Di sebuah sekolah menengah atas, terdapat suatu perayaan yang berlangsung di dalam ruangan aula. Tampak ruangan begitu dipenuhi oleh para murid kelas tiga yang sudah selesai dari masa belajar wajibnya. Fika, salah satu siswi sekolah itu melihat langsung acara tersebut dari belakang kerumunan. Dirinya menyaksikan keberlangsungan sesi acara tersebut. Perayaan kelulusan itu begitu meriah dengan berbagai penampilan. Fika melihatnya dari awal mula acara diselenggarakan. Ada tujuan lainnya selain melihat momen acara kelulusan itu. Terutama pada seorang siswa laki-laki bernama Konan. Lelaki tersebut kini telah lulus dari sekolah menengah. Terlihat oleh kedua mata Fika sosok dirinya di bagian depan. Gadis remaja itu hanya diam sembari memikirkannya.
"Dia sudah lulus dari sekolah ini. Kini sudah saatnya kami tidak berada di satu tempat yang sama lagi." gumam Fika dalam hati.
Waktu sudah memasuki tengah hari. Para murid kelas tiga pergi keluar ruangan aula untuk beristirahat sejenak. Fika mengikuti Konan melangkah dari belakang. Tampak dia sedang asyik berbicara dengan teman-temannya. Melihat kebahagian yang terpancar diwajahnya, membuat Fika turut ikut senang meski dirinya juga merasa sedih di lain sisi.
"Dia tampak begitu senang di hari terakhirnya bersekolah disini. Aku senang melihatnya bahagia. Akan tetapi aku juga menghadapi sisi lain yang mana diriku akan berpisah dengannya." gumamnya.
Konan berjalan menuju kantin, dan Fika mencari tempat agar bisa memantau laki-laki itu.
"Aku rela bolos kelas demi bisa memperhatikanmu sepenuhnya di hari terakhir ini." pikir Fika sembari melirik.
Usai istirahat, Konan berjalan kembali menuju ruangan aula bersama teman-temannya. Mereka masih sibuk bercerita seiring berjalan ke lokasi.
Gadis itu masih mengikuti dari belakang secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.
Sesampainya di dalam ruangan, acara pun kembali berlanjut dengan penampilan dari berbagai ekskul yang ada oleh para adik kelas.
Suara riuh tepuk tangan terdengar sesekali sesudah penampilan selesai. Dan di akhir acara terdapat pidato akhir dari siswa terbaik kelas tiga tahun ini. Fika mendengarkannya dengan seksama. Setelah itu, para murid kelas tiga itu pun memberi hormat terakhirnya sebelum pergi.
Para murid melangkah keluar dengan memegang sebuah surat kelulusan yang diikat dengan baik.
Mereka berjalan beriringan dan meluapkan berbagai emosi serta ekspresi sesudahnya diluar ruangan aula.
Fika melihat itu semua. Ia lantas juga berpikir akan dirinya yang akan tamat tahun depan tersebut.
"Aku akan merasakan hal yang seperti ini? Penuh luapan berbagai emosi serta suasana haru bercampur jadi satu dalam sehari." bisik Fika.
"Ya. Kamu akan merasakan hal yang sama kelak."
Kata seseorang dari belakang.
Fika menoleh ke arah belakang. Dan terlihatlah olehnya rupa seseorang yang mengejutkannya itu.
"Kak Konan?" kejutnya.
Sekarang Konan berada di depan pandangannya begitu dekat. Dalam sekejap lelaki itu memegang sebelah tangan dari Fika dan membawanya berjalan menuju suatu tempat. Menaiki anak tangga agar sampai ke tempat tujuan. Dan terlihat sebuah pintu menuju sebuah atap sekolah.
Ciri khas sekolah menengah layaknya komik romantis yang menjadi kesukaan dari seorang Fika itu, kini terealisasikan. Gadis itu tak menyangka bahwa dirinya dibawa oleh siswa laki-laki yang merupakan idamannya selama ini.
"Maaf membawamu secara tiba-tiba kesini." kata Konan pada Fika.
Fika hanya diam tanpa gerak.
"Kamu kenapa diam? Apa kamu merasa gugup?"
tanyanya.
Fika mengangguk sebab sulit untuk berkata saat ini.
"Ini seperti komik yang kubaca akhir-akhir ini. Apakah ini beneran nyata terjadi? Lalu apakah nanti ada adegan layaknya komik yang kubaca itu?" pikir Fika penuh sangka.
Kemudian, Konan lanjut bicara.
"Hari ini adalah hari terakhir dimana aku berada disini. Kamu pasti tahu itu kan." Konan memandang suasana sekitar.
