“Jangan...!"
“Jangan mendekat...!"
Lula mempercepat langkahnya, menyusuri sepanjang lorong di pinggiran toko-toko yang telah sepi. Hari itu hujan turun dengan deras, meskipun telah reda sejak beberapa menit yang lalu dan menyisakan rintik-rintik serta genangan di sepanjang jalanan yang rusak.
Lula yang setiap hari selesai sekolah pada pukul 4 sore itu, beberapa hari ini tak bisa pulang tepat waktu. Karena begitu banyak les tambahan yang diberikan gurunya, kepada seluruh siswa akhir-akhir ini.
Mau tidak mau, Lula pun harus mengikutinya. Karena ia dituntut untuk selalu mendapat nilai tertinggi, serta peringkat pertama oleh orang tua nya.
“Jangan, jangan mendekat...!"
Hati Lula semakin cemas, nafasnya kian memburu dan keringat dingin mulai mengucur deras disekujur tubuhnya. Sejak tadi ia mendengar suara orang yang mengikutinya dari belakang.
Lula tak berani menoleh. Karena terakhir kali ia melakukannya, ia melihat sesosok perempuan berpakaian sekolah dengan tatapan tajam serta senyum yang menyeringai. Ia melangkah mengikuti Lula, seolah ingin mencelakakan Lula. Matanya penuh dendam, meskipun Lula sendiri merasa tak mengenal gadis itu.
“Tap, tap, tap."
Lula kini setengah berlari, namun apa yang ada dibelakangnya pun kini mengikuti langkahnya. Ketika Lula setengah berlari, ia pun sama. Lula menambah kecepatannya, kali ini ia tak tahan lagi dan menoleh. Dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati gadis itu ada tepat satu meter di belakangannya.
“Haaaaaaaaaaaa.”
Lula berteriak dan berlari sekencang-kencangnya. Ia mendengar suara tawa yang begitu menyeramkan dari arah belakang.
“Haaaaaaaaaaaa.”
Lula terus berlari, menerobos gelapnya lorong. Hanya ada beberapa cahaya remang dari lampu 5 watt pertokoan. Yang ada dipikirkannya saat ini hanyalah, bagaimana caranya supaya cepat mencapai mulut lorong. Karena disana sudah jalan raya.
Tawa dari orang yang terus mengejarnya itu masih terdengar, Lula berlari dengan sekuat tenaga. Namun lorong itu seperti memanjang, seperti tidak sampai-sampai.
“Toloooong."
“Hahahaha.” suara gadis itu kembali terdengar.
Lula berteriak sekencang-kencangnya, namun sia-sia. Lorong pertokoan itu tidak dihuni jika malam hari, para pemiliknya memiliki rumah di daerah lain. Tak ada seorang pun yang menjawab teriakannya, kecuali gema dari teriakan itu sendiri.
Sementara tawa itu makin terdengar dekat ditelinga, air mata Lula jatuh membasahi pipi saking takutnya ia. Perlahan ia merasakan tangan menyentuh pundaknya dan.
“Aaaaaaaaa.”
Lula berhasil mencapai mulut lorong dan berjongkok di bawah lampu jalan raya, sambil menutup mata dan kedua telinganya.
“Lula, Lulaaaa."
Seseorang menepuk bahunya, Lula membuka mata dan berdiri.
“Alan, Alan. Ada yang ngikutin gue, Lan. Dia mau mencelakai gue."
Lula memeluk teman sekelasnya Alan dan berkata dengan wajah panik serta ketakutan yang belum mereda.
“Siapa yang ngikutin lo?. Dimana?”
“Di lorong itu?”
“Cewek atau cowok?”
“Cewek, Lan. Sumpah dia serem banget."
Alan mengambil handphonenya dan mencoba menyalakan senter. Ia melihat ke sekitaran lorong itu, namun tak ada siapa-siapa. Hanya ada beberapa kucing liar yang sedang mencari makan, pada tong sampah yang berada di depan pertokoan.
“Nggak ada La, lagian ngapain juga sih lo lewat situ malem-malem. Mending lewat jalan raya sini aja walaupun jauh. Aman, banyak kendaraan melintas." ujar Alan.
