"Abang pernah cemburu ga sih sama aku?" pertanyaan itu lagi yang kutanyakan pada suamiku.
"Gak" jawaban sama yang kudapat darinya. Jawaban singkatnya tidak memuaskan rasa penasaranku. Dia selalu menjawab singkat dan tidak akan menjelaskan maksud dari jawabannya.
Kata orang cemburu tanda cinta. Setiap kali kami punya waktu berduaan, aku selalu menanyakan ini padanya, tapi cuma jawaban singkat sama yang kudapat. Sebenarnya aku ingin sekaliii saja dia berkata cinta padaku. Selama hampir 11 tahun pernikahan kami dia tidak pernah bilang cinta padaku. Dia lebih tua 10 tahun dariku. Sejujurnya aku sendiri tidak cinta pada awal kami bertemu. Entah mengapa tiba-tiba dia datang kerumah melamarku untuk jadi istrinya. Awalnya perasaanku biasa saja lalu tumbuh rasa khawatir dan cinta, mungkin!. "Sebenarnya dia cinta tidak sih sama aku" fikiran ini seperti mencekikku. Karena suamiku tipe orang yang baik dengan semua orang. Ya semua orang, itu berarti laki-laki dan perempuan. Sebagai istri tentu aku cemas kalau sampai dia mendua atau menemukan cinta di perempuan lain. Makanya aku selalu bertanya apakah dia pernah merasa cemburu sepertiku. Dia selalu menjawab "tidak", " gak", "ya gak lah..." dan jawaban serupa seperti itu. Kalau dia tidak pernah cemburu berarti dia ga cinta dong sama aku. Lalu selama ini aku dianggap apa, cuma pelengkap, cuma agar dia punya status sudah beristri jadi dia tidak lagi dibilang bujang lapuk. Atau hanya sekedar pembantu yang mengurus semua kebutuhannya. Aahh...entahlah...aku jadi pusing sendiri jika berfikir seperti ini.
Dari pernikahan kami lahirlah 3 orang anak lelaki yang sehat. Aku selalu bersyukur karena ketiganya selalu lahir normal dan sehat. Walau selama pertumbuhannya tentu saja tidak lepas dari omongan nyinyir para lambe turah yang seneng banget body shaming yaaa...begitulah realita. Kadang aku berfikir, kalau suamiku tidak cinta gimana kami bisa punya 3 anak. Tapi kembali lagi hatiku berkata, bisa jadi cuma upayanya agar punya keturunan dan tidak dibilang mandul atau impoten.
Saat memandang bayangan diriku di cermin hatiku berucap "mungkin karena penampilanku yang seperti ini, makanya dia yakin aku ga akan selingkuh. Soalnya laki-laki mana yang akan suka dengan penampilan seperti ini". Tubuhku tidak selangsing saat aku masih perawan. Wajahku kusam karena jarang kurawat. Rambutku selalu kugulung keatas memudahkanku saat bekerja dan menghalau udara panas. Bau badanku udah bercampur antara bau bawang, keringat dan susu anak. Huufft...inilah aku...selamat datang di dunia nyata.
Aku adalah ibu rumah tangga yang sibuk. Untuk mengurus satu suami dan tiga anak serta beberes rumah sudah memakan waktu hampir seharian. Mau me time! aku harus bangun tengah malam saat penghuni rumah lelap dalam mimpinya. Saat itulah aku bisa puas curhat dengan si pemilik hidup dan mati.
Sedangkan suamiku hanya suami biasa, bukan ceo atau pemilik perusahaan. Jadi hanya orang biasa, seorang karyawan yang dapat gaji tiap bulan. Dari hasil kerjanya tiap bulan kami selalu bersyukur walau kadang harus gali lobang tutup jurang hehehe...tapi semua harus disyukuri bukan. Makanya untuk urusan dandan serta make up aku kesampingkan dulu. Lebih memilih beli kebutuhan dapur serta popok anakku. Mungkin juga inilah alasan dia tetap tenang walau seharian bekerja meninggalkan aku dengan ketiga anakku saja, tanpa menelpon menanyakan kabar atau sekedar berkata kangen!!
Kalau melihat tetangga atau temanku yang suaminya romantis, walau sama sama karyawan dia selalu menyempatkan diri menelpon hanya untuk mengabari dirinya sudah sampai kantor dengan selamat, atau mengabari bahwa waktunya makan siang jangan lupa makan, dan tanpa ragu bilang i love you, sayang. Atau sekedar merayu lewat chatingan mengatakan bahwa dirinya kangen dan rindu istrinya dengan emoji cium yang banyak. Itu membuatku iri, suamiku bukan tipe suami romantis yang suka menyanjung istrinya. Dia tidak banyak bicara. Susah mengekspresikan apa yang diinginkannya. Aku sendiri terlalu malu mengatakan "aku seneng lo bang digombali kayak gitu". Walau selama ini dia pun selalu berselera denganku. Kami sering melakukan hubungan suami istri setidaknya 3-4 kali dalam seminggu. Akupun termasuk wanita yang subur, terbukti kami di karuniai 3 anak. Lalu kuputuskan melakukan KB. Memang kata orang banyak anak banyak rejeki. Tapi kami takut tidak bisa fokus mendidik anak anak kami jika terlalu banyak hehehe...
