Ini season2 dari cerpen izinkan aku (pergi).
Kini aku dan bang luis sedang berada di ruang keluarga.
Momy dan dady pergi katanya sedang menjemput seseorang.
"Sayang apa kamu sendirian di sana?" Tanya bang luis sambil menatap sedih padaku.
Aku tersenyum tipis, sudah begitu banyak yg kulalui disana sendiri.
"Ya,, dan disana bella selalu merindukan bang luis" jawabku sambil menaruh kepala ku di pundak bang luis yg duduk di samping ku.
"Abang minta maaf baby" ucap bang luis lirih.
"Sudahlah bang yg penting, bella sudah kembali, bella boleh Minta satu permintaan gak bang?" Tanya ku lalu kembali duduk tegak.
"Tentu apa saja yg kau mau asalkan jangan meminta abang untuk membiarkan kau pergi lagi sayang" jawab bang luis dengan tegas.
Aku terdiam sejenak.
"Bang,,,bel,, bella sebenarnya......" belum selesai aku ingin memberi tau kebenaran yg kusembunyikan selama ini.
Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yg datang duduk di samping bang luis dan Memeluknya erat.
Aku mengerutkan keningku, melihat bang luis yg tidak menolak pelukan wanita itu, namun bang luis tidak membalasnya ataupun menolaknya.
"B,, bang dia siapa?" Tanya ku dengan nada terkejut.
"Dia calon mantu momy nak" jawab momy yg datang bersama dady dan duduk di sofa dekat kami.
Deg.... seketika ada rasa sakit menjalar di hatiku,
Entah kenapa tiba-tiba aku langsung memegang dadaku.
Bang luis menatapku dengan tatapan sedih.
"Sayang, apa kabar kamu, kok skrng kamu jarang lagi sih jemput aku di rumah,, tapi gk papa, nanti malam kita jalan jalan yuk" ajak wanita itu dengan nada yg sangat manja.
"Iya" jawab bang luis singkat matanya tetap menatap ku.
Aku menunduk meremas rok yg kupakai, mencoba menahan air mata ku yg sudah berkumpul ingin segera keluar.
"Bella, abang kamu akan menikah minggu depan, momy harap besok kamu segera pulang ya ke Australia" ucap momy dengan nada agak sedih sambil mengelus pundakku.
Aku yg mendengar itu pun, sudah tak tahan.
"M,, mom bel,, bella mau kekamar ya, mau siap siap buat besok" ucapku dengn nada bergetar lalu segera lari ke kamarku menghiraukan bang luis yg terus memanggilku.
Setelah aku pergi ke kamar.
Bang luis menatap dady dengan datar.
"Apa yg kalian lakukan! Lihatlah bella sedih!! Dan ku lepas tangan mu dari ku" bang luis menghempas tangan wanita itu sampai dia tersungkur ke lantai.
"Jessica" teriak momy, momy pun segera menolong jesisika agar berdiri kembali.
"Luis!! Jaga perilaku mu, di calon istrimu!" Bentak dady.
"Cuih!! Sampai kapanpun luis gk akan anggap dia istri ku" bang luis berdecih.
"Cukup! Luis kau benar benar!! Kau sudah menghamiliku lalu kau seenaknya bicara seperti itu!!" Teriak jesicca dia sengaja berteriak agar aku mendengarnya.
Bang luis terdiam lalu meninggalkan mereka menuju kamarku.
Sementara aku saat aku sampai di dalam kamar aku langsung mengunci pintu kamarku dari dalam.
Lalu aku berlari ke kamar mandi.
Aku berdiri menatap diriku di cermin wastafel.
"Apa yg kau harapkan bella,, dia saudara mu, harusnya kau bahagia bukan seperti ini" ucapku pada bayangan diriku di cermin sambil menangis.
"Kenapa,, hiks,, kenapa aku harus merasakan rasa sakit ini!, kenapa aku harus jatuh cinta sama abang ku sendiri!"
Aku mengacak-acak rambutku, namun seketika aku berhenti saat merasakan sakit yg amat sakit di kepalaku.
"Arrgghh" jeritku lalu memegang kepala ku.
"Sakit!! Hiks.. tolong kepala ku sakit!!" Aku berteriak berharap mereka mendengar ku.
Aku menatap wajahku di cermin, trnyata darah sudah mengalir deras di hidungku.
"Tolong aku bang luis hiks.." ucapkan melemah.
Tiba-tiba aku mendengar suara jesika yg berteriak dengan lantang dan bilang bahwa bang luis sudah menghamilinya.
