Sebut saja nama gue, Shandy.
Ini kisah di tahun 2008. Udah lama sih, tapi semua ini masih membekas dalam ingatan gue sampai sekarang.
Ditahun itu, gue kuliah smester 4. Harusnya sih udah smester 6. Tapi berhubung gue tamat SMA di usia 16 tahun, gue akhirnya nganggur dulu selama satu tahun.
Gue bermaksud untuk menenangkan diri, setelah belasan tahun gue duduk di bangku sekolah dengan segala pelajarannya yang bikin gue muak.
Pada saat gue kuliah itu, gue nyambi kerja part time di hari sabtu dan minggu. Sebenernya orang tua gue tergolong mampu. Tapi karena gue rantauan dan agak segan kalau mau minta duit terus sama orang tua, gue mencari tambahan dengan bekerja si sela-sela libur kuliah.
Dari mulai SPG, Usher sampe jadi MC wedding pun gue lakoni. Semata untuk mencari cuan, agar gue bisa sesekali belanja ke mall. Tanpa harus ngabisin uang kiriman orang tua.
Suatu ketika, gue nge MC di sebuah acara kawinan. Ternyata yang punya hajat menyewa MC satu lagi, untuk jadi temen gue selama bawain acara. Nggak ada pemberitahuan sebelumnya. Pihak Wedding Organizer yang menyewa gue pun, nggak ada bilang apa-apa. Tapi acara hari itu berlangsung aman dan lancar.
Ivan, itu nama cowok yang nge MC bareng gue. Dia baik, ganteng, tinggi dan kuliahnya di deket kampus gue. Setelah acara tersebut, gue sama dia jadi sering kontek-kontekan. Bahkan sering ketemu di kampus. Karena dari kampus dia ke kampus gue itu kepleset nyampe.
Karena sering nge job bareng, lama kelamaan gue dan Ivan semakin akrab. Bahkan kita sering jalan bareng, sekedar makan diluar atau nonton. Suatu ketika, Ivan ngajak gue kerumahnya.
Disana gue disambut baik oleh keluarganya yang ramah. Ivan tinggal dengan orang tua dan kedua kakaknya, Andri dan juga Jenny.
Tiga kakak lainnya sudah menikah dan tinggal di tempat yang berbeda. Awal main kerumahnya, diisi dengan sesi yang jawab. Tentang siapa gue, tinggal dimana dan kegiatan gue sekarang apa. Orang tua nya pengen tau siapa gue.
Lama kelamaan, ketika gue udah dua atau tiga kali kesana. Kedua kakaknya mulai sering nimbrung dan kita kadang bercerita banyak hal, termasuk cerita horror.
“Rumah ini ada hantu nya tau, dek” ujar kak Jenny suatu ketika.
Gue yang belum pernah melihat hantu secara nyata pun hanya menjawab.
“Oh iya kah kak?”
“Iya, Mas Andri noh pernah ngeliat juga. Iya kan mas?” Kak Jenny meminta jawaban kakaknya.
“Iya bener” ujar Mas Andri dengan mimik wajah yang serius.
“Bentuknya kayak apa mas?” tanya gue penasaran.
“Mbak Kunti."
“Kuntilanak?”
“Iya, duduknya persis ditempat Shandy duduk."
“Oh."
Gue diam sejenak. Tapi karena gue bukan tipikal cewek penakut lebay, gue nggak beranjak sedikitpun dan masih duduk ditempat itu.
Gue pikir, mungkin mereka mau nakutin gue. Karena gue adalah orang yang baru mereka kenal. Obrolan pun berlanjut.
Hari demi hari berlalu, gue makin sering main kerumah Ivan. Suatu ketika gue dan dia ada job nge MC bareng lagi, di sebuah acara wedding di kawasan Jakarta Timur. Nggak jauh dari rumah Ivan.
Saat itu acaranya cukup malam dan selesai ketika sudah larut. Gue dan Ivan nggak langsung pulang. Sehabis acara itu, gue sama dia malah ngopi di sebuah kafe yang buka 24 jam.
Kita ngopi sampai menjelang subuh. Karena dekat dengan rumahnya, Ivan menawari gue untuk istirahat dirumahnya. Gue pun mengiyakan.
