Malam ini tepatnya tanggal 5 April, aku mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang kukenal.
Dia mengajakku ke sebuah acara rapat besar di salah satu hotel bintang tiga di daerah tempat tinggalku ini.
Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri dulu, kalian bisa memanggilku Ara dan dia itu bernama Amar.
Aku memanggilnya dengan sebutan kakak karna dia senior di kampusku dan dia juga pernah bilang
"Kamu pokoknya jadi adeknya kakak jadi siapa aja yang ganggu kamu kakak yang urus, bahkan mau jadi cowok kamu kakak yang urus."
begitulah ujarnya dan sampai saat ini pun dia adalah kakak yang menginspirasi bagi ku.
Dulu aku pernah berdoa pada tuhan agar suatu saat nanti Aku dapat memiliki kakak, mau itu laki-laki atau perempuan yang penting dia jadi kakak yang menginspirasi dan memotivasiku sampai detik ini.
Aku juga pernah bercerita kepada sahabatku yang bernama Ipeh bahwa
"sekarang gw punya abang dong, ih mau sombong nih gw." kata ku.
"ciee, jadi sekarang apa statusnya nih?"ledeknya lagi.
"ya masih jomblo lah, kan gw cuma jadi adeknya aja Peh bukan doinya."
"oh oke, awas baper ya kalo lo sampe di buat nangis sama Dia liat aja gw bakal maju untuk ngelindungin lo!" Tegasnya lagi.
Jujur hari itu aku senang kala mendengar kak Amar berbicara seperti itu dan juga sahabatku berbicara seperti itu.
Namun disisi lain Aku merasa bimbang karna Aku memiliki fikiran yang aneh dan cukup aneh.
'Apa bener yang ngomong di chatt tadi itu ka Amar? jangan-jangan itu kawannya lagi yang mau buat gw baper doang.' batinku.
Tepat pada pukul 21.09 WIB ka Amar menghubungiku lagi lewat chatt pribadi dan menanyakan tentang acara yang organisasi kami buat besok malam.
"emangnya besok adek gak ikut acara bakar-bakar itu?" tanyanya.
"Ikut kak klo di izinin. Tapi kan klo ada acara kayak gini sapa tau lebih cepet dapet izinnya kan."
"oke siap." jawaban singkat yang selalu Ia ucapkan.
Chattan malam ini pun berhenti dan Aku melanjutkan beberapa laporan yang belum terselesaikan.
Keesokan paginya tepat pada pukul 06.30 WIB Aku terbangun. padahal tadi malam aku tertidur pukul 01.30 WIB, mungkin karna Aku akan pergi ke acara itu rapat besar itu makanya aku bisa bangun pagi.
Pagi ini aku berberes rumah, kamar, mencuci baju dan menggosok baju yang akan Aku pakai nanti.
Lalu mandi tepat pada pukul 11.00 WIB. Aku memang sengaja mandi dan berangkat sedikit ngaret, tapi ujung-ujungnnya Aku sendiri yang gupek sampai celana ganti untuk besok saja tidak terbawa.
Sekitar jam 11.30 WIB kak Amar menghubungi ku lagi lewat chatt, Dia menanyakan apakah Aku sudah mendapatkan izin atau belumnya.
"gimana udah izin blm?" tanyanya.
"iya udah kok kak, tinggal bearangkat aja."
"oke bagus deh."
Saat di perjalanan pun Dia menghubungiku lagi namun dengan pertanyaan yang berbeda.
"udah berangkat belum dek?" tanyanya lagi.
"udah kok ka, ini lagi di jalan."
"oke hati-hati."
Dan sekitar 30menit Aku akhirnya sampai di kampus, lalu Ibuku menghampiri kak Amar untuk menanyakan acara apa saja yang akan di lakukan selama 2 hari nanti.
Lalu dengan santai dan tegas ka Amar memberi tahukan susunan acaranya.
Setelah mereka berdua mengobrol, Ibu pun memperbolehkan Aku ikut lalu pergi kembali pulang.
Sekitar jam 12.30 WIB Aku dan kak Amar pun berangkat menuju tempat acara itu.
Tak ada pembicaraan saat kami di motor hanya diam saja dan tak banyak bicara.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, Aku dan kak Amar pun sampai di tempat tersebut. kami langsung masuk menuju acara itu.
Kak Amar menelfon salah satu kakak panitia yang mengajak kami ke acara tersebut lalu.
Baru saja selesai menulis nama dan tanda tangan kak Amar mengajakku bertemu dengan panitia acara tersebut.
