Ai namanya. Dia merupakan sosok cowok yang aku kagumi dalam diamku. Dengan diam, aku mencintai nya. Dengan diam, aku menyukainya. Dengan diam, aku merindukan nya. Dengan diam, aku mengagumi nya. Dan dengan diam, aku patah karenanya.
Namaku Lina.
Aku bukanlah cewek yang begitu cantik seperti cewek-cewek yang berada di sekolah ku. Aku cewek biasa, yang menyukai cowok bernama Ai yang notabene nya seorang cowok populer dan di segani oleh seantero sekolah.
Bisa apa aku?
Tidak ada.
Banyak menyukainya. Tentu saja. Dia tampan, pintar, juga begitu ramah pada semua orang. Kadang, aku iri dengan mereka yang di sapa olehnya.
Kapan aku bisa mendapat sapaan dari Ai?
Mungkin, tidak akan pernah.
Aku menatap Ai dalam diam. Cowok itu tengah bersenda gurau bersama teman-teman nya di pinggir lapangan.
Menatapnya, membuat ku senang, sekaligus sedih.
Tapi, aku lebih tenang jika Ai tak mengetahui perasaan ku. Aku tidak ingin di olok-olok oleh mereka yang mungkin lebih pantas atau bahkan sangat pantas bersanding dengan nya.
Jadi, bagiku mencintainya dalam diam merupakan keputusan yang tepat.
Cowok itu tertawa lepas. Aku tersenyum tipis melihatnya. Dia di bawah sana, sedangkan aku di rooftop.
Rooftop adalah tempat yang paling sepi di sekolah ini. Sangat jarang ada murid yang naik ke atas, karena mereka lebih tertarik mengunjungi kantin.
Aku beralih menatap langit biru.
Tuhan.. jika di beri kesempatan, bolehkah sekali saja aku berharap mendapat satu saja sapa oleh Ai? Itu sudah lebih dari cukup.
Saat aku kembali menatap ke bawah, Ai dan teman-teman nya ternyata telah beranjak dari sana.
Aku menghela nafas, dan berbalik menyandarkan tubuhkan pada tembok pembatas rooftop. Berat memang mencintai dalam diam. Namun, jika di banding memberitahunya, itu adalah jalan yang salah.
Aku menegakkan kembali tubuhku, lalu berjalan turun pergi dari rooftop menuju kelas.
Di koridor, aku melihatnya. Ai. Cowok itu ada di depan kelasnya. Namun, sesuatu mengganggu pandanganku.
Aku tercekat.
Di sana, Ai duduk bersama seorang gadis. Aku mengenalnya. Dia Renata, gadis yang di idam-idamkan oleh kaum adam di sekolah ini. Dan juga, Renata seringkali di jodohkan oleh Ai.
Tangan Ai terangkat mengelus puncak kepala Renata lembut. Renata tersenyum malu. Aku bisa melihat kedua pipi nya yang memerah. Tangan Ai lalu turun mencubit kedua pipi Renata.
Ai menggenggam tangan Renata. Aku bisa melihatnya. Genggaman itu begitu erat. Satu kalimat yang membuat ku hancur meluncur dari mulut Ai.
"Aku mencintaimu, Rena." Ucap Ai tersenyum.
Deg.
Sesuatu terdengar patah. Itu hati ku.
Tuhan, ini kah jawabanmu?
Aku berbalik. Mataku memanas. Kalimat itu terngiang di benakku. Ini salahku. Ya! Ini salahku.
Aku berlari pergi menuju toilet, lalu mengunci pintu.
Aku lelah.
Aku.. berhenti.
***
T.A.M.A.T
Cerpen > Sang Pengangum Rahasia
Selesai > Rab, 14 April 2021
***
Terima kasih, telah membaca:) Semoga menghibur!
Mohon mampir juga di Novel saya :
'Mawar Biru'