Saat sampai dirumah Ivan, ibunya sudah bangun karena sudah mepet waktu subuh. Kita pun jadi beribadah bareng. Abis itu gue basa basilah sama ibunya sampe kita sarapan pagi bareng.
Abis bantuin ibu dan kakaknya, karena semalaman nggak tidur. Gue permisi untuk tidur sebentar, sebelum pulang ke rumah gue. Karena gue naik motor dan khawatir nabrak, kalau gue mengemudi dalam keadaan ngantuk.
Kebetulan di kamar kak Jenny ada kakak mereka yang pertama sedang menginap, gue disuruh tidur di kamar Ivan. Akhirnya gue pun tidur dikamar Ivan, yang ada di bagian belakang deket dapur. Pintu kamar itu gue buka, karena takut terjadi apa-apa.
Emang sih, Ivan itu anak baik dan dia sahabat gue. Dia nggak pernah ganjen atau apapun. Tapi buat menghindari fitness alias fitnah, pintu kamar itu gue buka dan gue tidur. Gue tidur di kasur lantai, karena Ivan nggak suka ada ranjang di kamarnya. Apalagi ranjang yang ada kolongnya. Ivan bilang dia takut, kalau-kalau si kunti penghuni rumah bersarang di kolong ranjangnya.
Gue sih ketawa aja waktu dia ngomong kayak gitu. Abis itu gue tidur nyenyak banget. Gue nggak tau kalau Ivan yang semula bermain HP disisi gue, juga ketiduran.
Sampai kemudian,
“Plaaaakk....”
Gue merasakan tamparan keras banget di pipi kanan dan kepala gue. Refleks gue terbangun dan ngeliat Ivan, yang lagi menatap gue nggak berkedip. Ekspresinya juga kayak orang kaget, yang berusaha memastikan sesuatu. Sumpah saat itu gue bingung, koq bisa-bisanya Ivan yang cowok nampar gue sekuat itu.
“Lo kenapa Van?” tanya gue kemudian. Ivan masih menatap gue, nafasnya memburu kayak orang yang dikejar Satpol PP.
Ivan nggak menjawab sepatah pun. Dia menghidupkan lampu karena memang sudah sore dan hari sudah lumayan gelap. Dia lalu keluar dan mengambil air minum. Gue yang takut kalau berbuat salah saat tidur tadi pun, akhirnya keluar. Gue samperin Ivan yang sedang duduk di meja makan.
“Van, koq lo nabok gue sih?” tanya gue lagi. Gue bener-bener penasaran.
“Maafin gue, Shan. Tadi pas gue noleh, rambut lo panjang dan lo cekikikan. Mata lo melotot."
Gue diem, karena saat itu rambut gue pendek dibawah telinga dan gue ngerasa gue tidur. Gue berusaha menemukan kebohongan di mata Ivan, tapi terlihat jelas dia masih ketakutan. Dia nggak bohong sama sekali. Akhirnya gue berhenti bertanya.
Mungkin Ivan mimpi karena kami kecapean kerja kemaren, dan semalem kami nggak tidur sama sekali.
Drama kunti pertama pun selesai, hari-hari kembali berlalu. Gue bahkan sudah melupakan kejadian tersebut. Suatu ketika gue nginep lagi dirumah Ivan, tapi gue tidur dikamar kak Jenny.
Kak Jenny sendiri sedang dinas malam, karena dia seorang perawat di sebuah rumah sakit. Gue tidur sendiri, pintu kamar gue kunci. Disana tempatnya nyaman, ada AC dan ranjangnya besar.
Gue tidur nyenyak banget. Sampe ketika suasana kompleks mulai hening, entah kenapa gue terbangun. Tapi keadaan gue masih ngantuk berat. Gue perlahan memejamkan kembali mata, dan tiba-tiba dari arah pintu, sesosok hitam, tinggi berbulu tampak menembus pintu dan berjalan ke arah gue.
Gue yang ngantuk berat tiba-tiba seperti terkunci, gue nggak bisa gerak sama sekali. Sosok hitam itu naik ke tubuh gue, menekan dada dan seketika nafas gue sesak banget.
