Dunia yang begitu luas, membuat seseorang pasti akan penasaran dengan keadaan bagian belahan dunia lainnya. Sehingga munculah pikiran yang mendorong seseorang untuk melakukan sebuah aktivitas perjalanan ke tempat lain. Termasuk perempuan bernama Erika. Ia gemar jalan-jalan ke berbagai tempat. Baik lokal maupun internasional. Namun disaat dirinya sudah menyusun rencana untuk beberapa bulan ke depan, tiba-tiba dunia dilanda oleh yang namanya sebuah pandemi. Penyakit menular yang menerjang satu dunia, membuat segala kegiatan diluar ruangan menjadi terhambat. Serta peringatan untuk melakukan karantina mandiri pun dicanangkan oleh pemerintah setempat. Erika yang sebelumnya sudah menyusun rencana, harus merelakan segalanya.
Perasaan kesal tentu saja timbul setelah mengetahui hal tersebut. Namun, di lain sisi ia menerima keadaan, karena menyadari bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.
Jadi dengan anjuran pemerintah, para penduduk harus melakukan karantina mandiri dalam beberapa waktu kedepan. Dan hal itu mulai berlaku pada esok harinya.
Di kediamannya, Erika sarapan sambil menonton televisi. Tampak kini acara televisi lebih banyak menampilkan berita mengenai pandemi yang sedang terjadi. Kasus bertambah setiap waktu. Membuat Erika pesimis bahwa hal ini akan terjadi dalam jangka waktu yang lama, setelah melihat jumlah orang yang telah terjangkit.
"Perjalananku, pekerjaanku, serta aktivitasku diluar ruangan menjadi terbatas serta menghilang begitu saja." gerutu Erika sambil memegang segelas minuman.
Setelah sarapan, Erika lanjut membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi keluar sebentar untuk berbelanja kebutuhan.
Saat di tempat perbelanjaan, dirinya melihat bahwa persedian yang dijual di tempat itu sudah menipis. Erika jelas terkejut atas fenomena itu.
"Bahkan sudah terjadi panick buying disini. Sekarang aku harus mengambil apa yang tersisa saja disini. Huft!" Erika menghelus dada.
Setelah dari berbelanja, ia pun pergi keluar. Setiap berjalan, Erika selalu di cek suhu tubuhnya oleh petugas yang berjaga di sekitar jalan yang dilaluinya.
Sesampainya dirumah, dirinya duduk dan memainkan ponsel untuk mengecek sosial medianya. Hampir seluruhnya berisikan kabar mengenai pandemi. Hal itu membuat Erika risih dan akhirnya ponsel pun dimatikan.
Beberapa hari sudah berlalu. Pandemi masih terus berlangsung. Erika yang berada dirumah, sudah merasa begitu bosan. Pekerjaan dilakukan secara online, dan pergerakannya sangat terbatas saat ini.
Peraturan ketat telah ditetapkan. Membuat para penduduk menjadi tidak bisa leluasa dalam melakukan aktivitas diluar rumah. Ini berdampak bagi setiap orang. Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh seorang Erika.
Kalender terus dicoret pertanggalnya. Layar monitor lebih sering menyala dibanding sebelumnya. Serta rumah yang tidak pernah kosong belakangan ini. Pandemi memberi efek yang begitu besar. Baik ekonomi maupun sosial.
Erika memandang layar sembari menyantap mie instan hangat. Cocok untuk menemaninya dikala hari sedang hujan saat ini.
"Sudah lama aku melakukan hal begini. Menatap layar komputer seharian dan tidak bisa keluar rumah terlalu lama. Ini sangatlah membosankan."
Ujarnya seraya menghela nafas.
Di hari-hari berikutnya pun kegiatannya masih sama sedari awal. Erika bingung bagaimana caranya ia bisa menghilangkan rasa bosan ini. Segala kegiatan yang biasa dilakukan, membuatnya kebingungan lantaran mulai tidak berniat lagi untuk melakukannya kembali. Kini ia lebih sudah ke arah bermalas-malasan.
"Ini seperti isolasi dari kehidupan sosial yang tak menentu masanya. Apakah ini akan membuatku menjadi seorang intovert?" Gumam Erika.
Seluruh buku yang dimilikinya telah dibaca, kebutuhan yang ada di kulkas tinggal tersisa sedikit, hingga gaji dari pekerjaannya mengalami pengurangan. Hidup makin terhimpit dari segi ekonomi maupun sosial. Erika berpikir bagaimana caranya agar dapat bertahan hidup di situasi seperti saat ini.
