib ikut kelas Katekasasi Sidi ( Istila dalam gereja bagi pemuda pemuda yang mau ambil bagian dalam pelayanan Sakramen kudus ) dan kami berempat dinyatakan lulus untuk ditabis atau di perhadapkan pada Tuhan dan Jema'at bahwa kami telah mengaku dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kami.
Acara pentabisan dijadwalka 3 bulan kemudian dan telah di sepakati dengan suara terbanyak menggunakan pakaian seragam Putih Hitam ( Celana hitam, baju putih ) kita lupa kalau Alex fobia warna hitam tapi karna suara terbanyak yang di pakai terpaksa kami terima keputusan itu.
Alek panik dan bingung antara mau atau tidak ikut acara pentabisan, tetapi karna kami bertiga memberikan dia masukan dan pertimbangan akhirnya dia mau menggunakannya tetapi dengan syarat pada saat memakai celana matanya harus di tutup supaya dia tidak lihat celana hitamnya.
" Teman teman bagimana kalau kitong beli kain ko jahit saja biar model sama dan bagus kan masih 3 bulan lagi" Toni buka percakapan
" Betul kawan itu ide bagus tu," timpal minggus
" beta setuju kitong kasih om semuel yang jahit biar dia pung model bagus, lagian kalau dengan om samuel pasti murah" saya menambahkan sambi seyum
Sementara Alex masih bingung dia berpikir bagaimana cara dia sampaikan ke ibunya kan dia fobia warna hitam
" Kawan dong bosong punya ide bagus tapi beta yang bingung omong apa dengan mama tua di rumah? Timpal Alex yang masih ragu.
Akhirnya kami sepakat besok harus beli kain untuk di jahit
Keesokan harinya kami berempat sudah kumpul berboncengan ke kota untuk beli kain bahan seragam kami.
Saya berboncengan dengan Alex
Setelah kami menemukan kain yang cocok kami lanjut ke tempatnya Om semuel untuk ambil ukuran.
Haripun menjelang senja suasana di desa begitu sejuk ditutupi kabut tebal. Maklum daerah kami ketinggian jadi sering ada kabut di sore dan pagi hari. Kami berempat kembali beboncengan ke rumah kami ke tempat Toni dan Minggus setelah itu Alex mengantar saya ke rumah.
logo-kompasianalogin
DAFTAR
Denny Malelak
Denny Malelak
Berkarya tanpa batas dan menjadi ispirasi
AKUN DIBLOKIR
Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.
Karyawan swasta
CERPEN
Cerpen: Petualangan Empat Sahabat
16 Juni 2020 07:03 Diperbarui: 16 Juni 2020 07:03 521 59 11
Saya, Toni, Robi,dan Alex. Kami adalah empat sekawan yang sangat akur dan memiliki selera yang sama soal speda motor
Kemana mana selalu bersama.
Sedikit perkenalan tentang kami
Toni anaknya pendek pintar, suka membantu, tapi sesedikit usil. Kalau ada dia sudah pasti seru, pandai menembak dan merayu.
Robi anaknya sedikit pendiam dan lebih sering di kerjain dia juga anak yang cukup pandai di sekolah dia lebih banyak baca buku komick khususnya detektif conan entah sudah berapa seri dia sudah baca tapi yang pasti buku komiknya cukup banyak dan tak pernah lepas dari tangannya.
Alex anaknya sedikit nakal dan suka nyari nyari persoalan yang ujung ujungnya nanti perkelahian antara kami dan geng motor lainnnya yang ada di tempat kami. Maklum dia anak tunggal dan berasal dari keluarga mampu yang singgle parent karna ayahnya meninggal waktu Alex lulus SMP .Walaupun dia nakal seperti itu tapi dia takut gelap dan fobia terhadap warna hitam.
Sedangkan saya adalah penyeimbang suka dengan ketenangan dan kadang mereka juluki saya penasehat hehehehe
Tetapi kelemahan saya adalah sama wanita
Gak bisa tahan kalau lihan cewek cantik atau manis pasti tergoda heheheh
Sekalipun kami berempat paling usil dan suka bikin onar di kampung tapi sebagai pemuda tanggung kami wajib ikut kelas Katekasasi Sidi ( Istila dalam gereja bagi pemuda pemuda yang mau ambil bagian dalam pelayanan Sakramen kudus ) dan kami berempat dinyatakan lulus untuk ditabis atau di perhadapkan pada Tuhan dan Jema'at bahwa kami telah mengaku dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kami.
Acara pentabisan dijadwalka 3 bulan kemudian dan telah di sepakati dengan suara terbanyak menggunakan pakaian seragam Putih Hitam ( Celana hitam, baju putih ) kita lupa kalau Alex fobia warna hitam tapi karna suara terbanyak yang di pakai terpaksa kami terima keputusan itu.
Alek panik dan bingung antara mau atau tidak ikut acara pentabisan, tetapi karna kami bertiga memberikan dia masukan dan pertimbangan akhirnya dia mau menggunakannya tetapi dengan syarat pada saat memakai celana matanya harus di tutup supaya dia tidak lihat celana hitamnya.
" Teman teman bagimana kalau kitong beli kain ko jahit saja biar model sama dan bagus kan masih 3 bulan lagi" Toni buka percakapan
" Betul kawan itu ide bagus tu," timpal minggus
" beta setuju kitong kasih om semuel yang jahit biar dia pung model bagus, lagian kalau dengan om samuel pasti murah" saya menambahkan sambi seyum
Sementara Alex masih bingung dia berpikir bagaimana cara dia sampaikan ke ibunya kan dia fobia warna hitam
" Kawan dong bosong punya ide bagus tapi beta yang bingung omong apa dengan mama tua di rumah? Timpal Alex yang masih ragu.
