Angin berembus lembut menerpa rambut hitam legam milik seorang gadis yang tengah berjongkok di tepi kolam ikan di belakang sekolah. Bukan untuk memberi makan ikan-ikan mas disana, gadis itu menangis seraya menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lututnya.
Sebelah tangannya gemetaran menggenggam secarik kertas berisikan angka 20 yang ditulis besar dengan spidol merah tebal. Nilai ujian yang benar-benar di bawah standar.
Takut pulang, mungkin karena itu gadis itu menangis. Suara tangisan benar-benar terdengar memilukan di telinga siapapun yang mendengarnya.
"Berhenti nangis, dasar cengeng!"
Kumpulan anak-anak sekelasnya berdiri di belakang punggungnya. Menatap dirinya dengan tatapan jijik, sekaligus menghina.
"Males belajar sih. Salahin dirimu sendiri yang selalu ketiduran di kelas. Anak bodoh!"
Gadis berambut ungu itu tahu dirinya sedang dihina. Ia tidak berpindah dari posisi semulanya. Ia sedang berusaha untuk tidak mempedulikan semua itu.
"Asal kamu tau aja ya. Konon di kolam ini ada yang mati bunuh diri karena bodoh. Jangan sampai karena sama-sama bodoh, kamu juga ikutan mati disana," ucap salah satunya menakut-nakuti.
"Ya, bener. Katanya hantu itu rambutnya putih. Dia bisa muncul kalo kamu berisik sok-sokan ngadain acara nangis-nangisan segala disini."
Gadis itu masih tidak berkutik. Padahal ini adalah urusannya, haknya sendiri hendak menangis dimana. Kenapa mereka yang mengatur? Lagipula, mereka 'kan tidak akan dirugikan jika ia menangis disana?
Akhirnya karena merasa sia-sia berbicara dengan gadis itu, mereka memilih untuk segera pergi.
Tepat di balik pohon besar dekat kolam, sepasang mata dengan nyala kuning keemasan tampak mengawasi Si gadis. Rasa iba terpampang jelas di alisnya yang melengkung ke bawah. Sosok itu melangkah keluar dari persembunyiannya diam-diam.
Gadis berambut ungu itu bernama Acedia. Ia masih berjongkok di tepi kolam. Melempari batu kerikil ke tengahnya hingga menimbulkan riak air. Hal itu biasa menjadi hiburan kecil bagi mereka yang sedang dilanda gabut. Acedia bukan gabut, lebih tepatnya galau.
Sosok tinggi berambut putih itu berjalan mendekatinya, namun Acedia sepertinya tidak menyadarinya.
Acedia menghela nafas berat, "Andai saja kalau aku mati."
Pluk! Pluk! Pluk!
Sebuah batu memantul di permukaan air. Acedia sedikit tercengang, pasalnya batu itu tidak berasal dari tangannya.
"Mati percuma adalah hal yang sia-sia. Setiap manusia cuma punya satu nyawa, berbeda dengan kucing yang punya sembilan nyawa."
Acedia menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda laki-laki duduk di sebelahnya. Menggenggam sebuah kerikil, lalu melemparnya lagi ke tengah kolam.
"Kamu ... siapa?" tanya Acedia. Dilihat dari jas seragam sekolah yang dikenakan pemuda di sampingnya sih, itu model seragam sekolahnya yang sudah lawas sekali.
"Aku ... ya. Kalau nama, namaku sih ... Rafael."
Acedia tidak berkomentar apapun. Entah karena apa, Rafael malah merasa canggung. Ia hendak membuka topik, tapi bagaimana ya?
"Aku selalu melihatmu menangis disini setiap jam pulang sekolah. Jujur saja aku merasa kasihan padamu karena terus diejek dengan temanmu, memangnya kamu kenapa?"
Acedia meluruskan pandangannya. Gadis itu tidak membuka bibirnya sama sekali. Hening. Rafael malah merasa bersalah karena salah memilih topik.
"Mereka yang menghinaku tidak pantas disebut 'temanku'." Acedia berujar tiba-tiba.
"Lalu, kau menyebut mereka dengan apa? Musuh?"
Acedia terdiam sejenak, "Monyet," ucapnya singkat.
Rafael terkekeh geli. Monyet yaa. Ah, dipikir-pikir lagi, monyet itu cerewet. Sama seperti mulut mereka.
"Hei, kau tahu soal rumor anak yang mati di kolam ini karena bodoh?" Acedia membuka topik. Rafael hanya menoleh, masih belum mengerti soal rumor yang dimaksud Acedia.
"Mati karena bodoh? Di kolam ini? Yang benar saja! Kau mempercayainya?"
Acedia mengangguk. "Ya, katanya rambutnya putih dan tubuhnya tinggi."