Lula terdiam, tubuhnya masih gemetaran.
“Ya udah bareng gue, yuk. Gue anterin sampe rumah lo."
Mereka pun lalu berjalan bersama, Alan mengantar Lula sampai kerumahnya. Mereka sendiri tetangga satu kompleks, namun rumah Alan ada di nomor 10 sedang Lula nomor 6.
Esok harinya di sekolah, Lula berjalan sendirian menyusuri koridor. Ia baru saja kembali dari perpustakaan. Ia melangkah dengan tenang, sampai kemudian.
“Hahhh."
Lula terkejut mendapati gadis yang mengejarnya semalam ada di koridor. Ia baru menyadari jika seragam gadis itu adalah seragam sekolah ini.
“Dia anak sekolah ini?” Lula mulai panik, ia mengintip di balik tembok koridor. Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arahnya, Lula cepat-mepat menarik kepalanya dan bersembunyi. Ia bahkan menutup mulutnya dengan buku yang ia bawa.
“Tap, tap , tap."
Langkah gadis itupun terdengar mendekat. Perlahan, tenang, namun mengerikan.
Keringat Lula sudah mengucur deras. Ia masih tidak tau siapa gadis ini dan apa maksudnya. Ia juga belum pernah melihatnya selama ini disekolah. Lula hanya takut gadis itu membawa senjata tajam dan hendak melukai dirinya. Lula terdiam ditempatnya dengan ketakutan yang teramat sangat. Ia tidak bisa lari kemana-mana karena sisi kanannya buntu, hanya ada beberapa loker disitu. Gadis itu melangkah dengan tenang. Dan ketika sampai disisi Lula, ia pun menoleh.
“Haahh."
Lula syok dengan mulut yang menganga, namun kemudian seorang guru memanggilnya.
“Lula, kamu ngeliat Tamara?”
“Eh, iya bu.” ujar Lula. Gadis menyeramkan itu sudah berlalu.
“Tolong panggilkan ya, bilang suruh keriangan ibu."
“B, baik bu.”
Lula lalu melangkah menjauh guna mencari Tamara. Tak lupa ia menoleh ke arah gadis yang menyeramkan itu tadi dan memastikan jika gadis itu tak mengikuti dirinya.
“Anak baru yang mana?” tanya Klarita, ketika Lula menanyakan perihal adakah anak baru disekolah mereka.
“Ada, dia cantik banget. Tapi nyeremin ekspresi nya, rambutnya sebahu. Mukanya kayak cewek-cewek di drama Korea gitu."
“Nggak ada deh perasaan.” celetuk Doni diikuti anggukan Klarita, Thalia dan juga Tamara.
“Eh iya Tamara, gue lupa. Lo dipanggil sama ibu Ananda, katanya lo disuruh keruangannya."
“Cieeee, yang Kemaren dapet nilai fisika dan matematika tertinggi."
Klarita, Thalia dan Doni menggoda Tamara, sementara gadis itu tersipu malu. Lula sendiri merasa tak enak hatinya, namun ia memaksakan sebuah senyum.
Selama ini Lula tak pernah ada saingan. Tapi belakangan ini, sepertinya Tamara belajar dengan giat. Ia bahkan bisa menyalib kemampuan Lula dalam beberapa pelajaran pokok jurusannya seperti fisika dan Kimia.
“Kalau konsisten terus, bisa ikutan olimpiade lo, Ra” ujar Doni antusias.
“Udah ah, jangan kebanyakan ngayal. Gue ke ruang guru dulu." ujar Tamara kemudian
Tamara pun melangkah, Lula dan yang lainnya kembali melanjutkan obrolan. Meski perasaan dan pikiran Lula kini berkecamuk. Akhir-akhir ini Tamara mencuri perhatian banyak guru dengan kemajuannya. Ditambah lagi ia sangat cantik, jauh lebih cantik dari Lula. Dulu saja sebelum bisa menyaingi kepintaran Lula, Tamara sudah terkenal di seantero sekolah berkat kecantikan dan bakatnya dibidang seni tari.
