Berawal dari impianku yang sangat kuat untuk membuktikan segala pertanyaan yang selama beberapa tahun ini terus menyangkut di kepalaku, akhirnya aku diberi kesempatan untuk membuktikan dan menjawab pertanyaan itu walaupun dengan cara yang tidak disengaja. Beberapa bulan tinggal di Pulau Raijua, aku sudah mendapatkan jawabannya.
****
Namaku Wanda Hafiza, umurku 26 tahun. Kini aku berprofesi sebagai guru, tahun lalu aku diterima di salah satu sekolah dasar di Jakarta. Aku asli suku serawai, selama 19 tahun aku tinggal di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Saat lulus SMA aku langsung merantau ke Ibu Kota. Guru adalah cita-citaku dari kecil, keinginan terbesarku adalah mengajar seluruh anak-anak di Indonesia.
“Assalamualaikum” ucap kepala sekolah di tempatku mengajar. Kini kami sedang rapat di ruang guru, entah membahas hal apa aku juga belum tahu karena rapat ini mendadak. Sebagian dari kami yang muslim menjawab salam, sedangkan beberapa guru lainnya hanya mengangguk.
“Selamat siang bapak dan ibu guru. Saya selaku kepala sekolah ingin menyampaikan informasi yang baru saja saya dapatkan pagi tadi” Kami semua diam, siap untuk mendengarkan informasi yang akan disampaikan.
“Salah satu guru di sekolah kita mendapatkan kesempatan untuk mengajar di wilayah lain di Indonesia” Kami semua penasaran siapa guru itu, dalam hati aku berharap semoga orang itu adalah aku.
“Ibu Fika telah diberi kepercayaan untuk mengajar di Nusa Tenggara Timur lebih tepatnya di Pulau Raijua” Aku kecewa karena orang yang beruntung itu bukan aku. Aku melihat Ibu Fika di belakangku, wajahnya tampak tidak suka entah apa alasannya, padahal Ibu Fika lebih muda 2 tahun dariku, dia sangat pas untuk mengajar di wilayah lain.
“Pak, apa saya bisa menolak?” Tanya Ibu Fika sambil berdiri membuat pandangan kami teralihkan menatapnya.
“Tapi ibu yang diutus oleh pemerintah langsung bu” Ucap kepala sekolah sedikit panik.
“Tapi pak saya tidak terima” Keluh Ibu Fika, kepala sekolah juga terlihat bingung bagaimana menanggapinya.
“Kenapa Bu Fika menolak? Ibu Fika masih muda Bu” Ucap Pak Ali yang berursia 40 tahunan. Aku kembali melihat Ibu Fika yang kini terduduk lemas di mejanya. Aku sangat menyayangkan penolakan Ibu Fika, karena itu kesempatan menarik menurutku.
“Saya tau daerah itu pak, disana sangat tertinggal, saya tidak mau” Aku menggelengkan kepala mendengar alasan Ibu Fika.
“Itulah tugas kita sebagai guru Bu, kita harus siap ditempatkan dimana saja” Ucapku yang mendapat banyak persetujuan dari guru lain. Aku dapat melihat ketidak sukaan Ibu Fika saat aku berbicara tadi.
“Kalau begitu Ibu Wanda saja yang pergi kesana” Ucap Ibu Fika ketus, aku bingung namun di dalam hatiku aku sangat senang.
“Jadi bagaimana Bu Fika?” Tanya kepala sekolah. Namun tetap saja Ibu Fika tidak mau.
“Kalau Bu Fika tidak mau, saya bersedia menggantikannya Pak” Ucapku lantang. Ku lirik Bu Fika, ia terlihat lega.
“Tapi Bu Wanda, pemerintah meminta Ibu Fika yang mengajar disana”
Setelah perdebatan beberapa lama akhirnya kepala sekolah mengizinkanku untuk menggantikan Ibu Fika. Namun aku belum lega karena masih harus meminta izin pada pemerintah karena yang awalnya ditugaskan bukan aku melainkan Ibu Fika.
****
Sudah sebulan menunggu akhirnya aku bisa menggantikan Ibu Fika. Perasaanku sangat senang, malam ini aku membereskan barang-barangku yang akan ku bawa. Aku diberikan kesempatan mengajar disana selama 2 tahun. Setelah selesai berberes aku menelepon keluargaku di kampung. Aku memberi kabar bahwa aku akan berangkat ke NTT 2 minggu lagi, sebelumnya aku sudah bercerita akan menggantikan Ibu Fika. Ibu dan Ayah ku tidak masalah aku mengajar dimana saja, asalkan aku dapat menjaga diri dan juga tidak melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim yaitu untuk shalat.
