GINJALKU GINJAL IBUKU
Karya: @bulanramadhani_10
Aldi adalah anak kedua dari dua bersaudara. Aldi adalah seorang pemuda yang durhaka kepada ibunya namun tidak dengan ayahnya, karena ayahnya selalu menuruti keinginannya. Ia tidak pernah menuruti dan mendengarkan kata-kata ibunya, ia berfikir kalau ibunya tidak tau apa yang ia inginkan. Ia juga pernah membuat ibunya jatuh sakit karena ulahnya.
Suatu hari keluarga Aldi bergotong royong membersihkan rumah, karena memang setiap dua minggu sekali keluarganya bergotong royong membersihkan rumah. Aldi mendapatkan tugas membersihkan gudang dengan kakaknya perempuannya yang bernama Sara.
Aldi mendapatkan tugas membersihkan rak buku yang sudah lama tidak dipakai, sedangkan Sara menyapu lantai dan membersihkan almari yang sudah lama tidak dipakai pula. Saat memilah-milah buku Aldi menemukan sebuah album berwarna biru yang sudah usang dan berdebu di dalam rak buku.
Dari sekian banyaknya buku dan album, hanya album itu yang membuatnya penasaran. Ia menanyakan kepada kakaknya, tetapi kakaknya tidak mendengarkannya karena memutar musik yang terlalu keras. Hanya saja kakaknya bericara agar Aldi cepat mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai. Aldi hanya terdiam dan menyimpan album itu karena belum sempat membukanya sedikitpun.
Setelah menyelesaikan tugasnya ia menyuci tangan dan kakinya serta bergegas ke kamar karena ia ingin cepat membuka isi album biru tadi.
Ia membuka lembar demi lembar album itu, ternyata album itu berisi fotonya bersama ibunya. Album itu berisi pertumbuan dirinya dari saat ibunya mengandungnya, saat melahirkannya, saat pertama kali ia bisa berbicara, berjalan merangkak, belajar berjalan, sampai saat pertama kalinya ia masuk sekolah dasar. Ia memandangi semua gambar-gambar dirinya yang masih kecil, suci, dan belum ternodai.
Ia melihat kasih sayang yang begitu tulus dari ibunya kepadanya. Ibunya selalu melindunginya saat dalam bahaya bagaimanapun keadaannya bahkan saat ibunya sakit sekalipun, ibunya tetap melindunginya ibunya selau berusaha membahagiakannya walaupun ibunya sendiri tidak bahagia.
Saat sedang melihat isi album itu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Aldi yang ternyata adalah Sara, kakaknya. Aldi membiarkan Sara membuka pintu kamarnya. Sara menanyakan kepada Aldi apakah ia sudah makan atau belum dan Aldi menjawab bahwa ia belum makan. Sarah menyuruhnya untuk makan tetapi Aldi tetap meneruskan melihat isi album itu.
Sara yang tadinya hanya ingin menyuruh Aldi untuk makan malah pelan-pelan memasuki kamar Aldi karena rasa penasaran melihat Aldi yang sangat serius membuka-buka isi album. Sara akhirnya duduk di sebelah Aldi dan ikut melihat isi album itu. Saat melihat album itu, Sara menceritakan kisah Aldi saat kecil bersama ibunya.
“Kamu itu, waktu itu selalu dimanja dan ditimang oleh ibu, saat ingin tidur ibu selalu
menyanyikan untukmu, tangisanmu itu tidak menjadi penderitaan ibu. Kamu selalu ditimang dan di gendong ibu dengan tangannya yang halus dan suci. Bahkan ibu rela mengorbakan jiwa raga dan seluruh hidupnya untukmu, tetapi sudah besar seperti sekarang kamu malah suka membantah ibu. Apa kamu itu tidak merasa kasihan dengan ibu?haa? sudah setelah ini kamu makan!”