Jderrr,,,,, bagai di sambar petir di siang bolong, hatiku rasanya sesak, pikiran ku kacau.
Rasa sakit di kepalaku semakin bertambah membuat ku tak mampu lagi menahan diriku agar tetap sadar.
Dan akhirnya aku terjatuh di lantai kamar mndi itu.
Sementara bng luis yg dari tadi mengetuk pintuku
Mendengar jeritanku dari dalam, bang luis pun segera mendobrak pintu kamar ku.
Setelah terbuka matanya menyapu seluruh ruangan dalam kamarku namun tak menemukan ku disana.
Bang luis segera berlari ke arah kamar mandi.
Alangkah terkejutnya bang luis melihatku tergeletak di lantai itu.
"BELLA" teriak bang luis.
Tanpa basa basi bang luis segera menggendong ku lalu membawa ku kerumah sakit diikuti dengan mom dad dan Jessica.
Kini aku berada di ruang icu dokter sudah memeriksa ku.
"Bagaimana keadaan adik saya dok" tanya bang luis khawatir.
"Pasien mengalami kanker otak stadium akhir, kami tidak bisa berbuat apa apa tuan, karna pasien menolak untuk di mengikuti kemoterapi dua tahun yg lalu" jelas sangat dokter.
"Dua tahun yg lalu?" Tanya dady kaget dan sedih mendengar keadaan putrinya.
"Iya tuan, dua tahun yg lalu saya ke Australia karna suatu alasan, dan pasien ini saat itu sedang kritis saya dan dokter lainnya meminta izin agar pasien mau mengikuti pengobatan kemoterapi namun pasien menolak, dan kami hanya pasrah karna semua keputusan sudah di ambil oleh pasien,
, dan sekali lagi saya minta maaf harus mengatakan ini,,
Umur pasien hanya bertahan 24 jam dari sekarang "jelas sangat dokter.
"Tidak anakku hiks.." teriak momy menerobos masuk ke dalam di ikuti dengan dady.
Sementara dokter sudah pergi, bang luis masih terpaku mendengar penjelasan dokter tadi.
"Kanker otak" bibir bang luis bergetar saat menyebutnya.
Kaki nya berjalan membawa tubuh bang luis masuk ke ruangan ku.
Sementara momy, saat dia masuk momy langsung memeluk tubuhku yg lemah, pucat dan memakai alat bantu pernapasan.
"Sayang momy minta maaf,,, momy minta maaf,, momy gk ada disaat kamu seperti itu hiks.. hiks..." ucap momy yg sudah menangis.
Aku terbangun mendengar suara momy, lalu tersenyum tipis, saat mendengar ucapan momy.
"Mom" ucapku lemah
Momy melepas pelukan nya lalu menatap ku.
"Kamu sudah bangun sayang hiks.. momy minta maaf nak"
Aku menggeleng lemah "mom tak bersalah ini sudah takdir mom jangan menangis" jawabku dengan nada terbata-bata karna nafasku sudah tidak normal lagi.
Momy sungguh tidak bisa berhenti menangis kali ini bagaimana dia bisa tidak menangis melihat keadaan putri nya yg sudah diambang kematian itu.
Dady langsung menarik momy keluar dari kamar saat melihat kedatangan luis.
Kali ini dia sadar tidak seharusnya dia memisahkan aku dengan bang luis.
Setelah mom dan dady pergi aku melihat bang luis yg berjalan ke arah ku dengan tatapan kosong.
Setelah sampai di samping kasur ku, bang luis megang tanganku.
Dia duduk di pinggir kasur tepat di samping ku.
"Ada apa bang?" Tanya ku melihat bang luis yg menatap ku sedih.
Setelah mendengar pertanyaan ku air mata bang luis menetes.
"Kenapa baby? Kenapa kau lakuin ini? Kenapa?" Tanya bang luis dengan nada serak.
"Bang dengarin bella" aku memegang tangan luis dengan lemah, sungguh kali ini aku sama sekali tak ada tenaga.
"Bella minta maaf bang, bella sebenarnya gak mau punya penyakit ini, tapi bella bisa apa ini lah cara tuhan untuk menjemput bella bang" ucapku dengn nada lirih air mata mulai menetes deras di mata ky dn mata bang luis.
"No baby, jangan pergi, kau sudah berjanji padaku" bang luis menutup mata nya lalu memalingkan wajahnya tak ingin menatapku.
"Huh,, bang apa bang luis mau bella terus tersiksa karna penyakit yg ada di tubuh bella" tanya ku pada bang luis.
Bang luis menggeleng pelan.
Aku tersenyum.