Bersalaman dan mengobrol bersama, itulah yang kami lakukan kala sampai di tempat itu.
Namun kak Elis salah satu panitia acara rapat besar itu memberi tahukan kami berdua bahwa acara pentingnya bukan hari ini melainkan besok siang tepat pada jam satu.
Kak Amar sedikit kesal akan pernyataan kak Elis tadi. tapi mau bagaimana lagi dan kami pun langsung berpamitan untuk kembali pulang tidak bukan pulang tapi menuju ke tempat acara organisasi kami.
menuju parkiran hotel.
"gimana lah, katanya jam 12.00 kok malah jadi jam satu dan acaranya malah jadi besok... hadehh." ujarnya kesal.
"Terus sekarang kita langsung kemana kak?" tanya ku yang berada di belakangnya.
"yaudah sekarang kita langsung ke kosannya Obbe aja."
"oke."
Kami pun pergi melanjutkan perjalanan, dan tepat di loker parkir ada sedikit kejadian lucu antara Aku, kak Amar dan Petugas parkir tersebut.
"ini mas." memberikan karcis parkir.
"2.000 " jawaban singkat namun membuat gupek kami.
"Ra ada duaribu ga? duit kakak 100 ribu lagi."
"ga ada lagi kak, ada nya 50ribu bulet belum di pecahin." jawabku sembari membongkar tas masih di atas motor itu.
"waduh ga ada lagi mas duitnya masih bulet semua seratus aja ga apa-apa?" tanya kak Amar lagi.
"waduh ga ada kembaliannya mas, yaudah deh ga apa-apa lanjut aja." kata petugas tersebut lalu membuka portalnya.
Di jalan kami hanya bisa tertawa saja lalu pergi menuju tempat tersebut.
Sekitar jam satu lewat kami sampai di lokasi dan kak Amar langsung beristirahat di sana.
sedangkan aku masih menunggu di luar kosan itu.
"Ra masuk, ngapain di luar?"
"iya kak sebentar."
Mengobrol, bercerita dan tertawa bersama itulah yang kami lakukan saat itu. ketika semua sudah berkumpul bersama dan bahan-bahan makanan sudah terkumpul barulah kami memasak nasi, memasak ayam dan menyiapkan berbagai masakan lainnya.
Tepat pada Jam tiga setelah azan ashar, Aku dan Ingo pergi ke tempet pengisi ulang gas portable dan berbelanja beberapa bahan yang belum terbeli.
Setelah semua siap kami pun berangkat bersama, sedikit nyasar di jalan sekitar dan akhirnya kami pun jalan beriringan lagi.
Mengisi bensin bersama lalu berangkat kembali, melewati perkotaan yang padat, dan akhirnya sampai di perbukitan dengan jalan yang sedikit rusak, berkelok-kelok dan lembah yang masih terjaga ke asriannya.
Aku bersama Ingo mengobrol bersama di sepanjang jalan sampai akhirnya kami memiliki satu pemikiran yang sama.
"lah ada kehidupan ternyata di sini." kata Ingo
"baru aja gw mau ngomong ngo, ahahaha." ujarku sembari tertawa.
"lah bisa-bisanya kita sepemikiran." sambil tertawa.
Dan sampai di tanjakan yang extrime, Aku berbicara "ngo ketanjak gak ini?" dengan nada khawatir, karna jujur aku memiliki tubuh yang cukup besar atau gemuk di antara yang lainnya.
"tenang aja Ra, beat selalu di depan. ahahah" ujarnya sembari tertawa untuk menenangiku.
"oke."
"majuan lagi geh biar bisa ngebut." seru Ingo.
"wokeh."
Akhirnya setelah beberapa menit melewati tanjakan tersebut, kami pun sampai dengan selamat di atas sana.
pemandangannya cukup bagus dan beruntungnya Kami sampai di atas sana saat Sunset sedang turun terlihat sangat jelas sekali dan kami beristirahat sejenak mendengarkan suara adzan Setelah semua berkumpul dan beres Saya memutuskan untuk melaksanakan salat Maghrib terlebih dahulu bersama Kak Meranti dan Ajur.
Tidak hanya melaksanakan sholat saja, tetapi kami juga berbersih sedikit di toilet. lalu kembali berkumpul lagi bersama.
kemudian kak Amar meminta tolong padaku untuk menyenterinya karna ia ingin mendirikan sebuah dome untuk kami tidur.