Rafael mengelus rambutnya sendiri. Ia sadar kalau dia bukan manusia lagi. Dan ia ingat dulu ia mati di kolam itu, oleh karena itu sisa energi negatifnya tersebar di daerah sekitar kolam ini. Karena itulah dia tidak bisa pergi ke alamnya, karena dibelenggu oleh sisa energi negatifnya di dunia fana, dan karena ada masalah yang belum ia selesaikan.
"Mati di kolam ... badannya tinggi ... rambutnya putih?"
Acedia mengangguk. "Ya, katanya matanya berwarna kuning keemasan."
Jreb!
Rafael sekarang benar-benar merasa bahwa anak yang dimaksud dalam rumor orang yang mati bunuh diri di kolam ikan itu adalah dirinya sendiri.
"Nggak! Anak itu nggak mati bunuh diri. Dia dibunuh. Dan anak itu nggak bodoh!" Rafael menyentak tiba-tiba.
Acedia tercenung, "Memangnya kamu tau darimana?"
"Aku tahu itu!"
"Gimana caranya kamu bisa tau? Lagian ... aku baru pertama kali melihatmu disini. Murid baru?"
Rafael menepuk wajahnya sendiri. Ia merasa bingung untuk menjelaskan detailnya ke anak di sebelahnya ini. Sepertinya Acedia belum menyadari bahwa yang ia ajak ngobrol sedari tadi adalah arwah orang yang sudah mati.
"Anak yang dimaksud di rumor itu aku. Aku nggak mati bunuh diri karena bodoh. Aku mati disini karena ada yang membunuhku. Bukan karena-"
"Jadi ... kamu ini hantu?!" Acedia terlonjak dari duduknya.
'Baru nyadar?!' Rafael berucap di dalam hati.
"Ah, ja, jangan takut dulu!" Rafael segera beranjak berdiri. "Aku masih terjebak di dunia sini karena masih ada masalah yang harus kuselesaikan. Tidak ada yang bisa melihatku. Kau manusia pertama yang bisa melihatku. Aku lumayan kesepian disini karena tidak teman ngobrol. Kalaupun ada yang sekilas bisa melihatku, mereka pasti langsung lari karena takut."
Acedia perlahan berjalan mendekat, "Berarti kita sama ya. Tidak punya teman dan kesepian."
Rafael menepuk tangannya, "Nah iya! Jadi, bagaimana menurutmu kalau kita berteman? Setiap pulang sekolah, mungkin aku bisa membantumu belajar untuk menaikkan nilai ulanganmu."
Wajah Acedia berbinar sesaat, "Sungguh?" Rafael mengangguk mengiyakan. "Bukannya anak yang mati disini anak yang bodoh?" Tanya Acedia dengan nada meremehkan.
"Aku tidak bodoh!"
"Lalu, bagaimana bisa kau mati disini kalau kau tidak bodoh?"
"Sudah kubilang, aku dibunuh!"
"Kalau pintar, kenapa mudah sekali untuk dibunuh? Di kolam ikan pula. Tempat matimu terlalu-"
"Pokoknya aku tidak bodoh!" Rafael mengambil sebuah batu kerikil, lalu melemparnya ke tengah kolam.
Pluk!
"Yaa, kamu benar juga sih. Aku ini memang bodoh."
Acedia mengerjap.
"Karena kebodohanku sendiri, aku mati disini." Rafael tertawa renyah, "Aku mati di kolam ikan ... Lucu sekali ya."
Acedia merasa iba.
"Aku ingin bisa melihat adikku kembali. Aku tidak ingat siapa yang membunuhku, aku tidak ingat apa-apa soal kematianku. Aku hanya bisa mengingatnya beberapa saat melihatmu bermurung di sini."
Acedia berjalan mendekat, "Jadi, apa selama ini kau melihatku sebagai Adikmu?"
Rafael terdiam sejenak, "... Kurasa iya."
"Kalau begitu, kau akan kuanggap sebagai Kakakku."
"Ceeedd!!" Suara teriakan lantang menginterupsi percakapan diantara mereka. Acedia menoleh ke sumber suara, seorang pemuda tampak berlari mendekatinya.
"Kukira kamu sudah pulang! Kenapa masih disini? Ibumu nyariin! Aku kena omel nih!" Sungutnya kesal.
Acedia menoleh ke arah Rafael. Hantu itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, menghilang kemana dia?
"Hei, denger nggak?" Acedia menoleh ke arah pemuda itu lagi, "Denger."
"Kalo' gitu, ayo pulang!"
"Ga mau! Aku mau diem disini sama Kak Rafael!"
"Kak Rafael siapa?! Nanti kamu dicari hantu!"
"Kak Rafael memang hantu!"
"Apaan sih. Pulang. Pulang!"
Acedia kembali melirik ke belakang. Gadis itu mengukir seulas senyuman.
'Dasar. Monyet itu yang bodoh. Hantunya baik kok '