Gambaran nyata yang ditampilkan di sebuah museum, terlihat oleh kedua mata dari seorang Rio. Lelaki yang gemar melihat hal berbau artistik dan bersejarah itu, tak pernah merasa bosan karenanya. Dia menyukai hal semacam itu sedari sekolah menengah pertama. Disaat seorang gadis menunjukkan padanya sebuah diorama yang telah diperbuatnya untuk ajang pameran sekolah. Rio memerhatikan diorama yang berupa miniatur bagus tersebut sembari memuji karyanya. Masih teringat senyuman unjuk gigi kala itu di benaknya. Rio yang melihat diorama yang di pajang tersebut, Tentu mengingat sosok dirinya dengan jelas serta merindukannya.
Sudah lama mereka tidak bertemu semenjak lulus dari sekolah menengah pertama. Momen kebersamaan selama tiga tahun itu terasa sangat singkat bila ia pikirkan saat ini. Karena gadis itulah, Rio menyukai hal semacam itu. Dia membuat miniatur yang menggambarkan kehidupan sesuai realita yang terjadi. Baik sejarah atau pun kehidupan pribadinya sendiri. Setelah mengunjungi museum, Rio kembali ke rumahnya yang berada di atas bukit. Suasana diatas bukit lebih nyaman menurutnya meskipun dirasa cukup jauh untuk berjalan kaki. Tetapi demi ketenangan dan menikmati suasana sekitar yang indah dari atas, Rio rela tinggal disana. Hidup sendiri sedari lulus sekolah menengah atas, membuatnya makin mandiri dalam melakukan berbagai hal.
Tampak saat dirinya membuka pintu, banyak benda-benda pajangan terpampang di setiap sudut ruangan. Ruangan menjadi sedikit sempit dikarenakan barang-barang tersebut. Tapi Rio tidak risih dengan itu. Selagi suka, hal itu tidak akan menjadi masalah baginya
Minatur keren buatannya juga menjadi langganan para kolektor seni. Baik di kota tempat ia tinggal, maupun diluarnya. Disisi ia sedang membuat miniatur, dirinya selalu mengingat akan segala ekspresi wajah dari gadis tersebut. Gadis yang mempunyai nama Alistya itu membuat seorang Rio makin bersemangat dalam membuat projeknya. Sayangnya satu buah foto pun tidak dimiliki olehnya. Lantaran pada saat itu, keduanya tidak menyempatkan diri untuk foto bersama.
"Foto tidak kumiliki, namun didalam kepalaku masih terbayang akan dirinya hingga kini." Ujar Rio sembari tersenyum.
Setelah berhasil menyelesaikan satu projeknya. Rio pergi untuk beristirahat sejenak untuk menghilangkan penat. Secangkir kopi hangat dan sebuah cemilan berada di depan matanya. Ia menikmati momen santai itu untuk beberapa saat. Usai beristirahat Rio bergegas pergi ke sebuah tempat.
Satu tempat lagi yang sering dikunjungi olehnya adalah berupa sekolah. Gedung sekolah menengah pertama yang menjadi tempatnya dahulu mengenyam pendidikan di masa lampau. Dan juga satu tempat yang mempertemukan antara dia dengan gadis tersebut. Kenangan terukir jelas di sana.
Rio berkunjung sembari melihat para siswa ekskul yang sedang menjalankan latihan sore itu. Tampak eskul baseball tengah berlatih dengan giat. Suara pukulan tongkat baseball yang kuat itu, menjadi ingatannya pula kala masih bersekolah disana.
Rio berjalan menelusuri lorong kelas. Dari lantai satu hingga ke lantai paling atas. Langkah kakinya berakhir di sebuah atap sekolah. Suasana begitu tenang dari atas. Cocok untuknya melihat para siswa yang sedang berlatih itu dari sana. Setiap seminggu sekali, Rio mengunjungi sekolah itu disaat para siswa lain sudah pulang. Melihat anak ekskul olahraga berlatih dikala sore menjadi bagian dari kegiatannya setiap minggu.
"Betapa semangatnya mereka berlatih sore ini." Ucapnya dengan nada rendah.
Usai beberapa lama berada di atap sekolah, dirinya pun kembali turun kebawah. Tampak para anak ekskul baseball itu telah selesai berlatih.
Rio berjalan menyusuri tangga dengan perlahan sambil melihat sekitar. Saat dirinya berjalan melewati sebuah kelas, Rio tersadar akan suatu hal.
"Sepertinya aku melewatkan sesuatu." Pikirnya.
Rio membalikkan badan, dan berlari kecil ke arah sebuah kelas. Kelas dengan lampu menyala itu diperhatikan oleh Rio dari luar. Tampak seseorang sedang duduk di bangku dengan kepala menunduk dalam lipatan kedua tangan. Rio coba untuk memasuki kelas tersebut. Berjalan dengan perlahan, lalu coba untuk memanggilnya.
Beberapa kali panggilan tidak di gubris oleh orang itu. Dan Rio harus menyentuhnya agar dia menegakkan kepalanya.
"Hey bangun. Hari sudah mau gelap. Sebaiknya kamu pulang." Kata Rio pada orang itu.
Dan kepala orang itu mulai mengangkat ke atas.
Akhirnya mereka memandang satu sama lain.