******
Malam ini anak-anak sudah tidur di kamar mereka. Cuma sibungsu yang masih bayi tidur bersama kami. Dia lelap di gedongan ayahnya terlihat damai. Perlahan suamiku meletakkannya di kasur setelah memastikan dia benar-benar telah lelap.
"Bang...gimana tadi kerjaan abang?" aku mencoba membuka obrolan sekedar melepas penat seharian.
"Baik ja...seperti biasa" jawabnya. Dia memang tidak pernah menceritakan masalah pekerjaan di rumah. Seperti dimarahi atasannya kah, atau bermasalah dengan teman sekantor kah, dia tidak pernah cerita. Sering kali aku malah dapat kabar dari tetangga yang juga sekantor dengannya bahwa dia tadi dimarahi atasan dan lain lain. Karena hanya karyawan, benar atau salah ya tetap salah, akhirnya potong gaji lah sebagai hukumannya. Dia tidak pernah mengeluh atau sekedar bercerita mengurangi beban fikirannya. Dia selalu berkata "baik ja", "doakan ja kerjaan abang lancar ya" dan semacam itulah.
"Bang...kenapa sih abang ga pernah bilang cinta gitu sama aku bang!" aku serius pengen tau. Selain aku juga takut dia akan bilang cinta pada wanita lain di luar sana.
"Buat apa dek...?" jawabnya
"Ya biar romantis gitu bang, biar aku yakin kalo aku tu beneran di cintai sama suamiku" kataku keukeuh.
Dia tersenyum tipis mendengar jawabanku
"Denger ya dek...cinta itu ga abadi, ga selamanya...bisa hilang karena cinta butuh alasan. Aku cinta kamu karena kamu cantik, setelah tidak cantik lagi maka cinta itu hilang. aku cinta kamu karena kamu seksi, setelah melahirkan anak dan jadi gemuk maka cinta itu musnah" aku masih diam mendengar dia bicara.
"Aku memang ga cinta sama kamu, tapi aku sayang sama kamu dan anak-anak kita. Karena sayang akan bertahan selamanya. Karena itulah aku masih setia bekerja mencari nafkah buat kalian. Karena itulah kusempatkan waktu pulang kerja bermain dengan anak-anak, karena kusayang kalian. Supaya kamu tidak terlalu lelah dengan kerja rumah seharian ini" jelasnya lagi. Aku semakin mematung, baru kali ini dia menjelaskan isi hatinya.
"Kupercayakan hatiku ini, pertama kepada Allah lalu kupercayakan padamu seorang. Karena itulah aku tidak pernah khawatir kamu selingkuh atau berpaling dariku. Karena hatiku sudah ditangan Allah dan ditanganmu bagaimana mungkin kamu akan berpaling dariku sedang dirimu juga dalam genggamanNya. Aku berharap tidak hanya didunia tapi sampai nanti di surga kamulah pendampingku selamanya" dia menarik selimut dan berangkat tidur. Aku masih duduk mematung setelah mendengar penuturannya. Bulir air mata jatuh di pipiku. Ternyata selama ini dia tidak mencintaiku, tapi lebih dari itu dia menyayangi kami, mengasihi kami anak dan istrinya. Hingga rela bertahan dibentak atasan, bertahan di pekerjaan yang mungkin kurang nyaman baginya, bertahan menahan rindu seharian pada anak dan istri, melupakan penat dan lelahnya bila sudah ada di rumah. Hanya menampilkan senyum cerah melawan kesakitan akibat bekerja seharian, untuk kami, demi melihat tawa dan senyum anak dan istrinya.
Benar katanya hatiku dan jiwaku ada di genggaman sang pencipta. Karena itulah aku tak berani sejengkal saja keluar rumah tanpa izinnya, kujaga dan kurawat anak-anak serta harta benda yang tidak seberapa ini semuanya kupikir sia-sia karena dirinya cinta pun tidak padaku. Ternyata dia berharap akulah bidadari pendampingnya di surga nanti. Jadi mulai sekarang aku tidak akan bertanya lagi apakah dia mencintaiku atau tidak. Karena kasih dan sayangnya sudah ditunjukkannya pada kami selama ini lewat kerja keras dan perhatiannya.
Masihkah perlu aku cemburu???
Kurasa tidak, semoga harapan kami bertemu lagi di surga nanti di kabulkan oleh Allah....
TAMMAT
Komen dan like ya...