Bukan karya saya. saya hanya ingin berbagi cerita :) kalau anda tidak suka tidak apa" tidak usah baca :)
~~
“Tolong, buka tirai jendela kamarnya Bu, aku ingin melihat bulan sebelum tidur,” pintanya padaku, aku tersenyum dan menyibakkantirainya. Jendela besar dari kaca di lantai dua yang langsung menghadap langit itu terbuka lebar. Dia terlihat sumringah.
“Ibu akan buat bulan itu tampak lebih jelas lagi, kamu mau?” Ia mengangguk cepat, “Mau Bu!” Lampu kamarkumatikan begitu pun lampu di balkon. Kamar menjadi gelap. Hanya cahaya bulan yang menerabas masuk ke dalam kamar. Bulan sedang bagus – bagusnya. Purnama penuh ditemani bintang – bintang yang berkelip di langit. Bibirnya terlihat membentuk kata “Wuaaah” tanpa suara dan matanya berbinar senang melihatnya.
Aku naik ke atas tempat tidurnya dan masuk ke dalam selimut bersamanya. Kupeluk erat tubuhnya. “Bulannya indah ya Bu.” Akumenggangguk, “Indah dan cantik sekali, seperti kamu.” Aku bisa mendengar pelan suara tawa senangnya atas pujian itu. “Ih ge er, iya cantik kalau lagi ga ngambek,”kataku. Sekarang dia merajuk dan memelukku erat, aku tersenyum. “Bu, ambilkan bulan itu untukku dong, jadi bisa aku nyalakan kalau – kalau mati lampu,”katanya. Aku tertawa, “Heiy, kau pikir bohlam apa...iya nanti Ibu usahain, tapi Ibu harus bikin tangga dulu yang panjaaaaang banget biar nyampe ngambilnya.” Sekarangdia yang tertawa.
“Bu, itu bintang apa yang berkelip terang di sebelah bulan?”
Mataku mencari – cari ke langit malam, “Yang mana sayang?”
“Itu Bu, yang paling terang.”
“Oiya, itu ya yang paling terang…mmm, bintang apaya? Kayaknya belum ada namanya, gimana kalo bintang itu kamu aja yang kasihnama?”
“Kok aku Bu? Kan harusnya para penemu yangmenamakannya.”
Aku tertawa, “Tapi bintang itu barusan kamu yang menemukannya loh…jadi ya kamu boleh kasih nama dong.”
“Boleh gitu ya Bu?” tanyanya dengan senyum yang lebar.
Aku mengangguk, “Boleh banget sayang.”
Tiba – tiba, aku merasakan nafasnya tersenggal.Kakinya mengejang dan tubuhnya gemetar. Tangannya memegangi kepalanya. Suaranya terdengar tertahan dan mendesis. Dia membenamkan dirinya ke dalam pelukanku,menahan sakit. “Sshh…sshhhh, sayang, sabar ya…sabar…” bisikku di telinganyamenguatkan. Aku semakin memeluknya erat, takut pelukan ini lepas. Perlahan aku dendangkan lagu kesukaannya untuk menenangkan. Lama kelamaan dia kembali tenang, kejang dan gemetarnya hilang. Lagu itu menidurkannya. Aku menatapnya dalam lelap. Ada yang menetes dari mataku, mengalir hangat di pipi.
Setiap malam kita melihat bulan dan bintang bersama.Menghabiskan malam dengan memeluknya. Menyanyikan perlahan lagu kesukaannya hinggadia jatuh tertidur dalam pelukan. Ah ini menjadi malam – malam paling bahagia dalamhidupku sekaligus menjadi malam paling gelisah di hatiku. Aku takut ya Tuhan.
-------------------------------------
Di hari – hari berikutnya.
“Kemana bulan dan bintang Bu? Kok langitnya sepi?”tanyanya sambil meraba – raba kasur mencari selimut. Aku melihat langit darijendela, tampak bulan dan bintang sedang bersinar. Hatiku patah dan sedih,sekarang penglihatannya semakin buram.
“Iya ya, kemana ya, sebentar lagi juga muncul,mungkin tertutup awan sayang,” jawabku tersenyum dalam pedih, “Eh, sudah kamu kasih nama belum, bintang yang terang kemarin itu?” Dia mengangguk. “Siapa?”aku penasaran. Dia membisikkinya di telingaku. “Wuaaah, namanya bagus banget…”seruku mencubit pipinya. Dia tertawa riang.
“Tapi malam ini, kasihan langit ya Bu, dia sepi karena ga ada bulan dan bintangnya.”
“Ga juga, tungguin deh sebentar lagi, langit bakalanrame, ga cuma ada bulan dan bintang tapi ada aliennya juga!” seruku sambil melompatke tempat tidur dan menggelitikinya.