Seminggu sebelum berangkat aku pulang ke kampungku untuk berpamitan pada kedua orang tuaku juga kakak dan adikku. Dua hari sebelum berangkat aku kembali ke SD 3 tempat aku mengajar sebelumnya untuk berpamitan pada guru dan juga dengan murid-murid yang sudah bersamaku selama setahun ini. Aku menemui Ibu Fika dan berterima kasih padanya.
“Kenapa berterima kasih dengan aku? Seharusnya aku yang harus berterima kasih denganmu”
“Dari kecil mimpiku menjadi seorang guru, masa sekolah aku sempat menyerah karena nilaiku tidak memuaskan, namun kedua orang tuaku selalu mendukung aku. Saat kuliah dimana aku sudah mengenal lebih dalam internet dan sosial media aku mencari informasi tentang Indonesia dan Negara lainnya, juga menjawab beberapa pertanyaan yang lewat di beranda sosial mediaku.
Dari semua itu keinginanku menjadi guru semakin besar apalagi aku sering menonton film-film pendidikan, dari film itu kebanyakan yang aku jumpai adalah anak-anak di pelosok sana tidak bisa belajar dengan nyaman seperti disini. Aku selalu berandai-andai untuk menjumpai mereka, aku gak tau itu semua sebatas film atau memang kehidupan nyata disana. Dan karena kamu aku akan membuktikan dan menjawab semua pertanyaan yang selalu aku tanyakan itu, terima kasih” Aku malah bercerita dengan Ibu Fika. Ibu Fika terdiam mendengarkan ceritaku itu. Tidak lama Ibu Fika tersenyum dan menggenggam tanganku.
“Kamu memang beda, sangat jauh berbeda denganku yang tidak mau mengambil kesempatan itu, bahkan aku sangat beruntung disaat semua orang berharap mendapatkan kesempatan itu, tapi aku malah menolak dengan alasan tidak mau tinggal di pelosok” Ucap Ibu Fika sedikit malu.
Setelah lama mengobrol dengan Ibu Fika, aku berpamitan dan menjumpai anak-anak kelas 3 dan 4 untuk berpamitan. Mereka tampak sedih saat aku mengucapkan kalau hari ini hari terakhir kami bertemu. Aku juga sedih sejujurnya, namun aku berusaha untuk tersenyum didepan mereka. Aku memberikan beberapa lelucon untuk menghibur mereka, sampai jam istirahat habis aku pun berpamitan. Terlihat dari dalam guru yang mengajar mereka sudah sampai, aku tersenyum dan melambaikan tangan sambil mengucapkan sampai jumpa.
Hari ini aku berangkat ke NTT lebih tepatnya ke Pulau Raijua. Sampai di bandara aku berjalan ke tempat yang sudah kami janjikan untuk bertemu bersama 2 guru lain dan 3 orang dokter juga beberapa utusan yang akan mendampingi kami untuk beberapa hari. Aku melihat Ibu Astri orang yang juga sudah membantuku mendapatkan perizinan kemarin, aku langsung mendekatinya dan menunggu dengan beberapa orang lainnya.
“Yang mau berangkat sudah disini semua Bu?” Tanyaku pada Bu Astri.
“Belum, ada satu dokter lagi yang belum sampai, padahal sebentar lagi kita berangkat loh” Aku mengangguk mendengar jawaban Bu Astri tanpa ingin tau siapa orang itu.
Beberapa menit sebelum berangkat datang seorang perempuan sambil membawa koper dan tas besarnya. Aku sedikit terkejut melihat orang itu, ternyata yang dimaksud Bu Astri tadi adalah Tania teman lamaku. Aku menghampirinya dan membantunya, dia juga terkejut saat melihatku.
“Wanda?” Aku tersenyum ia masih mengingatku meskipun aku ada sedikit perubahan, sekarang aku menggunakan hijab. Aku mengangguk menanggapi keterkejutannya.
****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya kami sampai di tujuan. Aku terpana melihat keindahan alam yang menyambut kedatangan kami. Segala rasa lelah sudah terlupakan saat melihat pemandangan ini. Kami disambut baik dengan warga disini, perasaanku kini sangat-sangat senang. Kami menaiki mobil menuju tempat untuk kami tinggali nanti. Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa anak kecil, mereka menyapa kami dengan sangat ramah.