“La, masuk yuk...!" ajak Klarita kemudian.
“E, emang udah bel ya?" tanyanya kemudian.
“Udah dari tadi, lo nggak denger?”
“Nggak."
“Hmmm, mikirin drakor sama idol kpop mulu sih lo. Hahaha."
Lula memaksakan sebuah tawa, lalu mereka pun masuk ke kelas.
Siang itu, saat bel tanda pulang sudah berbunyi dan siswa telah bersiap untuk mengikuti les. Namun tiba-tiba les batal diadakan, karena para guru diharuskan rapat bersama ketua yayasan di gedung sebelah.
Para siswa pun akhirnya pulang, namun masih beberapa yang berada di sekolah. Sekedar untuk makan di kantin atau mengobrol bersama teman mereka, karena masih malas untuk pulang di jam segitu.
Lula melangkah ke arah perpustakaan, ada beberapa buku lagi yang ingin ia pinjam. Ia akan menghabiskan waktunya malam ini untuk belajar keras, agar bisa mengungguli Tamara seperti dulu lagi.
Lula masuk ke perpustakaan, mendapatkan beberapa buku fisika dan juga Matematika. Namun kemudian.
“Aaaaaaaa.”
Terdengar sebuah teriakan di ruang yang sudah tidak terpakai. Seluruh siswa berhamburan dan menuju keruangan tersebut.
“Ada apa ini?” tanya salah seorang staff tata usaha yang belum pulang.
“Thaliaaa.”
Ia berteriak pada Thalia yang jatuh tak sadarkan diri, dengan kepala berlumuran darah.
“Haaaah.”
Lula dan siswa lainnya terkejut sekaligus syok, bahkan mereka menjadi tampak sangat ketakutan.
“Ada apa ini?. Thalia kenapa?” tanya staff tata usaha tersebut pada siswi yang berteriak. Siswi yang berteriak itu tiada lain adalah Klarita, penuh ketakutan dan berurai air mata Klarita pun berujar.
“Saya nggak tau pak, saya kesini karena di kirimin WhatsApp oleh Thalia. Dia nyuruh saya kesini, katanya mau nunjukin sesuatu. Ini kalau nggak percaya."
Klarita menunjukkan pesan terakhir Thalia.
“Ya sudah-sudah nanti saja membahas itu. Kalian jangan diem aja, panggil ambulans...!"
“Udah pak, udah." ujar para siswa tak kalah paniknya.
"Ini udah ditelpon dan lagi menuju kesini." lanjut mereka lagi.
Tak lama berselang, ambulans pun datang dan Thalia dilarikan kerumah sakit. Ia mendapat pertolongan, namun dokter menyatakan ia mengalami koma. Sebab pukulan dan benturan di kepalanya sangatlah besar, banyak saraf di kepalanya yang akhirnya terganggu.
Lula, Tamara dan juga Klarita yang mendengar berita tersebut via telpon pun menangis. Mereka tak menyangka kejadian buruk itu menimpa Thalia.
Kasus ini sekarang sedang dalam penyelidikan baik pihak sekolah maupun kepolisian. Lula melangkah ke arah tempat kejadian perkara, ua melihat sisa-sisa darah Thalia yang mulai mengering. Ia kemudian beranjak dan hendak melangkah keluar, sampai kemudian matanya menemukan sebuah benda.
Ya, sapu tangan merah. Ia teringat gadis menyeramkan yang mengikutinya beberapa hari ini. Di leher gadis itu terdapat sebuah sapu tangan merah yang ia ikatkan.
"Apakah mungkin?"
Penuh amarah Lula membawa sapu tangan itu dan melangkah menuju ruangan kepala sekolah.
“Siapa siswi yang mengenakan sapu tangan merah ini?. Saya mau rekaman CCTV nya."
“Tunggu, ada apa ini Lula?" tanya kepala sekolahnya heran.
“Beberapa hari belakangan ini, saya selalu diikuti oleh siswi sekolah ini. Saya nggak tau maksud dia apa, dia kejar saya, mengikuti saya, mukanya menyeramkan. Dan dia selalu memakai sapu tangan merah ini di lehernya. Lalu hari ini teman saya Thalia di celakai orang, dan saya menemukan sapu tangan merah ini disana."
