Aku ingat Kapten Henry pernah bilang padaku ketika hari itu tiba, petualangan besar akan dimulai. Tapi saat itu, aku yang masih muda terlalu naif. Tidak ada petualangan, hanya ada kengerian dan keputusasaan yang menanti.
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada kalian, namun aku tidak tahu harus mulai dari mana. Banyak kilasan-kilasan ingatan yang membekas di kepalaku. Terutama saat aku tidur, aku terus memimpikannya.
Ada satu ingatan yang paling membekas sampai sekarang, yaitu saat aku dan kawan-kawanku bertempur di Passchendaele. Jujur, Aku tidak pernah menyangka bisa hidup sampai sekarang. Karena, ketika bertempur di garis depan, percayalah, kalian tidak akan terpikir untuk bertahan hidup.
Passchendaele mulanya adalah desa yang indah berubah menjadi neraka yang penuh lumpur, peluru, dan mayat manusia. Selama tiga bulan aku dan kawan-kawanku berjuang di garis depan. Hujan deras yang disertai ribuan peluru pasukan Jerman terus menghunjam kami. Pohon-pohon hanya menyisakan batang yang menancap di tanah. Langit berwarna hitam pekat karena tertutup oleh asap. Tanah tempat berpijak berubah menjadi rawa. Tidak ada suara terdengar selain letusan peluru dan jeritan manusia.
Pada suatu malam, kami diserang balik oleh pasukan Jerman. Peluru kami tersisa sedikit dan kami harus mempertahakan gereja yang tinggal puing-puing. Di sisi kami ada dua tank siap tempur, tapi sayangnya hujan deras malam itu membuat tank susah bergerak. Di seberang gereja, puluhan prajurit Jerman berlari menerjang hujan berusaha menghabisi kami.
Kami terpojok oleh serangan pasukan infantri Jerman, tetapi tank kami masih tertinggal dibelakang. Saat itu aku terus menembaki mereka satu per satu. Tiba-tiba dari balik dataran tinggi muncul satu unit tank dan beberapa pasukan pelontar api. Melihat mereka aku terhenyak, berpikir waktuku mungkin sudah tiba.
"Prajurit, terus tembak!" Mendengar teriakan Sersan Smith aku kembali menembaki mereka. Salah satu kawanku, bernama Helbert, dia terus menembak sambil menyanyikan lagu milik Ada Jones & Billy Murray. Pasukan Jerman terus mendekat bersama tank mereka. Satu demi satu kawanku tumbang, aku ketakutan setengah mati saat itu tapi Sersan Smith terus menyuruh kami bertahan dan berkata, "Semua akan baik-baik saja!"
Dari belakang kami terdengar letusan meriam sangat keras, ternyata itu adalah suara tembakan tank pihak kami. Ketika mengetahui itu, aku bernafas lega. Sersan Smith berkata, "Tank kita telah datang! Tetap jaga posisi kalian!" Kami terus mempertahankan posisi. Aku menyaksikan dua tank pihak kami memborbardir pasukan Jerman. Mereka berhasil dipukul mundur. Pasukan infantri Jerman berlarian tak karuan. Aku melihat ada salah satu dari mereka yang berjalan putus asa sambil menangis, seketika tubuh prajurit Jerman itu dihunjam meriam tank dan tubuhnya hancur berkeping-keping.
"Ya Tuhan, kirim para bajingan Fritz itu kembali ke Berlin," gumam salah satu kawanku yang bernama Edward. Setelah tank pihak kami datang, aku berharap agar bisa istirahat sejenak dan harapan itu terkabul. Saat aku menonton pasukan Jerman kocar-kacir, tiba-tiba saja Sersan Smith berteriak, "Awas! Merunduk!" Seketika terjadi ledakan. Tubuhku terpental beberapa meter ke belakang. Tubuhku terbaring kesakitan, penglihatanku berkunang-kunang dan telingaku terus berdenging. Aku menoleh ke kanan. Aku melihat tubuh Sersan Smith terbelah menjadi dua. Dia menangis dan mulutnya yang terus mengeluarkan darah berkomat-kamit. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi dari gerakan mulutnya aku yakin dia berkata, "Mama... mama ... " Lalu kesadaranku hilang.
Tubuhku terasa berat dan kepalaku terasa sakit, berlahan aku membuka mataku. Aku terbaring di sebuah ruangan yang tidak asing bagiku. Di sebelahku terdapat suara radio menyiarkan berita dan jendela kamar terbuka membiarkan angin pagi masuk. Terdengar suara derik pintu kamar terbuka. Dari balik pintu, muncul sesosok wanita yang tidak asing bagiku. Dia adalah ibuku.
"Ibu? Kenapa kamu di sini? Ini ada dimana?" tanyaku sambil berusaha duduk.
