Ku genggam erat tangannya. Sedikit senyum yang kupaksakan. Senyuman balasan yang kudapatkan. Ku kecup keningnya, mendoakan.
"Semoga kau bahagia."
Matanya kian memejam. Membisik lirih ditelingaku. "Sampai jumpa di keabadian."
Ku usap ubun-ubunnya. Meniup pelan penuh harapan. Ketenangan yang kini kau rasakan sangatlah menyesakkan. Aku tak sanggup, namun aku harus sanggup.
"Tunggu aku disana." Lirihku.
Kutahu tidak akan terdengar lagi olehnya. Meski begitu tetap ingin kukatakan.
"Bila terlahir lagi nanti, tetaplah menjadi ibuku." Pintaku, "Aku bahagia menjadi putramu,"
Sekali lagi untuk terakhir kalinya, kucium keningnya, kucium pipinya, kucium jemarinya. Lalu kututupkan kain pada wajahnya. Sepelan dan selembut mungkin.
"Terima kasih telah menjadi ibuku."
Tangisku pecah saat aku keluar dari ruangan itu. Kusandarkan punggung di balik pintu. Kutepuk-tepuk dadaku. Suaraku tidak keluar. Tertahan.
Aku harus kuat. Aku harus!
Namun, setidaknya saat ini saja biarkan aku berduka. Biarkan aku menangis.
"Ibu....."
# # # #
Tamat.