"Awas jatuh sayang! hati-hati ... kamu ya, bikin aku cemas terus," ucap seorang pria, yang tengah memperhatikan seorang gadis yang tengah berdiri di atas bebatuan yang licin.
Mereka adalah Numa dan Reynan, yang saat ini sedang berada di sebuah sungai di desa, tempat kelahiran Rey.
"Airnya seger banget sayang, aku suka," jawab sang gadis.
Numa adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup kaya raya di kota A. Ia terbiasa hidup dengan bergelimang harta, namun tidak menjadikannya pribadi yang sombong, berbeda dengan Rey yang lahir di desa dan dari keluarga yang biasa saja. Numa tidak pernah sekali pun menginjakkan kakinya di desa ataupun bermain air seperti saat ini. Tak heran, jika ia begitu antusias sekarang.
"Kita uda dua jam disini loh yank, pulang yuk, ntar kamu masuk angin, terus aku di marahin ibuk," ujar Rey lagi, untuk ke sekian kalinya.
"Kamu ih, nggak asyik deh, aku belum puas main nya, nggak mau ah," tukas Numa, sembari mengerucutkan bibirnya.
"Bandel banget sih,"
Rey hanya geleng-geleng kepala, karena tidak bisa merayu pacarnya yang satu ini.
Dari kejauhan terdengar suara derap langkah, sedang berjalan mendekat, dan ternyata itu adalah gadis-gadis desa, yang tidak lain adalah teman-teman saat kecil dari Rey. Ada Lilis, Rumi, dan Melati, mereka pun saling menyapa.
"Eh ada mas Rey, Assalamualaikum," sapa salah satu dari mereka yang bernama Lilis.
"Wa'alaikumsalam, Lilis," jawab Rey ramah.
"Mas, itu pacar kamu yang dari kota?" tanya Lilis, ada sedikit kecewa didalam hatinya.
"Bukan hanya pacar atuh, tapi teh calonnya atuh Lis," sambung temannya yang bernama Melati.
"Iya, benar. Kenalin, ini Numa calon saya, Insya Allah," jawab Rey mantap.
Meraih jemari, Rey memperkenalkan Numa pada mereka, tersenyum ramah Numa mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Kalian mau nyuci, silahkan atuh, kami teh harus segera pulang, uda dua jam soalnya kami main air," ujar Rey berpamitan.
Berjalan pelan sembari berpegangan tangan, sebab bebatuan kecil yang amat licin, semakin membuat hati Lilis terluka.
"Mas, kamu beneran tidak mau memikirkan apa alasan perjodohan kita yang sudah dari kecil?" kata itu lolos dari bibir gadis bernama Lilis.
Kata itu seketika membuat langkah Numa terhenti, menoleh kesamping menatap dalam mata Rey.
"Apa maksudnya, sayang?" Numa tidak percaya apa yang didengarnya itu.
Rey hanya menggelengkan kepalanya, lalu menoleh ke belakang, melihat kearah Lilis.
"Bukankah saya sudah berulang kali menjelaskan apa alasan saya, dan berulang kali pula saya mengatakan, kalau saya tidak mencintai kamu, Lis!" tukasnya tegas.
Mata Lilis berkaca-kaca, ada rasa sesak di dadanya, dan sesuatu yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.
"Saya harap kamu mengerti, dan jangan membicarakannya lagi, apalagi didepan gadis yang saya cintai!" ujarnya menerangkan.
Rey menggenggam erat jemari Numa, menatapnya sebentar, lalu mereka meninggalkan tempat itu.
Belum jauh mereka berjalan, terdengar teriakan dari Rumi dan Melati. Menyerngitkan dahi, Rey kembali menatap ke belakang. Merasa penasaran, akhirnya mereka memilih kembali ke sungai itu.
Disana hanya terlihat Rumi dan Melati yang menangis, dan arah pandang Rey mengikuti tatapan mata mereka.
Betapa kagetnya ia saat matanya menangkap sosok Lilis yang terbawa arus sungai, tanpa berpikir panjang Rey melepas tautan tangan mereka dan berlari untuk menyelamatkan gadis itu.
Numa tidak mempermasalahkan, sebab niat Rey hanya ingin menolong seseorang yang notabennya adalah temannya dari kecil, dan melupakan kejadian beberapa menit yang lalu.
Rey melompat dan mencoba mengejar gadis itu. Tak lama Rey berhasil meraih tubuh gadis itu, dan berusaha membawanya ke atas.
"Kenapa dia bisa sampai hanyut?" tanya Numa pada Rumi dan Melati.
"Ya jatuh lah, uda tau pake nanya!" jawab Rumi dengan nada juteknya.