“Ok, kamu menemukan sapu tangan ini di lokasi kejadian?”
“Iya."
“Dan kamu sering diikuti oleh siswi yang selalu memakai sapu tangan ini di lehernya?”
“Iya, dan saya merasa sangat terganggu sekali. Dia bahkan kadang ada dimana-mana."
“Ikut saya...!"
Kepala sekolah membawa Lula keruangan CCTV, ada dua security yang berjaga disana. Mereka pun mencari rekaman yang waktunya sesuai. Dengan rentang kejadian saat Lula bertemu si gadis disekolah, dan pada saat kejadian Thalia.
Namun, tidak ada gadis yang dimaksud oleh Lula, krena rekaman di jam tersebut pun tidak ada. Sepertinya CCTV itu telah dimatikan di jam tersebut. Lula dan kepala sekolah pun bingung.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?” tanya sang kepala sekolah pada Lula.
“Saya yakin pak, buktinya aja CCTV di kejadian yang saya alami dan juga Thalia alami, mati. Bisa jadi, dia udah merencanakan semua itu dan sengaja mematikan CCTV untuk melancarkan aksinya."
“Ok, saya akan coba cari di data siswa. Kamu coba lihat di sekitaran sekolah, mungkin kamu bertemu dengan siswi yang kamu curigai tersebut.
“Baik, pak."
Lula pun kembali berjalan penuh dendam, menyusuri setiap sudut sekolah dan memperhatikan wajah para siswi satu persatu. Ia tidak lelah sedikitpun, meski siswi di SMA itu tidaklah sedikit.
“Apaan sih kak?”
Seorang adik kelas dengan ciri-ciri sama jika dilihat dari belakang, merasa tergangu ketika Lula membalikkan badannya.,
“Sorry, gue pikir lo seseorang yang gue cari."
Lula melanjutkan pencarian, ia pun menggerutu dalam hati.
“Kenapa nggak gue samperin aja itu perempuan tempo hari, biar gue tanya dia maunya apa. Kenapa banget gue mesti takut padahal saat itu rame."
Lula menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu penakut. Lula terus mencari, namun pencarian itu hanya sia-sia belaka. Ia sama sekali tak menemukan gadis itu.
***
“Lula, jangan lupa kunci pintu. Nanti ada orang jahat yang masuk. Pintu depan, belakang, jendela, jendela kamar, pintu kamar, banyak orang jahat. Nanti kalau orang jahatnya masuk gimana?”
“Haaaah.”
Lula terbangun dari tidurnya yang gelisah, keringat dingin kini mengucur deras di sekujur tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya seperti gemetaran, ia baru saja bermimpi. Masih dengan kepanikan dan kecemasan, Lula memeriksa seluruh pintu di rumahnya dan memastikannya telah terkunci rapat. Tak lama kemudian ibunya menelepon.
“Lula, kamu udah tidur?”
“Tadi udah ma, sekarang lagi meriksain pintu."
“Loh kamu gimana sih, harusnya sebelum tidur tadi. Mau kamu dirampok atau diperkosa orang?”
“Iya ini makanya Lula cek sekali lagi, ma. Tadinya udah Lula kunci semua."
“Ya udah, pasti in dulu sana, mama cuma mau nanyain soal nilai ujian fisika kamu Kemaren. Gimana, bagus?”
“Iya ma bagus.” Lula berkata dengan pelan. Ia tak menyebutkan jika sudah memiliki saingan baru yakni Tamara.
Lula masih memastikan beberapa jendela. Ia membalik gorden dan.....
“Haaah.”
Siswi menyeramkan itu melintas di depan kacanya. Seketika Lula pun mematikan telpon dan mengambil tongkat baseball milik ayahnya, yang ada di lemari bawah tangga.
Ia membuka gorden demi gorden dan mengikuti pergerakan gadis itu. Sampai kemudian ia menghilang ke arah pintu belakang. Lula bergegas, ia membuka pintu belakang dan mencari perempuan itu kesana kemari.
Namun kemudian,
“Lulaaaa.”