Ia juga di bantu oleh Ita dan juga Atok, tak butuh waktu lama dome pun akhirnya berdiri.
Setelah dome kami, kak Amar juga mendirikan sebuah dome kecil untuknya beristirahat.
Sedangkan yang lain berada di tengah-tengah tempat berkemah kami, bernyanyi bersama, tertawa bersama dan ada juga yang sedang menyiapkan makan malam untuk kami.
Saat itu aku sedang berdiri disamping tiang tempat parkir motor dan tak sengaja aku melihat ke arah sudut pohon pisang disana.
Terlihat sosok perempuan cantik bergaun hitam yang sedang duduk di batu besar dan Aku pun langsung bertanya kepada Ita, apa benar ada perempuan disana.
"Ta, itu ada cwe ya disana? lagi duduk di batu itu?" tanyaku sembari melihat dan menunjuk ke arah sudut itu.
"mana sih Ra? ga ada tau!" Ia pun langsung mengarahkan sebuah senter ke tempat itu, dan memang tidak ada apa-apa hanya daun pisang yang cukup lebat tersorot oleh lampu jalan.
"ga ada apa-apa loh Ra, ngapain takut sama hantu. kalo ada hantu langsung aja pukul terus injek-injek." saut kak Amar.
"iya kak, sorry loh bukan mau nakutin tapi kan cuma mastiin aja." jawabku.
Mereka disana asyik mengobrol sedangkan Aku duduk di atas motor milik Ajur sembari melihat mereka dan memandangi awan-awan.
'kok tiba-tiba perasaan gw jadi hampa gini sih? disini rame banget loh tapi kenapa lo ngerasa sendiri ya? why?' batinku sembari menunduk.
Lalu Aku memutuskan untuk masuk ke dome dan mengerjakan tugas resume yang belum selesai.
Aku juga mendengarkan kak Amar berbicara kepada Ita dan ada sedikit kegaduhan soal kabel data yang Aku ambil dari tempat kami sholat tadi.
"mar, ini" memberikan kabel data itu.
"apaan ini? punya sapa woy?!" tanyanya kembali.
"tadi katanya punya Lita, ketinggalan di sana." jelas kak Meranti.
"enggak woy, ga tau gw jga punya sapa itu. coba tanya Ara kan dia yang ngambil itu." jelas kak Lita.
"Ra, Ara?" panggil kak Amar dari luar sana.
"Dia lagi ngerjain tugas kak, jangan di ganggu kasian." jelas Ita.
Mau tak mau kak Amar yang mengembalikan kabel tersebut ke tempat semula dan Aku juga mendengar sebuah sautan dari Teman yang lain seperti ini.
"Gila, masih inget tugas loh disini."
Entah rasa seperti apa saat Aku mendengar percakapan itu, intinya banyak pertanyaan yang berenang di kepalaku ini.
Mereka bergantian memanggang ayam untuk makan malam kami kali ini, Tapi tidak dengan diriku.
Aku tetap mengerjakan tugas ini hingga jenuh datang menghampiri.
Aku juga mencoba menelfon sahabatku namun karna jaringan yang terlalu susah akhirnya terputus-putus.
Jadinya kami hanya bisa mengobrol lewat VN saja, sampai kak Amar tersadar bahwa dome yang saya pakai sudah tidak ada cahaya senter lagi.
"Ara mana?" bertanya ke Ita.
"di dome kak lagi ngerjain tugas." jelasnya
"mana? kok gelep itu domenya, coba cek dulu!" seru kak Amar.
Aku yang merasa tidak enak hati akhirnya keluar dari dome dengan sedikit senyuman.
"Nah itu, Ara kak."
Kak Amar hanya menengok ke arahku saja dan lanjut memanggang ayam.
Tak lama kemudian kak Meranti menghampiriku untuk meminta temani ke Toilet yang letaknya jauh di pojok tempat ini dan bersebelahan dengan kandang ayam.
"Ra temenin ke Toilet yok, gelep soalnya takut."
"haih, masa takut sih kak yaudah ayok saya temenin. sebentar saya ambil hp dulu untuk senternya." jawabku.
Saat kami berjalan menuju Toilet kak Ejak bertanya lagi keberadaanku.
"eh iya, ya Ara ini mana lah?"
"itu loh kak lagi sama Kak Meranti." jelas Atok.
"oalah dia itu lagi mencari kata-kata, dikala senja datang dikala cahaya menerangi jalan dan dikala aku berdiri di tepi jalan." meledek sembari mendayu-dayu.