"Ya saya tau, maksud saya kenapa bisa sampai terjatuh," sambung Numa, dengan lemah lembut.
Rey berhasil baik ke atas dengan susah payah, sambil menggendong Lilis, yang terkulai lemas.
"Lilis, kamu teh nggak kenapa-kenapa, ya ampun Lilis, malang benar kamu teh,"
"Rey, ayo atuh beri nafas buatan, Lilis teh nggak sadar-sadar, tolongin atuh," ujar Rumi, seraya tersenyum licik.
"Numa terkejut atas perkataan teman Rey, hatinya berdenyut saat mendengarnya. Ia mencoba untuk tenang, tidak mungkin Rey mau melakukannya, Rey akan menjaga perasaannya saat ini bukan?
"Rey, ayo cepat. Lilis akan mati jika tidak diberi nafas buatan Rey," desak Rumi lagi.
Rey hanya diam, ia bingung harus bagaimana menyelamatkan Lilis tanpa harus menyakiti perasaan Numa saat ini.
"Melati, kamu pergi cari bantuan, panggil dokter atau keluarganya cepat!" usul Numa, bukankah itu yang memang harus dilakukan.
Melati memang pergi, tapi ia tidak benar-benar memanggil siapapun. Ia malah berhenti disalah satu pohon, untuk mengintip mereka.
Ya, ini adalah rencana mereka bertiga. Lilis adalah anak kepala desa, keluarganya begitu di segani disana, dari kecil Lilis memang telah menyukai Rey, saat ia beranjak dewasa, ia memberitahu ayah nya tentang perasannya, saat itulah ayahnya mengusulkan perjodohan nya dengan Rey ke orang tuanya Reynan.
Orang tuanya Rey tidak menolak dan juga tidak menerimanya, karena mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada anak mereka.
"Rey, ayo cepat, beri nafas buatan!" bentakan Rumi mengejutkan Rey yang sedang berfikir.
Tanpa diduga, Rumi sedikit mendorong kepala Rey, dan bibirnya menyentuh bibir Lilis. Kepalang tanggung, akhirnya Rey memberikan nafas buatan itu, selama beberapa saat.
Numa yang terkejut sontak berdiri dan menegang, ia melihat semuanya, hatinya terluka, keyakinan nya luntur sudah.
"Aku tau ini darurat, tapi kenapa hati ini merasakan sakit ya Tuhan," ucapnya lirih dalam hati.
Tanpa sadar airmata Numa lolos begitu saja, menyadari itu, ia langsung menghapusnya. Membuang arah pandangan kemana saja, asal tidak melihat adegan dramatis atau malah romantis itu.
Rumi tertawa dalam hati, "Yes, berhasil juga, kena kau!" katanya pelan.
Setelah beberapa saat Lilis tersadar, melihat wajah Rey yang sangat dekat dengannya, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung meraih tengkuk pria itu dan menyambar bibir nya tanpa ragu.
Lilis begitu agresif, ia terus menarik kuat tengkuk Rey, agar tak bisa lepas darinya. Melumatnya, mengesapnya, mereguk setiap rasa manis dari bibir pria yang begitu ia cintai dari kecil, karena terbakar nafsu Lilis pun mengeluarkan desahan erotis nya.
Rey yang terkejut dengan tindakan Lilis, hanya terdiam disana, tanpa sengaja ia membiarkan gadis itu menguasai bibirnya begitu saja, Rey baru tersadar saat bibirnya di gigit Lilis sedikit kuat, dan meninggalkan sedikit luka disana.
Rey langsung mendorongnya, menegang bibirnya yang sedikit berdarah.
"Apa yang kau lakukan, memalukan sekali!" umpat Rey merasa marah.
"Maaf Rey, aku hanya ingin berterima kasih saja, bukankah kamu telah menolongku dengan bibirmu, itu adalah balasan ku untuk mu, Rey."
"Apa? menjijikkan sekali kau!" geram Rey.
Rumi yang menyaksikan nya tersenyum penuh kemenangan, rencananya berhasil, dan dimana Numa? Gadis itu telah pergi meninggalkan tempat itu, saat Rey tengah menikmati pergulatan bibir yang hebat dengan gadis desa itu. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Numa saat ini.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
"Percayalah sayang, aku tidak seperti yang kamu bayangkan, itu semua hanya kesalahan yang menjijikkan, aku mencintaimu, bukan dia."
Entah sudah berapa lama ia membujuk gadis yang ia bawa dari kota. Awalnya mereka datang kerumah orang tuanya Rey, untuk memperkenalkan Numa sebagai calonnya, dan meminta izin untuk melamar Numa Minggu ini, lalu pernikahan sebulan kemudian.