“Haaaaaaaaa.”
“Buuuuukkkk."
Ia memukul tongkat tersebut ke arah si gadis. Namun gadis itu lenyap begitu saja. Tak lama kemudian security kompleks pun datang dan menghampiri Lula.
“Ada apa mbak Lula?”
“Ada orang pak, yang masuk pekarangan saya."
Dua security itu sama-sama terdiam.
"Sepanjang kita patroli didepan sini tadi, nggak ada siapapun mbak. Kami tepat di depan sini jaga-jaga. Di pintu masuk ada dua lagi yang jaga."
“Saya nggak tau pak, dia datang dari mana. Tolong periksa in rumah saya pak, saya takut dia ngumpet dirumah saya."
Security tersebut pun membantu Lula memeriksa seluruh bagian di dalam rumahnya. Setelah memastikan dalam aman, mereka menyuruh Lula mengunci pintu. Lalu mereka berkeliling di halaman rumah Lula, memeriksa setiap sudut dan memastikan semuanya baik-baik saja.
“Nanti kalau ada apa-apa, teriak aja mbak. Kita ada di depan sini." ujar salah seorang security pada Lula yang kini berdiri di balkon kamarnya.
“Iya, pak."
Lula kemudian masuk dan mengunci pintu yang mengarah ke balkon.
Beberapa hari berlalu, Doni, Tamara, Klarita dan Alan mengajak Lula menjenguk Thalia. Menurut kabar yang beredar, Thalia sudah sadar dari koma nya. Namun ia tak bisa bicara karena ada beberapa saraf yang rusak. Ia kini persis seperti orang yang habis terkena stroke.
“Ya ampun Thalia.”
Klarita menghapus air mata yang mengalir di pipinya, ia prihatin deh Menhan kondisi Thalia. Lula yang berangkat terakhir kali pun muncul di hadapan mereka semua, ia berdiri tepat disisi kanan Alan.
“Hmmmm.”
Tiba-tiba Thalia bereaksi, ia seolah takut pada sesuatu di dekat Lula.”
“Hmmmmppppp."
Ia bergerak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ketakutan, Lula pun menoleh pada kaca ruangan tersebut.
“Degggghh."
“Gadis itu?” gumamnya kemudian.
Ia pun bergegas keluar dari ruangan dan mengejar gadis itu. Sementara kini Tamara dan yang lainnya memanggil dokter guna menenangkan Thalia, yang masih memberontak dan ketakutan.
“Hei tunggu...!"
Lula mengejar gadis itu, entah mengapa langkahnya begitu cepat. Padahal tadi mereka hanya terpisah jarak beberapa meter saja dan dipisahkan oleh tembok. Tapi kini gadis itu telah berada di ujung koridor."
“Hei, tungguuu...!"
Gadis itu pun menghilang dibalik koridor rumah sakit. Dengan nafas tersengal-sengal, Lula berusaha mencarinya kesana kemari namun tak ketemu.
“Kenapa, La?” tanya Alan, Doni dan juga Klarita. Ketiga temannya itu akhirnya menyusulnya.
“Perempuan itu, dia ada disini tadi."
“Perempuan siapa?” tanya mereka penasaran.
Lula pun lalu menjelaskan, jika akhir-akhir ini ia diikuti sosok perempuan. Dan perempuan itu, ia perkirakan ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada Thalia.
“Lo yakin itu cewek anak sekolah kita?” tanya Doni penasaran.
“Iya, dia pake seragam sekolah kita."
“Sebelumnya, lo pernah kiat dia?” tanya Klarita.
“Nggak pernah, gue udah cek juga di daftar siswa baru. Nggak ada juga siswa baru belakangan ini. Sekolah kita nggak ada menerima siswa baru."
“Kalau CCTV?” tanya Alan kemudian.
“Nah itu dia, yang gue bingung. Pas jam dimana gue ngeliat dia, dan jam dimana kejadian Thalia, CCTV kita itu mati. Kayak sengaja dimatiin."
“Anjir serem banget.” ujar Klarita kemudian.
“Gue sih nggak takut setan, Kla." ujar Doni.