"Aku hanya seorang pegawai kantoran. Yang baru saja mengalami penurunan gaji. Belum lagi ancaman akan pemutusan hubungan kerja. Hmm apa yang harus aku lakukan kalau sudah begini?"
Pikir Erika sambil mondar-mandir.
Dirinya mulai mencari suatu hal yang bisa membuatnya tidak bosan dan mampu membantunya dalam segi ekonomi terlebih dahulu. Pertama Erika memahami kondisi yang tengah terjadi. Lalu setelah itu, ia memikirkan hal apa yang disukainya. Setelah itu barulah dirinya mulai mencari peluang dan menulis rancangan usahanya. Sebuah pulpen dan kertas menjadi alat dan wadah untuk menuliskan ide yang telah muncul dibenaknya. Akhirnya Erika siap untuk merintis sebuah pekerjaan baru dikala pandemi.
Erika pandai dalam hal keterampilan dan memasak. Jadi dirinya mulai membuat produk yang akan di jualnya nanti. Erika tidak memikirkan target tinggi. Tetapi ia coba untuk melakukan uji coba terhadap bisnisnya itu. Dalam waktu dua minggu, dirinya akan berbisnis online melalui perantara beberapa media sosial. Dengan melakukan promosi disana, Erika berharap hal itu memberi dampak positif untuknya.
"Ini sekedar uji coba. Bila berhasil, aku akan mengembangkannya sebaik mungkin." Ucapnya dengan penuh yakin dan semangat.
Di sela berbisnis, Erika juga mempelajari hal terkait ekonomi dan bisnis lebih dalam. Melihat perjalanan karir seorang pebisnis sukses yang ada, membuat dirinya makin bersemangat dan berupaya untuk mencapai tujuannya tersebut.
Waktu terus berjalan, hingga tiba masanya uji coba berakhir. Penjualan bisa dibilang lumayan. Dengan harga cukup terjangkau, Erika dapat mesntabilkan ekonominya. Sesuai dengan apa yang dikatakan, dirinya akan lanjut untuk menjalani bisnis tersebut sembari mengembangkannya.
"Aku akan mengembangkannya sebaik mungkin. Saatnya membuat hal baru!" Erika bersemangat.
Dengan semangat yang menyala, Erika mengurus bisnisnya sembari menambah beberapa produk baru yang diharapkan bisa meningkatkan pendapatannya. Semakin hari semakin ramai. Produksi rumahan itu mengalami permintaan yang sangat banyak. Erika yang bekerja seorang diri mulai kewalahan. Karena bisnisnya itu, Sampai-sampai Erika tidak sempat membersihkan rumahnya tersebut. Sadar akan ketidakmampuannya dalam menangani bisnis seorang diri, Erika memutuskan untuk merekrut beberapa pegawai, yaitu dari kalangan teman-temannya. Beberapa temannya ikut bergabung dan membantu Erika dalam menjalani bisnis rumahan tersebut. Kini Erika dapat melakukan bisnis serta mengerjakan pekerjaan kantornya itu.
Pandemi berlangsung cukup lama.
Dan suatu hari yang sangat cerah.
Erika berjalan keluar rumah. Melihat cuaca yang bersahabat. Serta menghirup angin segar di pagi hari. Senyuman terlukis di wajahnya. Sebab dirinya begitu bahagia lantaran pandemi sudah usai. Televisi dan sosial media tidak dipenuhi oleh kabar duka pandemi, dan kehidupan sosial pun mulai timbul kembali.
Bisnis yang sukses, serta pekerjaan yang terurus dengan baik selama masa pandemi.
Membuat dirinya makin bahagia.
Kini Erika memiliki usahanya sendiri. Dengan bisnisnya itu, ia dapat menambah lapangan kerja untuk orang banyak di lain waktu, serta membantu perekonomiannya.
Dan saat ini Erika tengah berencana untuk fokus ke bisnis yang telah dirintisnya itu dalam waktu dekat.
"Sebaiknya aku harus fokus dengan apa yang telah aku rintis. Menjadi pemimpin di unit usaha sendiri lebih baik menurutku. Aku akan beralih dalam waktu dekat dan menjadikan hidup lebih baik kedepannya." Ujarnya seraya menatap ke atas langit.
"Fisikku merasa begitu terisolasi. Tetapi pemikiranku tidak akan ikut ke dalamnya."
(catatan Erika dikala pandemi menerpa).
-----SELESAI-----