"udah lagi sih om-om, udah malem ini mau beli obat kebawah udah tutup apotiknya!" kesal Kak Amar.
"ya ngapa sih Mar!"
Aku hanya tersenyum saja di bawah sorotan cahaya jalan itu menuju Toilet.
Tak butuh waktu lama kami segera kembali berkumpul dan Kak Meranti sudah membawa ember berisi air bersih untuk mencuci tangan sehabis makan nanti.
Aku kembali ke tiang itu dan memperhatikan semuanya baru saja aku menaruh hp di kantong sebelah kanan tiba-tiba saja telfon masuk.
Telfon dari kak Esa untuk meminta jemput di bawah karna motor yang Ia pakai bersama temannya mati dan harus di step oleh motor lain.
sayangnya sinyal tak memadai di saat-saat genting seperti itu, untungnya kak Lita bisa mengangkat telfon darinya dan salah satu teman kami langsjng menuju ke bawah untuk menjemputnya.
Hampir satu jam dan akhirnya mereka berdua sampai di atas dengan selamat walaupun motor yang di pakai mati total.
Kak Esa sedikit emosi kala itu karna tak ada yang bisa di hubungi sama sekali dan untungnya kak Lita berani menjawab.
"gila tah ga ada yang bisa di hubungin masa!"
"Ga ada sinyal mba ku."
"lah tadi yang buat snapgram?" melirik ke arah ku
Aku pun langsung menunjuk diriku sendiri dan Kak Lita pun menjawab lagi.
"ya sinyalnya susah ngadat-ngadat ini, untungnya tadi bisa ke angkat loh."
Mereka tidak terlalu perduli dengan perdebatan antara dua kakak kami itu dan malah asyik bermain gitar sembari bernyanyi.
Aku tak membantu banyak hanya menunggu dan melihat mereka bakar-bakar saja, melihat mereka tertawa lepas pun sudah cukup menghilangkan kegundahan hati.
Setelah matang kami langsung makan bersama di alasi daun pisang yang cukup lebar dan ada pula beberapa kertas nasi untuk yang lain makan.
Makan kali ini cukup heboh dan berantakan sampai kami tak melihat wadah panggangan yang ternyata masih hidup dan terbakar lagi karna kardus bekas kipasan ayam tadi terjatuh ke bara dan terbakar.
"uuu, Ara ini maling ayam gw aja!" ledek Tam membuat gaduh makan malam.
"apasih enggak geh! ini ayam lo Tam noh." menggeser ayam miliknya.
"uu kenyang kan gw, dahlah makananya ga enak." lalu pergi mencuci tangan.
"udah juga dah abis dah kenyang." sahutku lalu pergi mencuci tangan.
"aih kok Ara cepet banget sih? Ra besok kita belom pulangloh. ayok makan yang banyak lagi." jelas kak Amar.
"iya kak udah abisinlah udah kenyang saya." dan pergi ke tiang pertama kali aku berdiri tadi.
Entah kenapa malam ini terasa hanpa di hati, merasa sendiri di tengah keramaian ini.
Berselimut dingin hingga masuk ke tulang. Jujur aku tak mengerti apa yang terjadi padaku namun aku mencoba untuk diam seribu bahasa.
Duduk di samping tenda yang terhalang oleh motor gede dan duduk beralas sepatu yang Aku pakai, sembari menatap langit penuh awan dan sedikit bintang.
'kok bulan malem ini ga ada ya?' tanya dalam batinku.
Lalu kembali lagi menunduk dengan fikiran yang kosong sembari mengetuk-ngetuk handphone ke tanah.
Aku tak sadar kalau Kak Amar dari tadi sudah memperhatikan Aku, lalu dia bersandar di atas motor itu sembari memperhatikan aku.
"Kenapa?" sautan itu mulai keluar dari mulutnya.
"eh kak Amar, enggak apa-apa kok."
"kenapa sih Ra?" tanyanya lagi.
"engga apa-apa loh ka."
Pertanyaan itu yang slalu dia tanyakan dan jawaban itu pula yang selalu aku berikan sampai akhirnya Ajur datang dan bertanya juga.
"Ada apa, ada apa?"
"Ada apa boy?" tanya Ajur lagi.
"engga apa-apa loh jur, serius ga apa-apa."
"cwe kalo ngomong ga apa-apa itu pasti ada masalah."
"beh, Ajur mulai sok tau." saut Kak Meranti.
"Seriusan ih ga apa-apa, lagi pengen di sini aja gitu."