“Yang gue takutin itu, orang."
“Iya sama Don, makanya gue takut. Kalau dia ternyata pembunuh bayaran yang menyamar gimana?”
“Nah makanya itu."
“Kepala sekolah udah lo kasih tau?” tanya Klarita lagi.
“Udah, dan dia liat sendiri koq CCTV yang mati itu”
“Ya udah gini deh. Untuk sekarang sebaiknya kita jaga-jaga aja dulu. Oh ya, Thalia ada masalah sama orang nggak?” tanya Alan.
“Nggak ada deh, Lan. Gue tau Thalia, koq. Dia deket banget sama gue, kalau ada apa-apa dia pasti cerita."
“Kira-kira siapa ya yang mau mencelakai Thalia dan apa gitu motifnya."
Doni memperlihatkan wajah yang bingung. Sama bingungnya dengan Lula dan yang lainnya saat ini.
Dua hari kemudian.
“Lo dimana sih?”
Tamara mengirim pesan singkat pada Klarita yang saat itu bersiap menuju jalan raya. Ia akan berangkat sekolah pagi itu.
“Ini bentar lagi sampe jalan utama."
Balas Klarita.
“Gue di seberang jalan nih, gue tungguin yak."
“Ok."
“Buruan...!"
“Iyaaaa."
Klarita mempercepat langkahnya, ia melihat Tamara sudah berada di seberang. Tamara tampak menoleh ke suatu arah.
“Buruan."
“Ini didepan lo."
Lampu hijau pejalan hidup. Klarita berlarian namun,
“Braaaaaakk."
Sebuah mobil dengan rem yang blong menabrak Klarita. Mobil tersebut berakhir dengan menabrak tiang listrik. Sementara Klarita terpental dengan kondisi luka parah.
***
Lula terpukul membaca headline news pagi itu. Nama Klarita masuk dalam daftar kecelakaan yang mengejutkan paginya. Klarita di larikan kerumah sakit, dengan kondisi patah tulang di banyak bagian tubuhnya. Namun, ada satu kesimpulan yang bisa ditarik saat ini.
“Tamara."
Lula berujar dengan nada dingin dihadapan kepala sekolah dan juga banyaknya siswa yang mengerubungi.
“Tamara pelakunya, pak."
“Lula, dari mana kamu tau?. Kita tidak boleh menuduh sembarangan, biarkan pihak yang berwajib yang menyelidiki."
“Braaakkk."
Lula memperlihatkan IPad nya yang menyajikan CCTV mengenai kecelakaan yang dialami Klarita.
“Lihat siapa ini."
Ia menunjuk pada seorang gadis yang tengah berdiri sambil memegang handphone di seberang jalan. Ia masih memegang handphone dan seolah mengetik, ketika ia menoleh ke arah mobil yang melaju kencang.
“WhatsApp terakhir yang di terima Klarita adalah dari Tamara. Cocok in jamnya dengan CCTV ini. Lula mendapatkan handphone Klarita yang kebetulan terlempar ke pinggir jalan, saat Klarita ditabrak.
Jam saat Klarita menerima pesan “Buruan”, saat itu Tamara sudah menoleh. Dia sudah tau akan ada mobil yang melintas, karena sepertinya rem mobil tersebut blong. Dia sudah tau itu, tetapi masih tetap menyuruh Klarita menyeberang jalan. Dia sengaja, pak."
“Masuk akal sih." ujar para siswi yang ada disana.
“Nggak mungkin lah pak, orang secantik Tamara pelakunya."
“Iya nih, masa iya secakep itu jahat."
“Bener nih, nggak percaya gue."
Para siswa rata-rata membela Tamara, membuat para siswi pun panas hatinya.
“Ini nih, penyakit negara ini. Good looking pasti dibelain. Mau dia secakep bidadari kek, kalau salah ya salah aja."
Salah seorang siswi terbakar hatinya. Ia pun nyolot dan di bela oleh para siswi lainnya.
“Bener nih, mentang-mentang good looking."
“Iya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking."
“Sudah-sudah...!"
Kepala sekolah menenangkan siswa-siswinya yang beradu argumen.
