Aku menatap lekat gerbang sekolah yang menjulang di hadapanku, banyak siswa-siswi yang berlalu untuk memasuki sekolah.
Hari ini aku pindah sekolah, SMA X Lubuklinggau(samaran). Dimana orang-orang disini berprestasi, kaya dan kreatif, aku terpaksa pindah karena ke kota ini karena mengunjungi nenekku, aku yang selalu gila belajar membuatku tidak mau melewatkan sedikit pun pelajaran, walau hanya satu bulan disini karena papa dan mama yang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
"Cih, aku tidak mengerti bahasa mereka," gumamku sambil memasuki ruang kepala sekolah.
Setelah mengetahui dimana letak kelasku, aku akhirnya berjalan santai mencari dimana kelasku, sambil bertanya pada orang-orang yang berlalu-lalang.
'Kayaknya ini deh,' batinku langsung mengetuk pintu kelas.
"Ya, ada apa nak?" tanya seorang guru.
"Saya murid baru buk," ujarku sopan.
Guru tersebut menyuruhku masuk, aku sedikit gugup apa lagi melihat wajah-wajah orang-orang yang akan menjadi temanku nanti.
"Perkenalkan, aku Alissa Zahfira, panggil aja Alissa," ujarku, dengan gaya tomboi.
"Alis mata kali, haha," kekeh seorang lelaki di pojok, aku menoleh.
Menatap geram lelaki itu, memang sih tampan tapi mulutnya pedes dan membuat orang memanas saja.
'Tahan Lis, loh harus bisa,' batinku menahan diri.
Aku duduk tepat di depan kursi cowok nyebelin bermulut pedas itu. Setiap menit dia pasti menganggu dan tanpa henti memanggil namaku, membuatku kesal.
"Hei Alis, Lis," panggilnya sambil menarik-narik kursi.
Sret!
Pena yang awalnya bertujuan menulis, jadi tercoret besar dan membuatku harus mengulangi lagi semua tulisan itu, aku menoleh dengan geram.
"Loh apa-apaan sih, bisa diam enggak! gue capek dengerin lo ngomong, gue capek digangguin sama lo! ini hari pertama gue jadi please, jangan bikin gue harus tonjok tu muka lo!" bentakku geram, emosiku sudah melewati ubun-ubun.
"Ada apa di belakang?" tanya guru.
"Eh, tidak kok pak ... lanjut aja," sahutnya.
"Ye, cak itu be marah ... biaso be kali, baperan huh," ujarnya sewot, aku mencoba mencerna ucapannya.
"Awas lo," ancamku, lalu kembali memerhatikan guru.
Istirahat, semua murid berbondong-bondong menuju kantin begitu juga denganku yang ingin mengisi perut yang sudah berdemo meminta jatah makan.
Baru sebentar lega, tapi sudah nongol lagi pembuat onar dan suka bikin orang kesal. Aku berusaha lari untuk menghindari lelaki yang belum aku ketahui namanya itu.
"Woi, Alis mata tunggu!" teriaknya, aku semakin gencar melajukan kakiku, tanpa melihat kedepan.
Bruk!
"Aduh, sakit," rintihku, lalu berusaha berdiri dan meminta maaf pada seseorang yang sudah aku tabrak.
"Ma-maaf ya, aku enggak liat tadi."
"Iya enggak apa-apa kok, kamu anak baru yah?" tanyanya lembut sambil tersenyum manis.
"Iya, makasih."
"Kenalin aku Amanda Zahrani, panggil aja Manda," ujarnya, mengulurkan tangan, akupun menyambutnya dengan senang hati.
"Gue Alissa, salam kenal."
"Gue mau ke kantin, dimana yah?" sambung ku.
"Oh, sama kira bareng aja yah."
Kami berjalan bersama menuju kantin, sambil sesekali bercanda riang, memang sih kami baru kenal tapi sifatnya yang baik, lembut dan sama-sama suka bercanda membuat kami jadi lebih cepat akrab.
Tanpa sadar aku melupakan seseorang yang tadi sedang mengejar ku, aku langsung menarik Manda saat melihat lelaki itu mendekat ke arah kami.
"Man, udah yuk," desakku, menarik-narik tangan Manda yang masih setia memakan makanannya.
"Kenapa sih Lis, bentar deh."
"Alis, woi tunggu!" teriaknya, membuat bulu kudukku tegak, aku seketika langsung menarik pergi Manda.
Begitulah setiap harinya kami, aku sangat membencinya lelaki sekelasku yang ternyata bernama Muhammad Rasya Narendra, lelaki yang terkenal dengan sikap jahil, jago basket, dan pintar dalam beberapa bidang pelajaran.
"Cih, gue kesel banget sama si Raysa," ujarku pada Manda, Manda hanya menganggapinya dengan senyuman kaku.
"Benci banget gue sama dia, bisa-bisanya ngejahili gue terus," gumamku.
"Awas lo, benci bisa jadi cinta loh," gurau Manda, sambil mencolekku.
"Dih, najis! amit-amit deh."
*****
"Anak-anak, sekarang kita akan mengadakan kerja kelompok berpasangan yah," ujar ibu guru, membuatku sedikit bingung, gimana pun aku tidak dekat dengan teman-teman lainnya.
"Ibu bacain yah, Nisa sama Riza, Rendi sama Tiara, dan Alissa dan Rasya blabla."
"Hah!" teriakku kaget.
"Kenapa Lisa?"
"Eh, en-enggak kok Bu."
'Kenapa harus sama si Raysa sih, tapi gue juga senang.'
Mungkin karena Rasya yang sedikit dekat dengannya, karena itu aku senang.
