Gerimis yang mengenai jemari kakiku. Udara dingin menusuk tulang. Aroma tanah yang terguyur hujan. Kuhirup berulang-ulang, kurasakan, kusyukuri. Cuaca yang paling membuatku bahagia sejak sepekan ini. Memudahkan pekerjaanku.
“Haaa.... Huuu...”
Lekat kuhirup udara dengan mulutku. Kesegaran tiada dua disertai kebahagiaan yang mendebarkan. Sensasi bergairah yang membuatku merasa hidup. Kapan lagi aku bisa mendapatkan keadaan sebaik ini. Bahkan suara hujan deras pun terdengar seperti alunan musik di telingaku. Mengiringiku mengayunkan tongkat besi yang kugenggam sepenuh hati. Layaknya seorang konduktor orkestra.
Sementara suara teriakan menjadi nyanyiannya.
Gerakan tangan ke bawah, ke lengan, ke rusuk, ke kaki, ke paha, ke kepala, ke dada. Berulang-ulang, hingga menghasilkan simphoni yang hanya bisa kudengar sendiri. Semua berkat hujan.
Lalu setelah nyanyian dari sang penyanyi berhenti, aku akan pergi. Kembali mencari padanan suara yang indah untuk orkestra hujanku. Ah, ini hal membahagiakan yang harus kubagikan bersamamu.
Dari lubuk hatiku yang terdalam, sebelum nanti hujan berhenti.
“Maukah kau menjadi penyanyi dalam orkestraku malam ini?”
# # # #
TAMAT.