“Sebaiknya, kita serahkan bukti ini ke polisi. Biar polisi yang menangani. Tak butuh waktu lama, Tamara pun diamankan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan. Saat diborgol dan ditangkap, Tamara hanya diam. Saat dicibir seisi sekolah pun, ia tak melawan.
“Nggak nyangka gue, Tamara."
Doni sangat menyayangkan dan masih tak percaya pada apa yang terjadi hari ini.
“Lo tau kan?. Siapa yang paling ambisius diantara Gue, Thalia, Tamara dan juga Klarita. Tamara selalu ingin terlihat lebih unggul dari siapapun. Dari segi kecantikan, bakat, bahkan sekarang akademis. Dia mau menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalangnya. Termasuk Thalia dan Klarita, yang selama ini juga lebih unggul dari dia." ujar Lula.
“Untung aja lo cepet nyadarnya, kalau nggak lo juga bakal di celakain tuh sama dia."
“Gue yakin, cewek yang sering ngikutin gue itu adalah bayaran dia. Dia mau mencelakakan gue juga." ujar Lula lagi.
“Pokoknya sekarang lo lebih hati-hati aja. Selama cewek misterius itu belum ketangkep."
Lula mengangguk, lalu mereka pun kembali masuk ke dalam kelas.
Hari demi hari berlalu. Sudah satu bulan sejak tertangkapnya Tamara, Lula tak lagi melihat gadis menyeramkan itu disekolahnya. Dugaannya menang benar, gadis itu adalah suruhan Tamara. Buktinya sekarang ia tak muncul lagi, mungkin takut jika ia tertangkap seperti Tamara.
Lula pun menjadi sedikit lega, ia pergi menuju kantin sekolah dan membeli es krim. Saat tengah melangkah, tiba-tiba ia melihat Tamara yang didampingi oleh Alan dan juga beberapa anggota kepolisian.
“Tamara?”
Para siswa yang melihat itupun berkumpul. Pasalnya Tamara datang tak mengenakan baju tahanan, melainkan baju sekolah.
“Mungkin hari ini mereka akan melakukan rekonstruksi kejadian Thalia pikirnya."
“Kenapa, lo kaget?” Suara Tamara terdengar ketus. Lula tak mengerti.
“Gue masih nggak nyangka lo sejahat itu sama temen lo sendiri.” tukas Lula pada Tamara.
“Gue nggak jahat, karena gue bukan pelakunya."
Lula tertawa sinis.
“Kalau bukan lo, terus siapa?”
“Elo, elo pelakunya."
Lula terdiam, seketika seisi sekolah pun bingung.
“Koq jadi gue sih?” Lula berkata dengan nada yang marah, karena ia merasa tidak melakukan apapun.
“La, gue ngeliat elo. Saat lo menhack CCTV rumah sakit."
Alan melirik ke arah TV besar yang ada di depan pintu masuk gedung sekolah. Semua mata pun kini tertuju kesana, ke arah layar yang menyajikan rekaman dari handphone Alan. Tampaknya itu semua sudah dipersiapkan Alan sejak tadi. Dalam rekaman itu terlihat Lula yang tengah sibuk dengan laptopnya. Ia tampak mengutak-atik sesuatu.
“Dan ini gue yang ngerekam elo. Saat CCTV rumah sakit sudah berhasil lo Hack dan lo matiin. Gue ngikutin lo sampai keruangan Thalia. Lo mencabut alat bantu yang dipasang ditubuh Thalia. Gue yang manggil dokter supaya Thalia bisa diselamatkan."
“Haaahhh."
Lula tak percaya pada apa yang ia lihat, begitupula dengan para siswa-siswi serta dewan guru.
“Nggak, bukan gue pelakunya. Itu bukan gue."
“Saat kita semua berkunjung untuk menjenguk Thalia. Lo inget kan saat Thalia ketakutan, pas banget lo dateng. Thalia takut sama lo, karena elo juga yang memukul kepala dia."
“Bukan gue, bukan gue pelakunya."
“Thalia undah bisa nulis walaupun dia belum bisa bicara. Elo adalah orang yang mencelakainya, La”
“Nggak."