"Ini sudah takdir bang,, bella harus pergi, bella tau bang luis sayang bella, bella tau bang luis gak mau bella sakit🙂, dan bella yakin bang luis pasti mengerti dengan keadaan bella" jelas ku dengan nada pelan.
Bang luis terdiam sejenak.
Dia balik memandang ku, hatiku hancur melihat tatapan yg bang luis berikan padaku.
Bang luis menatapku dengan tatapan kesedihan, penyesalan, dan kasih sayang.
"Boleh abang meluk bella untuk terakhir kalinya?" Tanya bang luis dengan nada lirih.
Aku mengangguk
Bang luis pun langsung memeluk tubuhku yg terbaring lemah.
Aku mengelus punggung bang luis pelan.
"Bang ingatlah satu hal pelukan ini bukan yg terakhir,, tidak ada yg terakhir dalam kisah kita bang" aku berbisik tepat di telinga bang luis.
Bang luis tersenyum tipis.
"Pergilah sayang, pergilah tapi jangan pernah meninggalkan luis" pinta bang luis.
Lalu bang luis menidurkan dirinya di sampingku.
Dan menarik ku ke pelukannya.
"Bang, jessika cantik ya" ucapku sambil menatap mata bang luis.
"No,, bagiku yg cantik hanya kamu bella, abang minta maaf, sebenarnya bukan abang yg lakuin itu, Jessica hanya amnesia, ayah dari anak jesika adalah temen abang hanya saja dia sudah meninggal dalam kecelakaan mobil saat itu" jelas bang luis sambil mengelus rambut ku.
"Luis Hanya mencintai mu bella"
Aku tersenyum tipis
"Abang tau? Kalau perasaan abang untuk bella itu salah?" Tanya ku
"Hmm ya bang luis sudah tau, tapi apa salah kalau bang luis mencintai mu bella, seperti dirimu,, mungkin semua ini sudah takdir, luis hanya di ciptakan untuk mencintai bella, dan bella di ciptakan untuk menyayangi luis" ucap bang luis sambil sedikit Bercanda.
Aku terkekeh lemah mendengar jawaban bang luis.
Tiba-tiba sakit yg amat sakit kembali menyerang kepalaku.
Aku memegang kepalaku.
"Apa sangat sakit?" Tanya bang luis sedih.
Aku menggeleng lemah, walaupun aku bilang tidak bang luis tau aku merasakan sakit itu.
Aku melihat atap atap langit yg entah kenapa dalam pengelihatan ku, atap itu berubah menjadi cahaya, cahaya yg sangat terang.
"Bang ini waktunya" kata ku sambil tersenyum menatap bang luis.
Air mata bang luis kembali menetes dia tau apa arti ucapan ku itu.
"Pergi lah, dan ingat aku selalu mencintaimu sayang, dan tunggu luis disana" jawab bang luis sambil menggenggam tangan ku erat.
"Aku juga mencintaimu bang, bella akan menunggu luis disana" ucapku setelah itu perlahan-lahan mata ku tertutup, hingga mataku tertutup dengan sempurna.
"Bella hiks.." tangis bang luis memenuhi ruangan ini sekarang, sementara mom dan dady yg dari tadi mengintip pun terduduk lemas di lantai.
Air mata penyesalan tak kunjung berhenti keluar dari mata mereka.
Seharusnya mereka tak perlu memisahkan ku dengan bang luis karna Mereka tau aku bukan lah anak kandung Mereka, aku hanya di pungut saat masih bayi di panti asuhan.
Bang luis tak tau itu.
Sementara jessica saat dia Mendengar penjelasan luis tentang ayah dari anaknya, hatinya sungguh merasa bersalah, dia merasa dirinya sungguh bodoh, jessica pun berlari keluar meninggalkan rumah sakit itu dengan terus mengucap.
"Maafkan aku bella" hanya kata itu yg keluar dari mulut jessica.
Sementara aku saat,, aku terakhir kali menutup mata ku, jiwa ku terangkat dari tubuhku, aku melihat badanku yg sedang di peluk erat oleh bang luis.
Dapat kulihat bang luis menangisi kepergianku, bang luis tidak melihatku yg skrng berdiri di sampingnya karna aku kini bukanlah manusia lagi.
"Bella minta maaf bang" ucapku.
Lalu aku kembali melihat cahaya di atap atap ruangan itu dan tiba-tiba saja jiwa ku terbang menuju cahaya itu sampai aku hilang di balik cahaya itu.
Dan meninggalkan tubuhku yg sudah tak bernyawa lagi.
Tamat
----------------