“Aku ingin bercerita,” ujarku padanya hari itu. Setelah lupa pada janjiku sendiri untuk tidak lagi menghubunginya, aku dan ia kini terjebak dalam durasi panjang percakapan telepon jarak jauh — 16.170 kilometer, dua puluh enam jam perjalanan udara.
Tidak ada pertanyaan tentang kabar tinggi matahari di kotanya, tentang ramalan cuaca, atau tentang harga terkini makanan instan hasil impor dari Tiongkok — terutama makanan kucing, yang sering kami bicarakan. Kami sama-sama tahu tidak ada satu unsur mekanis apapun yang bisa membuat kami tidak saling mengangkat telepon. Barangkali kebiasaan adiktif ini membuat alam bawah sadar kami enggan lelap, satu dering telepon dan cukup membuat kami terjaga belasan jam.
“Aku ingin bercerita,” ujarku padanya hari itu. Setelah lupa pada janjiku sendiri untuk tidak lagi menghubunginya, aku dan ia kini terjebak dalam durasi panjang percakapan telepon jarak jauh — 16.170 kilometer, dua puluh enam jam perjalanan udara.
Tidak ada pertanyaan tentang kabar tinggi matahari di kotanya, tentang ramalan cuaca, atau tentang harga terkini makanan instan hasil impor dari Tiongkok — terutama makanan kucing, yang sering kami bicarakan. Kami sama-sama tahu tidak ada satu unsur mekanis apapun yang bisa membuat kami tidak saling mengangkat telepon. Barangkali kebiasaan adiktif ini membuat alam bawah sadar kami enggan lelap, satu dering telepon dan cukup membuat kami terjaga belasan jam.
“Kamu ingat apa yang kubilang soal cerita-cerita yang kau tulis di rubik online itu? Atau di blog pribadimu? Entah kenapa, tiap kali membaca ceritamu aku seperti terseret ke lubang hitam dan merasa hidup di dalam narasimu. Kesialankulah, aku baru saja membaca tulisan terbarumu dua jam lalu. Tulisanmu sekuat itu memengaruhiku, isi kepalaku, gerak tanganku, atau bahkan kehidupanku sendiri”
“Semua tulisanku memang untukmu, kok. Sejak awal,” jawabnya. Singkat dan menusuk sampai ulu hati.
“Itu seakan memaksaku untuk terus tinggal di dalam sana saja. Jadi semacam dunia tempat sembunyi. Bahkan lucunya, aku mengonversi itu jadi nyata meski aku tahu tidak semestinya demikian.”
“Dan harusnya dari awal kamu tanya, kenapa aku cinta mati sama kamu.”
Aku mendengar sayup suaranya mengumpat ke langit-langit kamar, atau mungkin pada desau angin yang mengembus debu-debu di tirai jendela. Kalimat terakhirnya itu membuat udara New York dan Jakarta beku seketika, pepat, menyesakkan rongga dada.
Seharusnya aku cukup tahu diri agar kalimat seperti itu tidak perlu keluar dari mulutnya. Kami bukan lagi sepasang kekasih jarak jauh. Tema itu sudah selesai sejak dua bulan lalu, ketika dengan mudahnya dia mengumpatku begitu kasar dengan nama binatang dan serta merta aku memutuskan kami harus berhenti. Tapi entah apa arti berhenti bila salah satunya cinta mati dan yang lainnya berkepala besi?
Tidak bisa kupungkiri, seperti termanipulasi sempurna, aku mengonversi semua narasinya jadi nyata; dari mulai menghisap rokok yang sama dengannya, mulai menyukai anggur putih dan whiski — meski dahulu aku melarang keras ia untuk menegaknya, menjadi makhluk malam yang terjaga di depan toko sudut gang sampai pagi, menjadi robot yang hatinya bolong, atau menjadi mesin pembalas pesan romansa bagi orang-orang depresi yang kesepian di media anonim. Aku menjadi rumah dua puluh empat jam yang bebas dikunjungi dan ditinggalkan siapapun — dengan jejak-jejak sepatu yang kotor dan tetes air dari payung yang basah. Aku terjebak di dalam sana bersama caranya menguasaiku.