Lula menggelengkan kepalanya.
“Ini saat lo juga, mencabut alat bantu Klarita di ruang ICU. Gue juga ngikutin lo."
“Dan lo ngehack WhatsApp gue, sampe WhatsApp gue gerak sendiri dan ngirim pesen sendiri. Lo yang mencelakai Klarita, lo pelakunya." Tamara mengungkapkan seluruh kemarahannya pada Lula.
“Nggak mungkin."
Lula berteriak.
“La, gue tau. Selama ini nyokap-bokap lo selalu mendidik elo untuk jadi sempurna sejak kecil. Gue tetangga lo, La. Gue tau hidup lo, lo sering cerita semuanya ke gue. Gue juga tau saat lo khawatir dengan Tamara yang mulai menggeser posisi lo sebagai siswa terpintar disekolah ini. Lo takut orang tua lo akan marah dan mukulin lo, kalau lo nggak dapat peringkat pertama lagi. Gue tau saat lo kecewa karena Klarita dan juga Thalia ternyata lebih menyukai Tamara ketimbang elo. Mereka juga suka ninggalin elo demi bersama dengan Tamara. Padahal yang duluan berteman dengan mereka itu, elo. Gue tau saking nyokap-bokap lo memaksa lo untuk jadi sempurna, lo jadi nggak mau ada sesuatu yang salah pun dari diri lo. Lo juga nggak mau ada saingan. Lo mau sendiri, berdiri sebagai yang paling sempurna. Setiap hari lo cemas dan ketakutan, lo overthinking sama setiap hal yang bahkan belum terjadi."
“Bukan gue pelakunya Alan, bukan gue."
Polisi mulai memborgol lengan Lula. Para siswa meneriakinya, namun ditahan oleh guru. Karena para guru baru tau jika selama ini Lula tertekan dirumahnya, dan tentu saja ini berdampak pada kesehatan mental Lula.
“Lepasin saya, saya bukan pelakunya pak, lepasin sayaaaa. Le pa sin sa ya hahahaha.” tiba-tiba ia tertawa. Dan seolah berubah menjadi sosok yang lain, Lula kini menatap semua orang dengan tatapan sinis menyeramkan.
“Hahahaha, gue berhasil Lula. Gue berhasil membuat saingan lo akhirnya celaka satu persatu. Gue akan celakai yang satu ini lain waktu.” ujarnya sambil menatap Tamara.
Waktu berlalu, kedua orang tua Lula mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. Lula ditempatkan ke dalam rumah sakit jiwa, karena psikiater menilainya sangat bermasalah. Lula di diagnosa memiliki kepribadian ganda, menderita gangguan kecemasan akut dan juga gangguan obsesif kompulsif.
Ia tak berdaya saat menjadi Lula, ia menurut saja saat orang tuanya memaksakan kehendak. Saat teman-temannya mulai menjauhi, saat Tamara mulai menggeser posisinya. Ia juga tak berdaya saat Marcell, satu-satunya cowok disekolah yang ia sukai, terlihat berjalan dengan Tamara.
Ia tak berdaya untuk memperbaiki keadaan tersebut. Hingga muncullah sosok lain dalam dirinya yang siap membelanya. Sosok yang ia sebut sering mengikutinya itu adalah dirinya sendiri. Semua ada didalam pikirannya sendiri.
1 tahun berlalu.
Didalam sebuah ruangan rumah sakit jiwa, Lula tampak tengah mengerjakan sebuah rumus fisika. Ia telah mengalami kemajuan yang pesat beberapa waktu belakangan ini. Lula juga dikenal ramah dan lembut pada setiap perawat yang menjaganya.
“Hai, Lula.”
Seorang perawat masuk dan bermaksud memberikan obat padanya. Namun tak seperti hari sebelumnya yang penuh ramah-tamah, kali ini Lula tak menjawab.
Tak lama kemudian, entah bagaimana semua terjadi. Perawat itu jatuh tak sadarkan diri. Lula menukar pakaiannya, lalu tak lama kemudian ia keluar sebagai perawat dengan senyumnya yang menyeringai.