Ibuku menghampiriku yang terbaring di ranjang. Dia duduk dan menahanku untuk tetap terbaring. Kemudian dengan suara lembut dia berkata, "William, jangan banyak bergerak."
Aku mematuhi perkataan ibuku. "Ibu, ini dimana?"
"Will, kamu ini bicara apa? Ini rumah kita."
Aku melihat sekeliling dan tersadar ini adalah kamarku sewaktu aku kecil di Liverpool. Kemudian aku bertanya, "Bagaimana aku bisa selamat? Kenapa aku kembali ke rumah lama kita di Liverpool? Bagaimana dengan Emily? Aku berjanji akan menikahinya saat aku pulang."
"Emily dia baik-baik saja di London," kata ibu sambil mengelus dadaku. "Sekarang istirahatlah dulu."
Ibuku bersenandung sambil menatap luar jendela. Aku tidak tahu lagu apa yang dia senandungkan, yang jelas senandung itu membuatku tenang. Aku memejamkan mata, lalu aku teringat kawan-kawan seperjuanganku. Aku ingat Melvin, dia pernah buang air besar saat pertempuran berlangsung. Aku dan lainnya sibuk membalas tembakan pasukan Jerman, sedangkan dia di sebelahku sibuk mengejan. Lalu Edward, dia seringkali berbicara Bahasa Perancis saat membidik musuh. Aku tidak tahu artinya, sering kali aku bertanya tapi dia tidak mau menjawab. Ada juga Sersan Smith, dalam kondisi apapun, suaranya selalu terdengar keras dan lantang. Dia selalu memimpin kami dengan keras. Tidak peduli sebenci apapun aku pada dia, aku akan tetap mengikutinya meskipun ke neraka.
Mengingat kawan-kawan seperjuanganku, membuatku menangis. Aku menangis sekencang-kencannya. Ibu yang melihatku hanya mengelus dadaku. Aku tidak tahu berapa lama aku menangis, tapi semua emosi di dadaku keluar.
Selang beberapa saat, aku mulai tenang. Kemudian ibu memegang kedua pundakku. Kemudian berkata, "Bangunlah."
Aku tidak mengerti perkataan ibu. Tapi ibu terus berkata 'bangunlah' sambil menggoncang tubuhku. Lama-lama perkataan dan goncangan yang ibu berikan makin kuat.
"Ibu ada apa?" tanyaku kebingungan.
"BANGUNLAH!"
Aku terbangun! Aku sadar masih di medan perang!
Ketika aku terbangun wajahku berlinang air mata. Tampak seorang prajurit yang tidak aku kenal tepat di depan mukaku. Dia berhenti menggoncang tubuhku. Lalu dia berkata, "Bertahanlah sedikit lagi. Semua akan baik-baik saja. Aku akan membantumu!"
Dia membantuku berdiri dan kemudian langsung berlari ke belakangku. Aku menoleh kebelakang, aku lihat dia menubruk seorang prajurit Jerman kemudian berusaha menusuknya dengan pisau. "Maaf, aku akan membuatmu berdarah," kata prajurit yang menyelamatkanku tadi.
Aku melihat sekeliling, pasukan berbeda kubu saling membunuh satu sama lain. Situasi benar-benar kacau, mereka bertarung jarak dekat. Mereka menghantam musuh dengan apa yang ada di tangan mereka. Aku melihat pemandangan manusia yang jatuh pada kegilaan. Mereka berlumuran lumpur dan darah. Ketika aku sedang memahami apa yang terjadi, samar-samar aku mendengar teriakan yang berlahan mendekat. Aku menoleh ke arah suara teriakan itu, aku melihat seorang prajurit Jerman dengan senapan yang dipasang bayonet berusaha menerjangku. Beruntung aku menyadarinya tepat waktu, aku berhasil menghindarinya.
Prajurit Jerman itu tersungkur. Tapi sekejap mataku teralihkan dengan mayat di sebelahnya. Itu adalah mayat Edward. Entah apa yang merasuki diriku, aku langsung mengamuk dan menerjang prajurit Jerman itu. Aku menindih dia dan menarik bayonet dari sarung paha kiriku, kemudian aku membabi buta menusuk dadanya. Aku melampiaskan seluruh amarahku. Aku berhenti menusuk dia ketika melihat wajahnya. Dia tampak masih sangat muda, seperti remaja berumur 15 tahun. Sadar akan perbuatanku, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Aku menjerit di tengah puluhan jeritan
Aku teringat, sejak awal aku sama sekali belum menggunakan pistolku. Aku ambil pistol di sarung paha kananku, kemudian aku tarik pemicu dan mengarahkan ke kepalaku. Saat itu aku bersiap untuk membunuh diriku sendiri. Namun, di benakku terlintas wajah sedih Emily. Aku langsung mengurungkan niatku.