Fika masih merespon dengan anggukan kepala tanpa sepatah kata.
"Kamu masih tidak ingin bicara ya? Seberapa besar gugupanmu itu?" Tanya Konan sekaligus penasaran.
"Aku memang sulit berkata-kata untuk saat ini! Bagaimana ini?!" Fika gugup tak karuan.
Terlihat wajah Fika memerah setelah Konan memegang sebelah pundaknya dengan pandangan penuh kharismanya.
"Kamu tidak apa-apa kan?"
Segala pertanyaan tidak bisa dijawab dengan kata-kata. Wajah Fika pun mulai memerah karena rasa malu dan terkena akan pesona dari Konan tersebut.
"Wajahmu mulai memerah. Kamu baik-baik saja kan?" Konan lanjut bertanya mengenai keadaan Fika.
Dalam sekejap, gadis itu pingsan dan membuat Konan terkejut karenanya.
Mata terbuka secara perlahan, tampak langit terbentang luas diiringi awan diatasnya. Warna sudah berubah menjadi jingga. Fika memandang ke sebelahnya, dan tersadar akan keberadaannya kini.
Area atap sekolah dengan posisi tengah berbaring diatas kedua kaki dari lelaki idamannya tersebut. Matanya terbelalak dalam kejutnya.
"Dia sedang tidur? Jadi selama ini aku tidak sadarkan diri karena tadi? Apakah adegan itu sudah terjadi saat aku tidak sadarkan diri?" Tanya Fika pada diri sendiri.
Seketika Konan terbangun dan memandang Fika di dekat kakinya.
"Kamu sudah siuman ya." kata Konan.
Fika bangun dan memandang ke arah lain. Dirinya tidak tahu harus berkata apa layaknya adegan romantis.
"Aku tidak tahu mau mengatakan apa. Terlebih berbaring diatas kedua kaki dari kakak kelas idamanku selama ini." gumamnya.
Konan memanggilnya untuk duduk di sebelahnya.
"Mau sampai kapan kamu menghindar terus? lebih baik kamu duduk di sebelahku sini." Ajak Konan.
Fika duduk disebelah lelaki bernama Konan itu. Dan mulai mengobrol. Kali ini Fika mesti meresponnya dengan kata-kata setelah Konan mengancam dia akan pergi bila Fika masih tidak mau angkat bicara.
"Apa yang membuatmu mengikutiku selama seharian ini?" Tanya Konan padanya.
Fika terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mulai menjawab.
"Aku hanya ingin melihat hari terakhirmu berada disini sepenuhnya." Jawab Fika.
"Lalu? Pasti ada latar belakangnya bukan? katakan padaku dengan jujur." lanjut Konan.
Awalnya Fika tidak mau mengatakannya. Namun, saat melihat Konan tengah bersiap untuk bangkit berdiri, Fika langsung menahannya dan berkata sejujurnya.
"Baiklah! Aku akan mengatakannya." Ucap Fika yang tak mau Konan pergi.
"Ini berlatar belakang sebuah perasaan dariku. Jadi aku..."
Fika sulit mengungkapkannya. Akan tetapi Konan masih saja ingin bangkit berdiri untuk meninggalkannya sebagai ancaman yang ia katakan sebelumnya.
"Iya iya! aku akan mengatakannya langsung padamu. Jadi tolong dengarkan!" ucap Fika.
"Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama! apakah kamu puas?!" ungkap gadis itu dengan terpaksa.
Konan tersenyum dan menatap gadis itu dengan tatapan hangat.
"Aku sangat puas mendengarnya langsung dari mulutmu itu." Ucap Konan.
Fika deg-degan setelahnya, apakah perasaannya akan diterima oleh seorang Konan?
Sore itu di atap sekolah. Duduk berdua sembari memandang satu sama lain dengan jarak sangat dekat, Suasana yang begitu hangat dirasa keduanya yang larut dalam bak adegan romantis. Perlahan lelaki yang merupakan kakak kelasnya itu mulai mendekatkan wajahnya ke gadis yang merupakan adik kelasnya itu.
"Ini adalah adegan terakhir dariku sebelum meninggalkan tempat ini untuk terakhir kalinya. Pertemuan kita di sekolah ini akan berakhir, akan tetapi hubungan antar kita berdua baru saja mulai terjalin secara nyata. Jadi kamu tidak perlu sembunyi lagi dan menjalani cinta dalam diam semata. Aku menyukaimu sedari awal layaknya dirimu terhadapku." Ungkap seorang Konan.
Dan adegan pun ditutup dengan sebuah adegan sentuhan bibir yang ditutupi dengan sebuah surat kelulusan.
-----SELESAI-----