Akhirnya kami sepakat besok harus beli kain untuk di jahit
Keesokan harinya kami berempat sudah kumpul berboncengan ke kota untuk beli kain bahan seragam kami.
Saya berboncengan dengan Alex
Setelah kami menemukan kain yang cocok kami lanjut ke tempatnya Om semuel untuk ambil ukuran.
Haripun menjelang senja suasana di desa begitu sejuk ditutupi kabut tebal. Maklum daerah kami ketinggian jadi sering ada kabut di sore dan pagi hari. Kami berempat kembali beboncengan ke rumah kami ke tempat Toni dan Minggus setelah itu Alex mengantar saya ke rumah.
Secepat kilat kami sudah sampai di rumahku
Alex belum langsung pulang dia kelihatan masih menyembunyikan sesuatu
" Bro beta bingung new " Alex buka percakapan sambil duduk di pondok
" Bingung apa lagi Kawan? Beli kain sudah, ukur badan sudah, terus ada apa lagi yang lu bingungkan? Tanya ku
" Bukan begitu bro, Masalahnya beta curi mama punya uang itu, karna beta takut omong dengan mama kalau mau beli kain hitam. Bro kan sendiri beta fobia hitam
Mama pasti tidak percaya makanya beta curi mama tua pung uang." Jawab Alex menjelaskan
" Oh ... begitu masalahnya? Gampang bro.
Sekaran bro pulang omong sama mama. Bilang tadi beta ambil mama pung uang pakai beli kain untuk hari pentabisan, karna beta takut mama tidak percaya, jadi saya ambil mama punya uang" jawabku memberikan saran.
" Ok .. bro makasih sarannya" wajahnya kembali ceriah
" Kalau begitu beta pulang ew Bro"
" Ok... ingat nanti malam balik lagi kesini dengan Toni dan Minggus" balas ku
" Ok ... Siiiip" jawab Alex meyakinkan
Alex lansung menuju sepeda motor dan kemudian tarik gas dan kabur secepat kilat.
Saya kemudian berbaring di pendopo disamping rumah dan tertidur lelap tebuai mimpi
Tidak sampai lima menit tiba tiba ada bunyi kepaaaaaaak.
Saya langsung berlari ke jalan rupanya Alex menabrak Pohon lontar karna menghidari sapi yang tiba tiba menyebrang jalan.
Saya langsung berlari ke arah Alex yang sudah terkapar tak berdaya. Darah segar yang mengalir dari mulut dan telingah tak henti hentinya.
Tidak lama kemudian datang warga membantu saya untuk mengevakuasi Alex dengan bantuan mobil pick up om Anton. Maklum di kamplung susah dapat ambulace. Kami langsung ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sementara warga yang lain menemui ibu Alex.
Setelah sampai puskesmas Alex langsung ditangani oleh dokter yang kebetulan belum pulang ke kota.
Tidak lama kemudian ibu Alex datang bersama Toni dan Minggus
Ibu Alex langsung memeluk saya dan terus menangis baju kaus putih yang saya pakai berubah jadi merah akibat darah Alex yang terus mengalir selama perjalanan menuju puskesmas.
Kira kira sekitar satu jam kemudian dokter yang menangini Alex keluar.
" Mama ... Masa kritis Anak mama sudah lewat hanya dia belum sadarkan diri mama dan keluarga boleh lihat kedalam" kata dokter memberikan harapan
" Oh.... baik .... terima kasih dokter" balas mamanya Alex
Sampai di ruangan tangis mamanya Alex semakin menjadi jadi
Sementara suster tetap memperhatikan selang yang memompa darah Alex yang belum sadar ... sekitar 30 menit kami didalam ruangan itu tiba tiba
" bro ... bro... Tas saya mana" panggil Alex menanyakan tasnya
" Ini tas kamu" jawab ku sambil menunjukan tasnya
" To..long ...ambil...kain...hitamnya didalam tas" suara Alex tersengal sengal
rupanya kain hitam yang di beli tidak di tinggalkan di om semuel
Saya pun segera mengambil kain dan memberikan kepada Alex
Alex meraih kain itu terlihat air matanya mengalir membasahi pipinya
" Ma... Alex ....minta ...maaf sudah curi uang mama untuk beli kain ini" suara Alex meminta maaf pada ibunya.
Ibu Alex yang sejak tadi menangis malah semakin menjadi karna tidak tega melihat keadaan anaknya.
" Bro tolong selimuti saya pakai kain ini saya dingin"
Saya, Toni , Minggus langsug sigap melakukan permintaan Alex.
Kemudian perlahan mata Alex tertutup
Menarik napas tersengal sengal seperti sesak... kemudian berhenti
Kami semua larut dalam kesedihan tangis kami makin pecah kami tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Mamanya Alex sudah meronta ronta tak rela anaknya pergi begitu cepat.... tiba tiba ada suara
" Bro ... bro kenapa kalian menagis" sayakan
Belum meninggal
Saya mau bilang ke kalian.
" Pakai Hitam Siapa Takut....!!
Tiba tiba kaki ku di gelitik dan ditepuk tepuk
Aku pun terbangun dari tidurku
Rupanya Alex, Minggus, dan Toni sudah ada di depanku..... Ahhh ternyata aku mimpi