Barangkali ini nasib sial bagi sesiapa yang pernah dicintai seorang penulis. Semua peran itu pernah hidup di dalam tulisan-tulisannya. Ada dunia di dalam sana dan aku adalah pemeran utamanya yang bisa berganti-ganti wajah. Aku seperti terbelah jadi banyak, bahkan saat sekarang bicara dengannyapun rasanya aku sedang menjadi tokoh dalam cerita yang lain.
Tidak ada suaranya dari ujung sambungan telepon setelah itu, meski aku tahu ia masih mendengar ceracauku dengan saksama. Ia mendengarkanku fokus, lebih fokus daripada prajurit di barisan depan batalyon perang mendengar perintah komandannya. Memang seperti itulah adanya. Cerita-cerita yang ditulisnya, nyatanya, memberiku ruang untuk hidup. Dia selalu menulis karenaku dan untukku. Persis seperti cita-citanya untuk menumbuhkan ekosistem dan pengalaman dengan harapan mampu mengubahku dari mesin rusak menjadi mesin baru.
“Tapi kau manusia. Kau bukan mesin. Narasi yang kuciptakan untukmu semestinya tidak begini. Untuk membuatmu hidup, benar, tapi tidak dalam dunia yang sembunyi dan pura-pura. Aku mencintaimu dan itulah perasaan yang kupersembahkan untukmu seperti upeti untuk tuan puteri. Tapi toh apa gunanya? Kau bisa mudah menemukan lelaki mana saja yang dengan senang hati melayanimu.”
Sambungan telepon ditutup. Satu jam, sembilan belas menit, tiga puluh satu detik. Sesuatu bergemuruh di dalam diriku, merambat dari sela-sela tulang punggung, menekan asam lambung, memenuhi relung, bergetar tanpa bisa kudefinisi apa dan mengapa. Tapi aku tahu betul, perasaan seperti ini hanya bekerja saat aku bicara dengannya, atau mengingatnya, atau berada di pelukannya menghirup aroma pewangi binatu yang bercampur dengan khas keringatnya. Pelukan yang kurindukan rapat-rapat.
Perkataannya bahwa tidak ada seorang lain di dunia ini yang mampu mencintaiku seperti ia mencintaiku kadang terasa seperti kutukan. Mengenalnya bahkan membuatku percaya pada pepatah yang bilang kau bisa memilih dengan siapa kau akan menikah, tapi tidak kepada siapa kau jatuh cinta.
Tapi sungguh aku tidak ingin jatuh cinta pada lelaki yang mengataiku anjing, apapun alasannya.
Pada akhirnya kami adalah sepasang (kekasih) yang akan terus saling menatap dengan peluk meski berkali-kali saling mematahkan. Menyayangi dalam umpatan-umpatan yang terdengar lebih indah dan ceria dari Prelude in C Major. Dalam hidupku dirinya adalah kerumitan semesta, percik-percik api amarah, ketidaknyamanan yang paling kubenci, sekaligus mempesona seperti kuncup bunga yang mekar di sore hari selepas hujan. Gila, membuatku jatuh cinta, sekaligus mati dalam saat yang bersamaan.
✯✯✯
Hari ini, aku masih memikirkan skenario terbaik bila suatu hari tiba-tiba alam bercanda mempertemukan kami.
Hampir tiga bungkus rokok rasa madu habis kunyalakan di balkon kamar dan kepul-kepul asapnya tidak juga memberiku inspirasi apapun selain kerumitan jiwa yang pernah mencintai lalu patah. Aku menunggu ada laba-laba atau hantu yang melintas lalu memberitahuku cara mengelabui canda semesta. Sampai tiba-tiba pintu kamarku terketuk keras;
Dia ada di sana.
“Sialan. Kapan nasib buruk ini selesai? Aku gila jatuh cinta pada perempuan di depanku ini dan sampai kapanpun aku nggak akan bisa membuatmu patah hati. Setidaknya beri aku satu pelukan lagi.”
Hey, kau ingin apa? Biar kuberikan segala yang aku punya dan tak punya untukmu.
TᕼᗩᑎKՏ ᑌᗪᗩᕼ ᗰᗩᑌ ᗰᗴᗰᗷᗩᑕᗩ😘