"oke, gw sana dulu ya rek."
Lalu pergi kembali berkumpul bersama yang lain dan aku hanya menjawab dengan anggukan saya lalu menunduk lagi.
"Ga usah bohong, Kakak ini tau kalo kamu lagi kenapa-kenapa. kakak ini bisa baca karakter orang jadi ga usah bohonglah." ujar kak Amar.
"ih beneran ga apa-apa loh kak, Im oke."
puk.. (tangannya di atas kepalaku dan sedikit mengacak-acak jilbabku.)
"Ga usah bohong Ra, ga usah bohong lah."
"..."
"kenapa? ada masalah sama dirumah? apa masalah sama doi? apa ada masalah sama tugas?"
"Huh... hmm." jawaban singkat saja yg aku berikan.
"ya kalo dapet tugas, ya di kerjain dong jangan lesu. gini ya Ra kenapa Kakak bisa baca karakter orang, karna di kampung kakak itu bertemen sama orang gila, begal, tukang maling dan orang-orang yang ga bener."
"Kakak bertemen sama orang gila, kakak datengin orang itu terus kakak kasih rokok 'mau rokok ga? nih rokok.' terus disitu kita ngobrol santai dia ceritain kenapa dia bisa jadi gila dan stres, kenapa dia bisa kayak gini dan lain-lain." lanjutnya lagi.
"Posisi kita itu sama Ra, cuma bedanya saya anak laki-laki satu-satunya di keluarga dan harus menjadi kakak untuk adek saya."
"Maksudnya kakak anak kedua?" Aku mulai bertanya.
"iya kakak, anak kedua dari tiga bersaudara dan kamu tau ga kakak ini pernah ngebuang kakak kandung saya sendiri karena apa?"
"apa kak?" tanya ku lagi.
"Karna kakak pernah ngancem kakak kandung sendiri kalau dia nikah ga ngapa-ngapain its oke, tapi kalo sampe dia nikah sesudah apa-apa. Saya janji kalau saya ga akan pernah dateng ke acara pernikahan itu sampe kapan pun."
"dan itu ternya bener-bener terjadi, terus pas akad saya ga dateng sama sekali. karna dari subuh saya udah pergi kesalah satu tempat yang udah saya siapin dan ga ada yang tau sedikit pun tempat itu."
"Mereka semua ngira kalau saya lagi mandi dan beres-beres tapi pas di tunggu kok ga ada. Dan akhirnya semua nyariin saya pada saat itu."
"Tapi tetep berjalan akadnya dan pas akad selesai semua udah selesai baru saya balik kerumah. semua nanyain dan saya cuma bilang 'Saya ga kemana-mana kok, saya cjma istirahat di suatu tempat.' dari situ saya mulai benci sama kakak Saya sendiri."
"Tapi saya mikir lagi, dia tetep bakal jadi kakak saya dan akan tetep jadi kakak saya. Dari situlah saya mulai maafin kakak saya lagi dan coba untuk ngerukunin lagi."
"Mungkin orang ada yang ga percaya sama cerita saya tapi memang itulah kenyataannya." lanjutnya lagi.
"waktu kecil juga Saya juga pernah kerja di tobong, untuk ngambilin lumpur-lumpur atau apalah itu saya lupa dan sehari cuma di bayar 20ribu, terus bosen jadi berhenti dan saya coba jadi kenek mobil gas, lumayan gajihnya tapi ga lama juga saya kerja di sana cma beberapa bulan aja."
"terus saya ngikut dancer dan hampir berhasil bahkan setiap tampil itu di bayarnya bertahap dan saya pernah dapetin sampe 1 juta. tapi ya karna bosen akhirnya saya mengundurkan diri dan pindah ke silat, ya walau resikonya cukup berat tapi lumayan kok hasilnya."
"Makanya sekarang walau kakak anak kedua tapi Saya sekarang sama aja posisinya kayak anak pertama karna kakak saya udah nikah dan saya juga dirumah di apit sama dua perempuan, jadi ya saya harus jadi kakak untuk adek saya."
"Bahkan saya sempet bilang kayak gini ke adek saya 'kalau kamu mau nikah duluan ya sialahkan, langkahin kakak juga ga apa-apa, tapi kamu harus bawa cwo kamu ngadep saya. Saya ga akan minta banyak cuma saya mau dia menuhin persyaratan dari saya.' saya ga marah kalau takdir dia duluan yang nikah kenapa enggak."