Di atas mayat pemuda Jerman itu aku terus berpikir, apa yang akan Sersan Smith katakan padaku saat situasi seperti ini? Terlintas di kepalaku dia berkata, "Semua akan baik-baik saja."
Aku bangkit, kemudian aku arahkan pistol ke prajurit Jerman. Aku tembak siapapun yang memakai seragam pasukan Jerman. Pada saat itu aku membuang pikiran yang tidak berguna. Aku terus menembak sampai semua peluruku habis. Setelah habis, aku menyerang prajurit Jerman dengan bayonet. Pada saat itu, aku akui, aku benar-benar kehilangan akal sehatku. Aku tidak keberatan kalian menilaiku buruk tentang diriku. Terkadang, saat kita hidup hal tidak menyenangkan terjadi dan kita harus menghadapinya, tidak peduli kita mau atau tidak. Bagiku, waktu yang aku punya hanya 'saat itu', tidak ada waktu yang akan datang atau waktu yang lalu. Karena, setiap prajurit yang turun di mendan perang, mereka bisa mati dalam hitungan detik.
Di tengah kegilaanku menghabisi semua prajurit Jerman yang ada di hadapanku, terdengar suara teriakan, "Awas! Serangan artileri!" Aku menghentikan perbuatanku. Ketika aku menoleh, ledakan beruntun menghampiriku. Tubuhku terdorong oleh daya ledak. Beruntungnya, aku terhempas ke dalam kubangan yang berisi lumpur. Jika tidak, sudah pasti tubuhku akan hancur berkeping-keping. Ketika
Kubangan lumpur itu dalam sekali, sampai seluruh tubuhku tenggelam. Aku berusaha naik ke permukaan. Tanganku berusaha meraih apapun yang bisa aku pegang. Kemudian tanganku menggapai sesuatu. Aku menaruk tubuhku dan berhasil keluar dari kubangan lumpur itu. Saat aku berhasil keluar, nafasku sudah habis juga tubuhku sudah tidak bertenaga lagi. Hanya rasa sakit dan penyesalan yang aku rasakan saat itu. Aku benar-benar sudah pasrah dengan apa yang terjadi padaku. Aku sudah tidak peduli dengan 'waktu' yang kumiliki. Mata terasa berat, lalu aku kehilangan kesadaranku lagi
Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Ketika membuka mataku, samar-samar dari kejauhan aku mendengar percakapan dengan bahasa yang tidak aku kenal. Aku berusaha bangun, tapi saat aku mendongak ke atas, aku melihat sesosok prajurit Jerman berdiri tepat di depanku. Seluruh tubuhku langsung lemas. Tapi, hal tidak terduga terjadi. Prajurit Jerman itu mendorong dengan lembut punggungku, seolah dia menyuruhku untuk tetap tengkurap. Saat itu juga aku langsung menurut. Kemudian dia berteriak pada kawan-kawannya, "Tot!" Pada saat itu aku tidak tahu apa artinya, aku baru tahu sekarang bahwa 'tot' artinya mati.
Kemudian prajurit Jerman itu pergi. Aku tengkurap sampai mereka benar-benar pergi. Aku menunggu dan terus menunggu, aku pusatkan seluruh inderaku ke pendengaran. Kira-kira aku tengkurap selama 30 menit, setelah yakin para prajurit Jerman itu pergi, aku baru telentang.
Saat itu, aku melihat langit tertutup oleh awan. Berlahan, awan mulai tersingkir dan cahaya matahari mulai menembus. Selang beberapa saat, langit berubah menjadi cerah. Passchendaele yang selalu hujan deras dan penuh dengan suara letusan senjata api, kini berubah jadi cerah dan sunyi. Aku menikmati saat-saat itu. Aku merasakan rasa syukur yang luar biasa, tidak pernah lagi aku merasakan perasaan yang seluar biasa itu. Aku terbaring di sana beberapa jam, sampai pasukan ANZAC datang menyelamatkanku.
Perang berakhir dengan kemenangan Inggris, tapi sebagai gantinya menelan sekitar 275.000 ribu korban jiwa, sedangkan pihak Jerman memakan 220.000 korban jiwa. Passchendaele akan terus dikenang sebagai simbol kengerian terburuk Perang Dunia I. Ingatlah baik-baik, dibalik bidikan senjata adalah manusia. Kamilah yang dibalik bidikan senjata itu. Kami adalah orang-orang yang letih dan naif. Kami adalah orang-orang terhomat sekaligus kriminal. Kami hanya akan menjadi legenda dan terlupakan oleh sejarah.
Inilah ceritaku.
-----
Kisa terinspirasi dari game Battlefiled 1.