02:30.
“hiyaaa,” Diriku yang penuh dengan semangat untuk mempersiapkan diri ke ajang kompetisi, semangatku membara, “ bagiku tiada kata menyerah sebelum kejuaraan aku dapatkan,” kompetensi adalah segalanya bagiku untuk meraih juara, Dan akan aku dapatkan juara itu nantinya.
Arya melihat ku tengah berlatih keras, dia menegurku, “jangan terlalu berlatih dan berambisi berlebihan, karna biasanya semua tidak akan selalu sama dengan ekspektasi kita loh.”
“Tidak peduli, kalau iri bilang saja bos,” jawabku dengan kesombongan.
“Dasar, keras kepala,” ucapnya sedikit terbawa suasana.
Oiyah sebelum memasuki cerita kekalahan ku maka perkenalkanlah terlebih dahulu namaku Jeksan, orang-orang sering memanggilku dengan sebutan jeks. Aku sangat menyukai dunia persilatan, dan yang paling aku tekuni saat ini adalah karate. Baiklah akan aku ceritakan awal dari rasa antusias ku.
Awalnya aku ingin seperti para idola ku yaitu Fauzan Noor si juara dunia, tanpa ragu setiap hari aku terus berlatih agar jauh lebih hebat. Di dinding rumah ku terpasang foto sang idola ku. Setiap kali ku tatap fotonya semangat ku seakan membara, “tunggulah aku, suatu hari nanti aku pasti akan dapat ke sana juga,” kataku sambil memegang foto idola.
Masuk hari berikutnya.
Di dalam lapangan aku terus berlatih, lelah tidak ada artinya bagiku, hingga pelatih ku menegurku,
“jeksen, kemarilah sebentar.”
“baik sabem,” aku mendatangi guru, aku duduk di sampingnya dan bertanya, “ada apakah sabem memanggil saya.”
“Saya mendengar dari teman-teman kamu, kalau kamu berlatih terus menerus jeksen, apakah itu benar?”
“Iya sabem. Perkataan mereka benar.”
Guru merangkul pundak ku. dia berkata, “jeksen saya paham kamu antusias sekali dalam mengikuti lomba itu, tetapi kamu harus ingat. Apa yang kamu lakukan secara berlebihan tidak akan selalu menghasilkan yang baik, jangan buat dirimu nanti akan menyesal pada akhirnya.”
“Tetapi sabem, jikalau saya Cuma berlatih seadanya saja, bagi saya itu tidak akan pernah merubah kemampuan diri saya.” Jawab ku kepada guru.
Guru langsung meninggalkan ku dan hanya menyampaikan beberapa kalimat, “kau akan tahu nanti pada akhirnya.”
Kesalahan ku waktu itu tidak mendengarkan siyapa pun, termasuk guruku.
Dua Minggu setelah berlatih.
hari itu telah tiba semangat semakin membara melihat dari berbagai daerah hadir dalam kompetisi itu, satu persatu teman tampil, yah ada yang menang namun ada juga yang kalah. Saat sudah masuk giliranku, dengan sangat Pede aku masuk dalam perlombaan. Lawan seorang pemuda berumuran sama denganku, dia si rambut pirang dengan wajah yang menjengkelkan serta gaya yang ingin ku permalukan.
“Kau akan kalah, bocah lemah,” Ejeknya kepadaku.
“kita lihat siyapa yang akan malu, wajah pasaran,” balasku mengejeknya.
Saat lonceng di bunyikan kami langsung melakukan pertandingan. Awalnya aku mengenai dia terus, pada saat itu aku semakin pede bisa mengalahkannya, tetapi tak lama. Yang aku anggap dia sudah serius melawan ku ternyata dia hanya mempermainkan, dalam sekali tendangan aku langsung terjatuh. Dengan amarah aku bangkit dan menyerangnya lagi tetapi dia masih bisa menjatuhkan ku. Dan pada akhirnya tubuh ku benar-benar tidak bisa bangkit lagi.
Dia tertawa melihatku kalah, “dasar lemah.”
Di dalam ruangan istirahat aku tertunduk malu, malu tidak bisa mengangkat wajah melihat teman-teman dan guruku.
guru menghampiriku, “jeksen, guru turut prihatin dengan dirimu.”