"Kita kan ga tau takdir itu apa duluan ya kan, saya udah janji kalau suatu saat nanti saya meninggal dan ada yang nangis di saat pemakaman saya. mungkin jasad saya akan diterima dibumi tapi ga akan bisa di terima di alam sana."
Malam itu Kak Amar cerita banyak tentang kehidupannya, Aku merasa tenang dan sangat tenang karna Aku bisa mendengarkan cerita kehidupannya tanpa harus menggali ke orang lain.
Ia juga memberikan banyak saran dan hal-hal positif yang harus Aku lakukan di kehidupan yang akan datang.
"Kalau kamu mikir tuhan itu ga adil, kamu salah tapi percayalah suatu saat nanti doa-doa yang kamu minta itu terkabulkan dengan sendirinya tapi kamu ga tau kapan."
"iya Kak."
Malam ini jadi malam yang penuh dengan keanehan, di saat aku ingin bercerita banyak malah Ia yang bercerita panjang lebar tentang kehidupannya.
Tapi dari situ juga aku mendapatkan banyak hal berharga dan banyak pelajaran yang bisa aku ambil untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Thanks today Bro.
dan keesokan harinya, Aku dan Kak meranti bangun cukup pagi dari mereka.
saat baru membuka tenda terlihat dua saudara kami yang masih berjaga sampai matahari terlihat.
Aku dan kak Meranti langsung bangun menuju Toilet untuk mengambil wudhu dan menggosok gigi, setelah itu kami melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu bersama dengan Ajur.
Setelah itu, Kak Meranti bersiap-siap untuk masak nasi dan lauk untuk sarapan pagi ini.
setelah sebagian teman-teman kami bangun, Kak Esa dan juga Ajur turun ke bawah untuk membeli gorengan dan juga minuman.
lalu tepat pada pukul 08.30 kami semua makan pagi bersama dan setelah itu kami membereskan dom, melipatnya dan bersiap-siap untuk kembali lagi ke kosan Kak Obbe.
Sesampainya di sana tepat pada pukul 11.00 dan aku bersama Ita izin untuk pergi ke Kampus terlebih dahulu untuk mengambil celana milik Ita lalu pergi ke Pasar untuk membeli celana dasar untukku dan baju baru untuk Ita.
Kami berdua cukup lama disana dan setelah dari pasar kami langsung kembali menuju kosan Kak Obbe.
Kami di sana berbersih tepatnya mandi dan berganti pakaian langsung di kamar mandi tersebut.
Setelah mandi selesai Aku mulai dandan untuk melanjutkan perjalanan lagi ke acara yang kami datangi kemarin.
Jujur Aku tak sadar kalau salah satu saudaraku ada yang memperhatikan Aku, kalau aku sedang dandan.
"set, set, set eaaaa dandan. udah cantik kok kamu Ra." ledek Tam.
"buset Tam-tam. iya-iya cantik hari ini doang besok enggak." ledek Ajur.
"Anjir, untung gw dah biasa denger kek gitu loh." sautku.
"ih gila sih Jur, bullying lo ini." saut kak Meranti.
"selow sih kak udah biasa." jelasku lagi.
Setelah Aku rapih, giliran Kak Amar yang bersiap-siap dan memang benar kenyataannya kalau Ia mandi tak butuh waktu 15menit.
kemungkinan Ia mandi hanya 5menit saja lalu berpakaian rapih, menyisir rambutnya sekaligus menggunakan pomade dan kami pun langsung berpamitan untuk pergi ke acara tersebut.
Jujur Aku tahu sekali bahwa kak Amar bukan orang yang suka di ajak pergi kesana kemari dan aku beruntung sekali bisa menghabiskan waktu dua hari bersamanya walau memeng dengan kegiatan organisasi.
Terima kasih banyak sudah mengantarkan Aku pulang sampai depan rumah walau Aku tahu rumahku jauh sekali dan Maaf jika Aku selalu merepotkan kakak.
Terima kasih untuk hal-hal berharga yang telah kau bagi padaku dan pelajaran-pelajaran yang tak pernah Aku bayangkan sebelumnya.
Terima kasih atas 172.800 detik kita lewati bersama walau menurutmu itu hal yang biasa namun bagiku ini luar biasa.
•
•
•
•
Jika suatu saat nanti kau pergi untuk selamanya,
aku akan slalu mengingat setiap ucapanmu,
suport system yang selalu kau bagikan,
Dan juga ceramah serta inspirasi yang selau kau abadikan lewat memori otakmu.
-Ara-
Thanks to reading guys