Biasanya klo malming (malam minggu) kalian ngapain aja? Jalan bareng keluarga, nonton bareng keluarga, happy bareng mereka, atau sama temen atau yang lainnya? Itulah identik dari malming bagi yang bahagia, ya kan?
Beda banget sama Si Afa. Malming pertama di bulan April 2021 tepatnya kalian mesti tau tanggal berapa kan? Yaah bener, tanggal 3 April 2021 adalah malam yang kelam baginya.
Kok bisa? Simak ceritanya ya...
Saat itu Aku (Afa) sedang duduk diruang keluarga bersama ayah dan adikku.
Lho kok cuma bertiga? Ibunya kemana? Kalian pasti nanyain itu;)
Yah, ibuku lagi dirumah sakit nungguin kakek (ayah ibu) yang sakit.Waktu kami bersantai diruang keluarga dengan nonton tv, tiba-tiba pintu diketuk
"tok... tok... tok... Yah.. ayah... Assalamualaikum... "nenek yang mengetuknya ,karena dari suaranya aku bisa mrngenalinya.
"Waalaikumsalam... " jawab kami dari dalam rumah.
Setelah pintu dibuka ayahku, nenekku berhambur memeluk ayahku. Aku masih belum mengerti apa yang terjadi tapi, firasat ku mengatakan sesuatu hal buruk besar tengah menimpa keluarga ku. Karena setahuku, nenek tak pernah memeluk ayahku juga dia tidak menyukainya.
Ayahku juga terkejut pasalnya, dia tak pernah diperlakukan seperti itu. Ayahku hanya diam mematung. Setelah nenek puas, melepaskan pelukannya dan memberiku kabar yang waww membuat hatiku ingin menangis.
Rasa sesak, sakit, sedih semua bercampur menjadi satu dimalam itu. Apa yang dikatakan nya tadi hah?'Kakek Meninggal, dia barusan meninggal' deg.. aku bahkan tak mempercayainya. Aku berlari dari ruang tamu menuju gerbang menunggu berharap kabar tersebut bohong. Tapi, nyatanya kabar itu benar.
Tepatnya pukul 20:58 ambulan mobil jenazah berhenti didepan mata. Seketika tangisku mengering, kakiku melemas melihat jenazah kakekku sendiri diturunkan didepan mataku dari mobil jenazah. Aku mencoba kuat, karena ada adikku. Tangis nenek menjadi-jadi melihat kakek terbujur kaku. Ibuku pingsan karena mungkin tak bisa menerima kepergiannya. Ayah juga belum kembali dari rumah sakit untuk mengambil mobil pak puh (kakak pertama ibuku) yang bersama ibuku duduk diambulan menemani jenazah kakek.
Setelah sampai jenazah kakek ku segera dimandikan, dikafani, dan disholatkan dimasjid halaman rumahku. Semuanya merasa berduka, karena kakek adalah tetua sekaligus kyai disini. Malam itu benar-benar terjadi.
Dulu, sebelum beliau meninggal beliau mengatakan bahwa "Bulan April kita bakal buat acara besar sebelum puasa 7 hari 7 malam, dan kamu sebagai saudara tertua dari cucuku yang ada disini jangan pernah menampakkan sisi rapuhmu, jangan menangis dimalam itu, teruskan perjuanganku disini, karena kamu adalah yang terkuat hatinya dari saudaramu yabg lain, tegakkan kebaikan dan kebenaran, ikhlaskan yang sudah terjadi" setelah itu melenggang pergi. Dan benar saja kata-kata itu terjadi, malam itu sungguh... aku tak bisa menceritakannya dalam bentuk tulisan.
Semua penduduk datang berbondong-bondong ke masjid halaman rumah untuk mensholati jenazah kakek. Malam itu, aku tak bisa tidur, tangis ku sudah kering, aku hanya diam melamun mengingat kata-kata itu. Setelah tersadar dari lamunan aku bergegas mengambil air wudhu, mengirimkan tahli, dan membacakan yasin disebelah kerandanya. Aku tak peduli dengan sekitarku, padahal semua isinya dimasjid itu laki-laki, hanya aku perempuannya. Benar-benar wangi seluruh masjid, padahal berdesakkan. Tapi wangi itu beda dari yang lain. Aku tidak lagi mempedulikan nya, berusaha berulang kali membacakan tahlil dan yasin hingga menjelang subuh, dengan mata merah padahal sudah disuruh tidur oleh seseorang tetanggaku tadi malam. Tapi aku keras kepala. Dan yah," tidak tidur semalaman bukan masalah untuk ku" pikir ku saat itu.
Hingga jam sepuluh pagi masih ada yang mensholati, karena wasiatnya menunggu putri kedua datang yang dari jabar. Setelah kedatangan putrinya (kakak ibuku kedua) jenazah segera diantarkan ditempat peristirahatan terakhir. Aku tidak ikut, dan tidak boleh ikut. Entah apa alasannya tapi aku menurutinya karena tak ingin berlanjut. Cuacanya begitu terang, panas, sepertinya alam menerimanya. Aku bersyukur karena beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, ketika berdzikir mengucap laa ila ha illallah dengan lancar dan tersenyum setelah itu. Aku berdo'a semoga beliau ditempatkan disisi Allah yang terbaik.
Kau mungkin bisa menolak panggilan ibumu tapi, kau tak kan bisa menolak panggilan Allah. Karena sesungguhnya kematian adalah takdir setiap makhluk tidak dapat diundur dan juga dimajukan. Maka dari itu berlomba-lombalah dalam hal kebaikan. Karena ulama dan umur kita juga semakin berkurang di dunia ini.
Wa khususon min ruhi kakek ku al fatihah... Amiin...
11421,11:44
df_f