“Apa yang dikatakan guru memanglah benar, aku terlalu terobsesi dengan kompetisi ini sehingga aku lupa untuk memikirkan kedepannya.”
“Yang terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah ini sebagai pengajaran bagimu untuk lebih bijak lagi kedepannya.”
“baik guru, saya minta maaf tidak mendengarkan perkataan guru dan teman-teman yang lain juga.”
Pada saat itu aku merasa keluarga kecil ada bersamaku di saat aku merasa terpuruk. Guru dan teman-teman ku menjadi yang terpenting.
Di tahun berikutnya.
Masa-masa itu sudah berlalu kini aku lebih mementingkan nasehat dan yang baik-baik saja dari pada mengedepankan egoisku seperti dulu. Tetapi salah satu teman mendapatkan sebuah poster kompetisi seperti dulu, “kawan-kawan coba lihat, poster kompetisi lagi nih.”
Mereka berkumpul tidak termasuk aku. Aku lebih memilih untuk menghindar saja, tetapi mereka memanggil ku, “jeks, ada kompetisi lagi nih, pokoknya kita semua ikut lagi ok.”
Ku jawab kepada mereka jikalau aku tidak ingin lagi ikut dalam perlombaan, namun mereka memaksa ku untuk mengikuti dengan mereka meyakini bahwa aku pasti bisa lolos. Mau tidak mau aku harus melawan rasa ketakutan ku sendiri.
Kami berlatih setiap hari bersama-sama, istirahat pun bersama-sama, sudah tidak ada lagi menyendiri yang dulu sering aku lakukan karena ambisi dalam kompetisi. Hingga pada hari kompetisi itu, kami kembali ke tempat itu lagi.
Kulihat arena dan matras itu saat-saat kekalahanku, tetapi dari mereka berupaya untuk menyemangati ku, hingga datang dari belakang ku seorang guru tertua.
“Jikalau kau takut maka mundurlah. Jika kau berani maka bertahanlah. Itu semua tergantung pada mu, namun kedepannya kamu harus lihat apakah kamu harus terkurung selalu dalam ketakutan mu, atau maju untuk memutus rantai ketakutan mu itu.”
Ku pikirkan secara mendalam. Dan ku coba beranikan diri untuk bertahan, “baiklah, aku yakin apa pun hasilnya nanti aku akan takut lagi.”
Semua teman-teman yang lain ku lihat mereka dalam kemenangan, jujur saja rasa gugup yang aku rasakan membuat hati ku tak karuan. Tiba saatnya namaku di panggil, aku maju dan tak ku bayangkan ternyata dia yang dahulu menjadi lawan tanding ku, kini kembali menjadi lawanku.
Dia berkata, “ternyata kamu lagi, tidak masalah, sekali lagi kau akan tumbang.”
Tanpa sepatah kata aku tidak menjawab ucapannya, hanya membalas dengan senyuman saja. Pada saat itu lonceng di bunyikan. Kami bertanding.
Sekali lagi aku terkena pukulan dan tendangannya, awalnya aku merasa aku akan kalah, namun setelah mengingat ucapan dari guru, aku mencoba mengikuti sarannya. Ku tenangkan hati dan pikiran ku. Kini aku tahu dengan itu semua tanpa rasa keegoisan akan menghasilkan keberhasilan.
“Bangun kawan.” Ucapku sambil menjulurkan tangan membantunya bangkit
Dia berkata dengan rasa bersalah kepadaku, “maaf kawan aku sempat meremehkan mu.”
“Tidak apa-apa setiap manusia pasti memiliki kesalahan begitu juga aku.”
Dari kejadian yang aku lalui dahulu hingga kini, aku mendapatkan pengajaran bahwa yang berlebihan tidak akan membawa kebaikan, di lain itu juga keegoisan yang berlebihan akan membawa kehancuran sendiri apalagi sampai tidak mau mendengarkan nasehat dari orang lain. Dari kesabaran juga aku mendapatkan arti untuk bisa memaafkan dan membantu walau dia yang bersalah pernah menyakiti perasaan.
jadilah yang terbaik dan coba, cobalah untuk mencari kebaikan dan menghindari dari yang berlebih-lebihan karna ambisi yang belum tentu pasti akan menghasilkan yang baik.