Sara mengatakan semua itu dengan perasaan kesal karena ulah Aldi yang selalu membantah ibunya. Aldi hanya dapat terdiam dan merenungi kata- kata kakaknya tadi. Setelah itu Aldi bergegas untuk makan.
Setelah melihat album dan mendengarkan kisah Sara, Aldi selalu memikirkan ibunya, berhari-hari ia memikirkan perkataan kakaknya itu. Aldi pun mulai sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dan merasa durhaka pada ibunya.
Aldi merasa bersalah dan ia bingung bagaimana caranya meminta maaf kepada ibunya. Ia mengungkapkan semuanya melalui coretan tinta di atas buku diarinya. Ia ingin meminta bantuan kepada ayahnya tetapi ayahnya semakin sibuk dengan pekerjaannya. Kesibukan ayahnya itu membuat Aldi tidak diperhatikan lagi.
Akhirnya ia meminta bantuan kakaknya, karena menurutnya hanya Sara yang bisa membantunya untuk meminta maaf kepada ibunya, lagi pula ia juga lebih dekat dengan kakaknya. Namun Sara sudah terlanjur kesal dengan Aldi karena ia selalu membantah ibunya, sehingga Sara tidak mau membantu Aldi.
“Kakak tolong bantu aku untuk meminta maaf kepada ibu ya!“ pinta Aldi
“Tidak, aku tidak mau!“
“Ayolah kak, aku mohon…!“
“Sekali tidak ya tidak, kamu itu sudah banyak berbuat salah kepada ibu, jadi sekarang aku tidak mau membantumu”
Sambil mengerutkan dahi dan melipat kedua tangannya Sara mengucapkan semua itu. Setelah mendengar perkataan kakaknya, ia semakin merasa bersalah. Berhari-hari ia memikirkan hal tersebut, sampai suatu hari ia pasrah ingin bunuh diri dengan cara gantung diri, namun dapat dicegah oleh Sara.
Aldi selalu berfikir bagaimana caranya ia bisa meminta maaf kepada ibunya,sehingga ia lupa makan sampai pada akhirnya ia jatuh sakit. Aldi hanya merenung di kamarnya dan tidak pernah keluar.
Hari demi hari berlalu akhirnya Sara merasa kasihan kepada Aldi yang semakin memburuk keadaannya. Pada suatu hari dengan tiba-tiba Sara menyuruh Aldi untuk bersiap-siap, Aldi tidak mengerti dengan sikap kakaknya itu.
“Cepat ganti baju dan bersiaplah!“
“Untuk apa?“ Tanya Aldi
“Sudahlah nanti kamu akan tahu, cepat bersiaplah!“
“Baiklah“
Entah mengapa Aldi menuruti perkataan kakaknya itu. Ia segera mengusap air matanya, mencuci muka, dan ganti baju. Sesaat setelah ganti baju sayup-sayup Aldi tampak mendengar suara mesin mobil yang sedang dipanasi. Aldi bergegas keluar rumah untuk memeriksanya. Ternyata benar apa yang ia dengar, kakaknya sedang menyiapkan mobil untuk pergi bersamanya.
“Kita mau kemana kak?“ Tanya Aldi
“Sudah masuk aja!“
Aldi masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman. Sepanjang jalan tak sepatah katapun keluar dari mulut Aldi, ia hanya diam dan merenung.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat peristirahatan terakhir ibunya yang berada di kampung halamannya. Ibunya sudah beristirahat dengan tenang di sana.
Sara meminta Aldi berdo’a kepada Allah SWT. agar dirinya diampuni dosa-dosanya kepada ibunya, dan agar ibunya mau mengampuni dirinya. Walaupun Aldi sudah tidak bisa melihat ibunya lagi.
Di situ Aldi menangis sejadi-jadinya, ia menginginkan ibunya kembali, ia hanya ingin meminta maaf dan memeluk ibunya untuk terakhir kalinya. Namun Aldi sadar bahwa hal tersebut akan telihat sangat mustahil.
