Sebut saja anjingku dengan nama Kancil, anjing kampung dengan perawakan kekar dan berbulu tipis memiliki 2 ubun-ubun bergaris di badan dengan warna coklat. Dia anak tunggal dari anjing betina yang dipelihara, Ibunya mati tragis saat kancil umur 2 bulan.
Saat kecil sering kumandikan, sampai ku ingat saat dia masih kecil sepulang sekolah aktifitas ku mancing di sungai. Timbul rasa gemas tanpa pikir panjang anjingku ku lempar di bendungan yang tingginya 3 meter.
Hari hari ku sering ditemani anjingku, baik berangkat sekolah terkadang nyusul tidur bahkan kadang tidur di kasur habis mandi basah kuyup. Heran ku sama anjing ini setiap ketemu air tingkahnya aneh.
Ingat kekacauan yang terjadi bersama kakak sepupuku sebut saja Pur namanya. Sedangkan namaku Prek.
" Mancing nyusur sungai jauh jauh ga dapat, mandi aja sambil mandiin kancil" teriak Pur
" Enak ne ada yang dalam"
" Prek anjingmu guling guling putar putar habis kujeburin biasa" tanya Pur
" Biasa kegirangan dia" jawabku
" Loh kok menjauh pergi dia" tanya Pur
" Wah kemana" seakan firasatku ada yang ga beres.
" Prek !! Kancil kejar kejar kamping lari ke Utara" teriak Pur
" Kejar Mas sebelum berulah" jawabku cepat cepat pakai baju dan kejar anjingku. Seakan seperti singa yang menerkam menubruk kamping gigit leher. Saat terjatuh kambing dilepas tanpa luka tapi nampak terdiam ketakutan lalu anjingpun kejar kambing lainnya.
" Woi anjing siapa itu !!" teriak kakek ikut mengejar kambing dan anjing.
Terus ke Utara 1 km mengejar, nafasku seakan putus tetapi anjingku seolah tak kelelahan.
" Prek Asumu memang Asu sekarang balik keselatan lagi" teriak Pur sambil terengah engah,sambil kejar lagi.
Kupun duduk cuma terdiam dan atur nafas 2 kali bolak balik kakakku dan pemilik kambing mengejar.
" Asu mas anjingmu ga aturan" teriak kakek ngomel ke kakakku.
Tiba tiba anjingku hampiri ku seolah tanpa dosa. Sementara kakakku diomeli pemilik kambing ku menjauh bawa anjingku yang tak kuikat. Menunggu sambil menahan tawa, Anjingku pun melompat seolah kegirangan melihat kakakku kusut kelelahan dan habis diomeli sang kakek pengembala.
Anjingku memang nakal dirumah sering nubruk orang cuma ingin jilat mukanya habis itu ku pergi, biasa ku kena omel tetangga karena kegaduhan anjingku. Tetapi anjingku setia karena di sela liburan sekolah ku kadang membantu orang tua petik buah melinjo.
" Cil kamu disini jangan berulah tunggu dibawah pohon"
" Hook hook" jawab anjingku,
Selang 2 jam anjingku tertidur sampai kucoba turun diam diam kutinggal anjingku pergi.
" Biar tau rasa kukerjain Lo Jing" gumanku sambil mengendap pergi.
Benar saja sampai malam anjingku ga pulang, rasa khawatirku datang akhirnya diantar Kaka ku cek ke kebun. Benar saja anjingku masih disitu mengapung ngaung berputar putar dibawah pohon mencariku. Dasar Asu...
Diremajaku ku memang petualang, dimana ku terkadang bersama kakakku suka berburu malam, masih ingat bermodal senapan merk Sharp Innova tanpa telescopic rasanya sudah gagah.
" Tunggu tunggu ku lihat musang kembang dipohon kelapa"ucapku
" Mana biar kutembak" tanya kakakku.
Sementara Anjingku ikut langsung terdiam,
" Dor" suara senapan yang memang nyaring tanpa peredam.
" Kena tapi tak jatuh, kupanjat saja biar kuambil kamu jagain di bawahnya" ucap kakakku.
Setelah itu tanpa ragu kakakku memanjat kelapa tinggi.
" Ini masih hidup musangnya" teriak kakakku.
" Krosak" suara musang melompat turun.
Seketika ku dan anjingku berlari mengejar, tanpa pikir panjang ku tubruk suara krusak krusuk di kegelapan.
" Katangkep kubawa lari kejalan" teriakku sambil bertanya musang kok berat banget.
Kakakku ku menyorot ke arahku dan ternyata Asu Asu yang kutubruk....hhhhhh