"Jadi kita mau beli bahan-bahannya dimana?" tanya Raysa.
"Entah!" jawabku, sepertinya Rasya menggunakan bahasa Indonesia agar membuat aku mudah.
"Ye, ditanyain malah jawab entah ... gimana sih," sewot Rasya.
"Ya kan gue enggak tau Rasya, dimana tempat-tempat di kota ini!" teriakku makin sewot.
"Dih, ngamuk lagi, iya iya aku ngerti."
Aku akhirnya mengikuti Rasya, Rasya membawa motor sportnya dan aku terpaksa harus duduk di belakangnya sambil memegang pinggangnya.
Kami mengerjakan tugas dengan baik di rumah Rasya, ternyata rumahnya besar dan lumayan mewah. Aku jad tau tentang Rasya sedikit demi sedikit, sebenarnya Rasya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya yang selalu sibuk pada perkerjaan masing-masing, membuat Rasya tumbuh dengan kurang kasih sayang.
"Lis, maafin aku yah, aku enggak bermaksud buat kamu takut di hari pertama sekolah ... tapi entah kenapa aku pengen banget ngejahili kamu," jelasnya membuat hatiku sedikit meleleh.
"Hemm," jawabku pura-pura cool.
Ternyata di juga bisa merasa bersalah atas sikapnya yang menyebalkan dan bikin pusing tujuh keliling, kirain cuma tau ngejahili orang aja.
"Kamu masih marah sama aku? maafin ngapa?"
Aku menatap lekat kedua mata Rasya, aku berpikir untuk apa aku selalu dekat dengan Rasya, aku takut jika aku tiba-tiba akan jatuh cinta pada Rasya. Padahal aku hanya tinggal dua Minggu lagi disini, setelah urusan papa selesai, aku mau pulang ke Jakarta saja.
"Enggak perlu, gue juga bakalan pergi ... disini gue liburan sekaligus sekolah, agar enggak ketinggalan pelajaran," jelasku sedikit ragu, ada rasa aneh saat mengatakannya.
"Maksudnya?"
"Aku disini cuma 1 bulan, dan sekarang aku udah tiga Minggu disini, nadi dua Minggu lagi aku bakalan pulang, Papa dan Mamaku juga sudah selesai tugas di luar kota ... aku kesini karena enggak mau sendirian dirumah," jelasku panjang lebar, kulihat Rasya terdiam dan raut wajahnya berubah aneh.
"Tapi, apa tidak bisa kamu disini saja ... ak-aku enggak mau ka-kamu pergi," ujarnya terbata-bata, membuatku membelalakkan mata.
"Apaan sih, enggak jelas loh," elakku, pipiku serasa memanas.
Setelah hari itu kami semakin sering bersama, walau kadang sikap Rasya terlihat berbeda dari biasanya, sikap jahilnya juga jarang di lihatnya padaku atau pada teman-temannya yang lain, kadang dia melamun dan diam dikelas.
"Ras, lo kenapa sih? aneh banget?" tanyaku penasaran, dan merasa tidak sepi tidak ada kejahilan darinya.
"Kenapa kangen?" godanya.
"Cih, jujur yah gue juga merasa aneh kenapa gue merasa sepi kalo lo enggak ngejahili gue," jelasku jujur, sambil memalingkan wajahku yang sudah memerah.
"Haha, tuh kan lo kangen sama aku, jangan-jangan kamu...." Rasya memandangku dengan tatapan curiga, membuatku gelagapan.
"Enggaklah, enggak mungkin!" seruku.
"Apanya yang enggak mungkin, aku kan enggak bilang apa-apa."
"Rasya! senang yah godain aku terus, nyebelin!" teriakku geram.
"Haha, maaf."
Besok adalah hari dimana aku akan berangkat ke Jakarta, aku sudah berpamitan pada Manda, serta guru-guru dan teman-temanku, termasuk pada Rasya. Tapi reaksinya cukup aneh, membuatku sedih dan kecewa.
"Nek, Kek Lisa pulang yah, jaga diri baik-baik ... Insyaallah Lisa bakalan balik lagi kesini," pamitku, menitikkan air mata.
"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik yah, hati-hati dijalan," ujar Nenek.
Aku langsung berjalan menuju pesawat dengan sedih, aku berharap Rasya datang dan mengucapkan hati-hati untukku, tapi saat menoleh aku tidak mendapatkan itu, aku menangis.
"Hiks ... hiks ... aku nyesel enggak bilang ke kamu kalo aku ... suka kamu Ras," lirihku.
Aku sadar, kenapa aku selalu merasa sepi saat Rasya tidak ada dan menjahiliku, ternyata aku memang sudah jatuh cinta padanya.
"Cie, ada yang suka sama aku yah," ujar seseorang, suaranya membuatku mendongak.
"Ras-Rasya!" pekikku, kaget.
Rasya tersenyum.
"Kamu kok ada disini?" tanyaku, kenapa Rasya bisa ada di dalam pesawat menuju Jakarta, apa mungkin Rasya ....
"Aku ikut kamu ke Jakarta, dan sekolah disana ... aku juga mau bilang, kalo aku ...."
Dag-dig-dug
Aku merasa sangat berharap ucapan selanjutnya adalah ungkapan cinta, aku meremas pakaianku.
"I like you, Alis mata, hehe," ujarnya membuatku kesal sekaligus senang.
Baru kali ini aku melihat orang menyatakan cinta dengan cara sejelek ini, tidak romantis, mengejek dan payahnya aku tidak marah.
Sejak saat itu kami mulai berpacaran dan selalu bersama, kami bahagia bisa bersatu ternyata tidak semua benci akan tetap benci, kebencian bisa berubah seiring waktu.
TAMAT!