Beberapa menit di dalam mobil akhirnya kami sampai, kami saling membantu menurunkan barang-barang. Syukurlah tempat yang akan kami tinggali berada di tempat yang cukup ramai. Aku memilih serumah dengan Tania karena aku sudah mengenalnya. Hari ini kami istirahat full, besok rencananya kami akan keliling desa ini. Aku tidak sabar menjelajahi setiap sudut wilayah di desa ini. Aku juga tidak lupa membawa kamera, traveling juga termasuk hobiku, aku juga bercita-cita menghasilkan foto pemandangan hasil jepretanku sendiri.
Aku terbangun mendengar alarm hpku, aku langsung keluar dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh. Jam 7 pagi kami sudah berjalan menyusuri desa ini, bapak kepala desa yang bernama Kana memimpin perjalanan kami. Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa anak-anak yang menurutku masih sekitar kelas 4-6. Mereka mengajak kami ke pantai yang sangat dekat dengan tempat kami berdiri saat ini. Kepala desa membolehkan. Aku, Tania, Agus dan Rey mengikuti anak-anak tadi. Sedangkan yang lainnya kembali ke rumah, hanya kami berempat yang masih muda diantara pendatang yang lainnya, jadi mereka memilih kembali ke rumah. Aku memotret keempat anak-anak yang bermain bersama teman-temanku. Saat aku melihat-lihat hasil foto tadi salah satu anak mendekatiku, aku mengajaknya duduk di pasir yang halus ini.
“Nama kamu siapa?” Tanyaku menatap anak perempuan yang kini duduk di sampingku.
“Namaku Nur, nama kakak siapa?” Tanya Nur,
“Nama kakak Wanda, hmm Nur? Kamu tau arti dari namamu?” Nur mengangguk sambil tersenyum.
“Nur pernah tanya kenapa Ama dan Ina beri nama Nur, kata Ina arti kata Nur itu cahaya, Ama bilang kalau Nur selalu menerangi mereka seperti cahaya”
“Ama itu ibu?” Tanyaku, Nur tertawa mendengar pertanyaanku, aku bingung salahku dimana setauku Ama itu panggilan untuk ibu, atau disini berbeda?.
“Bukan kakak, Ama itu bapak kalau ibu Ina” Aku tertawa pelan mengetahui kesalahanku tadi.
****
Bu Astri dan yang lainnya sudah pulang, tinggal kami berenam disini. Besok hari pertamaku mengajar. Aku tidak sabar bertemu dengan murid-murid baruku. Maghrib hari ini aku mengajak ketiga temanku untuk shalat di masjid yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Mereka setuju saja, kami berjalan mengarah masjid diiringi dengan obrolan ringan. Sampai didepan masjid Nur juga sampai bersama seorang wanita paruh baya. Nur mendekatiku diikuti wanita tadi yang kuyakini adalah ibunya Nur.
“Ibu ini kakak Wanda, ini kakak Tania, ini?” Nur bingung saat melihat kedua teman laki-lakiku, mungkin saat di pantai tadi mereka belum kenalan. Rey dan Agus langsung memperkenalkan diri mereka. Ibu Nur menanggapinya dengan tersenyum.
“Kalian berempat guru semua?” Tanya Ibunya Nur.
“Nggak bu, saya dan Rey dokter” Ucap Tania.
“Berarti kakak Wanda guru? Maafkan Nur bu guru, Nur tidak tau” Aku bingung kenapa Nur meminta maaf.
“Ina bilang kalau Nur harus menghormati guru Nur, maafkan Nur karena tadi memanggil bu guru dengan sebutan kakak” Subhanallah, aku terharu dengan perilaku Nur yang sangat sopan, Ibu Nur juga pandai mendidik Nur menjadi anak yang sopan.
“Kalau di luar sekolah Nur boleh panggil bu Wanda dan pak Agus dengan sebutan kakak” Nur mengangguk semangat. Setelah berbincang kamipun masuk ke dalam masjid.
