Aku terdiam saat melihatmu didepanku.
Aku bahagia walaupun hanya sekedar memandang tanpa menyapa apa lagi menyentuhmu
Randi, ia adalah kakak kelas disekolahku, aku mengaguminya. Sangat mengaguminya. Tapi aku tak bisa berbuat apa apa atas rasa kagumku itu.
Apakah ini namanya cinta?
Apakah anak SMP sepertiku sudah bisa dan layak untuk jatuh cinta.
Tapi aku mengaguminya. Melihatnya hatiku serasa berbunga bunga. Apalagi saat ia tersenyum kearahku, wah hatiku terasa bahagia dibuatnya. Apalagi saat ia mau menyapaku.
"Ayu, kamu ayu kan adiknya Deni? " tanyanya pada suatu pagi ke arahku. Aku terkejut saat dia ternyata mengenal kakakku.
"Ia kak, ka Deni adalah kakak saya. Apakah ka Randi mengenal kakak saya?" jawabku gugup. Sangat gugup. Aku tak ada persiapan apa apa karena tanpa diduga ka Randi menyapaku tiba tiba.
"Ia kenal, kami pernah main Band bareng dulu," jawabnya sambil tersenyum. Ah senyumnya indah bagiku
"Kok, Kaka bisa tau saya adik ka Deni, apa ka Deni cerita?" tanyaku kemudian. Hatiku sedikit berbunga, kakakku mengenal sosok laki laki yang menjadi pujaan hatiku.
"Pacar kakakmu yang bilang, katanya adik Deni sekolah disini dan dia menyebut namamu. Kebetulan aku ingat namamu, karena dulu kamu pernah pingsan disekolah saat upacara, dan aku yang membawamu ke ruang kesehatan" jawab ka, Randi lagi.
"Oh iya, ka Mia pacar kakakku. Apa, ka Randi juga mengenalnya?" tanyaku lagi sengaja memperpanjang obrolan, agar kami bisa lebih lama lagi bersama. Aku bahagia bisa ngobrol seperti ini.
"Tentu aku kenal, karena Mia teman pacarku, Nita," jawaban ka Randi singkat tapi serasa menusuk jantungku.
"Pacar ka Randi?" jawabku terbata
"Iya, kenapa memangnya? kamu kenal?"
"Oh, tidak Kak," jawabku gugup. Hatiku rasanya teriris sakit dan perih mengetahui Kak Randi telah mempunyai pacar. Sedih. Karena tak ada harapan lagi untuk mendekatinya.
Oh ternyata begini rasanya mencintai bertepuk sebelah tangan, sungguh menyakitkan.
Akupun segera berlalu pergi setelah pamitan, percuma juga mengagumi kalau akhirnya tak akan memiliki. Untung mungkin ini masih cinta monyet. Bukan cinta yang sesungguhnya