Ibu Aldi sudah meninggal satu tahun yang lalu, karena beliau telah kehilangan satu ginjalnya yang telah ia korbankan untuk menyelamatkan nyawa anak laki-lakinya yaitu, Aldi.
Aldi baru diceritakan kisah tersebut oleh kakaknya saat itu, dan Aldi sangat terkejut. Ia baru tahu hal tersebut saat itu, karena saat ia sakit gagal ginjal, dokter tidak memberi tahu siapa pendonor ginjalnya. Dokter hanya bilang bahwa si pendonor tidak mau disebutkan namanya. Dan saat ibunya meninggal dokter bilang bahwa ibunya hanya sakit karena kecapeaan. Dokter mengatakan hal tersebut karena ibu Aldi yang meminta.
Ibu Aldi tidak mau Aldi mengetahui hal yang sebenarnya. Karena ibunya tidak mau jika Aldi mencemaskan keadaan ibunya yang hidup hanya degan satu ginjal.
Aldi sangat merasa bersalah kepada ibunya. Setelah mendengar cerita kakaknya, Aldi mulai sadar bahwa ibunya rela mengorbankan nyawa untuk anaknya. Sara menasehati Aldi agar dapat mengikhlaskan kepergian ibunya.
“Sudah, berhentilah menangis, tangisanmu tidak akan mengembalikan ibu yang sudah meninggal. Ada atau tidaknya ibu, ibu akan selalu ada di dalam hati kita, yakinlah..!“
“Baiklah“ Aldi berkata sambal mengusap air matanya.
“Nah begitu, ikhlaskanlah ibu, Insya Allah suatu saat nanti kita akan dapat bertemu dan berkumpul lagi dengan ibu disurga“
“Aamiin“ dengan senyum tipis yang tergambar di wajah Aldi.
Aldi mengusap air matanya dan mulai mengikhlaskan ibunya. Ia yakin bahwa ibunya akan tetap ada di dalam hatinya. Ia berfikir jika ia menjaga kesehatan ginjalnya sama saja ia menjaga dan merawat ibunya.
Sepulang dari makam ibunya, Aldi berubah dari yang tadinya cuek dengan sholat, sekarang ia sangat rajin sholat. Ia rajin mendo’akan ibunya di setiap sujud terakhirnya dan setelah sholat. Ia rajin mengerjakan tugas, ia sering membantu ayah dan kakaknya, menghormati ayah dan kakaknya.
Ia sekarang terihat sangat rajin, karena ia tahu bahwa ibunya melihatnya akan merasa bangga dan merasa tidak sia-sia telah memberikan satu ginjalnya kepada anaknya. Aldi juga sering memandangi foto-foto yang ada di dalam album biru itu.
Jika ia sedang sedih, ia selalu memandangi foto-foto ibunya yang terlihat sangat cantik itu. Di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan apapun ia selalu mengingat ibunya. Ia tidak akan pernah melupakan sosok ibu yang telah rela mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya tercinta.
~TAMAT~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Maaf kakak-kakak kalo ceritanya masi belepotan, maaf juga kalo kurang greget.
Itu sebenernya tugas Bahasa Indonesia kelas 9 ku dulu kak, setelah dua tahun aku pikir sayang kalo cuma aku sama guruku yang baca akhirnya aku memilih untuk bagiin ke kakak-kakak lewat sini siapa tau kalian suka, semuga aja suka ya kak:)
kalo kakak-kakak ada yang ngerasa ngga asing sama kata-kata ato bagian-bagian ceritanya, ini adalah hasil dari tugas "membuat cerpen dari sebuah lagu" kak, jadi ntah kenapa aku milih lagu Bunda dari Melly Goeslaw buat reverensi cerpen aku. Tapi tenang aja kak ini murni karya aku kok, yang aku buat berhari-hari demi dapet nilai bagus hehehehe:"
Sekian kakak-kakak,
Terimakasiii:)))
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~