Gue nggak bisa teriak atau ngomong apapun. Karena makin terdesak dan sulit bernafas. Sekuat tenaga gue mengangkat tangan makhluk itu dan gue bangun.
Makhluk itu jatuh, merayap nembus pintu. Gue yang udah kebakar amarah pun membuka pintu kamar. Gue kejar makhluk itu, gue jambak dan gue tendang-tendang. Gue dendam banget, mengingat saat dia bikin gue nggak bisa nafas beberapa saat yang lalu.
“Mampus lo, mampus, mampus, Haaahh."
“Bak-buk, bak-buk." gue tendang.
“Shandy, Shandy...”
Tiba-tiba banyak suara yang gue denger. Gue pun tersadar disana sudah ada Ivan, kedua orang tua nya dan juga mas Andri. Gue celingukan. Dan seketika gue menyadari ada rasa sakit di area kaki gue.
Ternyata gue menendang lemari jati yang ada diruang tengah. Sampai kaki gue bengkak dan kuku gue membiru. Gue terduduk lesu, ibu Ivan memberi gue minum. Gue didudukin diruang makan dan ditanyai oleh orang tua Ivan, mas Andri dan juga Ivan sendiri. Gue ceritain semuanya. Tapi pada akhir cerita gue bilang,
“Mungkin saya mimpi." ujar gue kepada orang tua Ivan dan juga mas Andri.
Sumpah itu kaki gue bengkak selama seminggu. Udah dua kali kejadian dirumah yang sama, dan masih aja gue menghubungkan semua itu dengan logika.
“Ah mungkin gue kecapean, mungkin banyak pikiran." pikir gue saat itu.
Gue emang tambeng dan selalu bisa berfikir positif, apapun keadaan yang gue sedang hadapi.
Setelah itu, gue banyak SPG an dan Ivan sendiri banyak ngambil job ditempat lain. Ada mungkin sekitar 4 bulanan gue nggak ketemu Ivan.
Kadang dia ngampus dan gue libur, begitupula sebaliknya. Sampe saat kuliah pun, gue dan dia jarang ketemu. Tapi kita masih kontekan, entah cuma sekedar SMS atau nelpon.
Setelah empat bulan berlalu, akhirnya gue dapet job lagi bareng Ivan. Gue jadi sering nginep lagi ditempatnya, nggak ada kejadian apapun lagi. Sampai suatu ketika, saat gue lagi main kesana.
Tiba-tiba demam tipes gue kambuh. Dua bulan belakangan gue mengidap tipes lantaran pola makan yang berantakan, dan juga gue suka jajan sembarangan. Mungkin gue terkontaminasi virus, saat gue entah lagi makan dimana.
Hari itu sebenernya gue nggak ada rencana nginep. Tapi berhubung gue tipes dan nggak kuat untuk pulang, gue permisi ke ibunya Ivan untuk numpang nginep dan istirahat. Tentu saja gue diizinkan, gue minum obat, abis itu tidur di kamar kak Jenny. Kebetulan dia dinas malam lagi saat itu.
Habis minum obat tipes, gue ngantuk parah. Tapi anehnya gue nggak bisa langsung tidur. Mata gue berat, tapi kesadaran gue belum juga mau minggat. Otak gue masih terjaga, sesekali mata bandel gue masih aja mau kebuka.
Sementara saat itu jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Mata gue masih aja kebuka ujungnya.
“Kreseeekkkk...”
“Kraaaaak”
Gue mendengar sesuatu di pojok kamar. Tepatnya di ujung sisi kiri. Gue yang sayup-sayup melihat ada yang bergerak disana. Di dekat gumpalan baju-baju kak Jenny yang belum disetrika, warnanya putih.
“Ah seragam kak Jenny kali” pikir gue.
“Tapi koq agak dekil ya? Masa iya sih kak Jenny perawat baju-bajunya dekil." pikir gue.
Gue sudah niat memejamkan mata, sampai akhirnya gue menyadari mata gue seolah terkunci. Gue sama sekali nggak bisa gerakin mata gue. Mata gue terus terbuka ujungnya sehingga gue bisa melihat ke arah pojok kamar tersebut.