"Aku mau pulang sekarang, kamu minggir, aku bisa pulang sendiri," tukas Numa.
Mata indah itu terus saja mengeluarkan airmata, sedikit membengkak, namun tidak menghalangi kecantikan nya yang alami.
"Ku mohon jangan seperti ini, sayang. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini, maafkan aku. Aku memang salah, maaf sayang."
Namun Numa tidak mengindahkan, ia tetap bergegas membereskan barang-barang nya, lalu beranjak keluar.
Rey tidak membiarkannya, ia meraih gadis itu lalu memeluknya erat, begitu terluka saat menyaksikan airmata sang gadis yang tidak kunjung berhenti.
"Separah itukah sakit mu, sedalam itukah luka yang ku berikan, sejahat itukah aku di matamu, sayang?"
"Maaf, maaf, maafkan aku Numa ... Aku sangat mencintaimu, sangat menyayangimu, sayang!"
"Aku akan segera ke rumahmu, untuk melamarmu, aku akan membuktikan rasa cintaku padamu, yang begitu luar biasa ini, aku akan datang bersama keluarga ku Minggu ini."
Rey mengecup pucuk kepala Numa, memejamkan matanya, matanya terasa panas, mendengar isakan tangis yang semakin kuat dari gadis yang berada di pelukannya.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Pertunangan berjalan dengan lancar, hanya keluarga kedua belah pihak yang menghadirinya, Rey dan Numa sangat bahagia.
"Sayang, nggak kerasa, bentar lagi kita nikah, aku bahagia banget sayang," ucap Numa, menyandarkan kepalanya di bahu Reynan.
"Aku juga, bahkan aku yang paling bahagia saat ini," jawabnya, mencium kening Numa, mengacak rambut gadis itu gemas.
Mereka tengah duduk dirumah pohon, di halaman belakang rumah Numa, rumah itu begitu luas, karna memang keluarganya termasuk golongan orang terkaya di kota A.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel milik Rey, mengambil dalam saku celananya, ia menyerngitkan dahi, melihat nama ibunya disana, yang menyuruh nya untuk segera pulang ke desa.
Semenjak saat itu, Rey jarang datang kerumahnya, ia sering bolak-balik ke desa, entah ada urusan apa, karena setiap Numa bertanya, jawabannya selalu sama, "Aku ingin membantu ibu, karena bapak sedang sakit."
Hanya itu jawabannya, Numa memaklumi nya, karena tidak mungkin membiarkan ibunya sendiri mengurus sawah disana.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Hari yang dinanti pun tiba, kini Numa tengah berdiri didepan kaca rias menatap pantulan wajahnya disana. Gaun tanpa lengan berwarna Abu tua, dengan bordiran bunga, berhiaskan mutiara indah di bagian dada, semakin membuat penampilan sang gadis terlihat sangat cantik.
"Rey, aku sangat mencintaimu."
Numa menunggu dengan sabar, detik demi detik berlalu, namun Reynan belum juga menampakkan batang hidungnya. Terdengar bisik-bisik dari para tamu, dan entah sudah beberapa kali pak penghulu memanggil kedua mempelai, karena waktu terus berjalan, namun akad tidak juga di laksanakan.
Numa terus menunggu, dengan perasaan tidak karuan, jemari nya terus meremas gaun berwarna Abu tua yang ia kenakan.
Bukan tidak berusaha, Numa sejak tadi terus menelpon Reynan, namun nomor hp nya sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Numa, apa kau baik-baik saja? apa Rey belum bisa di hubungin? kemana dia, jangan sampai membuat keluarga kita malu dengan ketidakhadiran nya," cecar Ayah Numa.
Beberapa jam kemudian, acara benar-benar di bubarkan, pak penghulu memutuskan untuk pulang, karena masih harus menikahkan pasangan lain. Para tamu juga satu persatu mulai membubarkan diri.
Malu, sudah pasti. Kecewa, tentu saja. Kemana pria yang selama ini begitu mencintainya, yang selalu menyanjungnya, tapi malah tidak hadir di acara pernikahan nya.
Numa mengunci dirinya didalam kamarnya, ia tidak mengganti pakaiannya sama sekali. Membiarkan penampilan nya yang terlihat begitu memilukan.
Sekali lagi, ia meraih hp nya yang tadi sempat ia lemparkan begitu saja, menelpon Reynan sekali lagi.
Terdengar nada tunggu dari operator, yang artinya nomor nya bisa di hubungi sekarang.
"Ya, assalamualaikum," jawaban dari sebrang telepon.
Numa terbelalak, bukan Rey yang menjawab, tapi suara wanita, dan ia kenal suara itu. Ya, suara itu adalah suara Lilis, gadis desa yang mencintai Rey.