Aku bersiap berangkat ke sekolah, hari ini aku tidak langsung mengajar, aku akan berkenalan dulu dengan murid-murid di sekolah. Aku kebagian mengajar di kelas 5 dan 6, sedangkan Ibu Dinar dan juga Agus mengajar di SMP. Sesampainya di sekolah aku melihat anak-anak sedang bermain bersama teman-temannya, ada juga yang bercerita bersama. Aku pergi ke ruang guru, aku langsung duduk di bangkuku, aku mengetahui itu bangkuku karena bangku yang lainnya sudah diduduki oleh pemiliknya lagian hanya disana meja yang kosong, di meja lainnya sudah ada beberapa buku. Tidak lama seorang wanita berusia sekitar 50 tahun masuk ke ruang guru. Ternyata dia kepala sekolah, dia langsung memperkenalkanku kepada guru lainnya. Saat selesai perkenalan aku langsung menuju kelas bersama guru lainnya yang juga menuju kelas sesuai jadwal mereka. Jam pertama aku masuk ke kelas 5, didalam kelas mereka sudah duduk rapi.
“Selamat pagi” Sapaku dengan senyum mengembang di wajahku. Anak-anak menjawab sapaanku dengan semangat.
“Ibu guru baru itu?” Tanya salah satu anak laki-laki, tapi…sepertinya aku pernah melihat anak ini. Benar saja setelah ku ingat anak ini yang kemarin bermain bersama kami di pantai.
“Iya, perkenalkan nama ibu Wanda, ibu berasal dari Bengkulu Selatan, tapi sudah 6 tahun ibu tinggal di Jakarta untuk melanjutkan sekolah, saat lulus ibu mengajar di salah satu sekolah di Jakarta”
“Ibu dari kota? Gimana di sana bu? Kata kakak saya tinggal disana enak, makanya kakak saya jarang pulang” Ucap salah satu anak perempuan.
“Sama saja di kota ataupun disini, mungkin kakak kamu betah disana karena mendapatkan pekerjaan yang gajinya lumayan untuk menghidupi kamu dan keluargamu” Ucapku berfikir positif.
“Tidak bu, yang membiayai saya Ina bukan kakak, semenjak Ama meninggal kakak pergi ke kota, dia jarang sekali mengabari kami pulang pun juga jarang” Aku terdiam mendengar ucapan muidku itu. Tidak mau memasuki kehidupan pribadinya terlalu dalam akupun mengalihkan pembicaraan.
“Yasudah, kalian sudah kenal ibu kan? Sekarang ibu mau kalian memperkenalkan diri, mulai dari belakang, cukup berdiri dan sebutkan nama kamu begitu seterusnya” Ucapku.
Selesai perkenalan dengan muridku, aku
mengajak mereka bermain kuis, aku sudah menyiapkan hadiah untuk mereka yang bisa menjawab. Mendengar ada hadiah mereka sangat bersemangat, tetapi hanya 3 orang anak dapat menjawab 5 pertanyaan dariku. Tidak mau yang lainnya tidak terima karena 3 temannya mendapat hadiah, akupun mengeluarkan satu pak buku tulis dan membagikan masing-masing satu kepada anak-anak. Beberapa dari mereka bingung, gekstur tubuh mereka seakan menolak saat kuberikan buku tadi.
“Kenapa? Kalian tidak senang?” Tanyaku. Untuk berapa detik semua terdiam, aku menatap mereka meminta jawaban, salah satu anak memberanikan diri berbicara.
“Tadi bu guru bilang kalau memberi hadiah kepada teman-teman yang bisa menjawab, tapi kami tidak bisa, kenapa bu guru juga memberi kami?” Seketika tubuhku bergetar, dimana lagi aku bisa menemukan anak-anak seperti ini? keputusanku untuk berangkat kesini tidak salah.
“Tidak apa, karena hari ini hari pertama ibu mengajar ibu juga memberi hadiah untuk kalian supaya kalian semangat terus belajarnya” Ucapku menghibur mereka. Mereka terlihat senang sekali mendapatkan buku dariku.
Berada disini adalah pilihan terbaikku. Tidak sedikitpun aku menyesal menggantikan Ibu Fika dan mengambil kesempatan ini. Meskipun disini tidak seperti Jakarta yang mempunyai puluhan atau ratusan gedung tinggi tapi disini mempunyai pemandangan alam yang indah. Bukan hanya pemandangan namun orang-orang disini juga menarik untuk dikenal lebih jauh. Beberapa bulan mengajar disini membuatku semakin semangat untuk menjelajahi daerah lainnya, pemikiranku selama ini tidak semuanya benar karena saat itu aku hanya terhanyut dalam sebuah karya. Tapi sekarang akulah yang menciptakan karya itu dengan cerita dan tokoh yang berbeda. Sebuah kalimat yang menemaniku dan menjadi penyemangatku adalah “Mumpung aku masih muda aku ingin ke tempat yang belum aku kunjungi untuk membuat kenangan yang akan selalu ku ingat sampai tua.”