Dan baru aja gue hendak menutupkan mata gue dengan tangan. Saat itu juga tubuh gue kembali nggak bisa bergerak sama sekali. Gue panik, gue mengira diri gue terserang stroke. Dan lo tau apa yang gue liat selanjutnya?
Kuntilanak.
Ya, dia muncul dari tumpukan pakaian kak Jenny laku merayap didinding. Gue berusaha keras menutup mata gue supaya nggak ngeliat makhluk itu. Tapi mata gue seolah terkunci, dan dia terus merayap ke atas plafon. Sampe akhirnya berada tepat diatas gue.
Dan dia menoleh ke bawah, tepat ke muka gue. Rambutnya hampir mengenai muka gue. Mukanya item kayak angus ke bakar, dia ketawa cekikikan.
Gue berusaha membaca doa-doa. Tiap gue baca dia makin ketawa cekikikan. Sampe akhirnya gue capek dan gue bilang,
“Bodo amat lu."
Tiba-tiba mata gue bisa nutup, gue tidur nyenyak sampe pagi. Badan gue juga udah enakan. Saat pagi hari gue bangun, gue mencoba mengingat peristiwa semalam.
“Alah palingan juga gue karena pengaruh obat tipes. Karena gue lagi sakit aja kali, makanya halu."
Gue bilang itu dalam hati. Gue diem aja dan nggak cerita apa-apa sama orang rumahnya Ivan, termasuk Ivan sendiri.
Pagi itu gue, Ivan dan keluarganya sarapan seperti biasa. Abis itu gue mandi. Pada saat gue mau berangkat pulang, kita duduk-duduk dulu di teras rumahnya Ivan. Tiba-tiba tetangga yang berjalan entah hendak kemana, menghentikan langkahnya di depan rumah Ivan.
“Bu Rieke."
Ia memanggil ibunya Ivan yang saat itu tengah minum teh bareng gue, dan Ivan.
“Iya Bu Andini, kenapa?”
“Denger nggak semalem suara cekikikan?”
“Deeeggghh."
Guee diem, gue denger semalem dan itu terjadi di depan mata gue. Tapi gue masih mengingkarinya dan menganggap itu semua hanya halusinasi belaka sampe detik ini.
“Nggak bu." jawab Ibu Ivan.
Mimik wajah ibu Ivan menyatakan dengan jujur, bahwa ia memang tak mendengar apapun semalam.
“Kamu denger, Van?” tanya Ibunya pada Ivan.
“Nggak ma."
Ivan juga memberikan ekspresi yang sama meyakinkannya seperti ibunya.
“Shandy denger?” Tiba-tiba ibunya melontarkan pertanyaan kepada gue yang masih begong.
“Ahhh nggak tante, saya nggak denger apa-apa."
Gue berdusta. Gue nggak ke pengen tetangga Ivan jadi ketakutan.
“Saya denger buk, kenceng lagi suaranya. Arahnya dari rumah ibuk. Sebelah sini."
Dia menunjuk ke arah kamar kak Jenny, yang gue tempatin semalem.
“Nggak ada bu, kita nggak denger apa-apa." ujar ibu Ivan sekali lagi.
Tetangga tersebut pun akhirnya berpamitan.
Gue masih diam, gue nggak tau apa yang sebenarnya udah terjadi. Apakah ini emang benar atau murni hanya halusinasi gue aja. Kalau gue halu, kenapa tetangga juga mendengar hal yang sama. Kalaupun iya, kenapa Ivan dan ibunya nggak denger.
“Ah bodo amat ah.” ujar gue dalam hati. Tak lama gue berpamitan.
Saat gue sudah menyalakan mesin motor dan siap tancap gas, gue menoleh sekali lagi kepada Ivan dan ibunya guna memberi salam.
Dan saat gue menoleh tersebut. Gue ngeliat sesosok yang berdiri di balik gorden ruang tamu. Pada saat itu semua penghuni rumah sudah pergi kecuali Ivan dan ibunya. Gue buru-buru memutar gas dan byuuuuur , gue pulang kerumah.