"Kenapa telpon Rey ada sama kamu, kenapa kamu yang jawab dan bukan Reynan sendiri, ha?!" cecar Numa, sedikit berteriak.
Sebelum Lilis menjawab, Numa sudah melanjutkan kata-katanya.
"Kalau kamu memang mencintai Reynan, ambil saja dia, aku tidak butuh pria yang ucapan dan perbuatannya tidak sama, katakan padanya, Numa berterima kasih atas semuanya, terima kasih telah mempermalukan ku didepan penghulu dan semua tamu!" teriak Numa, seraya menangis.
"Tu-tunggu nu," ucapnya terbata, dan telpon itu terputus begitu saja.
Numa melempar hp nya, ia menangis sekuat-kuatnya, perasaannya begitu hancur sekarang. Keluarga nya sampai menahan malu akibat pria yang dicintainya.
"Apa salahku Rey, apa kekurangan ku, sampai kau tega mempermainkan perasan ku?"
"Apa salah keluarga ku padamu, sampai kau tega mempermalukan mereka di hadapan para tamu?"
"Katakan Rey, katakan ... apa salah kami padamu? hiks,"
Numa meratapi nasib sialnya hari ini, cinta yang selama ini ia banggakan hilang, semua mimpi nya yang telah ia bangun bersama Reynan, hancur begitu saja.
Kini, keluarga Numa memutuskan meninggalkan negaranya, mereka memilih pergi ke negara lain, daripada hidup di negara sendiri, namun harus menanggung malu seperti saat ini.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Di sebuah rumah sakit, seorang pria tampak berlari keluar dengan terburu-buru, tidak memperdulikan teriakan dan umpatan orang lain yang tertabrak olehnya.
Ya, dia adalah Reynan. Ia mengetahui jika Numa akan terbang ke negara X, akibat kesalahannya, yang bahkan tidak sempat mengabari Numa dan keluarganya.
Beberapa jam yang lalu, saat ia dan keluarganya menuju rumah Numa, tempat akadnya akan di langsungkan, bapaknya jatuh pingsan, penyakit gagal ginjal yang di deritanya kambuh dan harus segera di larikan kerumah sakit saat itu juga.
Tidak sampai disitu, begitu sampai dirumah sakit, mereka harus di kejutkan lagi dengan tidak ada ketersediaan darah disana. Rey berlari kesana-kemari mencari golongan darah seperti yang dimiliki bapak nya, namun beberapa rumah sakit tidak memiliki nya, dan membuat Rey harus mendonorkan darahnya.
Keadaan Rey tidak baik-baik saja, tubuhnya yang lelah karna akhir-akhir ini bekerja keras membantu ibu nya, harus bolak-balik antara kota A dan desa, mengakibatkan nya pingsan selama beberapa jam, setelah petugas medis mengambil darah nya.
Terus berlari, mencoba sekuat mungkin agar bisa mencapai bandara, tempat Numa dan keluarganya berada. Rey yang masih lemas, terus memaksakan diri, pandangan mata nya mulai mengabur, Rey menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap rasa pusing dan pandangan nya pulih, dan tidak menghambat langkah kaki nya saat ini.
Terlihat mobil truck melaju dengan cepat, Rey dengan posisi yang ingin menyebrang, tidak melihat karena pandangan matanya mengabur. Tidak dapat menghindar, mobil truck yang melaju sangat cepat itu menabrak Reynan.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, terdengar teriakan-teriakan warga sekitar, yang melihat kejadian naas itu.
Tubuh Rey terpental ke tengah jalan, seketika jalanan padat akibat kecelakaan yang di alaminya. Tubuhnya penuh luka yang mengangah, kemeja putih yang di kenakan nya, berubah menjadi merah karena darah, nafasnya tersengal-sengal, dan bibirnya bergetar hebat.
Para warga menelpon ambulans, dan ada beberapa yang mengabadikan dengan ponsel ditangannya, terkadang memang itu perlu, apalagi untuk Reynan saat ini.
Seseorang memangku kepala Reynan, mencoba membantu pria naas itu sebisanya.
Tangan nya terus menggenggam sesuatu, dan terlihat itu adalah sebuah cincin, cincin pernikahan nya untuk Numa.
"Kat-katakan pada calon istriku, bah-bahwa a-aa-ku ... sa-sangat mem- mencintainya, cin-ta ku, luar biasa."
"Numa, A-aa-ku menyayangimu, ca-calon istriku," ucapnya tersenyum.
Cincin itu jatuh begitu saja, setelah lama di genggamnya, wajahnya terus tersenyum mengingat wajah cantik calon istrinya, lalu mata itu menutup untuk selama-lamanya.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️