“Hahaha…ah Ibu bohong….hahaha…”
Aku terus menggelitiknya, sia – sia dia menghindaraku terus mengejarnya, tawanya menggemaskan sekaligus menghujam tajamjantungku. Ya Tuhan, aku selalu ingin mendengartawanya.
Hari – hari yang dilalui, tidak ada satupun yang terlewat untuk memperjuangkannya. Aku terus berusaha dan berusaha, kau tahu,aku tidak pernah menyerah untukmu sayang. Wajahnya yang bulat dengan bulumatanya yang lentik terlelap, aku tidak pernah bosan memandanginya. Rambutnya yang dulu ikal lebat kini habis, tapi tetap membuatnya cantik tak ada duanya.Aku mencium keningnya dan menahan isak di dada.
------------------------------------
Hening malam ini. Sudut – sudut rumah begitu muram. Detak detik di jam dinding ruang tengah menambah sunyi yang mendalam. Mataku masih sembab, hatiku masih pecah berantakan dan setiap malam kesenyapan ini selalu membungkam.Perlahan aku mendorong pintu kamar dengan jendela besar di lantai dua. Kamar yang selalu membuat air mataku jatuh menetes begitu saja tanpa kompromi. Kakiku melangkah masuk.
“Sayang, mau Ibu sibakkan tirainya? Kamu mau lihatbulan malam ini kan?” Tidak ada tanggapan. Aku tetap membuka tirainya.
“Eh Ibu akan buat bulan itu tampak lebih jelas lagi,kamu mau?” Tidak ada tanggapan. Aku tetap mematikan lampu kamar dan lampubalkon hingga kamar menjadi gelap. Cahaya bulan menyemburat masuk melaluijendela kaca dan satu bintang berkelipan terang di sana.
Aku naik ke atas tempat tidurnya, menyelimuti tubuhku dengan selimutnya. “Sayang, lihat…itu si Hope muncul…di sebelah bulan…bintangyang paling terang, kau lihat?...Itu nama yang kau berikan untuk bintangnya…kauingat kan? Kau yang membisikkan nama itu ke Ibu waktu itu.” Tidak adatanggapan.
Bibirku mulai gemetar, bola mataku bergetar – getar,“Sayang…jangan diam aja…jawab Ibu sayang…Ibu di sini….” lirih aku tersedak sedih.
Tetap tak ada tanggapan dan jawaban. Di kamar ituhanya ada aku sendiri.
“Lihat sayang, bulan sedang cantik – cantiknya… dan itu, Hope bersinar terang, kamu harus lihat ini…kamu harus lihat nak, kamu pasti…suka,” suaraku semakin pelan, serak lalu tenggelam bersama harapan yanghilang dan isak kesedihan yang menyelesak dada.
Apa yang paling menyakitkan bagi seorang ibu? Adalahmelahirkan, membesarkan lalu melihat darah dagingnya pergi mendahuluinya tanpa bisa menahannya.
Aku tahu sakitmu dan waktumu yang sedikit, tapi kepergianmu tetap meninggalkan lubang dalam di dadaku. Sesak mengisi paru – paruku. Inikesedihan hebat yang harus aku jalani setiap hari dan aku akan selalu jatuh disitu. Mau bilang apa lagi. Bulir – bulir airmataku jatuh pecah di atas selimutmu.Harum tubuhmu tertinggal di selimut ini dan aku ciumi. Perlahan aku memohon kepadaTuhan untuk membawamu kembali.
*Ambilkanbulan Bu…ambilkan bulan Bu
Ini ibu nyanyikan untukmu, lagu kesukaanmu. Di saatkau terlelap dan ibu menjagamu.
*Yangselalu bersinar di langit
Maafkan ibu yang belum sempat mengambilkan bulanuntukmu.
*Dilangit bulan benderang
Bulan itu Ibu, selalu ada untukku, kamu yang bilangbegitu.
*Cahyanyasampai ke bintang
Dan kamu adalah bintang yang selalu bercahaya. Kamubintang kesayangannya Ibu.
*Ambilkanbulan Bu…
Sayang, bila kamu bertemu Tuhan, katakan Ibu inginkamu pulang.
*Untukmenerangi…
Ibu tidak sanggup sendiri tanpamu.
*Tidurkuyang gelap
Ibu kangen, ingin memelukmu erat.
*Dimalam gelap…
Dan ibu tidak akan pernah melepaskanmu lagi.
TAMAT
PenulisKen Fauzy
Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata, saat melihat seorang ibu yang sedih melihatanaknya meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Bandung.
*Diambildari lagu “Ambilkan Bulan Bu” Karya AT. Mahmud