"Sudah malam ya? Aku lelah sekali." Cakap orang yang ternyata adalah seorang siswi sekolah disitu.
"Ternyata kamu siswi disini. Aku tidak mengetahuinya sebab kamu mengenakan jaket sehingga menutup seragammu." Kata Rio padanya.
Perempuan itu tampak tidak mendengarnya, sebab dirinya masih dalam keadaan mengantuk. Melihat kondisinya begitu, Rio berinisiatif menawarkan bantuan untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
"Aku antar kamu pulang ya?" Tanya Rio.
"Baiklah. Tapi gendong aku. Sungguh aku sangat lelah sekali." Jawab perempuan itu.
Rio berjalan sembari remaja itu menunjukkan jalan menuju rumahnya. Jarak yang lumayan jauh di tempuh olehnya. Hingga mereka sampai di tempat tujuan. Remaja perempuan itu mengucapkan terimakasih pada Rio atas bantuannya. Serta memberinya sesuatu sebelum lelaki itu kembali pulang.
"Ini ada makanan untukmu. Ambilah. Ini sebagai ucapan terimakasihku." Remaja perempuan itu tersenyum meskipun ia dalam keadaan mengantuk.
Rio menerima pemberiannya, dan pamit untuk pulang. Dan ia pun mulai pergi menjauh dari rumah remaja tersebut.
Saat tengah berjalan, seketika terdengar suara panggilan. Rio yang mendengar itu, langsung membalikkan badan dan memandang ke arah asal suara tersebut.
Tampak seseorang menghampiri Rio seorang diri dari rumah sang remaja perempuan tadi.
Seorang wanita yang kelihatan seusianya berdiri dihadapannya. Rio bingung kenapa wanita itu mengejar dirinya. Lalu wanita itu berkata pada Rio.
"Kamu yang sudah mengantar adikku tadi kan? Maaf telah merepotkanmu. Seharusnya aku menjemputnya lebih awal. Tapi karena kesibukanku, jadi aku tidak bisa menjemputnya."
Ungkap wanita itu.
Rio memaklumi hal tersebut.
"Tidak mengapa. Aku merasa kasihan saat melihat dia sedang tidur di kelas sendirian tadi. Sepertinya dia sangat kelelahan dan mengantuk sekali. Jadi aku berniat mengantarkan dirinya untuk pulang kerumahnya." Kata Rio pada wanita yang ada dihadapannya.
Setelah berbicara, seketika Rio menyadari sesuatu. Sebuah bekas luka di tangan wanita itu mengingatkannya akan satu hal. Lalu dirinya mulai bertanya perihal itu.
"Bekas luka ditanganmu itu, apakah sudah lama ada?"
Awalnya wanita itu diam dan memperhatikan bekas lukanya. Namun, pada akhirnya wanita itu pun menjawab pertanyaan dari Rio.
"Iya ini sudah lama ada. Sejak aku masih sekolah menengah pertama. Ini karena seorang temanku tak sengaja melukaiku." Jawabnya.
Kemudian wanita itu bertanya, kenapa Rio menanyakan pasal luka yang ada di tangannya itu.
Rio terdiam beberapa saat, sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari wanita tersebut.
"Aku teringat akan seseorang yang mengalami luka sama persis berada di daerah itu. Dan dia adalah teman masa sekolah menengah pertamaku dulu." Balas Rio.
Mata wanita itu terbuka lebar dan tampak terperangah dengan apa yang di katakan Rio tadi.
"Jadi, apakah kamu yang membuatnya terluka?"
Tanya wanita itu.
"Benar. Aku tidak sengaja melukainya disaat tengah membantunya mengerjakan projek miliknya saat itu." Rio menjawab di selingi sedikit senyuman.
Lantas karena jawaban Rio tersebut, membuat wanita itu langsung meneteskan air mata haru.
"Kamu adalah Rio?" wanita itu meyakinkannya.
Rio mulai merasakan perasaan rindu yang telah meledak saat ini. Tidak bisa berkata apa-apa lagi sebab kini orang yang selama ini menjadi teman semasa sekolah menengah pertama itu, telah hadir di hadapannya. Rio langsung memeluk wanita itu dengan erat dan berbisik padanya.
"Ini aku, Rio yang merindukanmu sejak lama."
wanita itu menangis lantaran dirinya juga merasa rindu pada sosok Rio yang menjadi teman dekatnya pada masa lampau.
"Aku juga merindukanmu Rio. Akhirnya kita bertemu lagi usai sekian lamanya."
wanita itu memeluk Rio dengan erat jua.
Usai berpelukan, Rio berkata padanya tentang pekerjaanya kini. Begitu pula sebaliknya dengan wanita itu yang lebih dikenal dengan nama Alistya. Wanita itu bangga dengan sosok Rio yang sukses sekarang ini, karena hal yang telah diajarinya di masa sekolah dulu.
"Diorama hidup kita, kini telah terjadi dengan sendirinya ya." Ucap Alistya dengan senyum unjuk gigi khasnya.
Rio membalas dengan senyum lebar ketika dapat melihat kembali senyuman khas wanita itu.
Momen ini pun di akhiri dengan foto bersama di saat langit malam tengah dihiasi oleh gemerlapnya bintang-bintang.
-----SELESAI-----